
"Siapa mereka, Kay? Ada urusan apa sama kamu?" tanya Viktor, penuh selidik.
Mata Kay menyapu pandang ke arah Jio, Bulan dan Igan kemudian menoleh ke arah Viktor.
"Bang Viktor, kapan keluar? Kok bisa cepet keluarnya?" tanya Kay, seolah mengalihkan pembicaraan.
"Apa kamu lebih seneng kalo aku ada di dalem?" Viktor balik bertanya dengan tatapan datar, namun dalam.
Lagi-lagi Kay dibuat kelimpungan dan mati kutu, ia berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menjawab.
"Bu-bukan gitu Bang, aku cuma ...."
"Ehhem, kayaknya tadi pertanyaan saya belum dijawab?!" Jio berdehem kemudian menegur Kay dan Viktor.
Viktor dn Kay kompak menoleh ke arah Jio.
"Ada urusan apa kalian di sini?" tanya Viktor pada Jio, Igan da Bulan.
"Anda bisa tanya sendiri sama dia." sahut Igan, tegas.
"Kenapa enggak ajak mereka ngomong di dalam aja, Kay? Di sini nanti banyak kuping yang dengar. Ayo semuanya, masuk!" ujar Viktor.
Jio dan Igan saling tatap dengan keheranan, sedangkan Bulan tampak lebih tenang.
"Dia apanya tu cewek ya? Suaminya apa sodaranya?" bisik Jio pada Igan.
Igan mengangkat bahu, kemudian memberi isyarat pada Jio dan bundanya agar ikut masuk ke dalam rumah Kay.
Mereka berlima duduk bersama di sebuah ruang tamu yang terbilang kecil, dengan kursi minimalis dan sangat sederhana.
"Sekarang ceritakan, kalian ini siapa dan ada perlu apa datang kesini?" tanya Viktor, membuka percakapan.
"Begini, Kay membuat berita bohong di publik. Dia bilang kalau dia dihamili oleh putra saya ini, padahal faktanya putra saya saja tidak kenal sama dia. Makanya kami datang ke sini untuk menanyakan apa maksudnya menyebar berita bohong? Dan kami minta supaya dia segera cabut pernyataannya." sahut Bulan dengan tegas.
Viktor menoleh dan menatap Kay dengan tajam, hingga membuat Kay menunduk dan tak berani angkat muka untuk sekedar menatap mata Viktor.
"Apa benar begitu?" tanya Viktor pada Kay, namun Kay tetap tertunduk tanpa menyahut.
"Jawab, Kay!!!" bentak Viktor.
Kay tersentak, air matanya mulai menggenangi pelupuk mata.
"A-aku ... aku terpaksa, Bang.." sahut Kay dengan terisak.
"Terpaksa? Maksud kamu terpaksa gimana? Coba ngomong yang jelas!" desak Viktor.
"Aku disuruh." ucap Kay.
"Permisi!" tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki di ambang pintu.
Semua yang ada di ruang tamu kontan menoleh ke sumber suara.
"Oliver? Ayo cepat masuk! Kami sudah tunggu kamu dari tadi." ajak Bulan.
__ADS_1
Lelaki bernama Oliver yang merupakan kuasa hukum Kay itu pun melangkah masuk kemudian duduk di sebelah Kay.
"Maaf saya baru datang, ada perlu mampir ke suatu tempat dulu tadi." ucap Oliver.
"Bang Oliver, tolong bantuin aku. Mereka banyak interogasi aku, Bang!" rengek Kay.
Viktor menatap Oliver kemudian beralih menatap Kay, "Siapa lagi dia? Kenapa semenjak aku enggak di rumah banyak orang asing datang ke sini?!" tanya Viktor.
"Saya Oliver, kuasa hukumnya Kay. Anda siapa?" Oliver balik bertanya pada Viktor.
"Kuasa hukum?" Viktor mengulangi ucapan Oliver dengan alis berkerut.
"Iya, saya yang ditunjuk untuk memberi perlindungan hukum dan pembelaan untuk Kay. Kenapa, ada masalah?"
"Mau bayar pakai apa kamu sewa kuasa hukum segala? Kenapa kamu selalu bikin masalah sih di rumah?? Ayah meninggal gara-gara kamu sering susah diatur, sampai-sampai ketauan hamil sama cowok yang udah mampus itu!! Sekarang apa lagi hah??" suara Viktor yang berat terdengar sangat menghentak sampai ke jantung saat menghardik Kay.
"Sori-sori, sebenernya ... Abang ini ada hubungan apa sama Kay?" celetuk Jio.
"Saya Viktor, kakaknya Kay. Kalian tau, saya baru aja keluar dari penjara hari ini dan sampai di rumah, harus ikut pusing ngadepin masalah Kay lagi!!" seru Viktor.
Mereka semua terperangah mendengar ucapan Viktor, kecuali Kay.
"Kalo kamu ngerasa mampu buat bayar pengacara, silakan! Aku juga udah capek, enggak mau masuk penjara lagi gara-gara belain kelakuan kamu yang susah diatur itu, Kay!" imbuh Viktor dengan emosi.
"Bukan aku yang bayar pengacaranya Bang, tapi ...." suara Kay terhenti ketika Oliver dengan cepat memegang pergelangan tangannya, seperti memberi isyarat untuk diam.
Bulan yang melihat gerak refleks Oliver pun merasa terpancing untuk bertanya, "Kenapa Oliver? Ada apa? Kamu minta dia untuk diam?"
