Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Rengekan Ilona


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Igan menelepon Jio untuk memberitahukan bahwa ia akan mulai bekerja di perusahaan sang ayah.


Namun Igan tetap menerima jika ada tawaran manggung atau syuting iklan selepas jam kantor ataupun saat weekend.


Jio menyetujui permintaan artis sekaligus sahabatnya itu. Ia pun mulai ancang-ancang untuk membuka manajemen artis untuk menggaet para artis lain bergabung di manajemennya.


"Yah, Igan udah jadi staf promosi kan mulai hari ini?" tanya Igan sesaat sebelum sarapan.


"Iya, sudah. Selamat bergabung ya, Nak! Ingat pesan ayah, jadilah karyawan teladan dengan kerja yang giat dan benar. Oke?"


"Siap, Komandan! Sekarang sarapan dulu sebelum berangkat. Oh iya, Igan nanti mau ke dealer motor pulang kerja."


"Lho, mau ngapain Nak?" tanya Bulan.


"Mau beli motor, Bun." sahut Igan.


"Ish, enggak usah lah ... kamu pake motor nanti keliatan lho sepanjang jalan kalo kamu itu artis!" tukas Bulan.


"Ya kan pake helm, Bun. Lagian, emangnya kenapa kalo artis pake motor? Enggak boleh?"


"Bukannya gitu ... tapi Bunda khawatir, nanti ada orang yang niat jahat ke kamu gara-gara tau kamu itu siapa."


"Udah lah Bun ... enggak apa-apa, biarin aja Igan pake motor. Toh lebih santai dan cepet juga kan? bisa selap-selip di jalan kalo pas macet." ujar Bintang, membela opini putranya.


"Iya Bun, artis lainnya juga banyak kok yang pake transportasi umum, enggak masalah." imbuh Igan.


"Tapi kamu itu kan ...."


"Igan juga kan sama kayak orang-orang Bun, masyarakat biasa juga." ucap Igan dengan lembut, menyanggah ucapan Bulan.


Bulan menghela napas panjang, "Ya sudah lah kalo memang maunya begitu. Tapi janji, kamu harus hati-hati lho!" Bulan akhirnya mengalah.


"Iya Bunda cantik ...." sahut Igan sembari tersenyum pada sang bunda.


Lelah berdebat, mereka bertiga pun mulai menyantap menu makan pagi yang sudah terhidang di meja makan.


Igan tak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya yang akan mulai bekerja sebagai staf promosi di kantor ayahnya.


Kira-kira ... Tia nanti kaget enggak ya kalo tau gue jadi rekan divisinya? terka Igan dalam hati.


*


Setelah selesai sarapan, Bintang menyempatkan untuk membaca koran di ruang tengah bersama Bulan, sang istri tercinta.


Namun sebuah mobil tampak membunyikan klakson beberapa kali di depan gerbang rumah hingga terdengar oleh mereka.


"Mobil siapa, Bun? Tumben jam segini ada yang bertamu." tanya Bintang.


"Enggak tau Yah, apa mungkin Jio?" sahut Bulan.


Dihalaman rumah, tampak seorang satpam yang bertugas bergegas keluar dari pos lalu menghampiri mobil tersebut melalui pintu kecil yang bersebelahan dengan gerbang.


"Selamat pagi." sapa satpam itu pada si pengemudi mobil.


Perlahan kaca mobil tersebut pun terbuka hingga tampak seorang gadis cantik berkaca mata hitam duduk di balik kemudi.


"Pagi, Pak. Saya mau ketemu Dirgantara." sahut gadis itu tanpa senyum.


"Baik, tunggu sebentar ya Mbak? Saya sampaikan dulu ke Mas Igan."


"Buka aja gerbangnya! Pasti dia mau kok ketemu saya. Ada hal penting yang mau saya bicarain sama dia."

__ADS_1


"Maaf, tapi saya ...."


"Udah, buka aja gerbangnya!" bentaknya memotong ucapan satpam itu.


"Saya enggak bisa, Mbak."


"Kamu udah bosen kerja di sini?" tukas gadis itu.


Di dalam rumah, Igan yang hendak mengecek kondisi mobilnya pun melangkah keluar.


"Nak, kamu ada janji lagi sama Jio?" tanya Bulan ketika sang putra sedang melangkah menuruni tangga.


"Euh? Janji? Enggak ada Bun, emang Jio dateng?" Igan justru heran dan balik bertanya.


"Tadi sih ada yang bunyiin klakson kayak di depan rumah kita, tapi satpam enggak masuk ngasih tau siapa yang dateng." sahut Bulan.


"Coba Igan liat keluar deh Bun. Sekalian Igan mau cek mobil."


"Ya sudah."


Igan kemudian melangkah menuju gerbang untuk melihat siapa yang datang, namun langkahnya mendadak terhenti ketika melihat mobil yang terparkir tepat di depan gerbang rumah orang tuanya.


"Itu kan mobilnya Lona? Mau ngapain lagi dia ke sini?" gumam Igan.


Igan mempercepat langkahnya kemudian ikut keluar menemui gadis yang ternyata adalah Ilona.


"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Igan, tegas.


Ilona lantas mengusir satpam yang dari tadi mempersulitnya.


"Satpam kamu ngeselin banget sih?! Aku kan udah biasa dateng ke sini, masa pake ijin dulu segala!" gerutu Ilona, kesal.


"Emang sekarang kayak gitu aturannya buat semua tamu yang dateng. Kamu belum jawab pertanyaanku, mau ngapain kamu kemari lagi?" tegas Igan.


