Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 64 Insiden tengah malam


__ADS_3

Semua orang dalam rumah pun berhamburan keluar dari kamarnya menuju dapur. Mencari siapakah gerangan yang telah membuat gelagar suara yang mengusik kedamaian malam di Rumah Besar Sanjaya. Suara yang menggema membangunkan semua orang yang mungkin sudah mulai menuju alam mimpi.


"Nona Muda, ada apa?" tanya Bi Mar yang datang bersama Rumi melihat Niana terduduk di kursi


"Kaki ku sakit Bi" ucap Niana merintih memegangi pergelangan kaki kirinya yang diletakan di atas paha kanannya


"Astaga, nona kenapa mesin blendernya bisa terjatuh. Apakah nona baik-baik saja" seru Rumi kaget saat berjalan mendekati dapur


"Aku tak sengaja menjatuhkannya saat memgambil gelas di atas kabinet. Mungkin blendernya terlalu di pinggir jadi kesenggol tanganku terus jatuh" ucap Niana


Mereka belum menyadari kaki Niana yang sakit kena pecahan gelas. Niana masih terlihat memegangi ujung telapak kaki dan pergelangan kaki kirinya yang diletakan di atas paha kanannya. Ada darah yang menetes di lantai di bawah kaki kiri Niana. Terlihat mesin blender dan pecahan gelas berserakan di bawah lantai dan cairan jus yang tumpah kemana-mana. Niana tampak kesusahan mencabut pecahan gelas yang menancap di kakinya.


"Nona Niana kakimu kena pecahan gelas? biar Rumi bantu ambil pecahan gelasnya" ucap Rumi saat menunduk memunguti pecahan gelas


"Pelan-pelan Rum" ucap Niana memejamkan mata menahan sakit


"Aaachh sakit sekali Rum" seru Niana saat pecahan gelas yang menancap di kakinya tercabut


"Ada apa ini?" tanya Mama Sofi diikuti Renata di belakangnya dan Paman Yan


"Kaki Nona Niana kena pecahan gelas nyonya" ucap Bi Mar


"Kok bisa? Bagaimana kakimu Niana?" tanya Mama Sofi khawatir


"Tidak apa-apa ma. Hanya tergores sedikit" ucap Niana


"Apanya yang tergores sedikit. Itu luka kakak ipar dalam sekali. Bukan tergores namanya. Ayo Rum bantu aku memampah kakak ipar ke ruang tengah" gumam Renata sambil menunduk-nunduk penasaran seakan ingin melihat kaki Niana yang terangkat di atas kursi


"Paman Yan tolong ambilkan kotak obat untuk mengobati luka Niana" titah Nyonya Sofi dan Paman Yan segera bergegas setelah menundukan kepala

__ADS_1


"Bi Mar tolong bereskan dapur ini" titah Nyonya Sofi


"Baik nyonya" ucap Bi Mar menundukan kepala


Nasib Niana benar-benar menyedihkan. Dirga sudah mengingkari janjinya untuk pulang cepat, kenyataanya belum pulang sampai sekarang. Jus stroberrynya pun tumpah seolah tak ingin diteguknya. Sekarang malah pecahan gelas menancap dalam membuat luka menganga di kakinya.


"Rumi balutlah kaki Nona Muda dulu agar darahnya segera berhenti" titah Paman Yan pada Rumi sambil menyerahkan kotak obat


"Baik paman" ucap Rumi yang membuka gulungan perban lalu dibalutkan ke kaki Niana setelah membersihkan luka dan menetesinya dengan cairan antiseptik


"Niana kita ke RS kakimu harus dijahit karena lukanya dalam" ucap Mama Sofi


"Iya kak, kita ke RS sekarang, dimana Kak Dirga" tanya Renata


"Paman Yan tolong panggil Dirga di kamarnya. Anak itu bisa-bisanya masih tertidur nyenyak" ucap Mama Sofi marah


"Tidak usah paman, Dirga belum pulang. Kita ke RS sekarang saja" ucap Niana


"Apa? Kemana anak itu malam-malam begini belum pulang" tanya Mama Sofi


"Maaf Nyonya Tuan Muda sedang ada urusan pekerjaan menghadiri pesta dari klien" ucap Mr Ken yang tiba-tiba datang


Entah darimana kemunculan Mr Ken yang tiba-tiba sudah ada dibelakang mereka yang tengah mengerubungi Niana. Seperti alien yang mendarat daruratkan piring terbangnya di planet bumi, suaranya benar-benar mengangetkan mereka hingga semua menoleh ke arahnya.


