Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Tak Diduga


__ADS_3

Di rumah keluarga Bintang Erlangga ...


"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Bulan saat melihat putranya keluar kamar.


"Igan mau balik tinggal di apartemen aja, Bun." sahut Igan.


"Loh, kenapa?"


Igan tak menyahut, ia mendekat ke arah sang bunda lalu mencium punggung tangan wanita yang sangat ia hormati itu.


"Kamu mau menghindari Ayah?" tebak Bulan.


Igan terdiam sejenak lalu menatap sang bunda, "Bunda pasti tau kan? Igan enggak mau berdebat sama Ayah, mending Igan tinggal di sana dulu." sahutnya.


"Bunda enggak percaya, cuma gara-gara seorang wanita bisa bikin hubungan ayah dan anak jadi renggang. Sebenarnya apa alasan utama kamu jadian sama gadis yang jelas-jelas ditentang sama ayah?" selidik Bulan.


Igan terhenyak, ia tak tahu pasti alasannya menerima cinta Ilona. Yang ia ingat cuma senyum Ilona yang menjadi sangat memikat hatinya.


"Udah lah Bun, Igan jalan dulu. Titip pamit aja ke Ayah, assalamu'alaikum." pamit Igan tergesa.


"Wa'alaikum salam ...."


Bulan hanya bisa menatap punggung putranya yang semakin menjauh, sebab baru selangkah ia akan mengantar sang putra sampai ke gerbang, suara Bintang yang memanggilnya membuat ia urung melangkah.


"Tadi lagi ngapain Bun?" tanya Bintang saat Bulan sudah datang menemuinya di kamar.


"Tadi bunda mau anter Igan sampai gerbang Yah, tapi enggak jadi." sahut Bulan, sendu.


"Loh, memangnya Igan mau kemana Bun?"


"Katanya dia mau balik tinggal di apartemen, soalnya dia enggak mau berdebat sama Ayah soal Ilona."


Bintang menghela napas panjang lalu mendengus perlahan, "Kenapa Igan jadi begitu sikapnya ke kita, terutama ke ayah? Gadis itu memang punya pengaruh enggak bagus buat anak kita, Bun." imbuhnya, mengeluh.


"Sudah lah Yah, mending kita doakan saja anak kita supaya dia bisa kembali jadi anak yang patuh." ucap Bulan, menenangkan.


*


Tia tampak sedang menelusuri jalan yang sepi, entah dimana. Ia tak tahu hendak kemana, diikutinya saja kemana kaki melangkah.


Hingga tiba di suatu tempat, ia melihat Igan yang tengah terkungkung dengan tatapan mata yang kosong.


Tia terkejut dan berusaha mendekat, namun tidak mudah. Seperti ada kekuatan yang membuat Tia harus bersusah payah mendekati Igan.


"Mas Igan!" teriak Tia memanggil Igan, berharap pemuda tampan itu menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Igan sama sekali tak bereaksi, ia tetap pada posisinya yang terkungkung dan termangu. Tia berhenti sejenak untuk berpikir, bagaimana caranya agar bisa menyelamatkan Igan.


Namun disaat Tia masih kebingungan, ia melihat seorang gadis datang menghampiri Igan. Tia berusaha memicingkan mata namun gadis itu seperti diselimuti kabut, Tia tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Hanya sebuah cincin yang tampak berkilauan memendarkan cahaya kemerahan dari jari manis gadis itu.


Gadis itu membelai Igan dan mengajaknya beranjak, entah kemana. Tia makin keheranan karena Igan tampak sangat patuh pada keinginan gadis misterius itu.


"Mas Igan, sadar Mas!! Ini Tia, jangan ikuti dia Mas!!" Tia kembali berteriak lantang untuk menyadarkan Igan, namun ... sia-sia.


Tia ingin berlari mengejar Igan dan gadis yang membawanya itu, namun langkah kakinya terasa begitu berat. Tia tak patah arang, ia terus mengayunkan langkahnya sebisa mungkin untuk mengejar Igan.


"Mas Igan!!!" pekik Tia berteriak, sekaligus membawanya ke alam nyata.


Napasnya tersengal dengan peluh bercucuran. Ia tampak sangat lelah, padahal baru saja terbangun dari tidur. Ya, Tia bermimpi buruk!


"Dek, kamu kenapa? Buka pintunya, Dek!" seru Hendra dari luar kamar sembari mengetuk daun pintu beberapa kali.


