Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Kembali Berulah


__ADS_3

Sesampainya di RS. Persada yang merupakan rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian, Tia langsung mendapatkan tindakan medis di ruang gawat darurat. Igan pun langsung menelepon Hendra melalui ponsel milik Tia yang masih aman di dalam tas.


"Assalamu'alaikum, Dek?" ucap Hendra di seberang telepon.


"Wa-wa'alaikum salam, Mas Hendra. Ini saya, Dirgantara. Sekarang Tia ada di rumah sakit Persada." sahut Igan.


"A-apa?? Tia kenapa, Mas??"


"Tadi ada orang enggak dikenal tau-tau nikam Tia. Sekarang Tia masih ditangani di ruang gawat darurat. Mas Hendra hari ini tugas jam berapa?"


"Tugas malam nanti."


"Ya sudah, Mas Hendra ijin aja dulu. Nanti saya mau lapor ke kantor polisi, biar pelakunya cepat ditangkap."


"Ya Mas, tapi kondisi Tia enggak parah kan? Tia masih bisa ditolong kan, Mas??"


"Kita berdoa aja Mas, semoga Tia enggak apa-apa."


Terdengar suara terisak dari seberang telepon, Ya, Hendra menangisi apa yang tengah menimpa sang adik tercinta.


"Tia ... kenapa semua ini terjadi sama kamu?" gumam Hendra.


*


Hendra baru tiba sekitar lima belas menit setelah azan Magrib berkumandang, karena ia menunaikan salat dulu di salah satu masjid yang ia lewati.


"Gimana kondisi Tia, Mas?" tanya Hendra tergesa-gesa saat bertemu Igan yang belum lama kembali dari mushola rumah sakit, setelah menunaikan salat Magrib.


"Dokter masih nanganin Mas, kemungkinan akan ada jahitan di luka Tia."


"Astagfirullah ... Tia, kamu yang kuat ya Dek ...!" ucap Hendra lirih sembari terisak.


"Yang sabar Mas, saya akan usahakan sebaik mungkin supaya pelakunya cepat ditangkap. Sekarang kalau Mas Hendra saya tinggal ke kantor polisi, enggak apa-apa?"


Hendra mengangguk, "Iya, enggak apa-apa. Tolong minta polisi supaya pelakunya cepat ditangkap ya, Mas?" ucap Hendra.


"Baik, Mas. Saya juga enggak terima Tia begini. Kalau begitu, saya permisi dulu. Oh iya, ini nomer HP saya. Kalau ada apa-apa, tolong cepat kabari saya ya?" Igan menyodorkan secarik kartu nama pada Hendra.


Hendra menerima kartu tersebut lalu memasukkannya ke dalam kontak ponselnya.


"Makasih, Mas. Oh iya, Mas Igan sudah save nomer saya belum?"


"Sudah-sudah, tadi habis telepon pakai HP nya Tia langsung saya save di HP saya. Saya pergi dulu ya, Mas? Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Hati-hati Mas!"


Igan mengangguk lalu bergegas pergi mencari taksi dan kembali ke restoran dimana peristiwa itu terjadi, karena motor Igan masih ada di sana.


Setibanya di lokasi kejadian, seorang juru parkir yang tadi menjadi saksi mata memberitahu Igan bahwa pelakunya sudah tertangkap dan dibawa ke polsek Cempedak-5.


"Mas! Mas yang tadi sore ke sini sama istrinya yang kena tusuk itu kan? Orang yang nusuk udah ketangkep, Mas! Udah dibawa ke polsek Cempedak-5." seru si juru parkir yang sedang duduk sambil ngopi agak jauh dari Igan.


"Alhamdulillah ... Makasih ya, Bang! Saya nanti ke sana, ini motornya saya ambil ya?" sahut Igan seraya mendekati juru parkir dan menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah sebagai ongkos parkir.


"Mas, uangnya gede banget! uang pas aja deh, atau kalo enggak ada juga enggak apa-apa, bawa aja motornya."


"Udah enggak apa-apa, ambil aja semua. Saya buru-buru mau ke polsek."


"Oh, ya udah. Makasih banget ya? Rejeki nomplok ini mah, mayan ... bakal bayar buku sekolahnya bocah!" ucap juru parkir itu, girang.


Igan melajukan sepeda motornya dengan cepat menuju polsek Cempedak-5, sesuai informasi dari juru parkir restoran tadi. Ia tampak sudah tak sabar ingin mengetahui siapa pelaku penikaman tersebut.


"Selamat malam, Mas. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang petugas berseragam dinas lengkap, penuh wibawa.