"Suruh Dirga pulang. Dan tolong antar Niana ke RS" titah Mama Sofi pada Mr Ken


"Ponselnya Dirga tidak bisa dihubungi ma, dari tadi Niana sudah mencoba menghubungi tetapi tidak bisa" ucap Niana menahan kesedihannya walau air mata tetap saja tak mampu dibendungnya


"Mungkin ponsel Tuan Muda kehabisan batrei nona, makanya saya disuruh pulang untuk menjelaskan" ucap Mr Ken

__ADS_1


"Mr Ken seperti menyembunyikan sesuatu. Kenapa dia pulang sendiri, apakah Dirga hanya ingin berduaan dengan Tania dan tidak ingin diganggu" batin Niana


"Ayo Mr Ken kita bawa kakak ipar ke RS sekarang. Keburu kakak ipar pingsan kehabisan darah" seru Renata


"Baik nona" ucap Mr Ken


Mereka pun segera menuju ke Hospital Sanjaya untuk mengobati luka di kaki Niana. Niana mendapatkan beberapa jahitan di kakinya. Untuk sementara Niana tidak bisa berjalan dan harus memakai kursi roda.


Kakinya yang terluka sudah diperban dan dokter mengizinkan Niana pulang karena tidak perlu rawat inap. Selesai menebus obat di apotek lantai atas, Niana menuju lift bersama Renata untuk pulang.


Saat pintu lift terbuka, matanya terbelalak melihat dua orang manusia yang ada di depannya saat pintu liftnya terbuka. Niana melihat Dirga bersama Tania masuk ke dalam lift yang ada di depannya. Bagai tersambar petir hatinya terbakar dan hancur jiwa raganya berkeping-keping. Tangan Dirga terlihat melingkar di bahu Tania seoalah sedang memapah mesra Tania. Namun, Dirga tidak mengetahui keberadaan Niana yang ada di depannya karena pintu lift yang di naiki Dirga segera tertutup menuju lantai atas. Renata yang berada dibelakang Niana sedanv asyik dengan ponselnya tidak mengetahui kalau Dirga barusan ada di lift yang ada di depannya.


"Ren, aku melihat Dirga di lift di depan kita bersama Tania. Apa kamu juga melihatnya? " ucap Niana duduk di kursi rodanya


"Rena tidak lihat kak. Bukankah kata Mr Ken, Kak Dirga sedang menghadiri pesta kliennya. Mungkin kakak salah lihat" ucap Renata


"Tidak Ren, kakak yakin itu Dirga. Apa dia akan kembali pada Tania? Lalu meninggalkan ku" ucap Niana dengan mata berkaca-kaca dan pandangannya kosong


"Kak Niana ngomong apa? Tidak mungkin Kak Dirga meninggalkan kakak?" ucap Renata memegangi pundak Niana dari belakang


"Tapi Ren, yang kakak lihat memang benar mereka. Ayo kita ikuti" ucap Niana meraih tangan Renata seolah ingin memintanya mengikuti kemana Dirga pergi


"Gawat kalau yang dilihat Kak Niana benar Kak Dirga dengan Kak Tania. Kak Niana akan bertengkar hebat dengan Kak Dirga" batin Renata


"Lebih baik kita segera pulang kak, kita tanyakan Mr ken saja biar lebih jelas. Lagian ini sudah malam Rena juga sudah ngantuk sekali" ucap Renata membuat alasan agar Niana membatalkan niatnya untuk mengikuti Dirga


"Tapi Ren.. " ucap Niana yang masih berharap Renata membantu mengejar Dirga


"Kak, kaki kakak baru saja dijahit harus banyak istirahat. Tidak ada tapi-tapi lagi, kalau terjadi apa-apa pada kakak ipar, Kak Dirga pasti akan memarahiku"

__ADS_1


"Baiklah" jawab Niana sedikit kecewa


Akhirnya mereka pulang menuju ke rumah. Niana masih memikirkan apa yang telah dilihatnya di lift tadi. Mungkin jika kakinya bisa berjalan, Niana akan segera berlari mengejar Dirga. Kenangan manis saat bermesraan dengan Dirga terasa indah hingga sulit untuk dilupakan. Walau Dirga mempermainkannya berulang-ulang kali seperti karang yang dihempas sang ombak. Niana mencoba bertahan sekuat hati menghadapi segala ujian hidupnya. Suaminya yang dia percaya, perasaan cinta yang semakin tumbuh di hatinya dan rumah tangga yang mulai dibangunnya dengan cinta kini terasa mencabik perih hatinya saat melihat Dirga begitu mesra dengan Tania.


__ADS_2