Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Perkenalan


__ADS_3

"Rumah kamu besar ya Gan? Pasti nyaman banget tinggal di sini." Puji Ilona sambil matanya sibuk melihat ke setiap sudut rumah tersebut.


"Ini bukan rumahku, rumah orang tuaku. Kamu pagi-pagi ke sini udah sarapan belum?" Tanya Igan.


"Belum lah, kamu?"


"Belum, sebentar lagi. Asisten rumah lagi buatin sarapan. Masuk dulu yuk, aku kenalin sama ayah-bunda ku."


Ilona makin sumringah lalu melangkah di samping Igan dengan senyum yang terus mengembang.


"Yah, ada teman Igan datang." Ujar Igan kepada Bintang yang sedang duduk sambil membaca koran.


Bintang pun menoleh ke arah Igan lalu dahinya berkerut saat melihat gadis cantik yang berdiri di sisi Igan.


"Selamat pagi Om ... Kenalkan, saya Ilona." Sapa Ilona seraya mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


"Oh, iya pagi juga. Silakan duduk." Sahut Bintang.


"Makasih Om, maaf saya pagi-pagi datang bertamu." Sahut Ilona kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Bintang.


"Memang rumahnya dimana, Nak?" Tanya Bintang.


"Di perum Gardenia, Om."


"Lona tinggal sendiri Yah di rumah, papanya di Manado, kalo mamanya sudah meninggal. Kebetulan nanti Igan ke Surabaya sama dia juga, soalnya kami masih ada kontrak kerja bareng, makanya dia ke sini." Jelas Igan.


Bintang mengangguk-angguk, namun sorot matanya fokus memperhatikan sosok Ilona yang tampak malu-malu.


"Yah, ayo sarapan dulu? Igan, ayo Nak?


Eh, ada siapa ini yang cantik? Hmm ... Ilona Lupita ya? Rekan duetnya Igan kan?" Ujar Bulan saat mengajak suami dan anaknya sarapan bersama namun baru menyadari kehadiran Ilona.


"Iya Tante, saya Ilona." Sahut Ilona kemudian berdiri dan menyalami Bulan.


"Wah, beneran cantik ya? Tante suka lo lagu kamu sama Igan, romantis banget." Puji Bulan.


"Makasih Tante ...." Wajah Ilona tampak merona, malu.


"Ayo-ayo, sarapan sekalian? Pasti belum sarapan kan?" Ajak Bulan dengan ramah.


"Belum Bun, dia emang sengaja mau numpang sarapan di sini katanya." Seloroh Igan yang berbuah cubitan mesra di pinggang dari Ilona, dan membuat Igan tertawa.


"Ayo Nak Ilona, enggak usah malu-malu." Ajak Bulan.


"Euh, iya Tante. Maaf jadi ngerepotin ...." Ucap Ilona, basa-basi.


"Santai Lon, udah biasa ...." Ledek Igan.


"Ih ... Igan!" - Ilona hendak mendaratkan cubitan mesranya lagi ke pinggang Igan, tapi Bintang berdehem dan membuat Ilona mengurungkan niatnya - "Ma-maaf Om." Ucapnya, malu.


Mereka berempat pun melangkah bersama menuju ruang makan untuk sarapan. Ilona sudah tak terlalu canggung lagi berinteraksi dengan kedua orang tua Igan.

__ADS_1


Ini keluarga yang gue mau, harmonis. Enggak kayak keluarga gue yang berantakan! Batin Ilona.


Selesai santap pagi, Ilona duduk di taman sambil berswafoto dengan latar bunga-bunga anggrek dan mawar yang menawan.


Ia tampak tersenyum puas saat melihat hasil jepretan lensa ponsel pintarnya.


Keren banget fotonya! Upload ah! Batin Ilona.


Ia segera memposting foto itu di akun media sosialnya dengan caption : 'Di rumah camer ☺️'


"Ngapain Lon senyum-senyum sendiri?" Tegur Igan yang sudah tampak menghampirinya.


"Euh? Enggak ... enggak apa-apa kok. Eh Gan, sumpah ya suasana rumah kamu tuh enak banget deh, bikin betah!" Ujar Ilona.


"Masa sih?"


"Iya, beneran! Aku jadi pengin sering main ke sini nih."


Igan tertegun menatap Ilona yang tampak sangat menikmati suasana rumah itu, ia bahkan tak canggung lagi berbincang dengan sang bunda saat di ruang makan tadi.


"Boleh kan Gan?" Imbuh Ilona.


"Heuh? Boleh apa?" Igan balik bertanya, ia tidak terlalu menyimak perkataan Ilona tadi.


"Kalo aku sering main ke sini?" Sahut Ilona.


