Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Resah


__ADS_3

Waktu terus berlalu tanpa terasa, Igan telah menjelma menjadi seorang penyanyi ternama Ibukota. Ia memiliki banyak penggemar dari berbagai daerah, dengan begitu ia semakin sibuk memenuhi undangan untuk tampil di berbagai acara.


Igan tampak sangat menikmati aktivitasnya yang terbilang padat. Ia berusaha sebaik mungkin untuk bisa membagi waktu antara karir dan pendidikan.


Dia memang termasuk orang yang ambisius dan perfeksionis. Benar-benar seperti meng-copy paste sang ayah dari segi ketampanan dan karakternya.


Namun dengan sifatnya itu, ia berhasil meraih apa yang ia impikan. Igan berhasil lulus kuliah dengan nilai yang membanggakan, namun tetap dapat berkarya lewat suara emasnya.


Bulan sangat bangga pada sang putra, ia menangis haru kala menghadiri acara wisuda anaknya itu.


"Bunda bangga sama kamu Nak, selamat ya? Tapi Bunda pesan, kamu harus tetap rendah hati. Semakin kamu sukses, semakin besar juga cobaannya. Jangan lupa diri ya Nak?" Ujar Bulan saat memeluk sang putra yang tampak sangat gagah dengan toga-nya.


"Iya Bun, Igan inget-inget pesan Bunda. Doain Igan terus ya Bun biar karir Igan lancar dan enggak ada kendala." Sahut Igan.


"Pasti Nak, pasti. Bunda enggak pernah lupa berdoa untuk kamu."


Igan melepaskan pelukannya dari sang Bunda lalu beralih pada sang ayah yang juga sangat bangga padanya.


"Igan, anak ayah yang gagah! Selamat ya Nak, ayah bangga sama kamu." Seru Bintang seraya memeluk erat putra semata wayangnya itu.


"Makasih ya Yah ... Igan juga bangga sama Ayah." Sahut Igan.


"Calon pewaris perusahaan Erlangga kayaknya sudah siap gantikan ayah nih." Ujar Bintang sambil menepuk punggung Igan dengan lembut.


Igan tertegun, ia tak menyangka jika ayahnya menginginkan ia untuk terjun ke dunia bisnis secepat itu.


Aku belum siap Yah. Batin Igan menolak.


Suasana hangat itu harus terjeda ketika sang punggawa acara menyebut nama Igan untuk naik ke atas panggung dan menyumbangkan suara emasnya sebagai persembahan.


"Yah, Igan ke sana dulu ya?" Pamitnya sambil tersenyum.


Bintang mengangguk dan tersenyum, Igan pun tak lupa menyunggingkan senyum manisnya pada sang bunda sebelum beranjak menuju panggung.


Igan pun mulai menyanyi di atas panggung dengan disaksikan oleh seluruh warga kampus dan orang tua para wisudawan, mereka tampak menikmati lagu yang Igan bawakan.


Riuh tepuk tangan membahana di dalam gedung itu saat Igan selesai menyanyi. Teman-temannya menyambut sang bintang ketika turun dari panggung, lalu mereka berfoto-foto sebelum acara benar-benar usai.


Sesampainya di rumah dan mengganti bajunya, Igan tampak duduk santai di taman. Ia sengaja meluangkan waktu kosong hari itu pada manajemennya, karena ingin menikmati quality time bersama orang tuanya.


Bulan pernah merajuk karena jarang bertemu dengan sang putra, jadwalnya yang terlalu padat membuatnya jarang pulang ke rumah dan tinggal di apartemen milik bundanya yang berjarak lebih dekat dengan kantor manajemen juga kampusnya.


"Kamu di sini rupanya? Hari ini kamu enggak boleh ke mana-mana lo Nak, Bunda kangen banget sama kamu." Ujar Bulan.


Igan tersenyum manis lalu memegang erat tangan bundanya.


"Enggak kok Bun, hari ini Igan sengaja minta ke manajemen biar ngosongin kegiatan. Igan juga kangen sama Bunda, sama Ayah. Oh iya, Igan lagi pesen piza buat ngerayain kelulusan Igan. Mungkin sebentar lagi dateng."


"Oh ... ya udah nanti kita makan-makan di sini aja, biar seru. Bunda ambil tikar dulu ya?" Ujar Bulan kemudian beranjak ke dalam.

__ADS_1


Ketika berjalan masuk, Bulan berpapasan dengan sang suami.


"Bun, dari mana? Igan mana?" Tanya Bintang.


"Dari taman Yah, Igan ada di taman tuh lagi nunggu piza katanya. Bunda mau ambil tikar dulu ya?"


Bintang mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya untuk menemui Igan.


Di teras, tampak Igan sedang menerima piza pesanannya dari kurir. Bintang memilih untuk langsung menuju taman di samping rumah, lalu duduk di sebuah ayunan.


"Ayah kapan datengnya? Igan enggak denger." Tanya Igan, kaget.


"Barusan, kamu lagi nerima piza tadi di teras."


"Oh ... Sebentar Yah, Igan panggil mbak-mbak sama driver dulu, biar makan bareng."


Bintang tersenyum bangga pada Igan. Tak lama kemudian Bulan datang sambil membawa dua buah tikar besar. Bintang dengan sigap membantunya.


Setelah tikar digelar rapi, Igan kembali bersama para asisten rumah tangga dan driver.


