Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Senyumnya Mengalihkan Dunia si Tampan


__ADS_3

Jio mengambil ponsel dari saku blazer-nya lalu jarinya tampak sibuk menggeser-geser di atas layar ponsel. Igan yang belum mendapatkan jawaban hanya bisa terdiam dengan wajah penasaran, ia pun memperhatikan dengan seksama apa yang Jio cari.


"Nih, lu liat deh!" Ujar Jio seraya menyodorkan layar ponselnya ke muka Igan.


Igan memundurkan wajahnya dari layar ponsel Jio sembari mengomel, "Mata gue masih normal, Bro!"


Jio terkekeh lalu menyerahkan ponselnya kepada Igan, agar ia bisa melihatnya sendiri dengan jelas.


Igan memperhatikan sebuah foto yang ada di akun milik Ilona. Foto tersebut menampilkan ketika gadis itu sedang berfoto dengan latar taman yang sangat familiar bagi Igan.


Jika hanya foto dengan latar taman itu tentu saja tidak menjadi masalah bagi Igan, tetapi sebuah keterangan yang ditulis untuk menyertai foto itulah yang membuat dahi Igan berkerut dan matanya membelalak.


Lona apa-apaan sih? Kenapa harus nulis caption kayak gini segala! Gerutu Igan dalam hati.


"Bener kan di sini? Dia nulis caption begitu emang beneran Gan?" Tanya Jio.


"Ya enggak lah, gue aja baru liat postingan dia itu." Sahut Igan, kesal.


"Oh ...." Sahut Jio sambil manggut-manggut.


"Gan, kok temannya enggak diajak masuk?" Tiba-tiba Bulan datang menyela percakapan Igan dan Jio.


"Eh Tante, apa kabar Tan?" Sapa Jio seraya menjabat tangan Bulan.


"Alhamdulillah baik ... Ayo masuk, kita duduk-duduk di dalam aja. Om juga ada di dalam tuh, yuk?" Ujar Bulan seraya mengajak Jio dan putranya untuk masuk.


Igan mengajak Jio untuk masuk mengikuti sang bunda lalu duduk bersama di ruang tamu. Tampak Bintang juga sudah duduk menunggu mereka.


"Selamat sore Om ... apa kabar?" Sapa Jio sambil bersalaman dengan Bintang.


"Alhamdulillah baik-baik saja, saya sudah lebih sehat rasanya. Ayo silakan duduk." Sahut Bintang.


"Iya Om, terima kasih." Ujar Jio kemudian duduk.


"Berarti Nak Georgio ini manajernya Igan? yang dulu pas kuliah pernah antar Igan pulang gara-gara cedera main basket, betul enggak?" Tebak Bulan sambil coba mengingat-ingat.


"Wah, ingatan Tante bagus banget! Betul Tan, saya Georgio, panggil saja Jio." Sahut Jio sambil tersenyum.


"Igan pernah cerita kalau manajernya itu dulu senior di kampus, namanya Jio tapi Tante sama sekali belum kepikiran Jio yang mana. Eh ... ternyata Georgio."


"Iya Tan, Igan bantu saya biar enggak jadi pengangguran. Jadi sekarang sebisa mungkin saya bantu Igan supaya karirnya tambah bagus."


"Om suka dengan pertemanan kalian, jaga baik-baik hubungan baik itu ya? Jangan sampai rusak cuma karena hal sepele yang seharusnya enggak ada. Apalagi kalau cuma urusan wanita, urusan uang, itu hal yang biasanya bikin rusak suatu pertemanan. Jangan sampai terjadi ya?" Pesan Bintang, berwibawa.


"Iya Om, saya sama Igan sudah komit jangan sampai naksir cewek yang sama." Sahut Jio seraya melirik Igan kemudian sama-sama tersenyum.


"Iya betul Yah, soal penghasilan juga kita saling terbuka." Imbuh Igan.


"Ya, baguslah kalau begitu." Timpal Bintang.

__ADS_1


Obrolan santai terus bergulir hingga malam, dan akhirnya Jio pamit pulang setelah makan malam bersama di rumah Igan.


Pukul delapan malam, Igan masih duduk-duduk di teras rumah sambil bermain gitar. Ia coba menemukan melodi yang pas untuk dipadukan dengan lirik yang telah ia tulis.


"Kamu belum istirahat, Nak?" Tanya Bulan.


"Eh, Bunda. Belum Bun, nanti aja. Igan belum ngantuk." Jawabnya.


Bulan duduk mendampingi sang putra.


"Tadi siang Ilona kemari, mau jenguk Ayah. Tapi ...." Ujar Bulan bercerita.


"Tapi kenapa Bun? Ayah marah atau gimana?" Tanya Igan memotong pembicaraan bundanya, karena merasa takut ada sesuatu yang terjadi saat Ilona datang.


"Enggak ... Bunda tadi mau bilang, untungnya Ayah masih istirahat jadi enggak tahu kalau Ilona datang kemari. Lagian dia cuma sebentar kok, habis terima telepon ... dia langsung pamit. Wajahnya tuh langsung cemberut dan sedih gitu. Kasihan deh."


