
Malam itu, Tia berjalan sendiri di dalam temaram. Entah kemana tujuannya, ia pun tak tahu. Diikuti saja kemana langkah kaki membawanya.
Setelah berjalan beberapa lama, ia berhenti di sebuah persimpangan. Tia terdiam, ia bingung harus melangkah ke arah mana.
Di ujung kedua persimpangan itu,samar-samar tampak seorang pria yang tengah berdiri membelakangi Tia dengan postur tubuh yang berbeda.
Dengan keadaan sekitar yang sangat temaram, membuat Tia susah untuk melihat dengan jelas kedua pria yang berdiri di kedua sisi persimpangan tersebut.
Tia coba memicingkan mata agar mendapat fokus pada manik matanya, ia bergantian menatap ke kedua sisi persimpangan itu.
Dengan susah payah, akhirnya ia dapat melihat kedua sosok pria di sisi yang berbeda itu, walau masih samar-samar. Ia menatap mereka satu persatu, hingga kedua sosok pria itu secara bersamaan bergerak seperti hendak menoleh ke arah Tia, namun dengan gerakan yang sangat lambat.
Tia terkesiap, ia sibuk menoleh ke kanan dan kiri, jantungnya berdebar-debar karena tak tahu apa yang akan terjadi kemudian.
Perlahan namun pasti, kedua sosok pria di ujung persimpangan itu terus bergerak sangat lambat untuk menoleh ke arah Tia.
Tubuh Tia bermandikan peluh. Ia menjadi ketakutan dan ingin berlari, namun kaki terasa terkunci, ingin berteriak pun suara seperti tercekat. Tia hanya diam mematung sambil terus mengamati dua sisi persimpangan itu, hingga sebuah suara membuatnya terlonjak kaget.
"Tia ... bangun Dek! Udah subuh, ayo salat bareng!" Ajak Hendra sembari mengetuk pintu kamar adiknya itu.
Mata Tia sontak membelalak lalu dengan cepat ia duduk di atas pembaringannya dengan napas yang masih tersengal.
"Astagfirullah!! Ya Allah, mimpi apaan sih tadi?" Ucapnya sambil menepuk-nepuk pelan kedua pipinya.
"Dek ... udah bangun belum? Salat yuk?" Suara Hendra kembali terdengar, membuat kesadaran Tia semakin penuh.
"I-iya Kak, udah bangun kok. Sebentar!" Sahut Tia dengan suara yang masih parau dari dalam kamar.
Tia beranjak cepat membuka pintu kamarnya, namun ia kembali terkejut karena ternyata Hendra masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Astagfirullah!!" Seru Tia dengan mata membulat.
"Kenapa sih Dek? Kayak liat hantu aja!" Omel Hendra.
"Aku kaget tau Kak! Tadi tuh habis mimpi aneh soalnya." Timpal Tia.
"Ya udah sana ke kamar mandi dulu, Kakak tunggu di ruang tengah buat jama'ah."
__ADS_1
Tia mengangguk lalu bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri sekaligus mengambil air wudu.
*
Pukul tujuh tiga puluh pagi, Tia dan Hendra sudah tiba di kantor. Mereka berboncengan karena Hendra sedang mendapat shift pagi, jadi mereka bisa berangkat dan pulang kantor bersama.
"Nanti kamu ada lembur enggak Dek?" Tanya Hendra ketika sudah turun dari sepeda motor.
"Hmmm ... kayaknya sih enggak, kerjaan buat acara anniversary lusa udah kelar semua." Sahut Tia, yakin.
"Ya udah, nanti sore Kakak tunggu di sini ya?"
Tia mengangguk, lalu menyalami tangan sang kakak sebelum akhirnya ia melangkah menuju tangga untuk ke ruang kerjanya di lantai dua.
Hari itu tak seperti biasanya, suasana di lantai dua masih agak lengang, banyak ruangan divisi yang masih terkunci.
Tia berjalan santai menyusuri koridor, melewati ruangan demi ruangan.
Lantai dua kok tumben baru sedikit yang berangkat, padahal udah jam segini? Di depan juga tadi enggak liat karyawan lantai dua, pada kemana ya? Batin Tia bertanya-tanya sembari menoleh ke semua penjuru.
