
Jam di ruang tengah berdenting menunjukan pukul 10 pagi. Niana bersama Mama Sofi dan Renata berada di ruang tengah sedang menunggu kedatangan Dirga hari ini. Pukul 9 pagi tadi dia menelepon Niana dan mengatakan sudah tiba di bandara. Jarak bandara dengan rumahnya sekitar 1 jam. Jika sekarang pukul 10 pagi, seharusnya Dirga sudah sampai di rumah.
Beberapa kali Niana mencoba menghubungi Dirga tetapi nomernya tidak bisa dihubungi. Wajahnya mulai terlihat panik dan gelisah. Dia mondar mandir sambil terus memandangi ponselnya.
"Mama kenapa Dirga tidak bisa dihubungi?" tanya Niana gelisah
"Kakak ipar tenang dulu, siapa tahu sinyal di ponsel kakak ipar atau Kak Dirga kurang bagus. Biar Rena coba hubungi Kak Dirga" ucap Renata
"Iya Niana, biar Rena coba menghubungi Dirga dulu. Duduklah jangan mondar-mandir terus. Semoga saja Dirga mengangkatnya" imbuh Mama Sofi
Kemudian Renata dan Mama Sofi juga ikut memanggil Dirga tetapi ponsel Dirga juga tidak aktif. Mereka juga mulai khawatir jika terjadi sesuatu dengan Dirga. Renata menghampiri Niana yang terus mondar mandir gelisah.
"Kak duduklah, nanti kakak lelah mondar mandir terus. Tenanglah dulu, ingat bayi dalam kandungan kakak. Nanti Rena coba menghubungi Mr Ken" tutur Renata sambil merangkul bahu Niana mengajaknya duduk di sofa bersama Mama Sofi
Bi Mar dan Rumi yang berdiri di pojok sofa juga ikut khawatir sambil berpelukan. Renata pun mulai menghubungi Mr Ken. Dia berharap Mr Ken mengangkat panggilannya. Tampaknya Renata tidak mendapatkan kabar apa-apa karena ponsel Mr Ken pun terdengar sibuk dan panggilannya tidak bisa berhubung.
"Renata bagaimana? Apakah Mr Ken mengangkat panggilanmu?" tanya Niana yang sedang berpelukan dengan Mama Sofi
"Mr Ken juga tidak mengangkat panggilanku kak" ucap Renata menatap Niana yang terlihat gelisah
"Bukankah harusnya Dirga sudah sampai di rumah. Ini sudah hampir jam 11 siang, jam 9 tadi Dirga sudah naik mobil dan dijemput pengawalnya. Jarak bandara ke rumah bukannya hanya 1 jam? Kenapa dia belum sampai dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Mama, Renata bagaimana kalau kita cari mereka?" ucap Niana penuh gelisah
"Mau cari kemana kak? Kakak tenang dulu. Bagaimana kalau kita tunggu satu jam lagi, mungkin Kak Dirga terjebak macet dan batre ponselnya habis?" ucap Renata berusaha menenangkan Niana
"Lalu bagaimana Mr Ken, apa ponselnya juga kehabisan batre. Tidak mungkin Ren, perasaan kakak tidak enak. Kakak ingin mencari Dirga kemanapun. Kakak tidak bisa duduk diam di rumah seperti ini" ucap Niana yang wajahnya sudah frustasi sambil menangis
__ADS_1
"Niana tenanglah dulu, di luar sepertinya mendung. Kalau kamu mau mencari nanti kamu kalau kehujanan malah sakit, kasihan kandunganmu sayang" ucap Mama Sofi
"Tapi Niana khawatir peneror itu telah mencelakai Dirga, ma. Bagaimana kalau kita lapor polisi" ucap Niana sambil menangis dipelukan Mama Sofi
"Kakak lapor polisi kalau belum 24 jam juga belum bisa diproses. Kita harus menunggu dulu kalau tidak Rena yang akan mencari Kak Dirga?"
