
Igan, Tia, Hendra dan Ilona serta beberapa orang yang akan melakukan kegiatan snorkeling sudah berkumpul bersama pemandu untuk mendengarkan arahan.
Namun Ilona tak langsung bergabung, ia berlari mendekati Bulan dan membuat Igan heran.
"Yang, kamu mau kemana?" teriak Igan.
"Sebentar ...!!" sahut Ilona yang juga berteriak sambil terus berlari.
"Kamu kenapa ke sini, Lon?" tanya Bulan.
"Tante, saya mau titip cincin ini ya? Jangan sampai hilang." ucap Ilona seraya melepaskan sebuah cincin bermata merah dari jari manis tangan kanannya.
"Loh, memangnya kenapa harus dititipin ke Tante? Itu cincin tunangan kamu di tangan kiri aja tetep kamu pakai kok." tanya Bulan, coba memancing.
"Hmmm ... takut jatuh ke laut, Tan. Aku suka banget sama cincin ini soalnya."
"Kalo cincin tunangannya, kamu enggak suka ya?makanya kamu enggak takut kalo cincinnya jatuh?" tanya Bintang dengan tatapan menelisik.
"Bukan begitu, Om. Tapi ...."
"Lona ...!!! Ayo cepetan!!!" panggil Igan dengan lantang.
Ilona menoleh, lalu dengan gugup menyerahkan cincin itu ke tangan Bulan.
"Tante, pokoknya saya titip ya?" ucap Ilona.
"Ya sudah, kamu cepat ke sana. Yang lain sudah nungguin tuh." ujar Bulan.
Ilona mengangguk, lalu mulai melangkah meninggalkan Bulan dan Bintang yang tengah duduk di tepian laut. Namun Ilona tampak tidak tenang, ia beberapa kali menoleh ke arah Bulan yang masih memegangi cincinnya.
Mudah-mudahan cincin itu aman dan enggak ketuker sama punya Tante Bulan. batin Ilona.
Ilona ingat kalau ibunda dari kekasihnya itu sempat mengajaknya jalan-jalan menuju ke sebuah toko perhiasan ternama, karena ia ingin sekali memiliki cincin yang sama dengannya, yaitu cincin bertahta sebuah batu warna merah nan cantik itu.
Ia mengajak Ilona supaya memperlihatkan bentuk cincinnya itu pada sang pemilik toko perhiasan, agar membuatkan yang sama persis untuknya.
Melihat Ilona sudah kembali bergabung dengan rombongan yang akan menerima pengarahan dari sang pemandu, Bulan dan Bintang tersenyum penuh arti. Mereka bersyukur karena Ilona tak menyadari rencana mereka.
"Kamu ngapain sih tadi?" tanya Igan ke Ilona, ketika gadis itu sudah bergabung kembali ke rombongan.
"Euh? Enggak ... aku cuma nitipin cincin aku ke bundanya kamu, takut jatuh pas nyelam nanti." sahut Ilona.
Igan memperhatikan jari tangan Ilona lalu mengerutkan dahi.
"Cincin yang merah itu? Kok cincin tunangan kita enggak dititipin sekalian ke bunda?" tanya Igan.
Ilona ikut menunduk.dan melihat ke jemari tangannya, "Oh, kalo ini sih enggak usah ... Aku enggak mau lepasin cincin dari kamu, sama kayak aku enggak mau jauh-jauh dari kamu." sahut Ilona, merayu.
__ADS_1
Igan mengusap rambut Ilona sambil tersenyum, "Bisa aja kamu!"
Hendra dan Tia yang berdiri tak jauh di belakang Igan dan Ilona saling melempar pandang, berharap semua rencana yang telah disusun dapat berjalan mulus.
*
Senja harinya ketika Ilona sudah selesai mandi, ia keluar kamar penginapan dan hendak menuju kamar orang tua Igan yang terletak jauh dari kamar Ilona.
Ia mengetuk pintu kamar tiga kali, berharap segera bertemu dengan ibunda Igan untuk meminta kembali cincin yang ia titipkan.
Namun, setelah beberapa lama pintu kamar orang tua Igan tak kunjung dibukakan. Ilona berdecak kesal, ia mendengus kemudian melangkah pergi menuju kamar sang kekasih.
"Gan ... kamu di dalam kan, Sayang?" panggil Ilona sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar Igan di dalam penginapan yang sama dengannya.
Igan tak juga menyahut, dan membuat Ilona makin kesal. Ia pun menelepon Igan dengan tak sabar, akhirnya Igan menerima telepon Ilona walau harus menunggu beberapa saat.
"Ih, kamu lagi ngapain sih, Yang?? Diketuk-ketuk pintunya enggak dibuka, ditelponin juga lama banget angkatnya! Kamu lagi dimana sekarang??" omel Ilona.
