Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Danisha


__ADS_3

Deru mobil terdengar berhenti tepat di depan rumah Tia. Bintang, Bulan, Tia berada dalam satu mobil yang dikendarai oleh Igan. Sedangkan Danisha dan Hendrawan ada dalam mobil lainnya.


Tia turun dari mobil lalu melangkah ke depan rumah yang pintunya tertutup. Ia coba membuka pintu rumahnya, namun ternyata terkunci.


"Kak ... Assalamu'alaikum ....!!" seru Tia sembari mengetuk daun pintu.


Tak ada sahutan. Tia kembali mengetuk pintu sembari memanggil-manggil kakaknya hingga beberapa kali, dan akhirnya pintu pun terbuka.


"Ya-ya, wa'alaikum salam ... sebentar!" sahut Hendra dari dalam.


Pintu pun terbuka. Hendra tampak mengenakan kaos dipadu sarung kotak-kotak warna merah kombinasi hitam. Wajahnya terlihat seperti orang yang baru bangun tidur.


Ia tampak sangat terkejut ketika melihat ada sang big boss beserta anak dan istri di depannya.


"Maaf lama, tadi saya ketiduran. Mari, silakan masuk Pak Bintang, Bu Bulan, Mas Igan." ucap Hendra mempersilakan.


"Waduh ... maaf ya Hen, kami jadi ganggu istirahat kamu." ucap Bintang sembari menepuk pundak Hendra, pelan.


Hendra tersenyum, "Enggak kok, Pak. Mari silakan masuk?" sahutnya.


"Sebentar Hen, ada tambahan tamu lagi." ucap Bintang sambil menoleh ke arah belakang.


Tampak Hendrawan dan Danisha baru keluar dari dalam mobil, sambil menenteng sekeranjang buah-buahan segar.


Hendra memandangi dua orang tersebut, dan seketika matanya membelalak saat melihat bule cantik itu.


"Danisha?" gumam Hendra.


Danisha tersenyum manis saat melihat Hendra, sedangkan Hendra tampak terpana.


"Hai Hendra, gimana kabar kamu?" sapa Danisha saat sudah mendekat.


"Euh ... ya, alhamdulillah. Sa-saya baik kok." Hendra mendadak tergagap.


"Grogi banget, Kak? Suka ya?" bisik Tia, meledek.


Hendra mencubit pelan lengan adiknya yang sedang usil itu hingga membuat Tia terkekeh.


"Mari semua, silakan masuk. Maaf rumahnya berantakan." Hendra kembali mempersilakan tamu-tamunya untuk masuk.


Igan membantu Hendra berjalan karena kakinya yang masih terpincang-pincang, kemudian semuanya duduk di kursi ruang tamu yang berukuran tak besar.


"Saya permisi ke belakang dulu." pamit Tia.


"Tia, ini sekalian dibawa." ujar Danisha, menyodorkan sekeranjang parsel buah.


Tia tersenyum lalu melirik ke arah kakaknya.


"Makasih ya, Danisha." ucap Tia.


"Jadi ngerepotin ya, Dan? Maaf." ucap Hendra.


"Enggak kok." sahut Danisha dengan tersenyum riang.


"Hmmm ... saya kaget waktu tau kamu habis kena begal, Hen. Tapi syukurlah, kamu selamat." ujar Bintang.


"Iya, Pak. Alhamdulillah, malam itu ada yang nolongin pas saya sudah mulai kepayahan." sahut Hendra kemudian manik matanya mengarah pada Danisha.


Hendra dan Danisha saling bertemu pandang, keduanya mengulum senyum.


Hendrawan yang duduk tepat di sebelah Danisha, melihat Hendra dan putrinya yang terlihat saling melempar senyum penuh kekaguman.


Ia mengakui jika sosok Hendra gagah dan ganteng, wajar kalau anak gadisnya itu menaruh simpati pada Hendra.


Hendra merasa jika lelaki yang duduk di sebelah Danisha itu sedang menatapnya, lalu ia arahkan pandangannya pada lelaki itu.


Hendra tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, walau ia belum tahu siapa lelaki di hadapannya itu.


Hendrawan mengulurkan tangannya pada Hendra, "Saya papanya Danisha, panggil saja Om Hendra." ucapnya dengan ramah.


Hendra sedikit tersentak, namun sejurus kemudian ia tersenyum.


"Salam kenal Om, nama saya juga Hendra." sahut Hendra, sumringah.


Suasana semakin hangat dan akrab saat Tia muncul dari ruang tengah sambil membawa baki berisi beragam cemilan dan beberapa minuman segar untuk tamu-tamunya.


Siang hari, tamu-tamu istimewa itu pun undur diri untuk pulang ke rumah masing-masing.


Saat perjalanan pulang di dalam mobil, Danisha tampak sumringah. Tak lagi tampak wajah cemberut dan cueknya seperti saat menuju rumah Igan.


