Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Permintaan Maya


__ADS_3

Jeni dan rekan-rekannya di divisi promosi datang ke RS. Persada untuk menjenguk rekan junior mereka, Tia.


Setelah bertanya pada resepsionis rumah sakit, mereka berempat bergegas menuju ruang Anyelir-3 dimana Tia dirawat.


Jeni mengetuk pintu kamar tersebut setelah yakin bahwa itu adalah ruang perawatan Tia.


Tampak Hendra menyembul dari balik pintu ketika ia membukakan pintu ruangan itu.


"Halo Hen ...." sapa Jeni, ramah.


"Halo juga Ci Jeni, ayo semuanya silakan masuk!" sahut Hendra, mempersilakan.


Jeni dan yang lain melangkah masuk dan melihat Tia sedang berbaring dengan wajah yang masih tampak pucat.


"Hai Ti ... !!" sapa Tami, heboh.


Tia tersenyum dan melambaikan tangan pada rekan-rekannya.


"Gimana kabar kamu, Ti? udah baikan?" tanya Teguh.


"Ya ... begini, Mas. Kalian langsung dari kantor?" Tia balik bertanya dengan suara agak lirih.


"Iya Ti, kita semua kaget denger kabar lu begini. Makanya kita langsung ke sini." sahut Gugun.


Tia tersenyum, "Makasih ya semuanya, jadi repot-repot nengokin ke sini." sahutnya.


"Enggak repot kok. Oh iya, Mas Igan ikut jagain kamu di sini sampe jam berapa emangnya, Ti?" tanya Tami.


Tia tertegun kemudian menoleh ke arah Hendra dengan tatapan penuh tanya.


"Mas Igan di sini sampai hampir subuh. Tapi Tia masih belum sadar tadi, jadi enggak liat." sahut Hendra.


"Oh ... pantesan tadi di kantor keliatan kuyu gitu, capek terus ngantuk berat. Akhirnya pulang awal, daripada sakit kan kasian." ujar Jeni.


"Ta-tapi Mas Igan enggak kenapa-napa kan?" tanya Tia, cemas.


Semua mata menatap Tia dengan heran dan mengerutkan dahi, namun sejurus kemudian tersenyum.


"Enggak apa-apa kok ... cuma enggak bisa ikut bareng kita, ya karena itu tadi ...." sahut Jeni sambil tersenyum.


Syukurlah kalo Mas Igan enggak apa-apa. Berarti orang itu cuma ngincer gue, tapi ... siapa dia?? batin Tia.


Obrolan Jeni cs bersama Tia dan Hendra tak berlangsung lama, karena mereka tak mau mengganggu waktu istirahat Tia yang masih dalam masa penyembuhan.


Setelah kawan-kawan divisinya pamit pulang, Tia pun bertanya pada Hendra kakaknya.


"Kak, berarti Mas Igan di sini nungguin aku sampe pagi?"


Hendra yang sedang menyeruput kopi mendadak berhenti meneguk, lalu menoleh ke arah sang adik.


"Iya." sahutnya singkat.


"Kok Kakak enggak bilang?"


"Emang penting?"


Tia mengerutkan kedua alisnya, ia merasa heran dengan sikap sang kakak yang tak seperti biasanya.


"Kok Kakak gitu sih ngomongnya?" tanya Tia.

__ADS_1


"Dek, kakak cuma enggak mau kamu terus kepikiran sama Mas Igan. Kakak tau kok kamu suka sama dia, iya kan?? Tapi kamu jangan berharap banyak Dek, soalnya kita sama keluarga Erlangga itu enggak se-level." tegas Hendra.


"Tapi kenapa baru sekarang Kakak bilang begitu?"


Hendra menghela napas, lalu duduk menghadap ke ranjang Tia.


"Harusnya emang dari awal kakak bilang begitu, jadi kamu enggak sampai begini." ujar Hendra.


"Maksud Kakak gimana?"


"Kamu ditikam orang itu kan karena kamu dekat sama Mas Igan, jadi kamu yang dijadiin sasaran. Paham kan maksud kakak?"


Tia menatap kakaknya dengan seksama, coba menelisik apa yang ada dalam pikirannya.


"Emang siapa pelakunya, Kak?"


Hendra diam, dan kembali meneguk kopinya.


"Kak??" tegur Tia.


"Udah lah, Dek ... enggak penting siapa pelakunya, toh dia udah ketangkep juga sama polisi. Yang penting kakak minta kamu jangan terlalu dekat lagi sama Mas Igan. Kakak cuma takut kamu kecewa atau kenapa-napa nantinya."


"Tapi itu kan bukan salah dan maunya Mas Igan, Kak!"


Tia mulai terlihat kesal hingga nada bicaranya meninggi, membuat luka jahitan di perutnya akibat tikaman itu terasa sakit.


Tia pun meringis dan mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya, hingga membuat Hendra panik. Ia langsung menaruh gelas kopinya dan beranjak mendekati Tia.


"Kenapa, Dek? Kamu jangan banyak ngomong dulu deh mendingan, apalagi sampe emosi kayak tadi. Istirahat aja ya?"


Tia mengangguk namun tampak masih menahan sakit. Ia berbaring dan coba mengatur napas untuk mengurangi rasa sakit yang dirasa.


