Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 87 Asal Bicara


__ADS_3

Niana sedang membantu Mama Sofi yang sedang kesulitan membuat pola yang ingin dirajutnya. Dengan sabar dia mengajari Mama mertuanya itu sampai bisa menirukan gerakan jarum dan benang dari tangannya. Niana yang sedang asyik mengajari Mama Sofi tiba-tiba teringat ponselnya yang masih aktif saat ditinggalkannya di kamar Renata. Karena Mama Sofi sudah paham dengan cara yang diajarkannya, Niana pun meninggalkan mama mertuanya di ruang tengah. Niana khawatir Aska belum mematikan ponselnya juga. Apalagi Renata sedang mandi, bisa-bisa Aska melihat tubuh polos Renata saat ganti baju.


"Semoga Kak Aska sudah mematikan ponselnya" batin Niana setengah berlari menuju kamar Renata


Renata berhenti bersolek di depan cermin karena mendengar suara ketukan pintu kamar. Dia menghentikan tangannya yang baru saja memoles bibir atasnya dengan lipstik lalu membukakan pintu untuk Niana. Terlihat Renata sudah berpakaian lengkap dan tangannya terlihat sedang memegang lipstik. Sepertinya dia belum selesai bersolek karena bibirnya belum dipoles sempurna dengan lipstik warna pink yang dipegangnya.


"Kakak ipar gimana, kakak sudah menghubungi Kak Aska?" tanya Renata kembali ke depan cermin


"Ee sudah, tadi kakak sudah bilang ke Kak Aska kalau kita akan ketemuan di depan swalayan" ucap Niana menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sambil sedikit nyengir


"Terus kita mau berangkat jam berapa?" tanya Renata yang masih sibuk dengan segala alat make up nya di depan cermin


"Itu dia tadi kakak lupa memberi tahu Kak Aska, kapan ketemuannya soalnya tadi mama manggil aku. Jadi obrolan kita sempat terhenti" tutur Niana segera menuju meja belajar untuk mengambil ponselnya dan memastikan Aska sudah mengakhiri panggilannya dan tidak melihat Renata saat ganti baju. Ternyata layar ponselnya sudah berubah hitam gelap semua alias sudah mati


"Hemm syukurlah sudah mati" batin Niana menghela nafasnya lega lalu duduk di kursi yang ada di depan meja belajar


"Ya sudah buruan bilang Kak Aska kita ketemu jam setengah tujuh malam ini sebelum Kak Dirga pulang" titah Renata


"Tenang saja, kakakmu akan telat pulang karena pekerjaan kantornya banyak. Soalnya 2 hari lagi dia akan ke Australi" tutur Niana mengirim chat ke Aska untuk menemuinya pukul setengah 7 malam ini


"Kak Dirga ke Australi? Berapa lama kak? Apakah dia juga mengajak kakak ipar ikut?" seru Renata kaget


"Katanya 3 hari paling cepat, kakak tidak ikut karena tidak mau sendirian di apartemen soalnya Dirga pasti sibuk dengan pekerjaannya"


"Syukurlah, kalau kakak tidak ikut" ucap Renata tersenyum tipis


"Memangnya kenapa?" ucap Niana memicingkan matanya ke arah Renata


"Kalau kakak ikut Kak Dirga siapa yang akan bantu Rena kalau Rena dan Kak Aska ada masalah hiii" tutur Renata mulai menghampiri Niana yang berdiri di depan meja belajar sambil nyengir kuda mempertunjukan gigi rapinya yang putih bersih


"Makanya kamu jangan bertindak ceroboh lagi" tutur Niana mencubit pipi Renata yang sedang nyengir


"Iya kak, kan aku juga tidak sengaja" ucap Renata mengelus pipinya

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita berangkat"


"Buru-buru sekali, memangnya ini jam berapa kak?"


"Ini sudah jam 6 lewat 15 menit. Kamu mandinya terlalu lama sampai lupa waktu" ujar Niana


"Padahal aku tadi mandinya lumayan cepat, yang lama ngeringin rambut saja karena sambil ngedance buat menhilangkan stres hiii" ucap Renata sambil nyengir kuda lagi


"Aku tidak kuasa membayangkan wanita seagresif Renata saat berjoget. Untung Kak Aska sudah mematikan ponselnya" batin Niana dengan pandangan melamun


"Ayo kita berangkat sekarang kak. Kakak ipar helo" seru Renata sambil menggerakan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri berulang kali di depan wajah Niana


"Oh iya, ayo" ucap Niana terbangun dari lamunannnya


Mereka mulai keluar dari kamar dan melangkah menuju pintu utama setelah meminta izin pada Mama Sofi yang masih asyik merajut di ruang tengah. Saat membuka pintu terlihat Paman Yan yang duduk di kursi teras dengan sorot mata yang tajam.


