Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 106 Mendengar Suara Yang Sama


__ADS_3

Malam ini Niana terlihat sedang membaca beberapa buku tentang kehamilan di kamarnya. Selain ingin memgetahui tentang kehamilan, dia juga ingin mengusir rasa khawatirnya terhadap Dirga. Lembaran demi lembaran sudah dibacanya tetapi rasa gelisah tetap saja bergelayut di pikirannya.


Suara ponsel yang berdering di atas nakas mengalihkan pikirannya yang sedang gelisah.


"Halo sayang, kamu sedang apa?" ucap Dirga melalui vidio call


"Aku sedang baca buku yang kamu belikan. Kenapa belum tidur? Ada apa malam-malam memanggilku?" ucap Niana sambil menunjukan buku yang dipegangnya ke layar ponsel


"Baguslah, kalau kamu menyukai buku yang aku belikan. Aku mau menberi kamu kabar baik" ucap Dirga


"Kabar baik apa?" ucap Niana penasaran


"Cium dulu" pinta Dirga sambil mengerucutkan bibirnya ke layar ponselnya


"Muuacch" Niana pun segera mengecup layar ponselnya sendiri karena ingin segera mendengar kabar baik dari Dirga


"Jadi kabar baiknya apa?" tanya Niana dengan tidak sabar


"Aku lusa akan pulang ke Jakarta" ucap Dirga dengan senyum tipisnya


"Benarkah? Pekerjaanmu cepat sekali selesainya. Aku senang sekali mendengar kabar baik ini" ucap Niana terkesiap gembira


"Iya, suami mu ini selain tampan, cerdas,berkarismatik juga pembisnis handal yang kemampuannya luar biasa. Harusnya kamu bisa melihatnya dari kita masih SD" ucap Dirga sambil bersedekap dada


"Iya, aku akui Dirga Bustoni Sanjaya dari SD memang memang cerdas bahkan menjadi idola di sekolah walaupun selalu bersikap tengil sekali dan menyebalkan saat denganku. Harusnya kamu juga tidak melupakannya" ucap Niana mencebikkan bibirnya


"Jangan-jangan kamu dulu diam-diam juga mengidolakanku atau mungkin menyukai ku walau aku selalu menyebalkan waktu itu. Katakan kalau itu benar" ucap Dirga memicingkan matanya


"Tidak benar, kamu terlalu percaya diri. Aku benci sekali sama kamu waktu itu yang sok cakep, sok pintar, sok berkuasa dan selalu menindasku. Tapi saat melihatmu jantungku selalu berdebar saat itu sampai membuat seluruh tubuhku merasa panas dan grogi" ucap Niana


"Artinya kamu dulu menyukaiku. Maafkan aku yang dulu tidak pernah ada perasaan suka padamu dan selalu menindasmu"

__ADS_1


"Iya aku tahu, kamu memang menyebalkan" ucap Niana kesal sambil mengerucutkan bibirnya


"Tapi sekarang aku sangat menyukaimu, bahkan kamu satu-satunya wanita yang aku cintai lebih dari nyawaku. Aku ingin selalu bersamamu, melindungimu dan menua bersamamu" ucap Dirga


"Kamu manis sekali, cepatlah pulang aku ingin segera memelukmu" ucap Niana dengan tersenyum manis


"Sabarlah, aku juga sangat merindukanmu. Sekarang tidurlah sudah malam" titah Dirga


"Oke, I love you" ucap Niana lalu mematikan ponselnya dan mulai memejamkan matanya setelah menaruh ponselnya di atas nakas


Pagi-pagi sekali Niana sudah bangun, dia ingin menghirup udara segar di halaman rumah. Dia pun berjalan-jalan sambil mengerakan tangannya ke kanan ke kiri untuk meregangkan tubuhnya di depan taman yang dipenuhi bunga mawar. Saat dia melihat-lihat bunga-bunga mawar yang bermekaran indah di taman, dia dikejutkan oleh suara seseorang yang membuatnya bergidik ngeri. Seseorang itu seperti sedang membantai sesuatu dengan sebuah benda tajam.


Niana pelan-pelan melangkah mendekati sumber suara yang sepertinya ada disamping tanaman. Suara seseorang itu seperti tak asing di telingannya. Tiba-tiba dia teringat kembali tentang orang yang bersembunyi di samping tong sampah saat berada di Hospital Sanjaya.


"Mati saja kau, aku akan membunuhmu. Pergilah ke neraka bedebah" ucap seseorang itu


"Itu... itu suara orang yang pernah aku dengar saat di toilet rumah sakit kan" batin Niana dengan mengepalkan tangannya yang gemetar karena takut


Belum sempat Niana mendekat, tiba-tiba Paman Yan muncul di balik tanaman. Ternyata seseorang yang Niana hampiri itu adalah Paman Yan. Terlihat sebuah golok yang berlumuran darah segar. Niana terjengit dengan mata terbelalak dan jantungnya berdetak kencang.