Siapa sebenernya pelaku penusukan itu? Apa Mas Igan punya musuh lain selain Yongki dan Pak Bono? pikir Tia saat rasa sakitnya sudah mulai mereda.


*


Setelah melakukan salat Magrib dan Isya dengan bertayamum, Tia mulai memejamkan mata. Ia sejenak menepikan pikirannya tentang sikap Hendra dan perasaannya pada Igan. Fokusnya hanya ingin cepat pulih kembali.


"Tia ...."


"Tia ...."


Sebuah usapan lembut menyentuh punggung tangannya setelah dua kali namanya dipanggil. Sentuhan yang terasa dingin di kulitnya.


Tia mulai membuka mata perlahan-lahan sampai ia dapat melihat dengan jelas siapa yang ada di hadapannya saat itu.


"A-anda?? Kenapa kemari??" tanya Tia, terkejut dengan mata yang terbelalak.


Sosok itu tersenyum dan mengangguk.


"Maafkan anak saya, dia masih terlalu muda jadi hatinya masih diselimuti dendam. Mungkin ... saya juga yang enggak bisa mendidik dia jadi orang yang lebih baik, karena saya juga dulu bukan orang yang baik. Sekali lagi, tolong maafkan dia ...."


Setelah mengucapkan semua itu, sosoknya menghilang dari hadapan Tia. Seketika Tia tersentak dan terkejut, lalu matanya terbuka dengan napas yang terengah-engah.


"Bu Maya, itu tadi Bu Maya! Kenapa dia muncul di mimpi gue?? Tapi ... apa tadi itu mimpi? Rasanya kayak beneran dia ada di sini tadi!" gumam Tia sambil celingukan ke segala penjuru ruangan.


Tak ada sosok Maya di sana, yang memang raganya sudah berkalang tanah. Yang tampak hanya Hendra yang tengah tidur sambil terduduk di kursi, dengan posisi kepala bersandar di tembok.


Tia masih terjaga, pikirannya masih belum bisa beralih dari mimpi barusan.

__ADS_1


Kenapa Bu Maya dateng ke mimpi gue dan minta gue maafin anaknya?? Apa ini ada hubungannya sama kejadian yang gue alamin?? pikir Tia.


Terdengar kursi besi yang diduduki Hendra berderit karena Hendra yang mengubah posisinya.


Hendra tampak duduk tegak dengan mata sayu karena mengantuk, coba mengecek keadaan sang adik.


Kedua alis Hendra terangkat, dan matanya membulat ketika mendapati sang adik yang tengah terjaga. Ia pun bangkit dari kursinya dan menghampiri Tia.


"Dek, kamu kenapa kok melek? Mau ke kamar mandi?" tanya Hendra.


Tia menoleh lalu menggeleng, "Enggak, Kak."


"Terus kenapa? Sakit lagi jaitannya??"


Tia kembali menggeleng, "Bukan Kak, tadi aku kayak mimpi tapi rasanya nyata banget."


"Soal apa?"


"Tadi aku ngerasa Bu Maya dateng ke sini, dia ngelus tangan aku terus bangunin aku."


Hendra langsung duduk di tepi ranjang Tia sembari celingukan dengan wajah yang panik.


"Kamu jangan becanda dong, Dek! Tengah malem lho ini, jangan nyebut-nyebut orang yang udah enggak ada." tegur Hendra, panik.


Tia mengerutkan alis, "Kenapa Kak, kok parno gitu? Bukannya udah biasa sama hal-hal begitu kalo pas jaga malem?" tanya Tia, meledek.


"Iya sih, tapi kan beda suasananya. Ini rumah sakit lho, Dek!"


"Apa bedanya, Kak? Di mana aja pasti ada kok." ujar Tia sambil tersenyum.


"Iya sih, apalagi kalo di ... Ah udah lah, jangan dibahas. Mendingan kamu tidur lagi aja."


"Aku belum bisa tidur lagi. Tolong ambilin HP aku dong, Kak."


"Mau ngapain jam segini mainan HP?"


"Ya daripada gabut belum bisa tidur lagi?!"


Hendra menghela napas lalu membuka tas milik adiknya untuk mengambilkan ponselnya.


"Makasih Kakak baik ...." puji Tia sembari tersenyum puas.


"Kakak mau tidur lagi ya, Dek? Masih ngantuk!" ucap Hendra.


"Ya udah, tidur aja. Itu di ranjang yang kosong aja enggak apa-apa kali, Kak ... kan enggak ada pasiennya. Daripada di kursi gitu?!"


"Enggak ah, mendingan di kursi." tolak Hendra.


"Tapi kalo kosong gitu malah entar ada yang nempatin lho, Kak!" ledek Tia.


"Dek! Ngapain dibahas sih??" omel Hendra.


Tia tertawa namun ia merasakan luka jahitan di perutnya kembali nyeri. Suara tawanya berhenti seketika lalu meringis menahan sakit.


Gantian Hendra yang tertawa melihat sang adik, namun ia segera membungkam mulut ketika menyadari situasi yang sunyi di rumah sakit itu.


"Sukurin kamu, Dek ... kualat! Makanya jangan ngeledekin Kakak." ucap Hendra.


Tia cemberut sambil sesekali meringis dan mengusap-usap perutnya.

__ADS_1


****


__ADS_2