
Pukul tujuh malam di dalam sebuah mobil berwarna putih yang melaju stabil di jalan kota, tampak Bintang Erlangga tengah menyetir untuk mengantarkan istri cantiknya, Cahya Rembulan menuju ke sebuah Rumah Bersalin.
Setelah menunggu lebih dari satu tahun sejak pernikahan mereka, akhirnya Tuhan menitipkan buah cinta di rahim Bulan.
"Sayang, kamu masih kuat kan?" Tanya Bintang pada sang istri yang tampak sedang mengelus-elus perut buncitnya sambil terus mengatur napas.
"Hmmm ... masih Mas, tapi kalau bisa lebih cepet lagi. Oh iya, enggak lupa bawa tas perlengkapannya kan Mas?" Sahut Bulan sambil sesekali meringis menahan sakit.
"Enggak, itu ada di belakang." Sahut Bintang sembari fokus menyetir.
Bulan sudah merasakan kontraksi sejak pagi tetapi ia tahan karena intensitas yang masih terbilang jarang. Namun saat sore hari kontraksi yang dirasa semakin sering. Bulan tahu bahwa itu tandanya waktu kelahiran sang putra sudah semakin dekat.
Bulan tetap menahan dengan berjalan-jalan di dalam rumah sambil memgatur napasnya. Bintang pun dengan setia menemani sang istri.
Hari-hari mereka lalui bersama menanti kelahiran si jabang bayi yang digadang-gadang berjenis kelamin laki-laki menurut hasil pemeriksaan USG.
Bulan tampak bahagia menanti waktu demi waktu untuk bisa melihat dan menimang buah hati yang selama ini didambakan. Namun kesedihan juga terpancar dari sorot mata indahnya, karena sang bunda telah berpulang hanya beberapa bulan setelah Bulan dan Bintang menikah. Harapan untuk dapat menemani apalagi menimang cucu pertama, kandas sudah.
Bulan memutuskan untuk ke Rumah Bersalin setelah lewat waktu maghrib ketika Bulan sudah merasa tidak kuat menahan kontraksi. Keringat bercucuran, wajah cantiknya tampak sedikit pucat. Bibir yang selama ini mengulas senyum manis hanya bisa merintih dan mengatur napas akibat rasa sakit dari kontraksi itu.
Bintang panik, namun ia tetap berusaha fokus menyetir sambil coba menenangkan istrinya.
"Sabar Yang, sabar. Sebentar lagi kita sampai kok."
Mobil putih berharga fantastis itu melaju membelah arus lalu lintas yang ramai lancar malam itu, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah Rumah Bersalin, tempat di mana Bulan juga rutin memeriksakan kandungannya.
Bintang segera keluar mobilnya dan membopong Bulan yang masih merintih menahan sakit lalu bergegas membawanya ke dalam.
__ADS_1
Beberapa perawat pun dengan sigap menyambut kedatangan mereka dengan menyiapkan brankar untuk membawa Bulan menuju ke ruang bersalin.
Seorang dokter kandungan tampak berjalan cepat menuju ruang bersalin untuk memeriksa Bulan setelah seorang perawat memberitahukannya tentang kondisi pasiennya itu.
Bintang yang turut menemani sang istri di dalam ruang bersalin terus menguatkan dan menenangkannya.
Jauh di lubuk hatinya, seuntai doa ia panjatkan pada Sang Penguasa Hidup memohon keselamatan dan kesehatan bagi istrinya yang tengah berjuang antara hidup dan mati, begitu pun dengan bayi yang sedang berjuang untuk bisa terlahir ke dunia.
Sekitar dua jam berjuang merasakan sakitnya kontraksi di ruang bersalin, akhirnya terdengar suara tangis bayi yang sangat kuat terdengar membahana di dalam ruang tersebut.
Seketika bola mata Bintang berbinar, tak ada kata yang paling tepat selain berucap syukur atas karunia yang baru saja ia terima.
"Syukur lah, alhamdulillah ...." Ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Para perawat dengan sigap mengurus bayi untuk dibersihkan, lalu sang dokter dibantu beberapa perawat lainnya menyelesaikan tindakan pasca bersalin kepada Bulan.
