
Setelah menunggu sekitar lima menit, orang yang Hendra tunggu akhirnya tiba. Hendra segera memghampiri Rey saat ia sudah turun dari mobilnya.
"Pagi Pak Rey." Sapa Hendra.
"Eh, kamu Ndra? Pagi ... Loh, kamu kok masih ada di sini? Bukannya kamu berangkat nanti sore?" Tanya Rey dengan ramah.
"Saya habis antar Tia, kan motornya masih di sini gara-gara kemarin sore hujan." Sahut Hendra.
"Oh, hmmm ...." Rey tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi bingung.
"Pak Rey, bisa kita ngobrol di depan sana? Ada yang mau saya sampaikan." Ujar Hendra, serius.
Rey terhenyak, ia menduga bahwa Hendra akan marah atas perlakuannya terhadap Tia.
"Oke Ndra, saya juga mau bicara sama kamu." Ujar Rey.
Rey dan Hendra berjalan menjauh dari area parkir, menuju ke tepi halaman dan berhenti di sebuah pohon di mana terdapat sebuah bangku kayu panjang di bawahnya.
"Kamu mau bicara soal semalam saya dan Tia?" Terka Rey dan direspon anggukan oleh Hendra.
"Ndra, sebelum kamu marah atau mengira saya macam-macam, saya mau jelasin dulu ke kamu. Oke?"
"Tia sudah cerita ke saya Pak, dan sudah jelas."
"Apa Tia merasa saya jahat ke dia?"
"Tidak, dia justru melarang saya bicara sama Bapak tapi saya merasa harus bicara sebagai seorang kakak sekaligus pengganti orang tua buat Tia."
"Iya Ndra, saya ngerti. Saya minta maaf soal perlakuan saya ke Tia semalam, saya tidak sengaja. Tia tiba-tiba menjerit waktu ada petir jadi saya refleks peluk dia, dia kelihatan ketakutan."
Hmmm ... Tia memang dari kecil selalu takut kalau ada petir dan guntur. Ucap Hendra dalam hati.
"Hendra?" Tegur Rey.
"Iya Pak. Tapi maaf, saya minta supaya Bapak lebih menjaga sikap ke adik saya, karena saya tidak mau ada fitnah yang nantinya merugikan dia." Tegas Hendra.
"Iya Ndra, sekali lagi saya minta maaf atas insiden itu."
"Ya sudah Pak, kalau begitu saya permisi pulang dulu." -Hendra bangkit dari tempat duduknya- "Oh iya, saya minta supaya Bapak tetap bersikap profesional ke Tia, supaya dia tetap merasa nyaman kerja di sini." Imbuh Hendra.
"Soal itu kamu enggak usah khawatir, Ndra." Sahut Rey sambil tersenyum.
"Saya permisi, Pak."
"Tunggu!" Seru Rey yang membuat langkah Hendra terhenti, lalu menoleh ke arah Rey.
__ADS_1
Rey mendekat ke arah Hendra. Ia berujar, "Saya rasa ... saya mulai jatuh cinta sama Tia. Kamu tahu kan kalau saya sudah lama menduda? Baru kali ini saya bisa membuka hati untuk wanita selain Susan, mendiang istri saya."
Hendra terhenyak, ia tak menyangka kalau kepala divisi promosi itu diam-diam sudah menaruh hati pada adiknya.
"Apa kamu ijinkan saya untuk mengenal Tia lebih personal?" Tanya Rey.
"Saya ...." Hendra masih bingung harus menjawab apa.
"Saya minta tolong, sebagai sesama laki-laki dewasa kamu pasti tahu bagaimana rasanya kalau sedang jatuh cinta kan?" Pinta Rey, memohon.
"Iya, saya tahu Pak. Tapi semua itu terserah Tia, saya cuma menegaskan supaya Bapak menjaga sikap ke adik saya, walaupun nanti Tia mengijinkan Bapak untuk saling mengenal."
Rey tersenyum, lalu menjabat tangan Hendra.
"Saya janji, Ndra!" Ucapnya dengan mantap.
Hendra tersenyum tipis lalu kembali melangkah menuju motornya dan pulang.
Di dalam ruang kerjanya, Tia tampak cemas. Ia khawatir jika kakaknya dan Rey terlibat adu mulut gara-gara insiden semalam.
