Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Kisah Rey


__ADS_3

Dalam diam, sepasang mata itu menatap teduh penuh kekaguman terhadap sosok Tia.


Makin hari kamu makin cantik aja. Ucapnya dalam hati.


Namun keasyikannya sontak terganggu saat terdengar derit pintu yang terbuka dan suara ramai langkah kaki memasuki ruangan itu.


"Waktunya kerja ...!!" Seru Gugun bersemangat seraya berjalan menuju meja kerjanya.


Rey mendadak salah tingkah ketika rekan-rekannya mulai memasuki ruangan, ia tampak terkejut oleh kedatangan mereka.


Rey menghela napas lalu mendengus, berusaha menyamarkan rasa terkejutnya.


Kesibukan pun dimulai, semua bekerja dengan penuh semangat dan dedikasi tinggi. Terlebih, perusahaan tempat mereka bernaung itu tergolong perusahaan yang bonafid dan selalu mensejahterakan para karyawannya.


Setiap akhir tahun selalu diberikan penghargaan untuk para karyawan yang berdedikasi tinggi dan mempunyai kinerja terbaik selama setahun. Kejujuran dan disiplin pun dijadikan landasan utama untuk menilai kinerja para karyawan.


Tanpa terasa sudah pukul dua belas siang. Gugun dan Teguh sudah lebih dulu pamit untuk keluar makan siang, sedangkan Tami dijemput sang suami untuk makan siang berdua. Tinggal Tia, Jeni, dan Rey yang masih ada di ruangan. Namun sesaat kemudian Jeni mengajak Tia untuk keluar makan siang.


"Makan dulu yuk?" Ajak Jeni.


"Ayo, aku juga udah laper." Sahut Tia.


"Eh-eh, kalian mau makan di mana?" Tanya Rey, menyela pembicaraan.


"Hmmm ... belum tahu sih Pak, kenapa? Pak Rey mau ikut?" Sahut Jeni sambil tersenyum lebar.


"Boleh. Yuk? Kebetulan saya hari ini lagi bawa mobil." Rey tampak bersemangat dan segera membereskan meja kerja dan mematikan komputernya.


"Asyik, Jadi enggak kepanasan deh!" Celetuk Jeni.

__ADS_1


Mereka bertiga berjalan keluar ruangan lalu menuju parkiran untuk pergi makan siang bersama.


Rey yang masih tampak muda diusianya yang menginjak tiga puluh lima tahun, memiliki postur tinggi dan berkaca mata tampak berjalan di depan, sedangkan Jeni dan Tia mengikutinya di belakang. Dari penampilannya, siapa yang menyangka bahwa ia adalah seorang duda?


Ya, Rey merupakan seorang duda tanpa anak. Istrinya meninggal dunia ketika usia pernikahan mereka baru seumur jagung. Mendiang istri Rey yang bernama Susan itu sudah lama menderita sakit radang paru atau pneumonia, bahkan sejak mereka saling mengenal.


Susan dan Rey bertemu di sebuah Rumah Sakit ketika Rey sedang mengantar mamanya yang juga memiliki riwayat penyakit yang sama dengan Susan.


Susan yang sejatinya berwajah cantik dengan dagu bak lebah bergantung dan hidung yang mancung, namun karena sakit yang diderita membuat gadis cantik itu tampak pucat dan kurus.


Rey beberapa kali bertemu dengan Susan dan orang tuanya di Rumah Sakit karena jadwal rutin yang sama dengan mamanya. Rey pun memberanikan diri untuk berbincang dengan ibunda Susan yang saat itu sama-sama sedang menunggu antrean.


Didapatlah kisah yang memilukan hati Rey, sakit gadis cantik itu semakin parah akibat diputuskan begitu saja oleh orang yang selama ini ia kira tulus mencintainya.


Lelaki itu merupakan seorang pengangguran yang pernah menolong ayah Susan saat mengalami kecelakaan tunggal di suatu kawasan yang sepi. Dia yang kebetulan sedang duduk-duduk bersama teman-temannya itu menolong mengeluarkan ayah Susan yang saat itu tak sadarkan diri di dalam mobilnya.


Lelaki itu merasa tertarik pada Susan, namun lebih tepatnya tertarik pada harta kekayaan orang tua gadis itu. Ia pun mulai memasang jerat cinta kepada Susan, dan berusaha sedemikian rupa untuk menarik simpati orang tua Susan.


