Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Rasa Yang Semakin Nyata


__ADS_3

Selesai berbelanja kebutuhan, mereka kembali ke rumah sakit dengan berjalan kaki karena jarak toko tersebut dengan rumah sakit terbilang cukup dekat.


"Mas Igan enggak apa-apa emangnya ikut jalan kaki begini?" Tanya Tia.


"Ya enggak apa-apa, emang kenapa?" Sahut Igan, santai.


"Kan Mas Igan artis terkenal, kalau nanti ada orang liat Mas jalan bareng saya begini terus digosipin yang enggak-enggak, gimana?"


"Ah ... santai soal itu sih. Saya sudah biasa diterpa gosip, sama Ilona juga dikira pacaran. Padahal enggak." Timpal Igan, benar-benar tampak tanpa beban.


"Tapi ... kalo saya boleh ingatkan, Mas Igan harus lebih waspada dan hati-hati ya?" Pesan Tia.


"Hmmm ... kenapa memangnya?"


Tia terdiam, ia bingung harus bagaimana menjelaskannya.


"Tia, ada apa sih sebenarnya?" Tegur Igan.


"Pokoknya Mas Igan hati-hati aja terus, soalnya Mas Igan kan artis terkenal dan banyak penggemarnya, tapi bukan berarti enggak ada musuh." Ujar Tia, diplomatis.


Igan mengangguk setuju. Mereka kembali terdiam dan fokus berjalan kembali ke ruang perawatan Hendra.


Sementara itu di kantor Erlangga, Rey yang menuju ke lantai tiga kebingungan karena di lantai tiga tidak ada siapa-siapa.


Ia menyusuri lobi atas dan coba membuka ruang sidang maupun ruang makan direksi yang ada di lantai tersebut, namun semua pintunya terkunci.


"Mana Pak Bintang? Katanya mau ketemu gue di sini?" Gumam Rey, kesal.


Karena merasa heran, ia pun kembali turun untuk mencari sang CEO di ruangannya. Namun ketika ia sedang melangkah cepat menuju ruang CEO, ia berpapasan dengan Tami dan Jeni yang sudah berada di dalam setelah mengantar Tia sampai area parkir.


"Loh, kalian kok ada di sini? Tia mana?" Tanya Rey dengan wajah serius kepada Tami dan Jeni.


"Tia sudah pulang Pak, diantar sama Mas Igan." Sahut Tami.


Rey sontak membelalak dengan raut wajah kesal.


"Pak Rey darimana? Sudah ketemu Pak Bintang?" Tanya Jeni.


"Belum, saya justru lagi cari Pak Bintang. Si Jack bilang Pak Bintang ada di lantai tiga, tapi ternyata kosong."


"Loh, kirain Pak Rey sudah ketemu Pak Bintang. Itu masih nonton acara kok, Pak Bos sama istrinya." Ujar Tami.


Raut wajah Rey makin menyiratkan kekesalan. Ia dengan langkah menghentak segera berjalan meninggalkan dua stafnya tersebut.

__ADS_1


"Mau kemana Pak?" Tanya Jeni.


"Mau cari si Jack!" Serunya dengan emosi.


Tami dan Jeni saling pandang dengan wajah khawatir.


"Pak Rey kayaknya marah banget sama Bang Jack tuh!" Ujar Jeni.


"Ikutin yuk?" Ajak Tami yang direspon anggukan oleh Jeni.


Mereka berdua bergegas mengekor langkah Rey yang memburu, namun Rey tak peduli. Ia tetap melangkah cepat menyusuri koridor lantai dua menuju pantri.


Tampak Bang Jack sedang bersih-bersih piring di dalam ruang tersebut, lalu dengan kasar Rey menepuk pundak Bang Jack yang bernama asli Zakaria itu.


Bang Jack sontak menoleh karena kaget, dilihatnya sorot penuh kekesalan terpancar di mata sang kepala divisi promosi.


"Kenapa Pak?" Tanya Bang Jack.


"Kamu masih berani tanya kenapa?" Bentak Rey.


Tami dan Jeni yang membuntutinya tampak gentar mendengar suara Rey yang tak pernah mereka dengar sebelumnya.


"Gila, Pak Rey serem juga ya kalo lagi marah!" Celetuk Jeni agak berbisik kepada Tami.


"Emang saya salah apa Pak?" Tanya Bang Jack, santai.


"Kamu berani bohongin saya, hah?? Kamu bilang ke saya kalau Pak Bintang cari saya dan mau ketemu di lantai tiga, tapi mana?? Saya ke lantai tiga tapi kosong, ternyata Pak Bintang masih nonton acara!!" Seru Rey.