Pintu ruangan terbuka, Tia menatapnya dengan seksama menanti siapa yang datang.
"Eh Tia, tumben kamu pagi banget datangnya?" Sapa Tami saat melangkah masuk.
Tia menghela napas, lalu berusaha tersenyum.
"Eh, tadi di depan aku lihat Pak Rey sama kakak kamu lagi ngobrol. Tapi kelihatannya serius banget, ada apaan sih?" Tanya Tami.
Tia tersentak, jantungnya berdegup lebih cepat.
"Ngo-ngobrol ... serius?? A-aku enggak tahu, Mbak." Sahut Tia, tergagap karena panik.
"Oh ... kirain ada masalah apa ... gitu?"
"Hmmm ... tapi mereka beneran cuma ngobrol kan, Mbak?" Selidik Tia.
"Iya lah, emang kamu mau mereka ngapain? adu jotos? apa ... peluk-pelukan gitu?" Ledek Tami sambil terkekeh.
"Ih Mbak Tami nih!" Gerutu Tia.
Tak lama kemudian pintu ruangan kembali terbuka, Tia menatap ke arahnya dengan cemas. Namun kecemasannya sirna ketika melihat Rey masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang sumringah.
Loh, Pak Rey kok santai gitu mukanya? Apa Kak Hendra enggak jadi ngomong ya? Tapi enggak mungkin kalau Kak Hendra enggak ngomong. Apa Pak Rey cuma pura-pura santai di depan gue? Aduuuh ... gimana nih?! Batin Tia.
*
__ADS_1
Paviliun Wijayakusuma, Rumah Sakit Medika Raya
Bulan tampak sedang menyuapi sang suami yang masih tampak lemah.
"Bunda udah sarapan belum?" Tanya Bintang.
"Belum, nunggu Igan lagi beli di kantin."
"Hendro?"
"Pak Hendro di rumah, Kasihan biar bisa istirahat dulu. Semalam habis antar Igan ambil baju di rumah, Igan melarang dia buat anterin ke sini lagi. Nanti kalau Igan mau pergi baru Hendro dipanggil biar standby di sini."
"Terus Igan ke sini naik apa?"
"Naik taksi online, Yah ... Yuk makan lagi? tinggal sedikit nih." Ujar Bulan seraya menyuapkan sesendok nasi lunak dengan lauk pauk dan sayur yang disediakan Rumah Sakit.
"Bun, Ayah mau Igan secepatnya gantikan posisi Ayah di perusahaan supaya bisa menjauh dari gadis itu."
"Ilona maksud Ayah?" Tanya Bulan.
Bintang mengangguk, ia meneguk segelas air putih setelah selesai menelan makanannya.
"Ayah kurang suka Igan dekat sama dia, Bun."
"Ya sudah ... nanti kalau Ayah sudah sehat baru diobrolin sama Igan. Jangan sekarang ya? Kondisi Ayah belum pulih." Bujuk Bulan.
Bintang terdiam. Sejujurnya ia ingin sekali langsung membahas soal itu dengan putranya, namun ia juga menyadari jika kondisinya belum memungkinkan.
Tak lama kemudian pintu ruangan tersebut dibuka, lalu tampak Igan memasuki ruangan sambil menenteng sebuah tas plastik transparan berisi dua bungkus makanan dan minuman hangat.
"Bun, sarapan yuk?" Ucapnya sembari meletakkan bungkusan itu di atas meja.
"Iya Nak, sebentar. Bunda beresin peralatan makan Ayah dulu." Sahut Bulan.
"Wah, Ayah sarapannya habis! Hebat! Bisa cepat sehat kalau gitu." Puji Igan ketika mendekati ranjang dan melihat mangkuk kosong bekas makan ayahnya.
"Kamu tuh kayak lagi muji anak kecil aja." Timpal Bintang.
Bulan dan Igan tertawa kecil mendengar ucapan Bintang.
"Sudah sana pada sarapan dulu, jangan ngurusin Ayah terus." Pinta Bintang kepada dua orang tercintanya itu.
"Iya Yah." Sahut Bulan, kemudian menuju sofa dan meja di mana Igan menaruh makanan.
Bulan dan Igan sarapan bersama, sedangkan Bintang hanya bisa menatap mereka dengan tatapan penuh cinta dan rasa bangga.
__ADS_1
***