
Di lokasi pemotretan, Igan tampak sudah selesai melakukan serangkaian photo shoot untuk sebuah majalah remaja. Ia sedang duduk berbincang sebentar sambil me-review hasil pemotretannya tadi.
"Gimana Mbak, sesuai tema enggak?" Tanya Tomi, sang fotografer kepada Dona, art director.
Dona melihat-lihat dengan seksama setiap hasil jepretan mata kamera dari rekannya itu.
"Good job Tom, sempurna!" Sahut Dona dengan tersenyum puas.
"Wah, bagus deh jadi enggak perlu ada yang diulang kan?"
"Enggak perlu, udah oke kok ini. Thanks ya Tom? Jadi biar cepet digarap. Hmmm ... Mas Igan, makasih juga ya atas waktunya? Hasil fotonya luar biasa!" Ucap Dona.
"Sama-sama Mbak, saya suka sama tema yang mau diangkat. Mudah-mudahan dengan saya ikut di majalah yang akan terbit nanti, bisa memberi kontribusi yang baik buat semua pembaca." Harap Igan.
"Ya, mudah-mudahan. Sengaja kita pilih Mas Igan sebagai role model , soalnya kita anggap Mas Igan ini contoh generasi muda yang pekerja keras, pantang menyerah dan mandiri. Sangat inspiratif buat pembaca kita yang kalangan muda."
"Ah saya jadi malu Mbak, jangan terlalu memuji." Elak Igan dengan tersipu malu.
Mereka pun tertawa sebelum akhirnya Igan pamit untuk melanjutkan aktivitasnya yang lain.
Igan melajukan mobilnya menuju ke studio rekaman untuk melanjutkan proyek album terbarunya.
Setibanya di studio rekaman ...
"Pagi Om ...." Sapa Igan pada Pak Bono, siempunya studio rekaman.
"Pagi Gan, duduk dulu." Sahutnya.
Igan mengangguk. Ia tampak duduk santai pada sebuah sofa sambil memainkan ponselnya. Selang tiga puluh menit kemudian, pintu terdengar diketuk.
"Masuk!" Seru Pak Bono mempersilakan.
Daun pintu mulai bergerak memberikan ruang untuk seseorang melangkah masuk. Tampak seorang gadis cantik dengan gincu berwarna nude dipadu dress selutut berlengan pendek, ia berjalan masuk mendekati Pak Bono yang tengah fokus melihat secarik kertas.
"Pagi Om, sori telat." Sapa gadis itu.
Pak Bono menoleh ke arah si gadis lalu tersenyum.
"Oh, kamu rupanya? Enggak telat kok, belum mulai malah."
Igan dengan spontan menoleh ke arah gadis itu, mereka pun bertemu pandang. Igan memandang gadis itu dengan seksama, sementara gadis itu sudah langsung tersenyum kala melihat Igan.
Kayak kenal sama tu cewek, tapi siapa ya? Batin Igan, penasaran.
"Gan, kamu inget aku enggak? Kita pernah satu SMA lo!" Sapa gadis itu kepada Igan.
__ADS_1
"Euh ... Wajah kamu sih agak familiar, tapi aku lupa nama kamu. Maaf." Sahut Igan dengan dahi berkerut.
"Enggak apa-apa. Mungkin karena dulu aku cuma sebentar sekolah di sana, terus juga kita enggak sekelas jadi kamu enggak terlalu kenal sama aku. Kenalin aku Ilona, panggil aja Lona." Ujarnya dengan senyum manis dan mengulurkan tangan.
"Oh, Ilona, apa kabar?" Igan menjabat tangan Ilona.
"Hmmm ... kabar baik."
"Emang dulu kamu berapa lama sekolah di SMA itu?Jujur, aku enggak terlalu memperhatikan sih kalo kamu ternyata pindah sekolah."
"Aku cuma sekitar empat bulan di sana, sebelum akhirnya ikut Papa tugas ke Manado.
Ya ... aku kan bukan murid populer, jadi mana ada yang perhatiin? Lagian kamu juga sibuk di OSIS kan?" Sahut Ilona sambil tersenyum.
"Kamu juga tau kalo aku aktif di OSIS? Wah, kamu hebat! Walaupun cuma sebentar di sana tapi tau banyak tentang lingkungannya." Puji Igan.
"Siapa sih yang enggak kenal sama wakil ketua OSIS yang jago nyanyi itu?" Ilona balik memuji.
"Hehehe ... kamu bisa aja!" Igan tergelak.
"Sebenernya aku lagi enjoy banget awal masuk SMA di sana, tapi ... udah harus pindah." Imbuh Ilona dengan nada menyesal.
"Hmmm ... guys, gimana kalo nostalgianya dilanjutin nanti lagi? Kita take vocal dulu sekarang, materinya udah siap nih." Celetuk Pak Bono membuyarkan obrolan Igan dan Ilona.
"Oh, iya Om. Siap!" Sahut Igan, antusias.
