
"Pak Rey? Ada apa kemari?" tanya Hendra tanpa basa-basi.
"Kamu ada tamu yang lama enggak ketemu kok nanya begitu sih, Hen? Enggak sopan tau!" omel Rey.
"Oh, iya maaf. Saya kaget aja, tau-tau Pak Rey datang ke sini."
"Saya mau ketemu Tia. Dia masih tinggal di sini kan?"
Hendra mengerutkan dahi, "Tia?? Kan Tia udah nikah, Pak."
"Iya, saya tau. Dia nikah sama anaknya Pak Bintang yang artis itu kan? Saya tau juga karena liat beritanya di TV. Tia tega banget enggak undang saya."
Hendra bergeming, ia tak mau menimpali ocehan Rey yang membuat paginya mendadak terasa panas.
"Kamu ... masih jadi satpam di sana, Hen?" tanya Rey dengan tatapan merendahkan.
"Alhamdulillah, masih." sahut Hendra, tenang.
Rey tersenyum mencibir, "Masih jadi satpam kok alhamdulillah?? Mending kamu resign aja dari sana terus gabung di tempat usaha saya."
"Emang Pak Rey punya usaha apa sekarang?"
"Usaha utama saya sih bidang advertising, tapi ... saya juga ada kerja sama dengan rekan yang punya agensi model gitu."
Hendra terhenyak mendengar itu.
"Agensi model? Agensi apa, Pak?"
"Brigitta's Charming. Itu agensi besar lho! Tapi pasti kamu enggak tau ya? Kan lingkungan kamu cuma di area basement sama gedung kantor." ujar Rey sambil tertawa mengejek.
"Iya, area kerja saya memang cuma sekitar itu. Ngomong-ngomong ... Pak Rey terjun langsung di agensi itu juga atau enggak?" Hendra berusaha tetap menahan emosi.
"Enggak dong ... saya cuma punya andil keuangan di sana. Oh iya, ngomong-ngomong Tia sekarang di mana?"
"Dia ikut suaminya."
"Di mana?"
Hendra terdiam sejenak, "Di rumah Pak Bintang."
Rey terdiam, tampak ada beban di sorot matanya.
"Maaf Pak Rey, kalau sudah enggak ada keperluan, saya permisi mau istirahat. Saya habis tugas malam soalnya." ujar Hendra.
"Oh, ya udah. Enggak apa-apa. Saya pamit. Titip salam ya buat dia."
"Saya enggak janji ya, Pak? soalnya dia jarang banget kemari."
"Oh, emang dia udah enggak kerja di perusahaan Erlangga lagi?"
Hendra menggeleng, "Udah ya, Pak? Saya ngantuk! Permisi." tegas Hendra kemudian bergegas menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Hufff ... pagi-pagi udah kedatengan tamu nyebelin begitu! Bisa-bisanya dia ke sini lagi nyariin Tia? Padahal dia tau Tia udah punya suami. Ah, bikin ngantuk gue jadi buyar aja! gerutu Hendra dalam hati.
Ia berjalan menuju kamar sambil mengusap kasar rambut cepaknya. Hendra tampak kesal. Ia pun menelepon sang adik, Tia. Namun nomor teleponnya tidak dapat dihubungi.
"Tia kok tumben nomernya enggak aktif ya?" gumam Hendra.
Ia coba beberapa kali menghubungi sang adik, namun nihil. Ia pun berinisiatif untuk menelepon sang adik ipar, Igan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mas Hen?" sapa Igan di ujung telepon.
"Wa'alaikum salam ... Dek, maaf ganggu. Barusan saya telepon ke HP nya Tia tapi kok enggak aktif ya?"
"Oh ... iya Mas, emang sengaja. Maaf belum ngasih tau. Tia saya suruh ganti nomor HP, tapi karena semalem udah kemaleman dan ini juga masih pagi, jadi belum bisa beli. Ada apa ya Mas? apa mau ngomong langsung sama Tia?"
"Hmmm ... tadi Pak Rey datang ke sini, dia nyariin Tia. Dia tanya-tanya soal Tia, makanya saya mau kasih tau kalian supaya hati-hati. Dia tadi titip salam buat Tia, tapi saya bilang enggak bisa janji nyampein soalnya kalian jarang datang ke rumah. Gara-gara dia, saya harus bohong pagi-pagi! Pak Rey itu tambah nyebelin, Dek!"
"Semalem juga dia telepon kok Mas ke HP nya Tia, tapi saya yang angkat. Makanya saya minta Tia supaya ganti nomer aja, biar dia enggak bisa hubungi Tia lagi."
"Oh ... ya bagus kalo gitu. Dia juga tadi nanya Tia sekarang tinggal di mana, langsung saya jawab di rumah Pak Bintang. Saya rasa dia enggak bakal berani macem-macem kalo saya bilang kalian tinggal di sana kan?"
Igan tertawa, "Wah, Mas Hendra pinter banget!"
"Ya ... harus dong, Dek! Walaupun harus bohong. Soalnya kita ngadepin orang yang nyebelin kayak Pak Rey. Saya takutnya dia mau bikin hubungan kalian bermasalah."