Hendrawan melirik putrinya, kemudian tersenyum tipis. Ia menangkap sinyal kekaguman dari putrinya untuk Hendra.


"Kamu kenal Hendra baru pas kejadian malam itu aja, Dan?" Hendrawan tiba-tiba bertanya.


Danisha sejenak menoleh ke papanya, "Euh? Iya, Pa." sahutnya singkat, kemudian kembali menatap ke ponsel.


"Dia ganteng juga ya? gagah. Kerjanya apa?"


"Aku enggak tau, Pa. Tapi kalo dari penampilannya waktu dibegal itu sih kayak ... sekuriti." sahut Danisha, santai.

__ADS_1


Hendrawan terkejut, ia spontan menoleh ke arah Danisha.


"Sekuriti??"


"He-eum. Kenapa, Pa?"


Kalau Danisha sampe jatuh cinta dan minta nikah sama Hendra yang cuma seorang sekuriti, aku harus gimana?? Masa anakku model, nikah sama sekuriti?? batin Hendrawan.


"Pa??" tegur Danisha karena melihat papanya yang melamun.


"Eh? Kenapa-kenapa??" sahut Hendrawan, kaget.


Danisha berdecak, "Ck, Papa lagi ngelamunin apa?"


"Oh ... enggak kok, enggak ngelamun. Emang kamu bilang apa tadi?"


"Aku tadi tanya, emang kenapa kalo kerjaan Hendra itu sekuriti?"


Hendrawan terdiam, ia coba mencari kalimat yang tepat untuk menjawab.


"Tuh kan diem lagi! Papa aneh ah!" tukas Danisha, ngambek.


"Papa lagi fokus liat jalanan, Sayang ...." ujar Hendrawan, mengalihkan pembicaraan.


*


Beberapa minggu berselang, Danisha sedang ada pemotretan untuk sebuah produk. Danisha dipilih untuk menjadi model bagi produk itu.


Setelah pemotretan selesai menjelang magrib, salah satu teman sesama modelnya yang bernama Siska, menelepon Danisha untuk mengajak menemaninya ke suatu tempat.


"Dan, nanti temenin gue yuk?" ajak Siska.


"Kemana?" tanya Danisha.


"Ke rumah temen gue."


"Iya tapi dimana alamatnya ...?"


"Di Dahlia Residence, lu tau kan?"


"Oh, tau. Itu kan perumahan elite. Temen lu yang mana bisa punya rumah di sana?"


"Ada lah ... enggak usah kepo deh! Pokoknya lu tolong temenin gue ke sana ya nanti malem?"


"Jam berapa?"


"Ya udah."


Percakapan via telepon itu berakhir. Danisha bersiap untuk kembali ke kantor agensinya, karena ada pembicaraan mengenai proyek di bulan depan yang melibatkan dirinya.


Lagi-lagi ponsel Danisha berdering, namun kali ini dari Darren kakaknya.


"Dan, pulang jam berapa?" tanya Darren.


"Gue mau balik ke kantor agensi dulu, mau bahas next project katanya."


"Oh, tapi ... gue enggak bisa jemput, gimana? Motor ngadat."


"It's okay. Gue bisa sendiri kok ...."


"Are you sure??"


"Ya, of course! I'll be okay. Don't worry, Bro!"


Terdengar Darren terkekeh.


"Tapi habis itu langsung balik kan?" tanya Darren.


"Hmmm ... enggak tau juga sih, kalo sampe malem ya gue mau langsung ke Dahlia Residence juga jam 9."


"Dahlia Residence?? Mau ngapain??"


"Siska temen gue, minta ditemenin ke rumah temennya di sana."


"Enggak usah lah ... you better back home soon."


"Tapi Siska kan temen pertama gue waktu awal jadi model di sini, enggak enak dong gue kalo nolak?!"


Darren terdiam sejenak, "Temennya cewek apa cowok?" tanya Darren, penasaran.


"Mana gue tau, Darren ... Dia enggak cerita detil ke gue!"


Tiba-tiba di tengah obrolan, terdengar suara yang menandakan kalau ponsel Darren low batt.


"Nah, HP nya low batt tuh!" timpal Danisha.


"Iya. Ya udah. *T**ake care, Dan*!" ujar Darren.


"Okay, you too."

__ADS_1


Panggilan berakhir. Danisha menyimpan kembali ponselnya di saku jaket setelah memesan taksi online, kemudian menjinjing tasnya keluar untuk menunggu taksinya datang.


*


Pukul 21.00, Danisha tampak menunggu Siska di lobi kantor agensinya. Sebelum jam yang ditentukan, Siska sudah kembali mengirim pesan teks pada Danisha untuk memastikannya ikut.


