Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Hari Bahagia


__ADS_3

Perlahan tapi pasti, waktu terus merangkak tanpa henti. Membawa manusia meninggalkan setiap kenangan dan bersiap untuk menyongsong masa depan.


Begitu juga dengan Igan dan Tia. Rencana mereka menuju pelaminan sudah semakin matang. Semua persiapan menuju hari H telah mendekati sempurna.


Undangan telah disebar kepada sahabat, kerabat dan tetangga-tetangga dekat. Mereka ingin semua orang yang mengenal mereka dengan baik pun turut berbahagia melihat bersatunya mereka dalam janji suci pernikahan.


Hari istimewa itu pun tiba. Igan tampak semakin gagah dan tampan bak seorang pangeran, dengan memakai setelan jas putih dan memakai peci putih berhias bordiran warna emas. Tubuh tinggi dan atletisnya tampak sempurna dengan balutan pakaiannya hari itu.


Suasana khidmat dan sakral sangat terasa ketika Dirgantara Putra Erlangga mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan jelas, untuk menjadikan Celestia Amanda sebagai pendamping hidupnya.


Bulir air mata tampak menetes lembut dari pelupuk mata Bulan, menyaksikan sang putra mahkota menapaki kehidupan baru sebagai seorang suami dan kepala keluarga.


Ya Allah, jadikanlah rumah tangga putraku menjadi rumah tangga yang selalu Engkau berkahi dan Engkau jaga dalam keharmonisan. sepenggal doa terucap dalam hati Bulan, untuk putra tercinta.


Hendra pun tampak menyeka pelupuk matanya yang agak basah. Rasa haru, bangga, sedih bercampur bahagia menyatu dalam hatinya.


Ayah, Ibu ... kalau saja kalian masih ada, pasti akan sama bahagianya kayak aku sekarang. Aku sudah mengemban tugas mewakili Ayah dan Ibu, untuk menjaga dan mengantarkan Tia sampai berumah tangga. Aku yakin, Tia bakal bahagia Yah, Bu. batin Hendra.


Prosesi ijab kabul selesai, waktunya sang mempelai wanita datang didampingi oleh Danisha dan Jeni, kepala divisi di tempatnya bekerja.


Senyum manis tak henti mengembang, menghias wajah Tia yang hari itu tampak semakin cantik.


Tia mengenakan gaun putih panjang dengan hijab yang menutup kepala. Model yang tampak elegan sekaligus anggun, ditambah warna senada dengan setelan jas yang dipakai oleh sang suami, menjadikan mereka tampak semakin serasi.


Tia berjalan perlahan dengan diapit oleh Jeni dan Danisha yang menggandeng tangannya di sisi kanan dan kiri. Ia bak seorang putri yang akan bertemu dengan pangerannya.


Igan berdiri dengan gagah menyambut kedatangan sang istri. Matanya tak pernah beralih memandangi sosok sang istri, senyum pun terus tersungging.


Masya Allah, Tia cantik banget! puji Igan dalam hati.


Semakin Tia berjalan mendekat, degup jantung Igan justru semakin cepat. Ia seperti baru pertama kali bertemu Tia, padahal mereka sudah sangat sering bertemu sebelum hari istimewa itu.


Ya Allah, terima kasih sudah memberiku jodoh lelaki impian seperti Mas Igan. ucap Tia dalam hati.


Langkah demi langkah sudah Tia tapaki, hingga akhirnya ia berada di hadapan sang suami. Ia mencium punggung tangan Igan dengan lembut untuk pertama kalinya. Tangan kiri Igan pun refleks mengusap lembut kepala Tia, hingga membuat iri siapapun yang melihat.


Selanjutnya, mereka melangkah bersama menuju pelaminan. Igan menggandeng mesra tangan Tia, sedangkan Tia sesekali menggelayut manja di lengan Igan.


"Hadeh ... bikin ngiri deh! Auto nyari bini deh gue entar!" celetuk Gugun yang direspon tawa oleh orang-orang di dekatnya.


Hendra yang mewakili orang tua Tia, duduk di sebelah kursi pengantin yang Tia tempati. Ia pun tampak semakin gagah dan ganteng dengan memakai setelan jas warna hitam.


Matanya menatap lurus ke arah Danisha, yang duduk di kursi tamu paling depan. Ada binar kekaguman pada matanya saat memandangi tunangannya itu.

__ADS_1


Ya, Danisha pun tampak menawan dengan balutan gaun panjang warna salem, dengan rambut yang ditata semenarik mungkin.


