Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
ILY


__ADS_3

Tia tampak sedang memilih bahan-bahan kue yang hendak ia beli. Satu per satu ia lihat kemasan dan tanggal kadaluarsanya dengan teliti, setelah yakin baru ia taruh dalam troli.


Lagi-lagi ia melihat ke arloji di pergelangan tangannya untuk memperkirakan waktu. Setelah semua dirasa cukup, ia bergegas menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


Karena tergesa, Tia tak memperhatikan sekelilingnya. Ia menyenggol seseorang saat menuju meja kasir.


"Eh, maaf-ma ...." ucapan maaf Tia tercekat ketika ia menoleh dan melihat orang yang ia senggol.


"Tia? Wah, Tuhan Maha baik! Saya pengin ketemu kamu tapi malah ketemu di sini." ucap orang itu yang ternyata adalah Rey.


Tia tersenyum tipis, "Maaf, saya buru-buru." ucapnya sambil mendorong troli bergegas menuju kasir.


"Eh, kok buru-buru banget sih, Ti? Kita ngobrol dulu yuk habis ini?" bujuk Rey sembari salah satu tangannya menahan troli yang dipegang Tia.


"Bapak tau enggak sih artinya buru-buru??" tukas Tia dengan netra yang menyorot tajam.


Rey tersentak mendapati sikap Tia yang terlihat sangat tak menyukai keberadaannya di situ, namun sejurus kemudian ia tersenyum getir. Ia melepaskan genggamannya pada gagang troli yang dipegang Tia.


"Terima kasih." ucap Tia dengan tegas, lalu berjalan cepat menuju kasir.


Rey pun membuntuti langkah Tia, lalu ia mengantre di kasir yang sama.


"HP kamu enggak aktif, Ti?" tanya Rey saat menunggu antrian.


Tia bergeming, ia fokus memperhatikan barang-barang yang sedang dimasukkan ke daftar belanjaannya oleh petugas kassa.


"Tia?" tegur Rey, tak mau diabaikan.


"HP saya rusak, Pak." sahut Tia sekenanya.


"Rusak? HP istrinya artis terkenal rusak terus enggak cepet diganti?? Minta suami kamu dong buat beliin yang baru ... mampu kan? Kalo enggak mampu, ayo saya beliin sekarang. Kamu tinggal pilih, saya yang bayar."


Tia merasa hati dan kupingnya panas mendengar ocehan Rey yang jelas merendahkan suaminya. Ia menoleh dan menatap tajam mantan atasannya itu.


"Suami saya juga sangat mampu untuk beliin apapun yang saya mau. Masalah HP, itu bukan urusan Anda Pak Rey. Mau HP saya rusak atau enggak, itu urusan saya." tegas Tia.


"Oke ... oke! Kamu semenjak nikah sama artis itu kok jadi makin galak ya, Ti? Sama kayak kakak kamu yang satpam itu. Udah kecipratan harta dari mertua kamu yang konglomerat itu ya?"


Belanjaan Tia semua sudah dihitung dan dibayar, Tia tak menggubris omongan Rey. Ia bergegas pergi tanpa ada basa-basi.


"Mbak, cepetan ya ngitungnya! Saya mau ngejar cewek itu!" pinta Rey pada petugas kassa.


Saat Tia sedang menunggu taksi yang ia pesan, Rey bergegas masuk ke dalam mobilnya yang masih terparkir agak jauh dari tempat Tia berdiri. Ia terus mengamati gerak-gerik Tia.


Ketika taksi yang Tia tunggu sudah datang lalu membawa wanita cantik itu pergi, mobil Rey pun ikut merangkak membuntuti taksi yang ditumpangi Tia.

__ADS_1


"Kamu kira saya bodoh, Ti? Saya bakal tau kamu sekarang tinggal dimana. Saya sudah enggak cinta sama kamu, tapi saya enggak mau liat kamu dan Igan bahagia!" gumam Rey sembari menyetir mobilnya.


Tia tak menyadari jika Rey membuntuti taksinya hingga ke apartemen.


"Oh ... jadi kamu tinggal di apartemen elit ini sekarang?? Pantes kamu jadi belagu dan galak ke saya!" gumam Rey ketika melihat Tia turun dari taksi dan melangkah memasuki tower apartemen elit.


Rey hanya mengamati Tia dari dalam mobilnya, kemudian ia tersenyum licik dan melajukan mobilnya pergi dari lokasi tersebut.


Tia terus melangkah ke unitnya dan langsung mengeksekusi bahan kue untuk membuat cake yang kakaknya pesan.


Kurang dari waktu kedatangan kakaknya, Tia sudah beres menyiapkan cake itu. Ia simpan dahulu ke dalam showcase sebelum dikemas ke dalam kotak kue.


*


Bel rumah Hendrawan berbunyi pada pukul 7 malam. Danisha yang sedang duduk-duduk di ruang TV bergegas bangkit untuk membukakan pintu.