"Setuju banget! Oh iya, Mas Hen mau ngomong langsung sama Tia juga?"
"Emang Tia lagi ngapain?"
"Lagi nyiapin sarapan."
"Oh, enggak usah deh. Nanti aja, tolong kalo udah beli nomer baru langsung kabari ke saya ya, Dek?"
"Baik, Mas. Nanti saya bilangin ke Tia. Mas Hendra udah sarapan belum?"
"Belum Dek, nanti aja. Masih ngantuk banget nih sebenernya."
"Oh ... ya udah istirahat aja lagi, Mas."
"Iya Dek, salam buat Tia ya? Assalamu'alaikum."
"Ya Mas, wa'alaikum salam ...."
"Yang, ada salam dari Mas Hendra sama ...."
"Sama siapa, Mas?" tanya Tia penasaran namun tetap fokus menyiapkan hidangan.
"Sama Rey." ujar Igan dengan nada kesal.
Tia langsung menoleh ke arah suaminya yang masih berdiri mematung tak jauh dari meja makan.
"Dia lagi??" tanya Tia dengan dahi berkerut.
Igan pun menceritakan apa yang tadi dikatakan oleh kakak iparnya.
"Kenapa sih dia harus nongol lagi??" Tia terlihat kesal.
"Mas kira dia itu udah nikah, atau pergi kemana ... gitu yang jauh!"
Tia hanya bisa menghela napas. Ia menghampiri suaminya lalu melingkarkan tangan di pinggang sang suami.
"Mas tenang aja ... dia enggak bisa ganggu kita kok. Lagian, aku juga udah enggak kerja di perusahaannya Ayah. Jadi dia enggak punya akses buat temui aku." tutur Tia, menenangkan Igan.
Igan mengangguk dan tersenyum.
"Ya udah, kita sarapan dulu ya? Mas kan mau keluar kota dua jam lagi." bujuk Tia.
Lagi-lagi Igan mengangguk dan tersenyum, ia mengecup lembut kening sang istri.
__ADS_1
"Makasih ya Sayang?" ucap Igan dengan mesra.
Gantian Tia yang mengangguk dan tersenyum menatap sang suami.
Mereka beranjak bersama menuju meja makan, lalu saling menyuapi layaknya pengantin di pelaminan. Hari-hari mereka selalu diwarnai kemesraan dan tawa bahagia, sepanjang pernikahan mereka yang masih seumur jagung.
Tentu mereka berharap akan bisa seperti itu seterusnya, bahagia bersama sampai keduanya menua.
*
Beberapa waktu kemudian ...
Ponsel Tia berdering saat ia tengah sibuk menghias cake brownis yang dipesan oleh salah satu customer nya, yang juga teman kampusnya dulu.
Ya, Tia sudah membuka usaha kue sesuai dengan hobinya selama ini, yang gemar memasak dan membuat kue.
Ia masih merintis usahanya itu sesuai kemampuan finansialnya sendiri, bekal dari uang tabungannya selama masih bekerja di perusahaan Erlangga.
Ia tak mau memberatkan siapapun, termasuk sang mertua ataupun sang suami yang bersedia untuk menggelontorkan modal usaha dan menyediakan sebuah toko.
Tia lebih memilih untuk memulai usahanya dari orderan partai kecil dengan pemasaran via online dan info dari mulut ke mulut.
Tia dengan segera mengambil ponsel dari saku bajunya. Tampak Hendra yang melakukan panggilan telepon.
"Assalamu'alaikum, Kak?" sapa Tia.
"Wa'alaikum salam, Dek kamu lagi sibuk enggak?"
"Lagi ngehias cake sih ini. Kenapa, Kak?"
"Hmmm ... kakak mau pesen cake."
"Buat siapa Kak? Terus mau buat kapan?"
"Danisha hari ini ulang taun, kakak lupa banget!"
"Hah?? Berarti buat hari ini??"
"Iya, bisa kan?"
"Waduh ... kakak mendadak amat sih bilangnya?"
"Kan tadi kakak udah bilang, lupa Dek ... Gimana, bisa enggak?"
"Hmmm ... gimana ya, soalnya bahan-bahannya ada yang habis, Kak. Hari ini alhamdulillah banyak pesenan soalnya, ini lagi hias cake yang loyang terakhir. Emang jam berapa mau diambilnya?"
"Nanti pulang kerja."
Tia langsung menoleh ke arah jam dinding di dapurnya.
Tiga jam lagi! Berarti harus gerak cepat nih ke supermarket dulu. pikir Tia.
"Gimana Dek? Bisa enggak?"
"Hmmm ... aku usahain ya, Kak? Ini sebentar lagi aku selesai ngehias, habis itu langsung nganterin ke rumah temenku yang pesen, sekalian ke supermarket deh beli bahan-bahan yang kurang."
"Oke, makasih ya Dek? Nanti pulang kerja kakak ke sana ambil cake nya. Assalamu'alaikum."
"Beres, Kak. Wa'alaikum salam." sahut Tia seraya mengakhiri telepon.
__ADS_1
Ia segera melanjutkan pekerjaannya menghias cake sesuai pesanan customer nya.
****