Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 105 Saling Tuduh


__ADS_3

Kotak kardus yang berisi bangkai ayam telah dibereskan oleh Pengawalnya Niana. Setelah memastikan keadaan toko aman dan kondusif, kini pengawalnya Niana mulai mengecek CCTV yang ada di depan toko. Sayangnya CCTV itu telah rusak sehingga tidak bisa mendapatkan informasi tentang si pembuat teror.


Andrea berjalan memampah Niana menuju ruang kerjanya. Dia mulai membantu Niana mengatur nafasnya untuk membuatnya rileks. Setelah tenang, Niana meminum segelas air putih yang disodorkan oleh Andrea.


Terdengar pengawalnya mengetuk pintu ruang kerja Niana. Pengawal itu melaporkan semua yang telah terjadi pada Niana walaupun tidak diketahui dengan pasti siapa yang telah membuat teror di tokonya.


"Permisi Nona Muda, apakah anda baik-baik saja" tanya Pak Pengawal


"Saya tidak apa-apa Pak Pengawal. Bagaimana keadaan di luar toko sekarang?" tanya Niana


"Semua karyawan sudah tenang dan kondusif, nona"


"Terima kasih, Pak Pengawal. Apakah Dirga sudah tahu tentang kejadian di toko barusan?"


"Sudah nona, Tuan Muda telah menghubungi saya" ucap Pak Pengawal


"Apa yang Dirga katakan?" tanya Niana penasaran


"Maafkan saya Nona Muda, CCTV di toko telah rusak jadi saya tidak bisa mengetahui siapa penerornya. Sepertinya si peneror telah merusaknya sebelum membuat kekacauan. Saya sudah menyuruh orang untuk menambah dan mengganti semua CCTV yang ada di toko sesuai instruksi Tuan Muda. Untuk menambah keamanan toko, Tuan Muda meminta dua orang security yang berjaga di depan toko. Nona Muda tidak perlu khawatir, kami akan selalu menjaga keamanan di sekitar anda" tutur Pengawal Niana


"Terima kasih Pak Pengawal" ucap Niana


"Baiklah, nona. Permisi" ucap pengawal itu menunduk dan langsung ke luar ruangan


Sebenarnya pengawalnya Niana telah mencurigai seseorang yang terlihat bersikap aneh sejak mengantarkan Niana ke toko. Saat mobil Niana berbelok ke jalan depan tokonya, pengawalnya melihat seseorang berpakaian seperti preman bertubuh kurus seperti perawakan wanita dan memakai topi serta membawa kotak kardus berdiri di ujung tikungan jalan. Sepertinya orang itu yang telah melakukan teror di toko Niana. Pengawalnya pun sudah menceritakan apa yang telah dilihatanya pada Dirga. Tetapi Dirga menyuruh pengawalnya untuk tidak memceritakan pada Niana agar tidak membuatnya khawatir.


Niana masih teringat isi dalam kotak kardus yang membuatnya hampir pingsan itu, dia terus memikirkan maksud orang yang telah mengirim ayam yang telah mati berlumuran darah dan tertulis nama Dirga. Kekhawatirnya terhadap Dirga membuat Niana tidak tenang hingga dari tadi dia terus mondar mandir di depan meja kerjanya. Dia pun menghubungi Dirga untuk memastikan dia baik-baik saja.


"Halo, sayang kamu dimana? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Niana tergesa penuh kekhawatiran melalui ponselnya


"Sayang, tenanglah aku tidak apa-apa" ucap Dirga


"Tapi ada seseorang yang sepertinya ingin mencelakaimu bagaimana aku bisa tenang. Peneror tadi juga menuliskan namamu" ucap Niana menyingkap rambut panjangnya ke belakang sambil terus mondar mandir


"Jangan khawatir, aku di luar negeri. Orang itu tidak mungkin datang ke sini mencelakaiku" tutur Dirga

__ADS_1


"Bagaimana kalau dia mencelakaimu saat kamu pulang?" tanya Niana lalu menggigit kukunya


