
Ilona yang semula tampak sumringah saat menerima panggilan telepon dari Igan, mendadak berubah menjadi masam. Bulan memperhatikan ekspresi wajah Ilona dengan seksama.
Kenapa Lona mendadak begitu? Apa benar Igan yang telepon? Kalau iya, bilang apa sampai-sampai Lona langsung cemberut? Batin Bulan bertanya-tanya.
Panggilan telepon itu tidak berlangsung lama. Setelah selesai mendengarkan Igan bicara, Ilona langsung menutup telepon itu lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Bulan tampak bingung, ia ingin sekali bertanya siapa yang menelepon namun diurungkan. Ia memilih untuk tetap diam dan menunggu reaksi Ilona selanjutnya.
"Hmmm ... Tante, saya permisi dulu ya?" Ucap Ilona dengan perlahan.
"Kok buru-buru? Kenapa?" Tanya Bulan.
"Hmmm ... enggak apa-apa, cuma ... saya baru ingat kalau masih ada acara lain. Permisi ya Tante?" Sahut Ilona berdusta, seraya bangkit dari duduknya.
Bulan menatap Ilona, dahinya berkerut. Ada rasa iba menyelinap dalam hatinya melihat sikap Ilona yang mendadak berubah sedih seperti itu. Namun ia tidak bisa apa-apa.
"Ya sudah, terima kasih ya sudah sempatkan ke sini untuk jengukin Om, tapi sayang Om nya lagi istirahat." Ucap Bulan.
"Iya, enggak apa-apa kok Tan. Saya pamit dulu, assalamu'alaikum ...." Ucap Ilona seraya menjabat tangan Bulan lalu beranjak keluar menuju mobilnya.
"Udah Mbak? Kok cepet banget nengokin Bapak?" Tanya Pak Yopi menyapa Ilona sembari membukakan pintu gerbang.
"Enggak apa-apa Pak, makasih ya?" Sahut Ilona dengan sungkan sembari masuk ke dalam mobil.
"Iya Mbak. Hati-hati ...." Ucap Pak Yopi.
Ilona tersenyum tipis lalu mengemudikan mobilnya keluar dari pelataran rumah tersebut.
Di dalam mobil, Ilona tampak meneteskan air mata. Gadis cantik itu terisak sambil sesekali menyeka air matanya. Ia kemudikan mobilnya untuk pulang ke rumah, dan beristirahat.
Sementara itu, Igan sudah tiba di sebuah rumah produksi yang menawarinya untuk bermain dalam sebuah judul film.
Jio sang manajer yang sudah tiba lebih dulu dan menunggunya di lobi tampak antusias ketika melihat Igan datang.
"Nyampe juga lu." Sapa Jio.
Igan melihat arlojinya lalu menyahut, "Emang gue telat, Bang?"
"Enggak ... Ya udah yuk buruan ke dalem, Pak David udah nunggu kita." Ajak Jio.
"Oke!"
Mereka berdua bergegas menuju ke dalam ruangan bos rumah produksi tersebut. Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, mereka pun bertemu dengan David atau biasa dipanggil Dave, seorang pemilik usaha rumah produksi yang bonafid dan banyak menelurkan berbagai judul film box office.
"Siang Pak Dave." Ucap Jio dan Igan.
"Siang Jio, Igan. Ayo, silakan duduk." Sahut David.
"Thank you, Pak." Ucap Jio.
__ADS_1
Igan dan Jio duduk tepat berhadapan dengan David yang hanya dibatasi sebuah meja.
"Kita to the point aja ya? Soalnya saya ada acara satu jam lagi. Jadi gimana, kamu sudah bilang sama Igan kan, Jio?" Ujar David.
"Oke Pak, saya juga enggak suka bertele-tele. Saya sudah bilang ke Igan, dia tertarik sih tapi mau tahu lebih banyak informasi soal proyek film itu." Sahut Jio.
"Gini, kalo soal filmnya kita harus ngobrol langsung sama Bram, sutradara sekaligus penulis naskahnya. Saya sudah hubungi dia supaya datang kemari, mungkin sebentar lagi Bram datang." Ujar David, yang merupakan kakak Bram.
Tak lama, pintu ruangan diketuk dan seseorang langsung masuk tanpa basa-basi.
"Nah, benar kan? Itu dia yang kita tunggu. Bram, sini duduk!" Ujar David seraya melambaikan tangannya, memanggil Bram.
Bram mendekat lalu menjabat tangan Jio dan Igan.
"Udah lama nunggunya?" Tanya Bram sembari duduk tepat di sebelah David, kakaknya.
"Enggak kok Pak, kita juga baru masuk." Sahut Igan.
