Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Kedatangan Sahabat


__ADS_3

Suara deru motor terdengar saat Hendra, Igan dan Tia masih asyik berbincang di ruang tamu.


"Assalamu'alaikum ...." suara Ujang terdengar di ambang pintu bersama seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahunan yang memakai kopiah.


"Wa'alaikum salam ... Eh Jang, ayo masuk! Mari Pak, silakan masuk." sahut Hendra sumringah karena orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Iya, Hen. Yuk Bah, masuk!" sahut Ujang seraya mengajak lelaki di belakangnya itu untuk ikut masuk.


Mereka berdua melangkah masuk dan ikut bergabung di kursi tamu bersama Tia dan Igan. Mereka saling bersalaman.


"Ini dia Abah Pi'i, tukang urut andalan gue, Hen." ujar Ujang memperkenalkan.


"Oke Jang, makasih banget lu udah mau bantuin gue ngajak Abah Pi'i ke sini. Makasih juga Abah udah mau ke sini." ucap Hendra.


"Itu kan emang udah kerjaan saya, Mas. Mau saya urut sekarang apa gimana?" ujar Abah Pi'i.


"Hmmm ... Abah enggak capek baru nyampe langsung ngurut?" Hendra balik bertanya.


"Enggak atuh ... saya mah udah biasa. Kan emang kerjaan saya ...." sahut Abah Pi'i sambil terkekeh.


Semua yang ada di ruangan itu pun tersenyum.


"Ya udah Kak sekarang aja, makin cepet kan makin baik." saran Tia.


Hendra pun menurut, "Ayo Bah, sekarang aja urutnya."


"Hayu atuh." sahut abah Pi'i seraya membantu Hendra berdiri, dibantu juga oleh Ujang.


Sedangkan Tia dan Igan berdiri menatap ketiga orang itu masuk ke ruang tengah menuju kamar Hendra.


Ponsel Igan mendadak berdering, ia segera mengambil ponselnya dari saku.


"Ayah?" gumam Igan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Kenapa, Mas?" tanya Tia yang melihat kekasihnya.


"Ini, Ayah telepon. Saya terima telepon dulu ya?"


"Iya, enggak apa-apa kok."


Tak lama kemudian Igan mulai bercakap-cakap dengan sang ayah via ponsel, sembari kembali duduk di kursi tamu.


"Assalamu'alaikum, kamu lagi di mana Nak?"


"Wa'alaikum salam, Igan masih di rumah Tia. Ada apa, Yah?"

__ADS_1


"Loh, kok masih di sana? Memangnya Tia enggak ngantor?"


"Enggak Yah, Tia cuti dadakan soalnya Mas Hendra kan habis dibegal pas pulang jaga malem."


"Apa, dibegal?? Terus kondisinya gimana?"


"Sekarang lagi diurut sama tukang urut langganannya Kang Ujang. Alhamdulillah enggak fatal sih."


"Oh ... Ayah enggak tau soalnya hari ini enggak ke kantor, mau ada tamu. Rekan bisnis ayah, sahabat baik juga. Dia pengin kenalan sama kamu katanya. Bisa pulang dulu kan?"


Igan berpikir sejenak, ia melirik ke arah Tia yang masih duduk di sampingnya. Ia merasa belum ingin beranjak dari rumah sang kekasih, setelah beberapa lama tak bersua karena urusan pekerjaannya di luar kota.


Tia tersenyum dan mengangguk menatap Igan, sembari mulutnya mengucap kata 'enggak apa-apa' namun tanpa suara.


Igan tertegun, ia tak menyangka jika Tia tahu apa yang ada dalam benaknya itu.


"Gan, kamu masih dengerin ayah kan, Nak?" tegur Bintang.


"Oh, i-iya Yah, Igan denger. Iya-iya, Igan langsung pulang." sahut Igan gugup.


"Ya sudah, salam buat Tia sama Hendra ya di sana? Mudah-mudahan Hendra cepet sembuh."


"Iya Yah, nanti Igan sampein ke Mas Hendra dan Tia. Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam."


"Kenapa, Mas? Kok ngeliatin gitu?" Tia tampak tersipu.


Igan tersenyum, ia sangat suka jika melihat kekasihnya itu tersipu.


"Sebenernya saya masih pengin ngobrol dulu sama kamu, Yang. Sama Mas Hendra juga. Tapi kata Ayah, di rumah mau ada tamu rekan bisnis sekaligus sahabat baik Ayah. Dan dia pengin ketemu saya katanya."


