
Setibanya di rumah, Tia masuk dengan langkah cepat mencari Hendra.
"Kak .. Kak Hendra!" panggil Tia seraya mengetuk pintu kamar.
"Apaan sih, Dek? Kakak lagi di dapur, bikin bubur." sahut Hendra dari arah dapur.
Tia bergegas menghambur ke arah dapur, lalu dilihatnya sang kakak sedang berdiri di depan kompor sambil tangan kanannya sibuk mengaduk-aduk ke dalam panci menggunakan centong kayu.
"Assalamu'alaikum ...." ucap Hendra, menyindir adiknya yang tak mengucap salam saat masuk rumah.
"Eh, wa'alaikum salam Kak. Lupa, hehe ...." sahutnya sambil meringis, malu.
"Ada apa sih kamu pulang kantor teriak-teriak nyariin kakak? Ada berita apa?"
"Aku mau cerita ke Kakak."
"Soal apa?"
"Soal mimpiku yang sering muncul semenjak ada kalung ini. Yang tempo hari aku ceritain ke Kakak!"
"Oke-oke, nanti kakak dengerin tapi habis bikin bubur. Kamu juga bersih-bersih dulu gih, biar wangi."
Tia mendengus kesal karena lagi-lagi harus tertunda untuk bercerita. Ia pun menuruti perintah Hendra untuk membersihkan diri terlebih dahulu
Sekitar ba'da magrib, barulah mereka bisa berbincang sembari menonton televisi.
"Nah, sekarang ceritain deh soal mimpi itu. Kakak udah siap dengerin nih." ucap Hendra, mengawali obrolan.
"Tadi siang aku tidur sebentar di kantor, pas Mas Teguh sma Gugun lagi makan siang di luar. Kebetulan tadi di bagianku cuma ada aku sama mereka Kak, gara-gara Pak Rey sama Kak Jeni lagi training, terus Mbak Tami lagi sakit.
"Aku mimpi ketemu lagi sama cewek itu di tempat yang sama kayak waktu mimpiku yang pertama kali ketemu dia. Tapi kali ini dia sebut namanya dengan jelas."
Hendra mengernyitkan dahi lalu bertanya, "Siapa namanya?"
"Susan. Dia itu keliatan kurus Kak, pucat juga. Sebetulnya kasian sih, tapi aneh."
"Aneh gimana?"
"Dia tuh pasti nunjuk-nunjuk kalung ini." sahut Tia seraya menunjuk ke arah kalung yang sedang ia pakai.
"Itu kalung yang dikasih Pak Rey, yang kamu ceritain tempo hari?"
"Iya, makanya aku heran. Tapi lebih anehnya lagi, cewek itu mendadak marah waktu aku sebut nama Rey!" ujar Tia, serius.
Hendra terdiam sejenak, ia tampak ikut berpikir tentang kemungkinan korelasi peristiwa mimpi adiknya itu.
"Hmmm ... sebetulnya kamu sama Pak Rey tuh udah ada hubungan serius belum sih, Dek?" tanya Hendra.
Tia menggeleng cepat.
"Terus kenapa kamu pakai lagi kalung yang dia kasih? Katanya kamu enggak mau pakai?"
__ADS_1
"Penginnya sih gitu ... tapi kalo Pak Rey liat, dia pasti nanya dan jadi agak marah gitu ekspresinya. Aku kan jadi enggak enak kalo kepala divisinya kayak gitu, aku kurang nyaman kerjanya."
"Ya kamu terus terang aja ke dia tentang mimpi kamu itu. Kakak yakin itu bukan mimpi biasa loh Dek, soalnya terus-menerus."
Tia tertegun, ia merasa apa yang kakaknya sarankan benar.
Bener juga sih kata Kak Hendra. Batin Tia.
"Gimana?" tegur Hendra.
"Iya Kak, selama ini aku terlalu takut buat ngomong jujur ke Pak Rey. Aku takut kalo bakal pengaruh ke kerjaan, nyari kerja yang nyaman kan enggak gampang Kak."
"Soal kalung itu kan enggak ada urusannya sama kerjaan kamu, jadi enggak usah takut. Itu urusan intern kamu sama Pak Rey, kalo dia menyalahgunakan jabatannya cuma gara-gara urusan pribadi, nanti laporin aja ke Pak Irwan!"
Tia tersenyum lebar seraya mengacungkan ibu jarinya ke arah Hendra.
"Makasih ya Kak? Kak Hendra emang the best!" puji Tia.
"Ya iyalah, Hendra!" timpal Hendra sambil bergaya.
Tia terkekeh melihat tingkah kakaknya yang konyol.
*
Tiga hari kemudian, suasana ruang divisi yang Tia tempati sudah kembali normal. Rey dan Jeni susah kembali dari training di luar kota, Tami juga sudah pulih dari sakitnya dan kembali bekerja.