Kamu juga pasti akan jauh lebih cantik kalau pakai hijab, Danisha. batin Hendra sambil tersenyum manis pada calon istrinya.


Danisha membalas senyuman Hendra sambil tersipu.


"Sst, habis mereka nanti gue duluan ya yang nikah?" celetuk Darren sambil menyenggol lengan adiknya.


Danisha menoleh, "Enak aja, gue duluan dong!"


"Kan gue duluan yang lahir!"


"Ish!! Lagian mana coba pacar lu? Punya pacar aja belom!"


"Ada lah ... enak aja dibilang belom punya!"


"Mana?? Siapa??"


"Dia belom ke sini, masih di Aussie. Minggu depan baru gue jemput ke sini." sahut Darren, bangga.


Danisha mengerutkan dahi, "Dari Aussie?? Siapa emang?"


"Sherley." sahut Darren sambil cengar-cengir.


"Temen kuliah lu, yang waktu itu sering main ke rumah kita di Aussie."


"What?? Sejak kapan kalian jadian?? Kok enggak bilang ke gue?"


"Surprise." Darren lagi-lagi cengengesan.


Danisha meluncurkan cubitan kecilnya ke pinggang Darren. Namun ia langsung ingat jika sedang berada di sebuah acara yang sakral dan khidmat.


*


"Alhamdulillah acaranya lancar ya, Sayang?" ujar Igan pada Tia, di kamar pengantin mereka saat malam hari ketika semua acara sudah selesai dihelat.


"Iya, Mas. Capek juga ya jadi pengantin?" kelakar Tia.


Igan tertawa, "Iya lah, berdiri nyalamin tamu-tamu sebanyak itu kan pasti capek. Makanya, kita sekali aja jadi pengantinnya. Cukup ini aja." sahut Igan sambil menatap mesra istrinya.


"Iya Mas, lagian siapa juga yang mau nambah?!"


"Sayang, kamu pakai begini jadi makin cantik deh!" puji Igan sambil terus memandang mesra istrinya.

__ADS_1


"Gitu ya? Berarti ... enggak usah dilepas ya, Mas? sahut Tia sambil tersenyum manja.


Alis Igan berkerut, " Ya tetep dilepas dong ... Masa tega sama Mas sih?" Igan sedikit merajuk.


"Tega gimana?" Tia tersenyum nakal.


"Ah ... kamu pura-pura nih! Awas ya nanti ...!" ujar Igan sembari menggelitik pinggang istrinya. Mereka tertawa lalu keduanya terjatuh ke atas tempat tidur.


*


Kehidupan rumah tangga Tia dan Igan berjalan selayaknya sepasang suami istri yang harmonis. Keduanya saling manja dan memanjakan satu sama lain.


Bintang dan Bulan sebenarnya sangat ingin jika anak dan menantunya itu tetap tinggal bersama mereka. Tetapi Igan dan Tia memilih untuk tinggal berdua di apartemen milik ibunda Igan, sambil menunggu mereka membangun rumah sendiri.


Pada suatu ketika di malam minggu, Igan yang tengah bermanja sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Tia saat keduanya asyik menonton televisi, merasa terganggu oleh dering telepon dari ponsel Tia.


"Jam segini siapa yang telepon, Yang?" tanya Igan heran, karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Coba aku liat dulu, Mas. Barangkali Kak Hendra."


Igan terpaksa bangkit dari posisi ternyamannya. Tia beringsut mengambil ponselnya di sebuah meja kecil.


"Siapa, Yang?" tanya Igan ketika Tia hanya memandangi layar ponselnya.


"Enggak tau, Mas."


Igan penasaran lalu segera melihat ke layar ponsel istrinya, "Nomer siapa sih?"


"Aku enggak tau, Mas ... Gimana nih, diangkat enggak?"


"Coba sini, Mas aja yang angkat."


Tia menyodorkan ponselnya pada sang suami. Igan segera menekan simbol hijau untuk menerima panggilan telepon.


"Halo Tia, masih inget saya?" ujar si penelepon.


Igan tersentak karena penelepon itu langsung menyebut nama Tia, seolah mereka sudah kenal baik. Rasa cemburu sontak berdesir dalam hatinya ketika mendengar suara si penelepon itu adalah seorang laki-laki.


Igan terdiam, ia menoleh ke arah sang istri dengan tatapan penuh tanya.


"Siapa, Mas?" Tia pun merasa penasaran.


****

__ADS_1


__ADS_2