Obrolan pun berlanjut membahas soal proyek film yang akan dibuat, dan berakhir dengan kesepakatan yang dicapai oleh semua pihak.
Igan dan Jio pun pamit pulang setelah pembicaraan selesai.
"Lu jadi ke rumah ortu gue enggak, Bang?" Tanya Igan saat berjalan menuju area parkir.
"Oh iya, jadi lah! Yuk? Lu juga mau balik ke sana kan, bukan ke apartemen?" Sahut Jio.
"Iya." Sahut Igan dengan wajah muram.
"Main filmnya sih hepi, tapi lu tadi yang bikin gue jadi senewen!" Omel Igan.
"Lah, kok jadi nyalahin gue?"
"Ya gara-gara lu tadi enggak liat-liat pas bahas soal bokap gue yang habis sakit, Ilona jadi tau!"
"Oh, soal itu? Emang kenapa sih kalo si Lona tau?"
"Masalahnya bokap gue kurang suka sama dia, Bang! Gue jadi serba salah."
"Berarti sebenarnya lu suka sama dia?"
Igan sontak mendelik mendengar pertanyaan Jio itu.
"Lah, malah mendelik! Emang apa yang salah dari Lona? Cantik? iya. Pendidikan? oke. Bodi? kayak barbie. Kurang apa coba? Lu normal kan?" Seloroh Jio, asal.
"Au ah, susah ngomong sama orang yang mikirnya ***** doang! Yuk buruan!" Tukas Igan seraya mempercepat langkahnya.
Mendengar Igan yang kesal justru membuat Jio terkekeh lalu ikut berjalan dengan cepat menyusul Igan.
Jio memang manajer Igan, tetapi sebenarnya ia juga seniornya semasa kuliah. Igan dan Jio sudah akrab sejak kuliah.
__ADS_1
Saat Jio sudah wisuda, ia bekerja di sebuah perusahaan namun ia terkena imbas pengurangan karyawan dan harus dirumahkan.
Di tengah kebingungannya, ia bertemu lagi dengan Igan yang sudah mulai sering mendapat job menyanyi. Dari obrolan santai mereka, akhirnya mereka sepakat untuk saling menguntungkan.
Igan menawari Jio untuk membantunya mengatur jadwal manggung dan lain-lain. Awalnya Jio bingung karena sama sekali tak memahami tugas seorang manajer artis, namun ia merasa tertantang untuk mendalami pekerjaan tersebut.
Igan pun bukan tanpa alasan menawari Jio menjadi manajernya, karena ia tahu Jio orang yang loyal dan jujur, walaupun terlihat santai dan terkadang urakan.
Iring-iringan mobil Igan dan Jio pun tiba di rumah Bintang. Pak Yopi dengan sigap membukakan pintu gerbang dan mempersilakan tuan muda dan tamunya untuk masuk.
"Ayo Bang!" Ujar Igan pada Jio setelah keduanya turun dari mobil.
"Sepi amat rumah lu?" Tanya Jio.
"Iya, nanti kalo gue udah nikah terus punya anak sepuluh, bakal rame ini rumah." Sahut Igan sambil terkekeh.
"Cie ... cie ... ada yang udah ngomongin nikah aja nih!" Ledek Jio yang membuat Igan tertawa.
"Assalamu'alaikum ...." Ucap Igan saat memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam ... Eh Mas Igan sudah pulang?" Sahut Erni yang sedang membersihkan lantai.
"Iya Mbak. Bunda sama Ayah mana?" Tanya Igan.
"Ada di atas, Mas. Oh iya, mau minum apa Mas?"
"Saya air putih dingin aja, Mbak.
Lu mau minum apa Bang?" Ujar Igan seraya bertanya pada Jio.
"Apa aja gue sih, asal yang dingin." Sahut Jio, santai.
"Hmmm ... es jeruk deh Mbak buat Bang Jio." Pinta Igan.
"Baik Mas, saya permisi ke belakang dulu." Sahut Erni kemudian bergegas menuju ke dapur sambil membawa peralatan pembersih lantainya.
Jio bangkit dari duduknya dan berjalan keluar, lalu melihat-lihat ke arah taman. Saat tiba di salah satu sudut taman, ia berhenti dan tampak sedang berpikir.
"Kenapa Bang?" Tanya Igan yang mengikutinya.
"Gue kayak pernah liat spot ini di medsos, ada yang foto selfi di sini." Sahut Jio sambil coba mengingat.
"Siapa? Yangjelas bukan gue kan? Gue enggak punya akun medsos." Tanya Igan.
Jio masih terdiam dan tampak berpikir keras.
"Nah, gue inget!!" Seru Jio seraya menjentikkan jari.
"Siapa??" Tanya Igan penasaran.
__ADS_1
***