Tia sengaja berangkat ke kantor agak santai supaya tidak terlalu banyak waktu luang di kantor yang memungkinkannya untuk banyak berbincang dengan Rey. Sedangkan Hendra mendapat shift dua, yaitu berangkat pukul 17.00 hingga tengah malam.
Di dalam ruang kerja, Rey tampak gelisah menantikan kedatangan Tia.
Tepat lima menit sebelum jam masuk kantor, Tia pun datang. Wajah Rey lantas berubah tenang dan sumringah. Ia menatap Tia dari ujung kepala, merasa kagum dengan kecantikan gadis bernama lengkap Celestia Amanda itu.
Namun tatapannya terhenti saat ia melihat ke arah leher Tia. Ia mengerutkan dahi dan tampak kesal.
Tia kok enggak pake kalung yang gue kasih sih? batin Rey.
Rey ingin cepat menanyakannya pada Tia namun Tia tampak cuek dan langsung fokus di depan komputernya.
Tia kok keliatan beda ke gue, ada apa ya? pikir Rey dalam hati.
Jam operasional kantor pun dimulai, semua karyawan yang hadir hari itu tampak berkutat dengan tugas di divisi masing-masing.
Tia berusaha tenang dan menghindari Rey dengan hati-hati. Ia memang ingin mengetahui rahasia tentang Susan, Rey, dan kalung itu tetapi ia tidak mau gegabah dalam bertindak.
Hingga tibalah waktu istirahat, Tia berjalan keluar ruang kerja sendiri menuju area parkir, untuk pergi makan siang. Rey berusaha menyusulnya tanpa banyak bicara namun Teguh sudah lebih dulu memanggil Tia dan mengajaknya makan siang bersama.
"Ti, bareng dong!" seru Teguh sembari agak berlari mengejar Tia.
Sial!! Teguh kenapa pake minta bareng Tia segala sih? gerutu Rey dalam hati.
"Tumben Mas Teguh minta bareng aku? Enggak sama Gugun?" tanya Tia.
__ADS_1
"Enggak, aku kan mau nagih janji ke kamu." sahut Teguh.
"Janji? Emang aku ada janji apa?"
"Kamu kan belum jadi-jadi cerita ke aku soal mimpi kamu tempo hari."
"Oh ... oke-oke, nanti aku ceritain sambil kita makan siang aja."
Tia memutuskan untuk membonceng di motor Teguh menuju ke salah satu warung nasi padang.
Setibanya di lokasi untuk makan siang dan memesan menu yang mereka inginkan, mereka duduk di meja paling pojok agar lebih leluasa dalam berbincang.
"Nah, ayo sekarang cerita dong ke aku." pinta Teguh.
Tia menghela napas, lalu kembali memutar memori otaknya untuk mengingat mimpi yang cukup aneh dan menakutkan siang itu.
"Gini Mas, belakangan ini aku sering banget dimimpiin seorang cewek yang namanya Susan. Dia itu pakai mantel dan syal, mukanya juga kurus dan pucat, kayak orang sakit parah gitu.
" Nah kemarin pas mimpi di kantor, aku beraniin untuk nanya ke dia kenapa dia sering banget muncul di mimpi ku."
"Terus dia jawab enggak?"
Tia menggeleng lalu melanjutkan ceritanya.
"Dia cuma nunjuk ke arah kalung yang lagi aku pake waktu itu."
"Kalung? Kalung liontin biru yang bagus banget itu?"
"Iya itu. Aku kan jadi heran, kenapa dia selalu nunjuk ke arah kalung itu?"
"Hmmm ... boleh aku nanya?" tanya Teguh.
"Kenapa, Mas?"
"Hmmm ... emangnya ... kalung itu kamu beli dimana?"
Tia tertegun sejenak, ia tampak ragu untuk menjelaskan.
"Kalo kamu enggak mau bilang juga enggak apa-apa kok, Ti." ujar Teguh.
Gue bilang ke Mas Teguh apa enggak usah ya? Hmmm ... bingung gue! batin Tia, bimbang.
"Eh, makanannya udah dateng tuh! Makan dulu deh." ajak Teguh.
Mereka pun mulai menyantap makanan yang sudah tersaji, namun dalam benaknya Tia merasa yakin kalau Teguh kemungkinan banyak tahu tentang Rey karena di kantor mereka, Teguh termasuk karyawan senior bahkan dibanding Hendra pun, Teguh lebih dulu menjadi karyawan di sana.
"Mas, aku boleh nanya enggak?" tanya Tia.
Teguh mengangguk-angguk karena mulutnya sedang sibuk mengunyah.
"Mas Teguh kan termasuk karyawan senior di kantor, apa Mas Teguh tau banyak tentang Pak Rey?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Tia itu, sontak membuat Teguh berhenti mengunyah sejenak dan menatap Tia dengan lekat.
***