"Niiii..niana, hanya mau nyari udara segar. Apa yang sedang Paman Yan lakukan" ucap Niana bergidik ngeri saat melirik ke arah golok yang berlumuran darah ada di tangan Paman Yan


"Maaf telah membuat nona tidak nyaman, saya sedang membantai ular yang telah menggigit beberapa kelinci peliharaan Tuan Hartawan Sanjaya, nona. Sudah 2 hari ini, ada beberapa kelinci yang mati karena digigit ular" ucap Paman Yan yang tengah menyadari kalau Niana seperti ketakutan melihat golok yang ada di tanganya


"Jadi golok yang paman pegang itu, paman pakai untuk.... ?" ucap Niana terhenti tak berani melanjutkan kata-katanya, sambil mengaruk belakang lehernya


"Iya nona. Saya telah memotong-motong tubuh ular itu dengan golok ini. Setelah Tuan Besar meninggal, saya yang mengurus dan merawat semua kelincinya" ucap Paman Yan menunjukan golok itu


"Oh begitu, sepertinya paman sangat menyayangi kelinci-kelinci milik Ayah Hartawan" ucap Niana


"Saya sudah menganggap kelinci-kelinci itu hewan kesayangan saya, nona. Jadi saya marah sekali karena ular itu telah membuat kelinci-kelinci yang saya rawat sejak kecil mati" ucap Paman Yan dengan rahang menegang dan mata melotot penuh amarah

__ADS_1


"Kalau begitu, Niana permisi Paman. Niana mual melihat darah dan bau anyir di golok itu" ucap Niana membungkam mulutnya sambil memengang perutnya yang bergejolak


"Maafkan saya, nona. Saya akan segera membereskan ini semua" ucap Paman Yan


"Permisi, paman" ucap Niana segera berlari menuju toilet


Niana memuntahkan isi perutnya di dalam kloset. Padahal perutnya belum terisi apa-apa tapi dia sudah mau muntah saja setelah melihat darah dan mencium bau anyir di golok yang Paman Yan bawa. Setelah selesai muntah-muntah, Niana membersihkan mukanya di wastafel. Dia terlihat menatap ke arah cermin yang terpasang di atas wastafel. Seolah sedang mengajak bicara bayangannya yang ada di dalam cermin.


"Niana apakah kamu yakin kalau Paman Yan benar-benar orang yang sama dengan seseorang yang merencanakan pembunuhan saat bersembunyi di samping tong sampah rumah sakit beberapa waktu yang lalu? Ataukah suara mereka kebetulan sama tapi kenapa mirip sekali? batin Niana menatap dirinya sendiri di depan cermin


"Kalau memang orang itu Paman Yan, lalu siapa yang ingin dia singkirkan. Dan siapa Tania yang ada di sapu tangan merahnya?" batin Niana lagi sambil menggigit bibir bawahnya


Renata tiba-tiba datang menganggetkan Niana yang tengah berpikir di depan cermin. "Hemm" serunya sambil berdiri di belakang Niana


"Rena...! Kamu ngagetin kakak saja" pekik Niana


"Kakak kenapa bengong di depan wastafel?" tanya Renata


"Kakak habis muntah-muntah" ucap Niana


"Bukankah kakak belum sarapan kenapa sudah muntah-muntah?" tanya Renata penasaran karena di atas meja makan belum ada makanan


"Mungkin kakak tadi habis minum air dingin" ucap Niana


"Minum air dingin saja muntah, kasihan sekali kakak iparku ini. Mana Kak Dirga belum ada kabar mau pulang kapan. Masa iya mau minum saja harus melihat Kak Dirga juga. Hemm, ibu hamil kalau ngidam kenapa aneh-aneh ya?" ucap Renata heran sambil menggelengkan kepala


"Kakakmu lusa sudah pulang, tadi malam dia yang bilang sendiri ke kakak" ucap Niana


"Syukurlah kalau bagitu, jadi Kak Niana kalau makan tidak perlu ribet-ribet sambil teleponan lagi" ucap Renata


"Sebenarnya aku bingung, ingin Dirga lebih lama di sana atau segera pulang. Karena peneror itu sepertinya ingin mencelakainya. Kalau dia masih di luar negeri setidaknya dia aman di sana" ucap Niana sambil menatap Renata melalui cermin

__ADS_1


"Kita berdoa saja untuk keselamatan Kak Dirga ya kak. Semoga dia baik-baik saja setelah pulang" ucap Renata menghampiri Niana dan memeluk bahunya dari samping


Pikiran Niana saat ini semakin bingung karena masalah peneror yang ingin mencelakai Dirga dan masalah suara Paman Yan yang mirip dengan seseorang yang berencana melakukan kejahatan entah pada siapa. Niana pun tak berani menanyakan pada Paman Yan perihal sapu tangan merah yang ia temukan di Hospital Sanjaya. Dirga pun juga sudah mengatakan padanya untuk tidak memikirkan sapu tangan merah itu lagi. Tetapi karena kejadian pagi ini, Niana kembali memikirkannya karena suara pemilik sapu tangan merah itu mirip suara Paman Yan.


__ADS_2