"Kalau begitu kakak ikut mencari juga" ucap Niana
"Biar Rena saja yang mencari Kak Dirga, Rena akan hubungi Kak Aska untuk menemani Rena nyari Kak Dirga. Kakak tunggu saja di rumah" ucap Renata sambil memegang kedua bahu Niana
"Iya Niana, biar Renata dan Aska yang mencari Dirga dan Mr Ken. Kamu di rumah saja sama mama. Ingat kandunganmu masih muda. Kamu tidak boleh stres dan kecapekan" ucap Mama Sofi
"Mama, Kakak Ipar, Rena pamit dulu. Nanti Rena juga akan lapor polisi siapa tahu bisa membantu mencari Kak Dirga. Semoga Rena bisa segera bertemu Kak Dirga" ucap Renata berpamitan dan segera pergi meninggalkan rumah diantar oleh pengawalnya
"Hati-hati sayang" ucap Mama Sofi pada Renata
Kemudian Paman Yan pun masuk ke dalam rumah karena sepertinya akan turun hujan. Udara dingin pun mulai menyeruak menembus kulit. Paman Yan pun tidak betah berada di luar Rumah. Kebeteluan semua pekerjaannya juga sudah selesai. Paman Yan yang baru saja masuk terlihat bingung kenapa semua orang terlihat gelisah dan berkumpul di ruang tengah
"Marini ada apa? Kenapa semua orang sepertinya gelisah? Apa yang terjadi" tanya Paman Yan penasaran
"Tuan Dirga dan Ken tidak bisa dihubungi, Yan. Harusnya mereka sudah sampai di rumah jam 10 pagi ini. Kita semua sedang mengkhawatirkan Tuan Dirga" ucap Bi Mar
"Apa? Tuan Muda belum sampai rumah dan ponselnya tidak bisa dihubungi? Memangnya apa telah terjadi pada Tuan Muda?" tanya Paman Yan
"Kami semua juga tidak tahu, Nona Renata akan mencarinya ke bandara" ucap Bi Mar
__ADS_1
"Nyonya bagaimana kalau saya ikut mencari Tuan Muda?" ucap Paman setelah menghampiri Mama Sofi
"Tidak perlu Pak Yan. Istirahatlah saja karena Pak Yan sendiri juga sedang sakit" ucap Mama Sofi
"Maafkan saya nyonya karena tidak berguna di saat seperti ini" ucap Paman Yan tertunduk dengan wajah sedihnya
"Tidak apa-apa, Yan. Bukan salahmu" ucap Mama Sofi
"Mama apakah Dirga akan baik-baik saja?" ucap Niana dengan raut wajah yang penuh air mata
"Kita berdoa saja semoga Dirga dan Mr Ken baik-baik saja" ucap Mama Sofi mengelus rambut Niana
Di luar mendung terlihat semakin gelap, rintik-rintik hujan pun mulai jatuh. Sepertinya hujan deras kemarin masih menyisakan awan mendung di pagi ini. Seolah belum puas menjatuhkan butiran air yang membahasahi bumi. Seperti hati Niana sekarang ini, hatinya sudah banjir air mata karena tak kunjung mendengar kabar dari Dirga.
Sementara Renata telah sampai di rumah Aska. Terlihat Aska sudah menunggunya di samping mobilnya yang terparkir di garasi. Renata berlari menghampiri Aska dengan wajah yang panik dan tergesa-gesa.
"Renata apa yang sebenarnya terjadi dengan Dirga?" tanya Aska penasaran
"Renata juga tidak tahu kak? Ponsel Kak Dirga tidak bisa dihubungi dan belum sampai rumah juga setelah turun dari pesawat" ucap Renata
"Lalu bagaimana keadaan Niana sekarang?" tanya Aska khawatir
"Kak Niana terlihat cemas sekali, aku takut berpengaruh pada kandungannya" ucap Renata
"Baiklag hebaiknya kita segera menuju ke bandara sekarang. Kamu ikut mobilku saja, biar pengawalmu mengikuti kita dari belakang" ucap Aska
__ADS_1
"Baiklah Kak" ucap Renata segera masuk ke mobil setelah Aska membukakan pintu untuknya
Renata pun masuk ke mobil Aska. Sedangkan dua orang pengawalnya mengikutinya dari belakang untuk ikut membantu mencari Dirga. Mereka menyusuri sepanjang jalan yang mereka lewati. Pandangan mata mereka selalu melihat ke semua sisi jalan, berharap Dirga mungkin sedang berada di tepi jalan karena mungkin kehabisan batre, atau mungkin ban mobilnya bocor atau alasan lain.