Igan tertegun.


"Yang telepon dia itu, kamu ya Nak? Soalnya Bunda dengar dia sebut 'Gan' waktu angkat telepon." Tanya Bulan.


"Iya Bun, Igan marahin dia gara-gara enggak bilang dulu kalau dia mau ke sini."


"Kasihan loh, jangan dimarahin begitu. Niat dia kan baik mau jengukin Ayah."


"Tapi kan Ayah enggak suka Bun, Igan jadi bingung."


"Ya tapi enggak harus dimarahin juga kan? Kasihan anak orang kamu marah-marahin gitu." Tegur Bulan dengan lembut.


Rasa bersalah tiba-tiba menyelinap di sanubari Igan.


"Sebenarnya ... kamu dan Lona itu ada hubungan spesial atau enggak sih, Nak?" Tanya Bulan.


"Kok Bunda tanya begitu?" Igan balik bertanya.


"Ya ... boleh dong Bunda nanya begitu? Lagian selama ini Bunda belum pernah sekalipun dikenalin sama teman dekat kamu." Ujar Bulan seraya tersenyum.


"Hehehe ... Igan belum mikirin soal itu Bun, masih pengin fokus sama karir dulu." Sahut Igan seraya kembali memetik lirih gitarnya.


"Ilona itu cantik, baik, dan Bunda liat ... dia kayak ada rasa loh ke kamu." Ledek Bulan sambil tersenyum.


Igan tersenyum, namun enggan menanggapi dan memilih tetap bersenandung lirih diiringi gitarnya.


"Eh ... anak ini, dibilangin kok enggak dengerin sih?" Gerutu Bulan seraya mencubit lembut pipi putranya.


Igan tertawa lalu bertanya, "Terus kenapa Bun kalau dia ada rasa ke Igan?"


"Ya emangnya ... kamu enggak ada rasa sama dia barang secuil?" Tanya Bulan, penasaran.


Igan menatap bundanya lalu menggeleng.

__ADS_1


Bulan mengernyitkan dahi.


"Masa sih? Gadis secantik Ilona enggak bikin anak bunda tertarik sedikitpun?" Ujar Bulan seraya menatap putranya dalam-dalam dan heran.


Igan menghentikan petikan gitarnya ketika menyadari bundanya sedang menelisik.


"Kenapa Bun, kok lihat Igan begitu banget?" Tanya Igan, heran.


"Kamu terlalu sering bergaul sama cowok mungkin, Nak. Atau kamu terlalu akrab sama Jio, jadi kamu kurang peka sama cewek." Celetuk Bulan yang sontak membuat Igan mengerutkan dahi, lalu tertawa saat mulai mengerti maksud ucapan bundanya.


"Astagfirullah Bunda ...!! Bunda mikirnya kejauhan deh! Anak Bunda yang tampan ini masih normal, masih suka sama cewek." Ujar Igan sambil geleng-geleng.


"Terus siapa ceweknya?" Desak Bulan, coba menelisik hati sang putra.


Igan terdiam, namun sebuah senyuman tampak terukir tipis di bibirnya.


"Siapa hayo ...?"


"Ada sih Bun, tapi Igan belum kenal banget." Sahutnya dengan tertunduk dan menahan senyum.


"Emang ketemu di mana?"


"Di jalan, enggak sengaja waktu itu dia serempet mobil Igan."


"Loh, kok kamu enggak pernah cerita ke Bunda?"


"Ya ... enggak perlu sih Bun, mobil Igan juga cuma lecet sedikit. Malah motornya cewek itu yang lecetnya lebih parah."


"Bukan soal lecetnya, tapi soal gadis itu. Siapa namanya?"


Igan tercekat, ia mendadak lupa siapa nama gadis itu.


"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu enggak tahu namanya." Ujar Bulan.


Kok gue mendadak lupa ya nama itu cewek? Pikir Igan.


"Igan beneran lupa Bun, padahal udah kenalan waktu pas ketemu lagi di bengkel."


"Ah kamu nih! Tapi itu anak berarti suka ngebut atau gimana?"


"Waktu itu dia lagi buru-buru habis beli obat buat ayahnya yang lagi sakit Bun."


"Oh ....


Memori Igan sontak kembali ke peristiwa itu, saat ia pertama kali bertemu dengan Tia secara tak sengaja.


Igan menerawang mengingat sosok gadis cantik dengan senyumnya yang menawan. Senyuman yang begitu lekat di benaknya walau ia mendadak lupa namanya, senyuman yang mampu mengalihkan dunia sang pria idaman.


Ia pun tak mengerti, mengapa hatinya bisa tertawan pada gadis yang belum lama ia temui itu. Padahal tak sedikit gadis cantik yang coba mendekat untuk meraih simpatik, namun Igan lebih nyaman menganggap mereka sebagai teman.

__ADS_1


***


__ADS_2