Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Demi Tia


__ADS_3

Igan kembali ke RS. Persada untuk mengetahui kondisi Tia sekaligus menemani Hendra di sana.


Saat Igan tengah menuju ruang gawat darurat, ia melihat Hendra tampak berjalan cepat dari suatu tempat.


"Mas Hen!" panggil Igan kemudian agak berlari mendekat.


Hendra menoleh lalu berhenti, menunggu Igan yang sedang menghampiri.


"Darimana, Mas?" tanya Igan saat sudah ada di dekat Hendra.


"Dari loket, Mas. Bayar administrasi buat tindakan di gawat darurat tadi. Tia malam ini sudah bisa masuk ke ruang rawat inap, saya sudah urus semuanya." sahut Hendra.


"Ya Allah, maaf Mas Hen. Harusnya saya yang urus semua itu, soalnya kan saya ...."


"Enggak apa-apa, Mas. Saya justru berterima kasih karena Mas Igan mau ikut repot lapor ke polisi." ujar Hendra memotong ucapan Igan.


"Iya, alhamdulillah ternyata pelakunya sudah ditangkap, Mas. Tadi saya juga sudah ketemu sama dia di polsek Cempedak-5."


"Ah, syukurlah! Mas Igan kenal pelakunya??"


Igan mengangguk, wajahnya berubah sangat serius.


"Dia Yongki, otak dari kasus pencemaran nama baik saya tempo hari. Pantesan dia diberitain menghilang waktu mau diamankan polisi, ternyata dia lagi berusaha mengincar saya."


"Kurang ajar!! Tapi kenapa dia jadi mengincar Tia, Mas? Tau darimana dia soal Tia??"


"Mungkin selama ini dia menguntit kegiatan saya, dan ... tau kalau saya dan Tia itu dekat. Jadi, dia incar Tia buat senjata menghancurkan hidup saya."


Hendra tampak sangat geram, hingga ia melayangkan tinjunya ke sebuah tembok.


"Mas Hen, sabar. Saya minta maaf karena Tia jadi ikut terseret dan jadi korban." ucap Igan dengan raut wajah penuh sesal.


Hendra menggeleng, "Enggak Mas, ini bukan salah Mas Igan. tapi memang musibah."


"Maaf, dengan keluarga Mbak Celestia Amanda? seru seorang perawat yang keluar dari dalam ruang gawat darurat.


Igan dan Hendra terkesiap lalu beegegaa mendekat ke arah perawat itu.


"Iya Sus, saya kakaknya. Ada apa?" sahut Hendra, panik.


"Pasien sudah siap dipindahkan ke ruang perawatan." ucap perawat itu.


"Oh iya-iya, baik Sus. Saya juga sudah urus administrasinya." ujar Hendra seraya menyodorkan bukti pembayaran.


"Baik Pak, mari ikut saya."


Hendra dan Igan melangkah masuk ke ruang gawat darurat untuk sama-sama membawa Tia ke ruang perawatan.

__ADS_1


Brankar yang membawa Tia pun didorong melewati koridor-koridor rumah sakit itu menuju ruang Anyelir-3, kamar yang akan menjadi tempat Tia menjalani perawatan.


"Terima kasih, Sus." ucap Hendra ketika mereka sudah masuk di ruang Anyelir-3.


"Sama-sama, Pak. Saya permisi dulu."


Tia yang masih terbius obat pun belum sadarkan diri. Tubuhnya masih terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.


"Hmmm ... Maaf, Mas Igan barangkali capek dan mau pulang enggak apa-apa kok. Biar saya aja yang jaga Tia." ujar Hendra.


"Oh, tapi saya pengin temenin Mas Hendra jagain Tia juga."


"Enggak usah Mas, nanti Mas Igan malah kecapean."


"Enggak kok. Oh iya, Mas Hen sudah bawa baju-baju dan perlengkapan belum? Kok dari tadi saya liat Mas Hen enggak bawa apa-apa?" tegur Igan.


Hendra tersadar, ia baru ingat kalau ia memang tidak membawa pakaian dan perlengkapan apa-apa.


"Astagfirullah, iya Mas saya lupa!! Padahal tadi saya sudah sempat packing beberapa baju Tia dan baju saya, asal ambil aja sih gara-gara gugup. Tapi malah ketinggalan!"


Igan tersenyum, "Ketinggalan dimana, Mas? Masih di rumah?"


"Iya, kayaknya sih masih di rumah."


"Terus gimana, mau saya yang ambilin atau Mas Hen aja? Barangkali masih ada yang belum kebawa."