Bang Jack sontak terdiam, ia baru ingat kalau semua itu atas perintah Igan. Namun Bang Jack bingung, harus menjelaskannya kepada Rey atau tidak.


"Jawab! Kenapa kamu bohongin saya?" Rey kembali menginterogasi.


"A-anu Pak Rey, hmmm ... saya ... saya ...." Sahut Bang Jack tergagap.


"Apa? Jawab yang tegas!!" Desak Rey, tanpa ampun.


"Sa-saya ... cuman disuruh Pak." Sahut Bang Jack terbata.


"Siapa yang suruh kamu??" Bentak Rey, lagi.


"A-anu ... hmmm ... aduh, gimana ngomongnya ya?" Sahut Bang Jack, ragu.


"Tinggal ngomong aja susah amat kamu!" Lagi-lagi bentakan Rey membuat nyali Bang Jack makin menciut.

__ADS_1


"Ta-tapi Pak Rey jangan aduin saya ke Pak Bos ya? Saya takut dipecat Pak, entar anak-bini saya makan apaan dong kalo saya enggak kerja?" Pinta Bang Jack, memohon.


Dahi Rey mengernyit, matanya memicing sambil menatap tajam ke arah Bang Jack.


"Apa ... kamu disuruh sama Bos Muda Dirgantara?" Tebak Rey.


Bang Jack akhirnya mengangguk walau takut.


Rey menghantamkan kepalan tangannya ke tembok pantri yang membuat Bang Jack terkejut. Tami dan Jeni yang melihat itu pun sontak menutup mulut mereka yang nyaris menjerit.


"Pak Rey, segitu marahnya. Liat deh Tam, tangannya Pak Rey sampe memar begitu!" Seru Jeni namun dengan suara lirih.


"Iya gue juga liat, Jen. Kita tolongin apa enggak usah ya?" Sahut Tami.


"Udah enggak usah, pura-pura enggak tahu aja deh! Daripada kita kena semprot? Liat tuh marahnya kayak gimana!" Cegah Jeni.


"Ya udah deh, yuk kita balik aja. Ngeri gue!" Ajak Tami.


"Yuk-yuk?" Sahut Jeni.


Keduanya bergegas mengendap-endap meninggalkan area persembunyian mereka lalu beranjak pulang.


Rey keluar pantri dengan memegangi kepalan tangannya yang memar, dadanya kembang-kempis menahan emosi sekaligus rasa sakit di hati dan di tangannya.


Namun, rasa kecewa dan cemburu jauh lebih menguasai dirinya. Bayangan Tia yang pulang bersama sang bos muda pun terus menghantuinya, membuat hatinya panas terbakar api cemburu.


Rey memutuskan untuk segera pergi, bukan untuk pulang melainkan menuju rumah Tia. Ia sangat ingin menyatakan perasaan hatinya hari itu juga kepada gadis cantik itu.


Ia kemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap agar bisa cepat sampai di rumah Tia dan bertemu sang gadis pujaan.


Namun ia harus kembali merasa kecewa ketika setibanya di rumah Tia, ia tak mendapati siapapun di sana. Ketukan pintu yang tak terhitung pun tak mendapatkan sahutan dari siempunya rumah. Ia hanya mendapat keterangan dari tetangga Tia bahwa kakak beradik itu sedang ke rumah sakit.


Rey pun berinisiatif menelepon Tia untuk menanyakan rumah sakit mana yang harus ia tuju agar bisa bertemu dengannya. Setelah mendapat jawaban dari Tia, ia pun dengan antusias menuju ke rumah sakit tersebut.


"Tia, tunggu saya. Hari ini saya mau kamu jadi kekasih saya." Gumam Rey penuh ambisi sembari menyetir mobilnya menuju rumah sakit.


Tak terlalu lama akhirnya Rey sampai juga di lokasi yang ia tuju. Setelah memarkirkan mobilnya dengan baik, ia bergegas masuk ke dalam gedung rumah sakit dan bertanya kepada petugas resepsionis tentang letak ruangan yang Hendra tempati.


Dengan cepat Rey dapat menemukan lokasi ruang rawat inap Hendra, dan dengan kepercayaan diri yang penuh ia membuka pintu ruangan tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Ia terpana ketika melihat isi ruangan itu, kakinya mendadak seperti terpatri di depan pintu. Matanya fokus menatap ke sebuah objek tanpa berkedip namun dengan ekspresi yang tampak jelas, sebuah kekesalan.


***

__ADS_1


__ADS_2