"Aku punya banyak pengawal, mereka akan menjagaku. Kamu tenanglah, jangan banyak berpikir. Kasihan si kecil kalau kamu stres seperti ini" ucap Dirga menenangkan Niana


"Baiklah, berhati-hatilah. Jaga dirimu baik-baik" ucap Niana mendengus lega


"Jaga dirimu juga, kalau ada apa-apa hubungi aku. Dan selalu bawa pengawal kemana pun kamu pergi, oke" titah Dirga


"Baik sayang, bekerjalah lagi biar pekerjaanmu cepat selesai di sana dan cepat pulang. Muach" ucap Niana


"Oke, i love you. Muach" ucap Dirga menutup panggilan teleponnnya


Saat Niana dan Renata pergi, Mama Sofi berada di rumah sendiri ditemani para pelayan rumah yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mama Sofi terlihat sedang merapikan taman bunga mawar di halaman samping rumah. Tiba-tiba Paman Yan datang menemui Mama Sofi yang tengah asik memotong daun bunga mawar agar terlihat rapi.


"Permisi Nyonya Besar, maaf saya mengganggu waktu nyonya. Apakah Nyonya butuh bantuan?" ucap Paman Yan


"Ada apa Pak Yan? Kenapa belum pulang. Bukankah, jam kerja Pak Yan sudah selesai. Pulang dan istirahatlah Pak Yan. Saya hanya merapikan bunga saja tidak terlalu berat" titah Mama Sofi memandangi Paman Yan yang terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu


"Terima kasih, nyonya. Saya ingin mengatakan sesuatu" ucap Paman Yan ragu


"Nyonya, sebelummya saya minta maaf. Saya membutuhkan uang untuk cuci darah beberapa bulan ke depan dan untuk menebus obat. Tabungan saya sudah menipis karena tiap 2 minggu saya harus cuci darah. Jika nyonya berkenan, saya ingin meminjam uang sebesar 50juta" ucap Paman Yan berbohong


"Baiklah Pak Yan, saya pinjamkan 25 juta dan 25 juta lagi saya berikan untuk Pak Yan karena selama ini Pak Yan sudah setia pada keluarga Sanjaya. Nanti saya transfer ke rekening Pak Yan" ucap Mama Sofi


"Terima kasih sekali nyonya" ucap Paman Yan


"Sama-sama Pak Yan" ucap Mama Sofi


"Kalau begitu saya permisi pulang, nyonya"


ucap Paman Yan menunduk dan segera pergi meninggalkan Mama Sofi


Paman Yan segera mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah Sanjaya. Setelah sampai rumah, dia menganggkat ponselnya yang berdering kembali untuk yang ke sekian kali. Sebenarnya ponselnya sudah berderengi beberapa kali saat masih bekerja. Saat bekerja Paman Yan mengatur ponselnya dalam mode diam karena dia belum bisa menjawab permintaan para bandit yang menghubunginya.


"Lebih baik aku menyetujui permintaan dua orang bandit itu sekarang agar masalahku cepat selesai dan mereka bisa segera melenyapkan manusia brengsek itu dari hidupku" batin Paman Yan sambil memandangi ponsel yang dipegangnya

__ADS_1


"Halo, bagaimana pak, apakah uang tambahan yang kita minta kemarin sudah anda siapakan? Apakah anda tidak ingin masalah anda cepat selesai" tanya bandit itu


"Baiklah, besok aku akan menemui kalian di tempat pertama kita bertemu dengan membawa uang sebanyak 50 juta yang kalian minta" ucap Paman Yan


"Oke, kami tunggu kabar baik dari anda. Lebih cepat maka lebih baik juga" ucap bandit itu mengakhiri panggilan ponselnya pada Paman Yan


Saat sudah pulang ke rumah, Niana menceritakan kepada Mama Sofi dan Renata tentang kejadian teror yang terjadi di tokonya pagi tadi. Mama Sofi dan Renata pun ikut khawatir terhadap keselamatan Dirga walaupun Dirga juga sudah mengatakan dirinya baik-baik saja karena banyak pengawal yang menjaganya. Mereka hanya bisa berdoa dan berharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa Dirga.