"Iya, Kak ... sebentar!" sahut Tia dengan lantang, memecah kesunyian.


Tia turun dari tempat tidurnya dan melangkah gontai untuk membuka pintu.


"Kamu kenapa lagi ...?" tanya Hendra dengan lembut ketika sudah melihat adiknya membuka pintu.


"Hmmm ... mimpi, Kak." sahut Tia.


"Mimpi buruk kan pasti?" tebak Hendra.


"Euh? Mas Igan?"


Tia mengangguk, lalu ia melangkah keluar kamar menuju ruang tengah dan diikuti oleh Hendra.


"Aku mimpi liat Mas Igan kayak terbelenggu gitu, Kak. Dia kayak dikurung sesuatu, tapi ... aku enggak tau itu apa!"


Hendra terdiam karena ingin menyimak benar-benar apa yang ingin adiknya ceritakan.


"Aku mau nolongin enggak bisa, dipanggil-panggil juga dia enggak bisa denger aku. Tapi anehnya ...."


"Aneh gimana?"


"Anehnya, giliran sama cewek itu Mas Igan langsung mau!"


"Cewek siapa?"


"Aku juga enggak tau siapa dia, dia kayak samar gitu."


"Apa mungkin mimpi kamu itu petunjuk ya, Dek?"

__ADS_1


Tia terdiam sejenak kemudian mengangkat bahu, "Aku juga enggak tau, Kak. Tapi ... kemungkinan pasti ada. Aku nanti mau coba tanya kabar Mas Igan buat mastiin." ujar Tia.


Hendra mengangguk setuju, "Ya udah, Kakak mau ke kamar ya?" pamitnya.


"Iya, Kak."


Hendra beranjak menuju kamarnya, sedangkan Tia masih termangu di kursi ruang tengahnya. Ia menoleh ke arah jam dinding, masih tengah malam. Akhirnya Tia memutuskan kembali ke peraduannya untuk tidur.


*


Keesokan harinya, Tia sudah bangun namun ia tamoak santai karena hari itu hari libur. Ia benar-benar hanya ingin enjoy di rumah dan berencana membuat kue.


"Mau ngapain, Dek?" tanya Hendra yang baru saja selesai mandi dan melewati dapur.


Tia meringis, "Mau coba bikin kue, Kak" sahutnya.


"Wih, oke tuh! Ya udah, bikin yang enak ya Dek?" timpal Hendra sambil mengacungkan ibu jari pada Tia.


"Sip! Kakak mau bantuin enggak?"


"Enggak ah, nanti malah jadi enggak enak." sahut Hendra, terkekeh.


Tia pun tertawa kecil, kemudian kembali fokus menyiapkan alat dan bahannya. Sedangkan Hendra beranjak menuju kamarnya.


Saat Tia tengah sibuk menyiapkan semuanya untuk membuat kue, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah pesan chat masuk dari Rey.


[Sayang, nanti saya mau ajak kamu makan siang di rumah ya? Jam 12 saya jemput, oke?]


Tia terdiam sejenak, kemudian ia membalas pesan dari orang yang baru sehari menjadi kekasihnya itu.


[Oke]


Tia kembali fokus untuk membuat kue, Hendra tampak sudah rapi dan wangi kemudian duduk di depan televisi. Ia mencari saluran yang menayangkan berita, namun saat tak sengaja menangkap siaran infotainment, Tia yang mendengar dari dapur pun lantas meminta Hendra untuk mendengarkan dulu berita mengenai artis-artis ibukota itu.


"Kak, nonton itu dulu! Aku mau dengerin, barangkali ada beritanya Mas Igan." seru Tia dari arah dapur.


Hendra menuruti kata-kata adiknya, ia pun ikut menyimak berita hiburan tersebut.


Benar saja, tak lama kemudian muncul berita tentang Igan yang dikabarkan sudah menjalin hubungan makin serius dengan rekan duetnya, Ilona.


Di berita itu ditayangkan beragam foto yang memperlihatkan kedekatan Igan dan Ilona, kedua insan itu tampak sangat lengket!


Hendra lantas memanggil Tia untuk melihat berita itu, "Dek, sini! Ada beritanya Mas Igan."


"Oke!" sahut Tia kemudian berlari mendekat.

__ADS_1


Tia ikut duduk di depan televisi bersama Hendra, mereka sama-sama fokus menyimak berita yang membuat mereka tak percaya.


****


__ADS_2