"Oh ... ya terserah." Sahut Igan ogah-ogahan.


"Lo, apa hubungannya sama aku? Kan kamu suka sama suasana di rumah ini." Igan penasaran.


"Tapi ada yang bikin aku makin betah kalo ada di sini, Gan." Ucap Ilona sambil menatap penuh arti pada Igan.


"Apa?"


"Eh, kalian ada di sini rupanya?" Sapa Bulan yang sudah berdiri tak jauh dari tempat Ilona dan Igan duduk di taman.


"Iya Bun, Bunda nyariin?" Sahut Igan, santai.


"Bunda harus berangkat kantor lebih awal Nak, ada urusan. Sebenarnya sih pengin nemenin kamu dulu di rumah sampai kamu berangkat ke Surabaya nanti, tapi barusan Bunda ditelepon supaya cepat."


"Oh, ya udah Igan anterin aja yuk Bun?"


"Lo, enggak usah ... kan lagi ada Ilona di sini. Biar Bunda dianter sama supir aja."


"Sama Igan aja Bun, masih banyak waktu kok sebelum Igan berangkat."


"Memangnya kamu udah siapin semua keperluan yang mau dibawa?"


"Udah beres dong Bun ... Yuk Igan anterin?"


"Ya udah kalo gitu. Nak Ilona mau ikut sekalian?"

__ADS_1


"Oh, boleh Tan." Sahut Ilona, antusias.


"Ayah berangkatnya jam berapa Bun, biasa?"


"Kata Ayah sih biasa. Bunda mau pamit sama Ayah dulu ya? Tadi lagi ngasih makan ikan tuh di kolam belakang."


Bulan bergegas masuk menemui suaminya, kemudian kembali ke depan untuk berangkat ke kantor diantar oleh putra kesayangannya.


Igan menyetir mobilnya dengan didampingi sang bunda di kursi sebelah kemudi, sedangkan Ilona duduk di kursi belakang Igan.


"Nak Lona, selain nyanyi sama Igan kegiatannya apa lagi biasanya?" Tanya Bulan.


"Saya baru ada tawaran buat iklan Tan, masih proses. Sebelum nyanyi sama Igan, saya kerja di travel agency." Sahut Ilona.


"Oh ... terus kenapa akhirnya jadi penyanyi? Gimana ceritanya?"


"Gara-gara dia ngefans banget sama Igan, Bun." Seloroh Igan, santai.


Bulan tertawa, "Ge-er aja kamu, Nak!" Celetuknya.


"Emang benar kok Tan, saya emang ngefans banget sama Igan dari dulu. Dia yang jadi inspirasi saya buat latihan vokal serius, selain didukung juga sama Om dan Tante saya."


"Tuh kan Bun, benar?!" Timpal Igan penuh percaya diri sambil tersenyum.


Bulan tersenyum lebar melihat tingkah putranya.


"Berarti kalian ini baru saling kenal pas jadi rekan duet? Tapi Tante lihat kok kalian udah akrab sekali ya?"


"Oh, bukan Tan. Saya sama Igan itu sempat satu SMA dulu, tapi saya pindah sekolah ke Manado."


"Hmm ... begitu toh? Pantesan chemistry kalian pas duet tuh bisa dapet banget di lagunya. Teman-teman Tante pada suka lo lagu duet kalian."


"Ya syukurlah kalo pada suka. Saya memang sepenuh hati lo Tan nyanyiin itu, hehe ...." Sahut Ilona.


"Iya memang harus begitu, kita kalo mengerjakan sesuatu yang baik harus total, jadi hasilnya maksimal."


"Iya Tan, saya bener-bener pakai perasaan waktu nyanyi itu."


"Yang nyanyi pakai perasaan, jadi yang dengerin bisa terbawa perasaan ya? Keren!" Puji Bulan.


"Bunda kok mujinya Lona terus, anak sendiri enggak dipuji?" Protes Igan, berpura-pura.


"Kapan sih Bunda enggak memuji kamu, Nak? Anak Bunda yang tampan, baik, sholeh, penyanyi yang hebat juga. Bunda selalu bangga sama kamu, Nak!" Ucap Bulan sembari mengelus lengan kekar putranya yang sedang fokus menyetir.


"Hehe ... thank you Bunda cantik ...."


Perbincangan santai mereka bertiga terus berlanjut sepanjang perjalanan. Bulan merasa kalau Ilona adalah gadis baik dan periang, ia dengan mudah dapat menyesuaikan diri dengannya.


Ilona kelihatannya baik dan perhatian sama Igan, kayaknya dia ada hati ke putraku. Batin Bulan sesaat sebelum turun dari mobil karena sudah tiba di kantornya.


***

__ADS_1


__ADS_2