Malam ini Renata terlihat sedang duduk di depan meja belajarnya. Dia sedang dilema dengan perjanjian kontrak kerja dari Alexander Corp. Dia memandangi berkas kontrak kerja yang ada di atas meja. Rasa bimbang bergelayut di hatinya antara akan menandatangi kontrak kerja itu atau menolaknya. Karena Alexander Corp cukup jauh dari rumahnya sehingga membuatnya harus berpikir ulang. Tiba-tiba dia kaget saat mendengar ponselnya berbunyi dan langsung saja mengangkatnya tanpa melihat layar ponsel.


"Halo, siapa ini?" ucap Renata ketus karena saat sedang bimbang suara ponselnya membuatnya terjengit kaget


"Ada apa dengan mu, sepertinya hatimu dalam kondisi buruk. Apakah kamu masih marah karena aku menciumu kemarin?" ucap Aska


"Suasana hatiku baik atau buruk, memangnya apa pedulimu" tanya Renata kesal sambil memutar bola matanya dengan malas


"Tentu aku peduli, karena aku peduli padamu, besok datanglah ke kantorku menandatangani kontrak kerja. Pihak HRD mengatakan kamu lolos seleksi dan menerimamu sebagai karyawan baru yang akan bekerja di Askara Company" ucap Aska


"Aku tidak mau, aku besok mau ke Alexander Corp untuk menyerahkan kontrak kerja yang sudah aku tanda tangani" ucap Renata


"Aku minta kamu tolak kontrak kerja dengan Alexander Corp" ucap Aska


"Kamu yakin aku mau menuruti katamu, siapa kamu mengaturku, saudara bukan, pacar juga bukan seolah punya hak untuk mengaturku" jawab Renata ketus


"Sebenarnya kamu itu wanita jenis apa? Mengapa perasaanmu gampang berubah-ubah. Bukankah kamu ingin bekerja di kantorku. Lalu buat apa dulu kamu menaruh lamaran kerja di Askara Company kalau kamu malah memilih kerja di Alexander Corp. Atau kamu orang yang memang suka mempermainkan hati orang lain" ucap Aska kesal


"Bukankah kakak sendiri yang mempermainkan perasaanku. Seenaknya menciumku lalu bilang rindu pada Kak Niana" batin Renata


"Apa maksud kakak? Siapa yang mempermainkan siapa? Bukankah kakak sendiri yang suka mempermainkan perasaan orang?" ucap Renata dengan nada marah


"Aku mempermainkan siapa memangnya?" tanya Aska bingung


"Pikir saja sendiri, begitu saja tidak paham" ucap Renata kesal dan mengakhiri panggilan dari Aska


Aska mengira Renata akan senang mendapat kabar bahwa dia diterima kerja di perusahaanya tetapi sepertinya dia salah. Bahkan dia sudah percaya diri bahwa Renata akan mudah dibujuk untuk kerja di perusahaannya karena Aska merasa Renata menyukainya. Apalagi dia telah menyatakan perasaannya dengan mencium Renata kemarin. Dia mengira Renata telah mengetahui semua isi hatinya setelah membaca diarynya dan ciumannya pada Renata kemarin dia anggap sebagai wujud pernyataan cintanya. Karena Renata tidak menolak ciumannya, Aska pun menganggap Renata menerima perasaanya.

__ADS_1


Perkiraan Aska pun tidak sesuai yang dipikirkannya karena Renata menolak mentah-mentah kontrak kerja yang diberikan oleh perusahaannya. Panggilan teleponnya pada Renata pun tidak membuahkan hasil yang baik malah terjadi aksi saling tuduh siapa yang mempermainkan siapa.


__ADS_2