"Aku tadi lagi mandi. Kamu lagian, kebiasaan banget enggak sabaran! Bikin aku gugup aja!" Igan balik mengomel.
Ilona terhenyak, ia merasa ada yang janggal karena sikap Igan yang mendadak berubah.
"Sayang, kamu kok jadi marah sih?" tanya Ilona dengan nada merajuk.
"Ya habis kamu juga marah-marah. Emang kamu mau ngapain? Sebentar aku keluar."
Igan emang keren! rambut masih acak-acakan aja keliatan ganteng banget. puji Ilona dalam hati dengan mata yang tak berkedip menatap Igan.
"Lon, kenapa? Kok jadi bengong?" tegur Igan.
Ilona tergagap, "Oh, hmmm ... a-anu ... aku mau ... mau tanya, Bunda kamu dimana?"
Igan mengerutkan dahi, "Bunda? Bunda sama Ayah kan pulang duluan waktu kamu masih istirahat di kamar. Besok Bunda ada janji sama klien katanya." sahut Igan.
"Apa?? Terus, cincin aku gimana??" tanya Ilona, panik.
"Oh, cincin yang merah? Ada kok sama aku. Bunda titipin ke aku tadi sebelum pulang. Sebentar aku ambilin."
Ilona mengikuti Igan masuk ke dalam kamarnya, namun Igan langsung menoleh dan melarangnya masuk.
"Lon, kamu tunggu di luar aja ya? Masa cewek masuk-masuk ke kamar cowok?"
"Loh, kenapa? Kan aku tunangan kamu!"
Igan terdiam dan tampak termangu.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ilona seraya mengusap pundak Igan dengan lembut.
__ADS_1
Igan sontak mengelak, "Sori, Lon. Enggak usah kayak gini." tegasnya.
Ilona mengerutkan alis, wajahnya tampak kembali kesal.
"Kamu kenapa sih, Yang?? Kok kamu mendadak berubah?" tanya Ilona, kesal.
"Aku bingung, kenapa kita bisa tunangan??" tanya Igan dengan wajah seperti orang linglung.
DEG!!!
Ilona merasa ada yang tidak beres, ia bergegas meminta cincin yang dititipkan pada Igan.
"Cincin aku mana?"
"Iya, sebentar." sahut Igan, kemudian mengambilkan cincin milik Ilona itu.
Ilona menunggu dengan was-was, ia takut apa yang ia khawatirkan terjadi.
Mudah-mudahan Tante Bulan enggak salah kasih cincinnya ke gue. harap Ilona dalam hati.
"Ini cincinnya." ujar Igan seraya menyodorkan sebuah cincin bertahta batu warna merah.
Ilona menerima cincin itu. Kemudian ia perhatikan dengan seksama, namun ia kesulitan menemukan perbedaan, antara cincin miliknya dengan cincin milik ibunda Igan karena model, warna serta ukuran yang sama.
****!! Harusnya gue kasih tanda khusus ke cincin gue, biar enggak ketuker sama punya Tante Bulan! Kalo udah begini kan jadi repot! batin Ilona.
"Kenapa Lon, kok bengong? Itu cincin kamu kan?" tanya Igan, menegur.
"Oh, ng-enggak kok. Aku cuma mau mastiin, ini beneran cincin aku apa punya bundanya kamu. Soalnya kan ... sama persis, Yang."
"Tapi aku yakin itu punya kamu kok, Bunda ku kan bukan orang yang teledor, Bunda itu teliti orangnya." tegas Igan, meyakinkan.
Ilona terdiam, raut wajahnya masih tampak tak tenang.
Kalo dari sikap Igan yang mendadak berubah, gue yakin cincin gue tadi kenapa-napa. Tapi ....
"Gimana, masih ada yang mau kamu omongin lagi enggak? Kalo enggak, aku mau siap-siap salat Magrib dulu." tanya Igan.
"Hmmm ... enggak deh. Oh iya, besok kita balik kan, Yang?
"Iya. Ya udah, kamu balik ke kamar dulu aja ya?"
"Hmmm ... oke, see you Sayang ...." ucap Ilona dengan gayanya yang centil.
Igan menutup pintu kamar penginapannya, lalu bersandar di balik pintu. Ia menghela napas dalam-dalam lalu tatapannya menerawang ke langit-langit kamar itu.
Gue ternyata udah jadi tunangannya Ilona, tapi kenapa sebelumnya semua terasa kayak mimpi?? Terus, kenapa gue sampe bisa tunangan sama dia? Apalagi Ayah nentang banget kalo gue deket sama Lona. pikir Igan, kemudian mengusap rambutnya dengan kasar sebagai luapan kegalauannya.
__ADS_1
****