
Seperti berada di atas ring pertandingan, di atas kasur empuknya Niana melakukan tinjuan ke udara seperti meninju samsak yang di arahkan berkali kali di atas wajah Dirga yang masih terbuai dalam mimpi indahnya. Karena masih merasa kesal dengan Dirga yang telah membuatnya menunggu semalam. Berkali-kali Dirga berbohong dan membuatnya menunggu tanpa kepastian. Benci, kesal dan amarah menguasai seluruh benak Niana hingga timbullah ide nakal terhadap Dirga. Dengan bibir yang mengerucut kesal, dia melihat wajah Dirga yang tertidur termanja-manja dalam mimpinya, lalu mengambil spidol yang teronggok di atas nakas. Niana membuat sebuah maha karya di wajah Dirga. Jemari Niana terlihat benar-benar terampil membuat goresan-goresan di atas wajah Dirga seolah jemarinya seperti sedang menari-nari indah, hingga menciptakan sebuah lip art berbentuk kartun pinokio di sekitar bibir Dirga. Sesekali dia terkekeh sendiri tanpa suara sambil menutup mulutnya melihat maha karyanya yang terukir indah menghiasi wajah Dirga. Sepertinya Dirga berada di alam bawah sadarnya yang terdalam hingga tidak merasa kalau wajahnya sedang dicoret-coret oleh Niana.
"Tuan Tengil wajahmu cocok sekali dengan pinokio. Kalian sama-sama suka bohong, pantas saja hidungmu mancung sekali seperti menara Eiffel. Kamu bilang padaku akan pulang cepat, aku sudah menunggumu sampai tertidur di sofa. Tapi kamu tidak pulang-pulang, menyebalkan" bisik Niana dalam hati sambil melanjutkan lukisannya yang hampir selesai
Maha karya lip art berbentuk kartun pinokio yang dilukis Niana membuat wajah Dirga sangat lucu. Dia sampai menahan tawanya melihat wajah Dirga memang benar-benar mirip wajah pinokio yang imut-imut lucu dengan hidung mancungnya. Niana yang merasa gemas langsung mengambil ponselnya, lalu memotret wajah suaminya.
Karena belum puas mengerjai wajah Dirga, akalnya tak berhenti memikirkan ide lain untuk mengerjai Dirga lagi. Dengan wajah tersenyum menyeringai, pikirannya seolah telah mendapatkan ide yang menarik hingga dia terkekeh tanpa suara. Niana membangunkan Dirga hendak menjalankan rencana yang sudah di pikirkannya.
"Dirgaa.... sayang" ucap Niana pura-pura masih malas bangun bertopang dagu di atas dada bidang Dirga dan kedua tangannya menangkup ke pipi Dirga sambil menggoyangkannya agar Dirga terbangun
"Hemm" Dirga melenguh dengan mata masih terpejam
"Sayang... aku haus, tolong ambilin minum di dapur" ucap Niana dengan nada manja dan mendayu-dayu
"Dimana ponselku? Aku akan memanggil Bi Mar untuk mengantarkan minum" ucap Dirga yang mulai membuka matanya
"Aku maunya kamu yang ambilin" pinta Niana dengan nada manja lagi yang membuatnya geli sendiri dengan ucapannya
"Kenapa hari ini kamu manja sekali" ucap Dirga menyibakan rambut Niana ke belakang telinga Niana
"Jadi kamu mau tidak? Kalau tidak baiklah aku akan jalan sendiri ke bawah" ucap Niana pura-pura merajuk dan mau berdiri dengan kakinya yang masih sakit
__ADS_1
"Tunggu, aku akan mengambilkannya untukmu, kakimu masih sakit apa kamu pikun lagi" sergah Dirga yang langsung beranjak dari kasur lalu keluar kamar menuruni tangga dan menuju ke dapur
"Ha ha ha aku benar-benar bisa mengerjainya, apakah aku bermimpi. Dari SD dia selalu menindasku, sekarang aku puas bisa mengerjainya. Bagaimana ekspresinya saat semua orang yang ada di rumah melihat Pinokio telah keluar dari dunia kartun. Ha ha ha benar-benar lucu sekali" batin Niana yang tertawa puas sambil memukul-mukul kasur dengan telapak tanganya setelah membayangkan saat semua orang melihat wajah Dirga
Dirga yang masih mengantuk menuruni tangga dengan malas. Tampak beberapa pelayan rumah yang sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Para pelayan rumah yang melihat Dirga menunduk memberi hormat kepada tuannya sambil menahan senyum. Dengan wajah datarnya Dirga tak mempedulikan sikap para pelayannya. Dirga mengira mereka menahan senyum karena mereka tidak biasa melihatnya bangun sepagi ini dengan wajah polos apa adanya bahkan rambutnya masih acak-acakan dan masih menggunakan piyamanya. Biasanya saat turun dari kamarnya, dia sudah berpakaian rapi memakai jaz kerjanya dengan rambut yang disisir rapi terlihat aura maskulin di wajah tampanya yang memesona.