"Ayo sini duduk, kita pesta piza." Ajak Igan.


Para asisten rumah tangga dan driver tampak segan untuk duduk bersama majikan mereka.


"Lo ... kok diem aja? Ayo sini duduk. Mas Igan sengaja beli piza banyak begini buat kita semua, buat ngerayain kelulusan katanya. Yuk duduk? Jangan sungkan-sungkan." Bujuk Bulan.


"Iya, kalo pada enggak mau malah saya sedih lo!" Ujar Igan merajuk.


"Hari ini Mbak enggak usah masak buat makan malam ya? Nanti aku mau ajak makan di luar semuanya." Ujar Igan bersemangat.


"Wah, asik nih! Kamu mau traktir kita makan di mana Nak?" Tanya Bintang tak kalah bersemangat.


"Terserah, maunya di mana?"


"Ayah sama Bunda sih ngikut aja. Kamu mau makan apa Ndro?" Tanya Bintang pada Hendro, supirnya.


"Saya sih yang penting kenyang Pak, hehehe ...." Sahutnya berkelakar.


"Kalo Mbak Marni, Mbak Erni sama Mbak Wati maunya apa?" Tanya Bulan.


"Hmmm ... terserah saja Bu, yang penting di warung makan biasa saja biar nda ribet makannya." Sahut Erni sambil tersipu.


"Hmmm ... gimana kalo sea food? Semua doyan kan?" Usul Igan.


"Nah, boleh tuh. Kita ke rumah makan sea food yang di jalan H. Sueb aja, yang biasa kita ke sana." Ujar Bintang.


Igan mengangguk setuju.


"Ya sudah, yang penting sekarang kita habisin dulu piza nya, mumpung masih hangat." Ujar Bulan.

__ADS_1


Pesta piza pun dimulai. Mereka berbaur menyantap piza tanpa ada rasa canggung dan perbedaan, karena Bintang dan keluarga sudah menganggap para pekerja di rumah mereka seperti saudara.


Pukul tujuh malam, Igan sudah bersiap mengajak seluruh anggota di rumah menuju ke rumah makan sea food yang sudah disepakati.


"Igan udah booking tempat di sana, sama beberapa menu. Kalo ada yang mau lainnya tinggal pesen aja nanti." Ujar Igan sesaat sebelum memasuki mobil.


"Wah, anak Ayah bener-bener keren!" Puji Bintang seraya menepuk pundak putranya, yang membuat Igan tersipu.


"Pak Hendro sama Mbak-Mbak pake mobilnya Ayah ya?" Ujar Igan.


"Oh iya, baik Mas." Sahut Hendro.


"Ayah sama Bunda ikut Igan ya?" Ujar Igan sambil membukakan pintu mobil untuk orang tuanya.


Bintang duduk di sebelah kemudi, sedangkan Bulan duduk di belakang. Igan yang mengemudikan mobilnya. Ya, mobil pribadi yang ia dapatkan sebagai hadiah juara kedua di ajang menyanyi tingkat nasional.


Mereka pun berangkat bersama-sama menuju lokasi yang sudah disepakati. Di perjalanan Bintang dan Igan terlibat percakapan diselingi humor yang seru. Suara riuh tawa antara ayah dan anak yang kompak itu sesekali pecah.


Namun ketika Bintang sudah mulai menyinggung masalah perusahaan Erlangga, membuat Igan terdiam seketika. Bulan dapat membaca gelagat sang putra yang tampak belum siap untuk diserahi amanat dari sang ayah.


"Ayah sudah bangun perusahaan itu dari nol Nak, benar-benar ayah berjuang demi mewujudkan impian itu. Kamu tahu? Dulu, banyak yang meremehkan cita-cita ayah untuk bisa jadi pengusaha besar. Tapi semua itu justru jadi cambuk supaya lebih semangat."


"Iya Yah, Igan udah hafal. Ayah kan selalu cerita soal itu."


"Nah, terus kapan kamu mau terjun jadi penerus Ayah?"


"Hmmm ... kayaknya bukan sekarang deh Yah."


"Lo, emang kenapa? Toh kamu sudah lulus kuliah, Ayah rasa kamu sudah cukup matang jadi seorang pemimpin."


"Belum Yah ...." Elak Igan dengan lembut.


"Ya kenapa?" Desak Bintang.


"Ya kita kan mau makan." Sahut Igan sekenanya.


Bulan yang dari tadi hanya diam pun sontak tertawa mendengar jawaban Igan.


"Euh? Apa hubungannya?" Tanya Bintang, bingung.


"Maksud Igan, dia enggak bisa ngurusin perusahaan Ayah sekarang soalnya kita mau makan dulu." Timpal Bulan sambil terkekeh.


Bintang masih mengernyitkan dahi, ia masih berusaha mencerna kata-kata putranya.


"Becanda kok Yah ...." Ujar Igan sambil tersenyum.


"Ah, becanda kamu kok garing sih?" Tukas Bintang, cemberut.


"Soalnya Igan udah laper Yah. Udah ya ... jangan bahas perusahaan terus, Igan masih pengin fokus di karir Igan Yah." Elak Igan dengan santun.

__ADS_1


Bintang menghela napas dalam-dalam, ia resah karena tak tahu lagi bagaimana cara membujuk sang putra untuk menjadi penerus perusahaannya.


***


__ADS_2