
Tiba-tiba terdengar bunyi telepon yang berdering kencang memekak telinga di atas nakas. Dirga pun menghentikan ciumannya di leher Niana. Terdengar Dirga berdecak kesal sambil menarik bibirnya ke salah satu sudut. Dia menurunkan Niana dari atas pangkuannya lalu segera mengangkat telepon yang membuat bising melengking di telinga.
"Halo Tuan Muda" ucap Mr Ken dengan serius
"Ada apa Ken" tanya Dirga setelah mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kesal
"Maafkan saya Tuan Muda, saya terpaksa memanggil lewat telepon kamar tuan karena dari tadi ponsel tuan tidak bisa dihubungi"
"Maaf Ken ponselku mati. Apakah ada sesuatu yang penting?" ucap Dirga setelah mengecek ponselnya yang ada di atas nakas
"Dokter Bara mengabari kalau Tania sudah meninggal" ucap Mr Ken
"Tania meninggal?" ucap Dirga terbata karena kaget
"Iya tuan. Orang tua Nona Tania, Tuan Ferdinan dan Nyonya Fenita, telah menjemput jenasah Nona Tania dan membawa ke rumah sebelum dimakamkan nanti pukul 2 siang" ucap Mr Ken singkat
"Tuan Ferdinan ikut menjemput jenasah Tania? Setahuku ayahnya tidak menyukainya. Tania pernah cerita bahwa ayahnya seperti tidak menyayanginya seperti menyayangi kedua kakaknya. Yang ayahnya banggakan hanya kedua kakak laki-lakinya makanya Tania beringinan keras meraih karirnya seperti kedua kakaknya agar ayahnya juga bangga padanya"
"Saya hanya mendengar dari Dokter Bara tuan, mungkin ayahnya Nona Tania menyesal setelah Tania sudah meninggal dan kehilangan puteri satu-satunya sehingga Tuan Ferdinan ikut menjemput jenasah Nona Tania" ucap Mr Ken
"Baiklah kita batalkan rencana untuk ke kantor hari ini. Tunggu aku turun ke bawah" ucap Dirga menutup gagang telepon perlahan seolah masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Mr Ken
Wajah Dirga masih terlihat syok dan serius sekali setelah menutup panggilan telepon. Seakan masih tidak percaya dengan berita mengejutkan yang terdengar mendadak tak disangka-sangka. Dia merasa masih tidak percaya Tania telah menghembuskan nafas terakhirnya secepat ini. Dirga kembali menghampiri Niana yang duduk di sofa ruang ganti baju. Dia mengangkat tubuh Niana ke atas pangkuannya lagi lalu memeluk Niana dengan posesifnya. Niana pun melingkarkan tangannya ke belakang leher Dirga.
"Ada apa? Siapa yang menelepon" tanya Niana penasaran saat melihat Dirga dengan wajah serius dan ikut khawatir karena pembicaraan Dirga tidak terdengar jelas
"Ken mengatakan kalau Tania sudah meninggal" ucap Dirga dengan wajah serius memikirkan sesuatu
"Tania meninggal !" ucap Niana yang ikut kaget juga dan Dirga hanya mengangguk pelan
"Apakah kamu mau ikut aku melayat?" tanya Dirga
__ADS_1
"Iya, aku juga ingin ikut. Lalu kenapa wajahmu serius sekali apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu menyesal setelah meninggalkan Tania dan sekarang dia benar-benar sudah pergi selamanya" ucap Niana menggembungkan pipi dan mengerucutkan bibirnya lalu menundukan wajahnya
"Dasar bodoh, kamu cemburu? Dengarkan aku, aku tidak pernah menyesal telah meninggalkan Tania dan memilih mu di hidupku adalah impianku dan segala tentangmu dan masa depan kita sudah ada dalam rencanaku" ucap Dirga menatap intens dan dalam ke mata Niana
"Baikalah aku percaya pada mu" ucap Niana lalu mencium ringan ke bibir Dirga
"Sebenarnya aku sedang memikirkan pekerjaan kantor yang seharusnya ku selesaikan hari ini tapi semua jadwal kantor aku batalkan, aku akan ke rumah orang tua Tania untuk melayat dulu. Pekerjaan kantor hari ini sangat banyak karena beberapa hari lagi aku ada jadwal untuk ke Australi mengurus masalah perusahaan yang ada di sana. Jadi aku harus segera menyelesaikan pekerjaan kantor yang ada di sini dulu sebelum aku tinggalkan" ucap Dirga
"Kalau pekerjaan kantormu hari ini banyak kenapa tidak segera berangkat dari tadi"
"Aku ingin berlama-lama denganmu hari ini, beberapa hari lagi aku harus pergi ke Australi" ucap Dirga manutkan hidungnya ke hidung Niana sambil memejamkan mata