"Selamat ya Pak? Putra Anda sehat dan sangat tampan, mewarisi ketampanan ayahnya." Ucap dokter itu sambil tersenyum kepada Bintang setelah menyelesaikan tugasnya.
"Sayang, makasih ya? Kamu udah berjuang demi anak kita." Ucap Bintang seraya mengecup kening sang istri.
Bulan mengangguk dan tersenyum tanpa bersuara, ia masih tampak sangat lemah.
Tak berapa lama kemudian, perawat yang mengurus bayi Bulan sudah kembali sembari menggendong bayi tampan itu.
Bintang segera menoleh lalu menggendong bayi mungilnya dengan hati-hati. Ia pun mulai melantunkan azan di telinga kanan sang putra dengan syahdu.
Bulir air bening tampak menetes di ujung matanya, ia tampak sangat terharu karena dengan kehadiran bayi mungil itu menjadikan status baru baginya, yaitu sebagai seorang ayah.
__ADS_1
Sebuah nama pun disematkan pada sang putra tercinta, Dirgantara Putra Erlangga atau akrab disapa Igan.
Bintang pun mulai sibuk memberi kabar kepada Surya, saudara-saudara Bulan, para sahabat dan kolega atas kelahiran sang putra. Sontak ia pun kebanjiran ucapan selamat dan doa dari mereka.
Hari demi hari berganti hingga terasa begitu cepat berlalu bagi Bulan dan Bintang. Mereka mengurus Igan dengan sebaik mungkin, seperti orang tua pada umumnya.
Bintang dan Bulan tidak memanjakan Igan, mereka justru memberi didikan dan nasehat kepadanya agar ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, yang mampu berusaha dengan bertumpu di atas kaki sendiri tanpa mengandalkan kekayaan dan nama besar orang tua.
Tak lupa pula mereka menanamkan kepekaan sosial bagi putra pewaris mereka agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama dan suka menolong.
Semua harapan tertumpu pada Igan, karena Bulan tak kunjung hamil lagi walaupun usia Igan sudah menginjak remaja. Bintang dan Bulan pun pasrah, mereka tak mengeluh dan benar-benar menerima ketentuan dari Sang Kuasa.
Igan tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, berparas rupawan dan aktif. Ia sangat menyukai olah raga dan musik. Suara bariton yang khas ketika bernyanyi pun mampu menyihir setiap orang yang mendengarnya bernyanyi, hingga beberapa kali Igan keluar sebagai juara saat mengikuti lomba menyanyi mewakili sekolahnya.
Dengan beranjaknya usia, Igan semakin mengerti passion dirinya. Ia pun rajin mengikuti berbagai kompetisi menyanyi dari berbagai tingkatan.
Ketika ia sudah berstatus sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi ternama di Ibukota, ia mengikuti salah satu ajang bernyanyi bertaraf nasional dan menyabet gelar runner up. Sejak itulah karirnya sebagai penyanyi profesional terbuka lebar.
Seorang produser menggaetnya menjadi salah satu penyanyi andalan di perusahaan rekamannya. Igan sangat bersyukur atas pencapaian yang telah ia raih berkat usaha dan kerja kerasnya selama mengikuti berbagai ajang lomba menyanyi.
Tetapi ia tak mengingkari bahwa berkat doa dan dukungan dari orang tua juga yang membawanya meraih keberhasilan.
Sesuai apa yang orang tuanya ajarkan, Igan berpikir untuk tidak mencantumkan nama Erlangga di belakang nama panggungnya. Ia tidak ingin jika nama besar sang ayah berpengaruh pada usahanya.
Igan ingin menunjukkan pada kedua orang tuanya bahwa ia bisa berusaha sendiri. Ia hanya memakai nama Dirgantara Putra setiap kali memperkenalkan diri di depan juri.
Namun ketika ia sudah dikontrak oleh perusahaan rekaman, identitas aslinya pun terkuak karena nama belakang yang tertera di kartu identitasnya.
__ADS_1
Sang produser semakin simpatik pada sosok Igan karena ia sama sekali tidak ingin memanfaatkan nama besar orang tua untuk memuluskan impiannya.
***