"Iya, malam Pak. Saya teman dekat gadis yang jadi korban penusukan di depan restoran Family. Menurut informasi, pelakunya sudah tertangkap dan dibawa ke polsek ini. Apa betul begitu, Pak?" tanya Igan dengan santun.


"Oh, kejadian yang tadi sore sebelum maghrib ya Mas?"


"Iya benar, memang pelakunya sudah kami amankan. Untuk korban sendiri bagaimana kondisinya?"


"Tadi sebelum saya kemari, korban masih ditangani tim medis, Pak. Pihak keluarga korban meminta saya untuk menyampaikan kepada pihak berwajib supaya pelaku dihukum yang setimpal."


"Semua prosedur hukum pasti akan kami lakukan sebagaimana mestinya, Mas. Jadi ... tidak perlu ada kekhawatiran."


"Hmmm ... boleh saya ketemu si pelaku, Pak?"


"Silakan, mari ikut saya."


Igan mengangguk lalu berjalan mengikuti kemana petugas itu mengayunkan kakinya. Hati Igan merasa sangat penasaran tentang siapa pelaku itu.


"Silakan duduk dulu, nanti saya panggilkan." ujar petugas.


"Baik, terima kasih." sahut Igan.


Petugas itu menuju ke ruang tahanan untuk menjemput terduga pelaku penikaman Tia.


Tak sampai lima menit, petugas itu kembali menemui Igan di ruang tertutup yang dijaga ketat.

__ADS_1


Mata Igan terbelalak ketika melihat petugas itu datang bersama sosok yang familiar baginya, muncul dengan tangan terborgol.


"Yongki?" gumam Igan, nyaris tak percaya.


"Ini dia terduga pelaku penikaman tadi sore. Kebetulan saat pengejaran, mereka melewati pos penjagaan anggota kami. Jadi, anggota kami ada yang ikut melakukan pengejaran sampai akhirnya tertangkap." jelas petugas itu.


"Kurang ajar!! Masih berani lu ganggu hidup gue, hah???" hardik Igan sambil berdiri dan menggebrak meja, tatapannya pun penuh amarah.


"Sabar Mas, dia sudah menjadi urusan pihak kepolisian." ujar petugas, menenangkan Igan yang tersulut emosi.


"Tapi dia ini baj*ngan, Pak!! Dia juga sudah jadi tersangka atas kasus pencemaran nama baik terhadap saya, tapi waktu mau dijemput petugas, dia menghilang!!" seru Igan, masih emosi.


Melihat rivalnya emosi, justru membuat Yongki tersenyum puas.


"Gimana kondisi cewek lu? Masih hidup? hahaha ...." cibir Yongki lalu terbahak.


"Dasar psikopat!!! hardik Igan kemudian menarik kerah baju Yongki dan hendak menghajarnya.


Namun para petugas dengan sigap langsung datang melerai.


"Mau mukul gue?? Pukul aja! Kenapa berhenti cuma gara-gara dipisahin sama polisi?? Lu takut ikut masuk bui juga kayak gue, hah?" lagi-lagi ocehan Yongki terasa menyengat di telinga Igan.


"Tenang Mas, jangan termakan provokasi dia. Percayakan saja proses hukumnya ke polisi." bujuk salah satu petugas pada Igan.


Igan mengatur napas, lalu coba meredakan emosinya.


"Lu dengerin kata-kata gue, kalo sampe ada apa-apa sama gadis itu, gue bakal pastikan lu enggak bakal keluar dari bui seumur hidup!!" ancam Igan.


Yongki tersenyum sinis, "Enggak masalah, yang penting gue udah berhasil bikin hidup lu enggak tenang! Dan ... sori, kayaknya pisau gue terlalu dalam menghujam di perut cewek kesayangan lu itu, hahaha ...." imbuh Yongki.


"Sudah, diam kamu!!! Ayo kembali ke sel!!!" hardik seorang petugas lalu dengan sigap membawa Yongki ke ruang tahanan.


"Saya rasa ... Mas tidak perlu banyak berkomunikasi lagi dengan pelaku saat ini, justru akan memperkeruh suasana karena tujuannya hanya untuk membuat Mas emosi." tutur petugas yang pertama kali ditemui Igan.


"Iya Pak, jujur saya jadi emosi ngadepin dia. Saya minta tolong supaya dia diproses hukum yang setimpal."


"Baik, Mas. Pihak kepolisian pasti akan menindak sesuai kesalahan pelaku kriminalitas."


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih ya, Pak?" ucap Igan kemudian menjabat tangan petugas.


"Sama-sama, Mas. Selamat malam."


"Selamat malam, Pak."

__ADS_1


****


__ADS_2