"Halo Paman, aku mau pergi sebentar dengan kakak ipar" ucap Renata


"Saya mau antar kakak ipar beli martabak manis di luar komplek, iya kan kakak ipar?" ucap Renata memutar kepalanya ke arah Niana sambil mengedipkan mata


"Eee iya paman, betul sekali aku ingin Renata menemaniku membeli martabak" ucap Niana ragu sambil tersenyum tipis


"Maaf, Nona Niana tidak perlu membeli martabak, saya akan menyuruh pelayan dapur untuk membuatkan martabak untuk nona. Karena Nona Renata sedang dalam pengawasan saya" ucap Paman Yan langsung menunduk


"Hei paman, kakak ipar ini lagi pengen martabak manis di ujung jalan luar komplek, Jadi rasanya akan beda dengan buatan Bi Mar atau yang lainnya"


"Iya paman, Niana lagi pengen sekali makan martabak yang dijual disana bukan martabak buatan Bi Mar" imbuh Niana untuk meyakinkan Paman Yan


"Tuh kan, kakak ipar sudah kaya orang ngidam. Gimana kalau kakak ipar sedang ngidam beneran kalau tidak dituruti nanti Paman Yan malah kena marah sama Kak Dirga" ucap Renata membuat Paman Yan mulai berpikir


"Ini Renata kenapa ngomong asal mangap sih, siapa yang ngidam? Kalau Dirga tahu bisa-bisa dia jadi heboh karena terlalu senang dan aku dikira mempermainkannya karena aku memang belum hamil apalagi ngidam" batin Niana sambil meremas lengan Renata dan matanya melotot ke arah Renata yang asal bicara


"Paman kita pergi dulu ya, aku akan menghubungu Dirga untuk minta izin" ucap Niana menarik Renata agar mengikutinya pergi sebelum dia asal bicara lagi

__ADS_1


"Benarkah Nona Niana hamil?" batin Paman Yan


"Dah paman, kita pergi dulu" seru Renata mengikuti langkah Niana yang tengah menariknya menuju garasi mobil


"Kakak kenapa sih? narik-narik tanganku" pekik Renata


"Kamu bilang apa tadi sama Paman Yan?"


"Aku cuma bilang kakak lagi ngidam biar dibolehin keluar rumah buat beli martabak yang kakak inginkan sekali itu" ucap Renata langsung lari menuju ke dalam mobil untuk menghindari Niana yang hidungnya mulai mendengus kesal


"Mau kemana kamu, hah" seru Niana


"Mau menemui Kak Aska, apa kakak lupa" ucap Renata masuk ke dalam mobil


"Awas ya, kamu" seru Niana menghampiri Renata masuk ke dalam mobil


"Kamu sudah membuat masalah baru untuk kakak, bagaimana kamu akan mempertanggungjawabkannya pada Dirga?" ucap Niana melipat kedua tangan di depan dada setelah memasang seat belt


"Maaf kakak ipar aku terpaksa mengatakan seperti itu"


"Bagaimana kalau kakakmu marah kalau tahu kakak tidak hamil apalagi ngidam?"


"Kalau begitu ajak Kak Dirga enak-enak biar kakak cepetan hamil pasti Kak Dirga akan luluh" ucap Renata melirik ke arah Niana menaik turunkan alisnya sambil mengemudi


"Renata...!!! " ucap Niana terbata dan menjewer telinga Renata


"Aah sakit kak, Rena lagi menyetir ini nanti kalau nabrak gimana?" pekik Renata


"Jangan asal bicara lagi" titah Niana


"Bukankah yang Rena katakan benar, kalau mau hamil tinggal ajak Kak Dirga begituan" gumam Renata lirih


Niana yang kesal hanya membalas ucapan Renata dengan lirikan tajam seperti elang yang mau memakan mangsanya. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Renata. Sekarang dia harus memikirkan cara untuk membuat Dirga tidak marah kalau tahu dia tidak hamil ataupun ngidam. Lagi-lagi Niana harus membereskan kekacauan yang dibuat adik iparnya itu.

__ADS_1


__ADS_2