Ilona merupakan keponakan dari istri Pak Bono yang sedang mencoba peruntungan di dunia tarik suara, tetapi ia tak hanya bermodal wajah cantik dan koneksi dari sang paman, namun memang memiliki kualitas suara yang mumpuni.
Pak Bono merasa suara Ilona akan sangat harmonis jika disandingkan dengan suara Igan, jadi ia pun mengajak Ilona untuk berduet dengan Igan.
Ilona yang memang mengidolakan Igan pun sangat senang mendapat kesempatan itu, ia berlatih dengan keras agar tidak mengecewakan.
Namun Igan sama sekali belum tahu jika partner duetnya adalah gadis yang pernah satu SMA dengannya.
Proses recording pun dimulai, mereka berdua tampak begitu mendalami setiap lirik lagu yang dibawakan. Igan yang memang seorang profesional tentu sangat mudah menyesuaikan diri dan membangun chemistry dengan rekan kerjanya.
"Bravo! Kalian keren banget! Warna vokal kalian bener-bener kawin! Om suka banget!" Seru Pak Bono memuji Igan dan Ilona.
Igan dan Ilona sempat terkejut mendengar pujian Pak Bono yang setinggi langit pada mereka.
"Wah, Om lebay ah! Suara Lona terbantu sama suaranya Igan yang keren, makanya jadi bagus." Ujar Ilona merendah sambil tertawa kecil.
"Enggak kok, emang suara kamu juga keren Lon." Timpal Igan.
Mendengar Igan turut memuji keindahan suaranya membuat Ilona makin tersipu, tak dapat ia sembunyikan rona merah di pipinya.
__ADS_1
"Om punya keyakinan kalo single duet kalian ini bakal booming! Kalian bisa banget bawain perasaan di lagunya, bener-bener kayak kalian pernah rasain gitu. Atau jangan-jangan ... kalian emang pernah jadian ya dulu?" Seloroh Pak Bono sambil terkekeh.
"Oh enggak kok Om, enggak." Sahut Igan dan Ilona nyaris bersamaan dengan wajah panik.
"Kalo belum pernah jadian, berarti ada kemungkinan nanti bisa jadian dong?" Ledek Pak Bono, terbahak.
"Om nih ngeledek terus deh, nanti kita malah jadi canggung lo." Gerutu Ilona, masih dengan wajah memerah.
"Ya udah deh ... Om enggak ngeledek lagi, tapi Om serius lo mendukung kalian kalo next time bisa sesuai sama lagu yang barusan dinyanyiin itu, romantis banget!" Sahut Pak Bono sambil tersenyum penuh arti.
Igan dan Ilona hanya saling menatap dan tersenyum, namun ada makna yang tersirat dibalik tatapan Ilona kepada Igan.
Proses rekaman hari itu usai sudah, Igan pun pamit untuk pulang sebentar ke apartemen untuk sekedar bersih-bersih diri dan istirahat sejenak sebelum lanjut untuk hadir sebagai bintang tamu dalam sebuah acara launching produk.
"Eh Gan, sebentar!" Cegah Ilona ketika Igan hendak beranjak.
"Kenapa Lon?"
"Hmmm ... boleh ... minta ...."
"Minta apa?" Tanya Igan, heran.
"Minta nomor HP kamu." Ucap Ilona dengan malu-malu.
Igan terdiam sejenak, lalu kemudian tersenyum dan menengadahkan tangan kanannya di depan Ilona.
"Apa?" Tanya Ilona yang bingung dengan maksud Igan.
"Katanya mau minta nomor HP ku? Mana HP kamu, sini?" Pinta Igan dengan tatapan yang melelehkan hati Ilona.
"Oh, oke-oke sebentar." Sahut Ilona dengan gugup, ia segera merogoh tas merah yang setia menggelayut di pundaknya.
"Ini." Ujar Ilona seraya menyodorkan ponselnya kepada Igan.
Igan menerimanya lalu jarinya dengan cekatan bergerak di atas layar sentuh ponsel itu.
"Nih, udah. Ada lagi? Nomor sepatu mungkin?" Ledek Igan sambil mengembalikan ponsel Ilona.
Ilona terkekeh, ia tak menyangka jika lelaki tampan yang ia kenal cuek semasa SMA itu punya selera humor juga.
"Next time ya kalo itu." Timpal Ilona dengan wajah memerah.
Igan tertawa sembari mengibaskan tangan kanannya di antara mereka, lalu berujar "Becanda kok ... Udah ya, aku balik dulu."
Ilona mengangguk dengan senyuman yang seakan tak bisa pudar dari bibir tipisnya. Dia merasa ada bahagia yang perlahan diraih, yang selama ini ia impikan.
__ADS_1
Igan, andai kamu tau kalo kamu itu udah jadi idola di hatiku sejak SMA. Aku harap ini takdir dari Tuhan yang mempertemukan kita lagi dan semoga kita bisa bersama selalu.
***