"Jadi kamu mau ke Australi? Berapa lama di sana?" tanya Niana
"Paling cepat 4 hari tapi kalau masalah perusahaan cabang di sana sangat rumit mungkin bisa seminggu" ucap Dirga
"Seminggu itu lama, kenapa kamu tidak membawaku bersamamu?" ucap Niana menunduk seolah tak ingin Dirga pergi meninggalkannya sendiri
"Aku pasti akan merindukanmu" ucap Niana sambil menangkupkan telapak tanganya di kedua sisi wajah Dirga
"Aku akan menghubungimu tiap hari. Kita bisa vidio call jika kamu merindukannku" ucap Dirga meraih kedua telapak tangan Niana yang menangkup di pipinya lalu menggenggamnya erat
"Apa kamu akan ada waktu, kamu pasti akan sibuk dengan pekerjaanmu" ucap Niana menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya
"Aku janji pasti aku ada waktu untukmu karena aku pun juga akan sangat merindukanmu. Jangan cemberut lagi seperti ikan buntal" ucap Dirga mencubit kedua pipi Niana
"Baiklah, aku bukan ikan buntal, Pinokio!" ucap Niana membalas mencubit kedua pipi Dirga karena tidak terima dikatai ikan buntal
"Kamu ikan buntal, lepaskan tanganmu" ucap Dirga dengan nada mengejek dan masih menjewer kedua pipi Niana
"Dasar Pinokio si hidung panjang, lepaskan dulu tanganmu" ucap Niana kesal dan juga masih nenjewer kedua pipi Dirga
__ADS_1
Pertengkaran dan aksi saling jewer berlangsung sengit, tak ada satupun dari mereka yang hendak mengalah dan menurunkan ego masing-masing. Tok tok tok tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk dengan cukup keras, entah siapa gerangan yang sepertinya sedang diliputi amarah hingga melapiaskan dengan ketukan ke pintu sekeras itu. Dirga dan Niana kini sama-sama melepaskan aksi saling jewer-menjewernya. Suara ketukan pintu itu membuat mereka kesal karena pertengkaran diantara mereka belum selesai tetapi terpaksa berhenti padam meredam dan mereka saling menatap sejenak.
"Siapa?" teriak Dirga dan Niana bersamaan dengan nada kesal lalu mereka kembali saling bertatapan
"Maaf Tuan Muda Nona Muda" seru Paman Yan yang masih berdiri di depan pintu
"Ada apa Paman Yan?" seru Dirga
"Nyonya Besar menyuruh Tuan Muda dan Nona Muda segera turun. Semua orang sudah menunggu di bawah" ucap Paman Yan
"Baik paman, sebentar lagi kita turun" seru Dirga
"Permisi Tuan" ucap Paman Yan lalu meninggalkan kamar
Niana yang masih kesal terlihat masih cemberut dengan bibir mengerucut sambil melipat tangan di depan dada dan membuang muka dari pandangan Dirga. Melihat Niana masih merajuk, Dirga pun melirik sambil mengulum senyum. Egonya yang tadi membumbung tinggi kini terkalahkan oleh wajah istrinya yang sangat lucu. Dirga mulai berjalan mendekati Niana setelag mengambil baju dari almari. Kemudian Dirga berdiri dengan lututnya dan telapak tanganya bertumpu di bibir sofa sehingga Niana berada di antara tangan Dirga dengan membuang muka.
"Dia masih cemberut saja seperti ikan buntal. Benar-benar menggemaskan" batin Dirga sambil tersenyum
"Hei... kenapa masih cemberut? Maafkan aku, ayo pakai baju semua orang sudah menunggu kita, apa kamu tidak jadi ikut melayat?"
"Aku bukan ikan buntal hiks.. hiks.." ucap Niana lalu meletakan salah satu sisi kepalanya ke dalam dada Dirga dan memeluk Dirga dengan erat
"Ikan buntal kan lucu dan menggemaskan. Kenapa tidak suka" ucap Dirga memeluk Niana dan mengelus rambut belakangnya
"Benarkah? kamu tidak mengejekku gemuk seperti ikan buntal"
"Tidak, badanmu tidak gemuk" ucap Dirga yang tangannya melepas tali bathrobe yang di pakai Niana
"Kamu mau apa?" ucap Niana terkejut dan melepaskan pelukannya saat tali bathrobenya dilepas oleh Dirga
"Aku mau membantumu pakai baju, sekalian memastikan badanmu memang tidak gemuk" bisik Dirga ke telinga Niana sambil tersenyum
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa pakai baju sendiri" ucap Niana meraih baju yang dipegang Dirga dan memakainya sendiri