"Iya, Mas. Hati-hati." pesan Igan.


Hendra mengangguk lalu bergegas keluar ruangan itu.


*


Berita tentang musibah yang menimpa Tia pun langsung tersebar di lingkungan kantor. Rekan satu divisi Tia merasa prihatin atas apa yang menimpa rekan juniornya itu.


Igan yang hari itu memaksakan tetap berangkat ke kantor walau harus menahan kantuk dan lelah, karena baru pulang hampir subuh dari rumah sakit pun menjadi satu-satunya narasumber terpercaya atas insiden yang menimpa Tia.


"Mas, Tia gimana kondisinya? Lukanya enggak parah kan?" tanya Jeni.


"Waktu kejadian, Tia katanya lagi sama Mas Igan ya pulang kantor?" imbuh Tami.


"Eh, gue denger di berita juga katanya pelakunya tu yang jadi buronan polisi gara-gara kasus fitnah ke Mas Bos! Gila bener tu orang!" ujar Gugun.


Igan dengan matanya yang sayu menahan kantuk berusaha meladeni setiap pertanyaan dari rekan-rekannya itu.


"Iya ... kemarin memang Tia saya ajak pulang bareng, terus mampir dulu buat makan. Tapi ternyata si Yongki itu mungkin udah nguntit saya beberapa hari ini, dan baru beraksi kemarin."


"Tapi Tia enggak apa-apa kan, Mas?" tanya Teguh.

__ADS_1


"Enggak apa-apa gimana sih Guh?? ya pasti luka lah!" celetuk Gugun.


"Ck, kalo itu sih gue paham! Maksud gue, lukanya tu parah apa enggak?!" tukas Teguh dengan berdecak.


"Tia harus ada beberapa jahitan di perutnya, tapi alhamdulillah aman kok. Kata Mas Hendra, tadi pagi Tia sudah sadar." sahut Igan.


"Berarti kalo nanti sore kita tengokin Tia udah boleh kan, Mas?" celetuk Tami.


"Mungkin udah boleh." sahut Igan dengan mata yang semakin sayu karena mengantuk.


Teguh memperhatikan Igan yang tampak kelelahan.


"Mas Igan ngantuk banget ya? Mending ijin pulang aja dulu, Mas. Jangan dipaksain kerja kalo lagi begitu." saran Teguh.


"Iya Mas, enggak apa-apa kok pulang dulu." imbuh Jeni.


"Eh, tapi kalo lagi ngantuk gitu mending jangan nyetir, bahaya!" saran Gugun.


"Iya, saya mau ke ruangan Ayah aja dulu. Maaf ya, saya jadi enggak profesional begini." ucap Igan.


"Iya Mas, enggak apa-apa. Ya udah istirahat aja dulu." sahut Jeni.


Igan tersenyum canggung karena merasa tak enak hati harus meninggalkan pekerjaan di saat jam kerja.


Ia berjalan menuju ruang CEO, lalu mengetuk pintunya.


"Masuk!" sahut si pemilik ruangan yang tak lain adalah ayah Igan.


Igan mendorong daun pintu berukuran besar dan tebal itu, lalu melangkah masuk dengan perlahan.


Bintang melihat putranya berjalan mendekat dengan wajah yang tampak lelah pun merasa khawatir.


"Kamu sakit, Nak? Ayah bilang juga apa tadi pagi, kamu jangan maksain ke kantor. Bandel sih!" omel Bintang pada sang putra.


"Igan kan karyawan enggak enak Yah ... nanti dikira mentang-mentang anaknya CEO terus seenaknya enggak masuk kantor." elak Igan dengan lembut.


"Ya tapi kan kondisi kamu lagi capek begitu ... Ya udah kamu istirahat aja dulu di sini, atau mau dianterin Hendro pulang?"


Igan terdiam karena bingung, hingga membuat sang ayah dengan cepat mengambil keputusan.


"Kamu pulang aja, nanti ayah suruh Hendro anterin kamu. Tunggu dulu di sini, ayah telepon Hendro." tegas Bintang.


Igan manggut-manggut saja, ia tak menolak karena memang yang ia butuhkan adalah waktu istirahat yang berkualitas.


Jika ia memaksakan hanya istirahat sejenak di ruang kerja ayahnya, itu tidak akan senyaman jika ia beristirahat di rumah.


Ayah liat, kamu itu benar-benar ada hati sama Tia, Nak. Sampai-sampai kamu rela pulang pagi demi nungguin Tia di rumah sakit. batin Bintang sembari menatap sang putra.

__ADS_1


****


__ADS_2