Ia mendorong handle daun pintu transparan itu, dan ternyata dapat dengan mudah Tia buka, padahal ia tak melihat siapapun di dalam ruangan.
"Pada kemana sih orang-orang?" Gumamnya lirih.
Tia berjalan mendekat ke meja kerjanya, namun saat belum sampai ia sudah dikejutkan oleh sebuah tepukan di bahu kanannya. Tia dengan cepat menoleh ke arah kanannya, namun kosong tak ada siapapun.
Ketika Tia memutar badannya untuk melihat ke belakang, tiba-tiba tampak sebuah meja yang ada di belakangnya bergerak diiringi sebuah suara benturan dan teriakan, "AWWW!!!" terdengar jelas di telinga Tia.
Tia mendekati sumber suara di belakang meja itu, dan matanya membelalak ketika ia melihat seseorang tengah meringkuk sambil meringis, mengelus kepalanya yang tampak sakit. Orang itu kemudian mendongak melihat ke arah Tia yang juga tengah menatapnya keheranan.
"Pak Rey ngapain di situ?" Tanya Tia masih tetap dengan ekpresi wajah heran bercampur kaget.
Rey berdiri dengan wajah menahan sakit di kepala akibat terbentur meja.
"Bapak enggak apa-apa? Lagian ngapain Bapak pake jongkok segala di situ? Jadi kejedot kan?" Tanya Tia setengah mengomel.
Rey terhenyak, ia menatap Tia dengan dalam hingga membuat Tia menyadari nada ucapannya yang salah.
__ADS_1
"Eh, ma-maaf Pak. Saya bukannya mau marahin Bapak, tapi saya kaget tadi habis ada yang tepuk pundak saya, tapi enggak ada orangnya. Itu tadi ... Pak Rey yang iseng?"
Rey tersenyum tipis, lalu ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut kertas biru metalik dan berpita merah, dari lemari kecil di dekat meja kerjanya.
"Buat kamu, selamat ulang tahun ya Tia." Ucap Rey seraya menyodorkan kotak kecil nan cantik itu.
Tia terperangah, ia tak menyangka bahwa ada orang lain yang mengetahui hari ulang tahunnya. Bahkan kakaknya pun pagi tadi tidak memberinya ucapan.
"Pak Rey ... tahu darimana, kalau saya hari ini ulang tahun?" Tanya Tia terkesima.
"Hmmm ... emang penting ya saya tahu darimana?" Ledek Rey.
"Ya ... penting Pak buat saya, bahkan Kak Hendra aja kayaknya lupa hari ini ulang tahun saya."
"Saya ... masih ingat berkas lamaran kerja kamu yang sempat ditunjukkan sama Pak Irwan, waktu beliau mau menempatkan kamu di divisi ini."
Tia mengernyitkan dahi, namun ia tersenyum malu.
Pak Rey orangnya se-perhatian ini ya ke anak buahnya? Ultah anak baru di divisi-nya aja dia inget-inget. Puji Tia dalam hati.
"Terima dulu dong kadonya, masa mau sampai siang saya pegangin terus?" Tegur Rey sambil tersenyum.
"Oh, iya Pak. Maaf. Hmmm ... makasih ya Pak Rey, sudah repot-repot siapin kado segala buat saya." Ucap Tia malu-malu seraya menerima kado dari tangan Rey.
"Cuma kado kecil kok. Mudah-mudahan kamu suka." Ucap Rey sambil tersenyum.
Tia kembali tersenyum malu sambil tertunduk. Ia pun kembali menuju meja kerjanya dan menaruh kado itu di dalam tas kerjanya.
Tak lama kemudian datanglah Tami, Teguh, Gugun dan Jeni. Tia menatap kedatangan mereka untuk melihat reaksi rekan-rekan kerjanya itu.
Ada lagi yang tahu ultah gue enggak ya selain Pak Rey di sini? Tanya Tia dalam hati.
Namun tak ada seorang pun dari rekannya itu yang memberikan kado ulang tahun atau bahkan sekedar ucapan selamat. Tia menghela napas dalam-dalam, lalu tersenyum getir.
Ternyata cuma Pak Rey yang tahu dan perhatian ke gue, bahkan Kak Hendra aja enggak kasih gue ucapan! Gerutu Tia dalam hati.
***
__ADS_1