Igan mengerutkan dahi, "Minta tolong?? Minta tolong apa?" tanya Igan, heran.


"Tolong kamu cabut laporan kamu ke Om Bono, kamu inget-inget lah jasanya buat kamu. Masa kamu tega sih, Gan?" rengek Ilona.


Igan menghela napas lalu ia mendengus, ketika sudah menangkap maksud dan tujuan Ilona datang pagi itu ke rumahnya.


"Aku cuma berusaha mencari keadilan, buat tindakan yang enggak seharusnya aku terima. Aku pengin menghukum tindakannya, terlepas itu pelakunya Om kamu atau bukan."


"Ya tapi kan di kasus ini Om aku Gan yang terlibat, makanya aku minta ke kamu supaya cabut laporan."


"Ya itu pilihan Om kamu sendiri untuk terlibat."


"Tapi dalangnya itu si Yongki, bukan Om Bono!"


Igan tersenyum sinis, "Siapapun dalangnya, yang jelas mereka berdua itu kerja sama buat ngancurin karir aku. Mending kamu pulang, aku sibuk!" sahut Igan, kemudian berbalik badan hendak berlalu.


"Igan, kasian tanteku! Dia jadi sakit-sakitan semenjak Om Bono sering bolak-balik diperiksa polisi." seru Ilona, memelas.


Igan berhenti melangkah kemudian balik badan dan menjawab, "Itu bukan urusanku. Lagian ... Om kamu juga enggak ada ucapan minta maaf ke aku, ngapain kamu yang musti repot-repot gini??"


"Gan, mungkin Om ku gengsi buat minta maaf ke kamu, makanya aku yang wakilin dia. Igan ... Igan!!!" teriak Ilona.


"Tutup pintunya, Pak!" perintah Igan pada satpam rumah.


"Baik, Mas."


Igan kembali melangkah, tanpa mempedulikan suara Ilona yang terus merengek meminta belas kasihannya.

__ADS_1


Sori Lon, gue harus tegas supaya ada efek jera buat pelakunya. batin Igan.


Satpam pun segera menutup pintu dan menguncinya, meninggalkan Ilona yang masih terus memanggil-manggil nama Igan.


"Pak Hendro, tolong cek mobil saya ya? Saya jadi males lama-lama di sini mau ngecek mobil, berisik!" Igan meminta supir pribadi ayahnya untuk membantu mengecek kondisi mobilnya.


"Oh, siap Mas!" sahut Pak Hendro.


Igan melangkah masuk kembali ke dalam rumah, lalu duduk di kursi bersama kedua orang tuanya.


"Ada tamu, Nak? Siapa?" tanya Bulan.


"Ilona." sahut Igan singkat dengan wajah kesal.


"Ilona? Mau apa?" Bulan kembali bertanya.


"Dia ngerengek supaya Igan cabut laporan, Bun."


"Ah ... dasar keluarga enggak tau diri. Berani-beraninya ngerengek supaya kita cabut laporan! Biarin aja, biar jera mereka itu!" timpal Bintang, tegas namun tenang.


"Iya Yah, Igan juga pikir begitu."


"Ya sudah, kamu enggak siap-siap ke kantor? atau mau ikut sama ayah ke kantor cabang? biar tau kantor cabang perusahaan tu seperti apa." tanya Bintang.


"Hmm ... enggak usah deh Yah, nanti aja kapan-kapan. Soalnya ... nanti kan mau ke dealer."


"Oh, ya sudah kalo gitu. Kamu hati-hati ya?"


"Beres, Yah ...."


Igan bergegas mengambil tas, memakai sepatu lalu berpamitan pada kedua orang tuanya. Sedangkan Bintang hari ini ada kunjungan ke salah satu kantor cabang terlebih dahulu.


Ia berjalan dan fokus melihat ke luar gerbang, ia masih was-was jika ternyata Ilona masih ada di luar.


"Pak, tolong cek di luar ya? Cewek yang tadi masih ada enggak?" titah sang tuan muda kepada satpam rumah.


"Baik, Mas."


Dengan sigap, petugas keamanan rumah itu langsung menyisir area luar rumah. Dengan seksama ia memeriksa, kalau-kalau mobil Ilona masih berada di sekitar area rumah majikannya.


Setelah dipastikan aman, ia kembali masuk dan melapor pada Igan.


"Sudah saya cek dan tidak ada mobil tadi di sekitar sini, Mas." lapornya.


"Ya sudah, makasih ya Pak? Tolong jangan lengah, kalau ada mobil atau cewek tadi datang lagi, enggak usah buka pintu. Paham?"


"Paham, Mas!"


Igan tampak sedikit lega, lalu fokusnya mengarah pada Pak Hendro yang tadi ia minta untuk mengecek kondisi mobilnya.


"Pak Hen, gimana? Udah cek mobil saya?" tanya Igan.


"Sudah, Mas. Insyaa allah aman!"


"Oke, makasih Pak Hen. Saya berangkat dulu ya?" pamit Igan, kemudian Pak Hendro membukakan pintu mobil untuk sang majikan.


"Hati-hati ya, Mas ...." ucap Pak Hendro.


Igan mulai menyalakan mesin mobilnya lalu mengacungkan ibu jari dan tersenyum pada Pak Hendro.


Mobil itu mulai melaju lambat keluar gerbang, membawa sang pemuda tampan menuju kantor.

__ADS_1


****


__ADS_2