Tia tersenyum manis, "Iya ... kan tadi saya udah bilang enggak apa-apa. Lain waktu kan Mas Igan bisa ke sini lagi. Sekarang pulang dulu aja, kasian Pak Bintang udah nungguin."


Igan kembali tersenyum kemudian mengacak-acak rambut bagian atas kepala Tia dengan gemas, membuat Tia tertawa kecil.


"Ya udah, saya pulang dulu ya Sayang? Oh iya, tadi dapet salam dari Ayah, buat Mas Hendra juga."


"Iya, nanti saya sampein kok. Salam juga buat Pak Bintang dan Bu Bulan ya?"


"Hmmm ... saya denger kamu sebut orang tua saya begitu kok enggak enak ya rasanya?" protes Igan tiba-tiba, membuat Tia bingung.


Tia melongo, "E-emang kenapa, Mas? Salah ya? Harusnya ... saya panggilnya gimana?" tanya Tia, bingung.


"Hmmm ... harusnya kamu itu panggil mereka ayah dan bunda, sama kayak saya sebut mereka." sahut Igan sembari menyolek ujung hidung Tia.

__ADS_1


Tia tersenyum, rasa khawatir karena takut dianggap salah ucap pun hilang sudah.


"Tapi kan kita belum nikah, Mas. Nanti aja kalo kita udah ijab-sah." sahut Tia sambil tersenyum manja.


"Iya sih ... tapi dibiasakan dari sekarang juga enggak masalah kok."


"Enggak mau, nanti malah dikira kurang ajar. Lagian kan saya juga karyawati di kantornya Pak Bintang, jadi ... masih wajar kalo saya panggil begitu."


Igan menghela napas dalam, lalu mendengus pelan.


"Huff ... ya udah lah, terserah kamu aja. Yang penting nanti kalo kita udah nikah, kamu jangan salah panggil ya?" ujar Igan dengan gemas menarik ujung hidung Tia pelan.


Tia tertawa riang, namun keduanya mendadak kikuk ketika Ujang sudah kembali ke ruang tamu setelah membantu Hendra masuk ke kamarnya.


Langkah Ujang sontak terhenti karena merasa tak enak sudah mengganggu dua sejoli itu.


"Eh, Kang Ujang." -celetuk Tia sambil tertawa. - "Kak Hendra udah mulai diurut, Kang?" tanya Tia.


"Iya, udah. Hmmm ... maaf ya jadi ganggu. Saya duduk di luar aja deh kalo gitu." ujar Ujang, kikuk.


"Di luar mau ngapain, Kang? Udah duduk aja sini, saya mau pamit kok. Tolong jagain calon istri saya ini ya, Kang?" seloroh Igan.


"Oh, siap Mas kalo soal itu sih ...!" sahut Ujang dengan cepat dengan ekspresinya yang lucu.


Igan tertawa kemudian mengacungkan ibu jarinya pada Ujang, yang direspon hal yang sama oleh Ujang.


Igan pun beranjak menuju mobilnya dan pulang.


*


Bel pintu rumah Bintang berbunyi, pertanda ada tamu yang berkunjung.


"Mbak, tolong diliat itu siapa yang datang! Barangkali tamunya Bapak." pinta Bulan di dapur pada Marni, salah satu ART nya.


"Baik, Bu." sahut Marni kemudian bergegas menuju ruang tamu.


Marni membukakan pintu utama rumah megah tersebut, tampaklah dua orang berdiri di luar pintu.


"Permisi, Pak Bintangnya ada Mbak?" tanya lelaki berbaju batik dan berkaca mata dengan sopan.


"Oh maaf, Bapak ini sahabatnya Pak Bintang ya?" tanya Marni dengan hati-hati.


Lelaki itu tersenyum hangat, "Iya Mbak, saya Hendrawan Aditya. Kalau ini anak gadis saya." sahutnya.


"Baik, silakan masuk dulu Pak Hendrawan dan Nona. Sebentar saya panggilkan Pak Bintang dulu."

__ADS_1


Hendrawan dan putrinya masuk ke ruang tamu mengikuti langkah Marni, kemudian keduanya duduk di kursi tamu yang nyaman dan elegan itu. Sedangkan Marni kembali masuk untuk memanggilkan sang tuan rumah.


****


__ADS_2