"Assalamu'alaikum, Danisha. Selamat ulang tahun ya ...." ucap Hendra sambil menyodorkan sekotak cake, ketika melihat sang tunangan yang membukakan pintu.


Danisha terperangah, ia tak menyangka jika tunangannya itu ingat hari ulang tahunnya.


"Mas Hendra inget ulang tahun aku?? Kirain lupa, dari tengah malam sampe tadi aku tunggu ucapannya tapi enggak ada." tanya Danisha, agak cemberut.


"Iya, jujur saya lupa soalnya lagi banyak pikiran. Hmmm ... maaf ya?" ujar Hendra.


Danisha tersenyum, "Never mind. Ayo masuk!"


"Kok sepi, Dan?" tanya Hendra.


"Iya, Darren lagi ke Aussie. Katanya mungkin bakal sebulanan di sana. Kalo papa, lagi ke luar kota tiga hari." jelas Danisha, seraya melangkah menuju dapur untuk membuatkan minuman.


"Oh, kalo gitu saya enggak boleh lama-lama bertamu."


"Kenapa? Bukannya malah harus lebih lama aja, Mas? Kan sekalian nemenin aku."


"Enggak boleh, Dan ... Kita baru tunangan, belum nikah. Nanti takut ada setan."


Danisha tertawa lirih, "Mas takut banget? Kan aku juga udah ...."


"Ssttt ... Stop, Dan! Jangan dibahas lagi. Ya sudah, habis kita ngobrol sebentar saya pamit ya?" tegas Hendra.


"Hmmm ... okay ...!!"


Jauh di lubuk hati Danisha, ia jelas tak bisa melupakan kejadian nahas yang menimpanya itu. Ia selalu berharap dapat bertemu dan membuat perhitungan dengan orang yang sudah merusak impian dan masa depannya.


Tak lama kemudian Danisha kembali dari dapur sambil membawa secangkir kopi, lalu ia suguhkan pada Hendra.

__ADS_1


"Ini Mas, diminum." Danisha mempersilakan.


"Iya, makasih ya ...." Hendra tersenyum, lalu mengangkat cangkir kopi itu mendekat ke bibirnya.


"Huff ... masih panas banget, Dan."


Danisha tertawa kecil.


"Aku buka ya Mas cake nya?" ujar Danisha.


"Iya-iya, buka aja. Itu buatannya Tia lho, Dan. Aku mendadak minta dibuatin sama dia tadi sebelum pulang kerja."


"Oya? Wah ... pasti enak nih!" puji Danisha, sumringah.


Kotak kue pun dibuka oleh Danisha, tampak sebuah cake berhias krim berwarna coklat yang tampak lezat, dengan tulisan ucapan ulang tahun berwarna putih. Namun sayang, bagian tepi cake tersebut agak rusak hiasan krimnya karena terbentur dinding kotak.


"Eh, itu ... ternyata ada yang rusak pinggirannya, jadi kurang bagus. Maaf ya Dan? Soalnya saya pakai motor, jadi mungkin goyang-goyang tadi di jalan." ucap Hendra ketika melongok ke dalam kotak yang Danisha buka.


Danisha tersenyum manis lalu memandang Hendra dengan penuh kasih.


"Enggak apa-apa kok, Mas ... aku dikasih ini aja seneng kok. Yang aku liat bukan cake nya, tapi perhatian dan ketulusan Mas Hendra ke aku. Makasih ya?" sahut Danisha.


Hendra tersipu, lalu ia mengeluarkan sebuah kotak kecil memanjang berwarna hitam dari saku jaketnya.


Di atasnya tampak sebuah merk yang cukup ternama dengan tulisan berwarna emas, membuat penampilan kemasan kotak itu terasa eksklusif.


"Kalo yang ini saya jamin enggak penyok." ujar Hendra tersenyum, sambil menyodorkan kotak itu pada Danisha.


Danisha semakin sumringah, "Apa lagi ini, Mas? Kok hadiahnya banyak banget?"


"Mudah-mudahan kamu suka." ujar Hendra penuh harap.


Danisha membuka kotak itu lalu tampak sebuah jam tangan wanita dengan model yang eksklusif.


"Mas, ini ... buat aku?"


Hendra mengangguk dan tersenyum.


"Kamu suka enggak?"


"Absolutely, yes!! I love it, and I love you so much! Thank you, honey ...." sahut Danisha.


Ia tersenyum karena jujur ia kurang pandai berbahasa Inggris, tapi ia yakin kalau yang tadi Danisha ucapkan itu adalah dia sangat menyukai pemberiannya, dan juga sangat mencintainya.


"I ... love you juga, Danisha." sahut Hendra, malu-malu.

__ADS_1


Danisha tertawa melihat tunangannya yang malu-malu karena untuk pertama kalinya ia mengucapkan cinta pada Danisha.


****


__ADS_2