"Hmmm ... tidak apa-apa Bu." sahut Oliver sembari tersenyum kecut.
"Sekarang fokus ke tujuan awal kedatangan kami, bisa kamu buktikan kalau kehamilan kamu itu akibat perbuatan saya?? Kalau kamu enggak bisa buktikan, siap-siap aja kamu bakal melahirkan di penjara!" tukas Igan.
"Begini Mas Igan, bukannya kami enggak bisa membuktikan tapi ...." sahut Oliver menyerobot untuk menjawab, namun belum selesai ia menjawab tiba-tiba Viktor berseru.
"Mereka enggak bakal bisa buktiin, karena bukan kamu pelakunya! Orang yang sudah berbuat itu sudah tertimbun tanah dan batu nisan!" seru Viktor.
"Maksudnya, meninggal? Siapa??" desak Igan.
"Boy. Dia yang sudah berbuat tapi enggak mau tanggung jawab." sahut Viktor.
Kay hanya menutupi wajahnya sambil terus terisak.
"Saya datangi rumah Boy untuk minta pertanggungjawaban, tapi dia nolak. Alasannya, dia dan Kay lagi mabuk, jadi dia enggak ngerasa ada rencana untuk berbuat itu." Viktor menghela napas sejenak, lalu kembali berujar, "Saya jadi emosi lalu pukul dia."
"Sampai meninggal??" tanya Bulan.
Viktor menggeleng, "Dia ambil gunting dari meja terus diarahin ke saya, tapi ... saya bisa mengelak dan menekuk tangannya itu, sampai ... gunting yang dia pegang, justru kena ke perutnya sendiri."
Semua menahan napas beberapa detik saat membayangkan peristiwa tersebut, sedangkan Kay makin terisak.
"Nah, semua sudah jelas kan? Bukan Igan yang berbuat! Mau kasih pembelaan apa lagi kamu, Oliver??" tukas Bulan.
"Saya minta segera cabut pernyataan kamu di media, dan saya akan cabut laporan saya di kepolisian. Tapi kalau kamu keukeuh enggak mau cabut pernyataan kamu, saya pastikan kamu bakal masuk penjara!" ancam Igan dengan tegas.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Kay hanya bergeming. Begitupun Oliver, sang pengacara.
"Oliver, apa kamu ada bukti buat membela klien kamu ini?" tanya Bulan sambil menatap dalam pada juniornya.
Oliver terdiam, ia tampak tak bisa berkata-kata menghadapi konfrontasi dari senior sekaligus panutannya itu.
"Kenapa tadi kamu seperti melarang Kay untuk bicara?" imbuh Bulan.
"Tadi juga dia bilang disuruh, disuruh siapa??" Jio ikut menimpali.
"Sebenarnya ... saya juga cuma disuruh untuk mendampingi Kay sebagai kuasa hukum, dari ...." Oliver berhenti berucap, wajahnya tampak cemas.
"Dari siapa??" Bulan bertanya dengan tegas.
"Dari Pak Subono dan Yongki." sahut Oliver.
Bulan menoleh ke arah Igan dan Jio, sedangkan Igan dan Jio tampak sangat emosional mendengar pengakuan Oliver.
"**** !!! Bener dugaan gue Bro, ini tuh kerjaan mereka!!" seru Jio.
Igan berusaha tetap tenang dan mengeluarkan ponselnya untuk merekam semua percakapan itu.
"Jadi ... kalian ini disuruh sama Om Bono dan Yongki?" Igan kembali bertanya untuk menegaskan.
"Iya, mereka minta saya dampingi Kay saat memberikan keterangan di depan media, dan memang awalnya saya kira memang dia pihak yang dirugikan dan butuh sokongan." sahut Oliver.
"Terus, kenapa kamu tadi kayak enggak ngijinin Kay untuk bilang kalau yang nyuruh dan bayar kamu itu Subono?" selidik Bulan.
"Mereka minta seperti itu, Bu. Kita enggak boleh bilang kalau mereka yang menyokong semua ini."
"Alasannya?"
"Mereka enggak mau dianggap cari panggung karena membela Kay, soalnya Mas Igan kan baru saja dikeluarkan dari labelnya Pak Bono."
Bulan tersenyum sinis, "Enggak mau dianggap cari panggung?? Itu bukan anggapan, tapi kenyataan. Mereka pasti ada rencana buat menjatuhkan Igan." ucap Bulan.
"Dan kamu, sekarang juga ikut kami untuk membuat klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka di media!" tegas Igan.
Kay terdiam, ia tak tahu lagi harus apa.
"Aku kasih tau ya, di dalem penjara itu enggak enak! Aku udah pernah ngalamin, tapi karena aku enggak sepenuhnya bersalah, jadi bisa bebas lebih cepet." ujar Viktor, mengingatkan Kay.
"Tapi gimana kalau mereka minta balikin uang yang udah mereka kasih ke aku, Bang?? Uangnya udah sebagian aku pake buat kebutuhan! Soalnya enggak ada yang mau mempekerjakan wanita hamil, jadi aku tergiur ajakan mereka buat kerja sama." ujar Kay.
"Jadi mereka kasih kamu uang?" tanya Bulan.
Kay mengangguk dan kembali terisak.
"Coba kamu ceritakan bagaimana kamu dan mereka bisa kenal, dan akhirnya kerja sama begini?" tanya Bulan.
Kay terdiam, matanya menatap lurus ke depan. Ia tampak sedang memutar peristiwa itu dalam benaknya.
****
__ADS_1