Selang lima menit, tampak mobil Siska mendekat lalu berhenti tepat di depan kantor agensi. Siska dulu juga ada dalam naungan agensi yang sama dengan Danisha, tapi suatu ketika pihak agensi mendepaknya tanpa ada yang tahu pasti apa alasannya.


Siska membunyikan klakson mobilnya, Danisha pun keluar dan mendekat ke mobil Siska, lalu masuk. Mobil warna silver itu langsung meluncur membawa keduanya menjauh dari kantor agensi itu.


"Sis, jadi nih kita ke Dahlia Residence?" tanya Danisha.


"Jadi lah. Kalo enggak, ngapain gue jemput lu segala?" sahut Siska.


"Emang temen lu siapa sih yang mau lu datengin itu? Cewek apa cowok?" Danisha terus bertanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya.


Siska diam saja, wajahnya tampak agak tirus dan berbeda.


"Sis, lu sakit?? Kok gue perhatiin lu jadi kurusan sih? Muka lu itu ... beda tau!"


Siska diam sejenak, "Dan, punya permen asem enggak?" Siska justru balik bertanya.


Danisha mengerutkan dahi, "Lu kan tau kalo gue enggak suka apapun yang rasanya asem, salah orang lu!" tukasnya santai.


Siska kembali terdiam, "Ah sial, permen gue beneran abis lagi!" gerutunya kemudian, sembari salah satu tangannya menggerayangi laci dasbor.


Danisha memperhatikan gelagat orang yang ia anggap teman baik itu dengan seksama. Ada perasaan aneh yang mendadak hinggap di benaknya.


Belum hilang rasa heran dalam benak Danisha, ia harus tambah terkejut dengan Siska yang mendadak seperti akan muntah-muntah.


"Hey, what's wrong with you? Mending kita balik, you must be sick, right??" ujar Danisha.


"No-no-no, I'm okay. Don't worry!" tegas Siska sambil berusaha menahan rasa mualnya.


Danisha tak percaya, ia yakin benar jika Siska sedang tak enak badan.


"Sis, lu jangan nekat! Mending balik, daripada lu kenapa-napa." bujuk Danisha.


"Udah ah, bawel deh! I'm sure I'll be fine!" sahut Siska, keras kepala.


"Ya udah kalo gitu gue aja yang nyetir." saran Danisha.


"Enggak usah ... Lu kan enggak tau alamatnya."


"Kan lu bisa jadi navigator buat gue!"


"Enggak, mending gue aja yang nyetir langsung."


"Ish, dasar kepala batu!" omel Danisha.


"Bodo!" sahut Siska, cuek.


Mobil terus melaju menuju lokasi yang Siska bicarakan sebelumnya. Dan tak lama kemudian, mobil silver itu tiba di depan pos jaga tepat di depan gerbang perumahan elite kawasan tersebut.


"Maaf, sudah malam mau kemana, Mbak?" tanya satpam yang bertugas.


"Saya disuruh datang sama Tante Vio, Pak. Urgent katanya." sahut Siska dengan ramah.


"Sebentar ya, rumah Ibu Vio yang di blok apa?"


"Blok C nomor 7."


"Mohon tunggu sebentar ya, Mbak?"


Satpam itu masuk ke dalam pos kemudian terlihat menelepon seseorang menggunakan pesawat telepon yang ada di pos jaga sambil sesekali melihat ke arah Siska dan Danisha.


Tak lama kemudian ia kembali keluar, "Iya benar, Mbak sudah ditunggu katanya. Saya buka portalnya dulu ya, Mbak?" ujar satpam itu.


Siska mengangguk.


"Silakan, Mbak." Satpam itu mempersilakan mobil Siska untuk memasuki kawasan komplek.


Siska tersenyum lalu mengendarai mobilnya menuju rumah yang ia sebut di blok C nomor 7 tadi.


Mobil Siska berhenti di depan gerbang sebuah rumah besar berlantai dua, dengan gaya arsitektur modern nan mewah.


Danisha memandangi rumah itu dengan seksama, ia tak langsung turun dari mobil sampai Siska menyuruhnya keluar.


"Woy, mau sampe subuh di dalem situ? Ayo buruan!" tegur Siska ketika membukakan pintu mobilnya untuk Danisha.


"Eh, kita mau ngapain sih ke sini?" Danisha merasa heran bercampur penasaran, entah kenapa ia merasa tak seharusnya ikut ke sana.


"Ada perlu. Udah yuk? Tante Vio udah nungguin tuh katanya." bujuk Siska, agak memaksa.


Dengan gamang, Danisha mengikuti langkah Siska memasuki rumah mewah tersebut.


Ketika sudah berada di depan pintu, mereka tak perlu mengetuk daun pintunya karena langsung ada orang yang membukakan dan menyambut kedatangan mereka.


****

__ADS_1


__ADS_2