Ayah Susan yang merasa berhutang nyawa pada lelaki itu menyodorkan sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih, namun ia menolak. Ia berkata hanya ingin satu hal, yaitu diizinkan untuk bersanding dengan Susan.


Orang tua Susan terkejut, mereka tak menyangka bahwa lelaki itu akan berkata demikian. Karena tak ingin mengecewakan lelaki yang mereka anggap baik itu, akhirnya mereka pun menceritakan tentang kondisi Susan yang sebenarnya.


Lelaki culas itu berhasil menjerat Susan dengan berbagai rayuan penuh kepalsuan, ia pun berhasil meyakinkan ayah Susan dengan mulut manisnya bahwa ia akan menikahi Susan.


Ia berkata pada Susan dan kedua orang tua Susan akan menerimanya dengan tulus, tak peduli jika Susan menderita sakit.


Susan yang polos pun menerima lelaki itu dengan bahagia karena mengira ia sudah bertemu jodoh sejatinya.


Namun pil pahit harus ditelan ketika lelaki itu tiba-tiba memutuskan hubungan sehari sebelum acara pertunangan digelar. Ia menghilang begitu saja bak ditelan bumi.

__ADS_1


Susan sontak terkulai setelah menyadari bahwa lelaki itu tidak akan datang, karena seorang yang diutus sang ayah untuk mencari lelaki itu di tempat kosnya membawa kabar bahwa lelaki itu sudah pindah sejak tiga hari lalu, entah kemana.


Ia tak menyangka hari bahagia yang ia nanti tidak akan pernah terjadi, padahal beberapa barang permintaan kekasihnya itu sudah ia berikan.


Ya, lelaki itu banyak meminta kepada Susan seperti meminta ponsel terbaru, juga sejumlah uang dengan mengumbar cerita pilu bahwa adiknya sakit dan harus segera dioperasi.


Bahkan sebelum memutuskan hubungan sepihak pun, ia sempat minta dibelikan sepeda motor kepada Susan. Ia berkata bahwa motor yang ia pakai selama ini adalah motor sewaan.


Namun Susan berkata bahwa ia akan membelikannya motor kalau mereka sudah menikah. Namun rupanya lelaki itu memilih pergi meninggalkan Susan daripada menikahinya, karena mungkin apa yang ia dapat selama ini sudah cukup baginya.


Hal itu membuat Rey ingin mengenal lebih dekat dengan Susan, bukan untuk mempermainkan namun ada rasa empati yang ia rasa begitu kuat.


Awalnya Susan tak memberi respon yang baik, ia seperti trauma jika didekati laki-laki. Namun Rey tak patah arang, ia tetap mengajak Susan berteman. Ia paham bahwa Susan menginginkan seseorang yang dapat ia ajak bercerita dan berbagi suka duka.


Rey yang sedikit banyak memahami tentang penyakit yang Susan idap, sering memberinya perhatian tulus dan penuh kelembutan.


Ketika mamanya berpulang, Rey merasakan kehampaan dalam hidupnya karena sang papa juga sudah lebih dulu berpulang akibat penyakit stroke. Ia merasa sebatang kara karena kakak-kakaknya berada jauh di luar kota. Rey pun jadi lebih sering berkunjung ke rumah Susan untuk mengusir sepinya.


Lama kelamaan, Susan pun luluh. Ia juga menaruh empati dan simpati terhadap Rey, apalagi secara fisik Rey tidaklah mengecewakan.


Ayah dan Ibu Susan melihat ketulusan dan keseriusan di mata Rey untuk putri tunggal mereka, sekaligus sudah dapat melihat binar cinta di mata putrinya untuk Rey.


Rey pun berikrar janji suci pernikahan setelah benar-benar siap dan mengantongi restu dari saudara dari kedua belah pihak, tak peduli seberapa parah penyakit yang Susan derita.


Hingga di suatu pagi, Rey harus kehilangan lagi sosok yang dapat membuatnya merasa nyaman. Ya, Susan menghembuskan napas terakhirnya setelah kembali anfal dan dilarikan ke Rumah Sakit.


Kini, setelah tiga tahun Susan tiada, Rey ingin mencoba kembali menata hatinya dan membuka lembaran hidup baru dengan seorang gadis yang bisa membuatnya kembali nyaman.


***

__ADS_1


__ADS_2