"Bi, aku minta air putih" ucap Dirga menganggetkan Bi Mar yang sedang menggoreng sesuatu membelakanginya
Rumi yang duduk memotong sayur terheran dengan mata terbelalak melihat tuannya tiba-tiba muncul ke dapur sepagi ini dan hanya untuk meminta minum. Setelah sekilas menatap dan menunduk memberi hormat pada tuannya, Rumi terlihat menunduk menahan senyumnya tanpa berani menatap kembali wajah tuanya yang terlihat lucu. Bi Mar mulai mematikan kompornya dan berbalik menghadap ke arah Dirga.
"Baik, Tuan Muda. Saya ambil... " ucap Bi Mar terhenti saat melihat wajah Dirga. Mata Bi Mar terbelalak dan tersenyum tipis seolah tak percaya kalau yang di depan adalah tuanya
"Kenapa semua orang aneh hari ini" batin Dirga menggaruk belakang kepalanya
"Wajah tuan lucu sekali" ucap Bi Mar
"Memang ada apa dengan wajahku Bi?" tanya Dirga bingung
"Rum...Rumiii..." seru Renata yang baru saja pulang dari rumah Aska dan langsung menuju ke dapur
"Iya nona" jawab Rumi langsung berdiri dari tempat duduknya
__ADS_1
Melihat Dirga ada di dapur, Renata segera membuka kulkas yang ada di belakang Dirga. Dengan cepat Renata
menyembunyikan kotak bekal yang dibawanya ke dalam kulkas. Lalu dia menguap dengan rambut yang kusut dan acak-acakan seolah habis bangun tidur. Dia pura-pura mengambil air dingin di dalam kulkas untuk diminum. Aktingnya memang sempurna karena dia sudah mengganti bajunya dengan piyama tidurnya.
"Eh Kak Dirga, tumben kakak pagi-pagi ke dapur?" ucap Renata yang berada di belakang Dirga tengah meneguk air dari botol
Tiba-tiba Renata menyemburkan air yang telah memenuhi mulutnya hingga muncrat ke arah Dirga yang telah berbalik ke arahnya. Dirga mengerjapkan matanya saat terkena sedikit semburan air dari mulut Renata. Raut wajah Dirga terlihat kesal sambil mengusap mukanya. Renata pun langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku piyamanya. Dia buru-buru memotret Dirga dan berhasil mendapatkan fotonya yang lucu mirip Pinokio.
"Apa yang kamu lakukan? Berhenti memotret" seru Dirga kesal sambil menutup wajahnya dengan tangan
"Pinokio....??? Ha ha ha ha... " ucap Renata seperti sedikit susah menelan sisa air yang masih di dalam mulutnya karena sesekali menahan tawanya sambil membungkuk-bungkukan badan memegangi perutnya
"Pinokio, apa maksudmu? Apa yang kamu tertawakan?" Dirga mendengus kesal
Renata berhenti sejenak dari tawanya tetapi saat melihat wajah Dirga kembali, dirinya kembali tertawa. Dia tertawa sambil memukul-mukul kulkas yang ada di sampingnya dengan tangan kanannya yang terkena luka bakar. Saat tersadar tangannya sakit, dia berhenti memukul kulkas dan melanjutkan tawanya. Betapa lucunya lip art yang dilukis Niana di bibir Dirga hingga Renata tertawa tak henti-hentinya. Saat bibir Dirga bicara seakan kartun pinokio yang terlukis di bibirnya juga ikut bicara menirukan gerakan bibir Dirga. Maha karya Niana telah berhasil mengaduk-aduk perut Renata.
"Ck, katakan yang kamu tertawakan" ucap Dirga berdecak kesal melihat Renata yang terus-terusan menertawainya
"Bhuaahahaha..... ha ha ha astaga perutku sakit sekali" ucap Renata mengatur nafasnya yang tersengal-sengal
"Cepat katakan" titah Dirga semakin kesal
__ADS_1
"Berhentilah bicara karena semakin kakak banyak bicara wajah kakak semakin lucu ha ha ha. Kemarilah" titah Renata menarik tangan Dirga menuju cermin besar yang tergantung menghiasai ruang makan
"Niana.... jadi dia sudah semakin berani bermain-main denganku" batin Dirga yang sedang melihat wajahnya di depan cermin