Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Memulai Rencana


__ADS_3

Bintang, Bulan dibantu Tia dan Hendra menggagas sebuah acara bertajuk "Erlangga Group Having Fun". Acara itu berupa rekreasi yang mengajak seluruh karyawan perusahaan Erlangga beserta keluarga.


Ide ini diambil karena Bintang dan Tia ingin mengajak Igan dan Ilona untuk turut serta. Alih-alih ingin memberi hadiah atas pertunangan Igan dan Ilona, Bintang dengan dibantu Tia justru memiliki niat untuk menolong Igan dari kungkungan Ilona yang tak wajar.


Malam hari setelah Igan dan Ilona bertunangan, Bulan dan Bintang mendatangi sang putra di apartemennya. Mereka coba mencairkan hubungan yang membeku antara ayah dan anak tersebut, lalu Bintang mengutarakan maksudnya untuk mengajak Igan dan Ilona untuk turut serta dalam acara kantor tersebut.


Gayung bersambut, Igan yang antusias dengan ajakan orang tuanya pun langsung menelepon Ilona dan mengajaknya agar ikut. Untungnya Ilona sama sekali tak menaruh curiga, dan menyetujui ajakan Igan dan keluarganya.


Hari yang ditentukan pun tiba, seluruh karyawan Erlangga tiba di lokasi tujuan. Raut suka cita terpancar dari para peserta piknik itu, tak terkecuali Igan dan Ilona.


Ilona yang semakin lengket dengan Igan pun terus menggelayutkan tangan di lengan kekar sang pujaan.


Bintang yang sejatinya jengah dan muak dengan pemandangan itu, terus berusaha menahan diri agar tujuannya menyadarkan sang putra terlaksana.


Tia dan Hendra yang mendapat tugas khusus dari Bintang pun melaksanakannya dengan baik dan rapi.


Semuanya tampak senang dan ceria menikmati pemandangan yang tersuguh indah.


Para pemandu kemudian memberitahukan bahwa di sana cocok untuk kegiatan snorkeling. Mendengar itu membuat Igan sangat antusias.


Si tampan yang juga hobi olah raga itu lantas mengajak ayah dan bundanya untuk ikut. Bintang dan Bulan menolak karena faktor usia, dan juga Bintang tak mungkin menyelam dengan kondisi kakinya yang berbeda akibat kecelakaan di masa lalu.


"Bunda sama Ayah mau ikut? Asik lho liat pemandangan bawah laut." ajak Igan penuh semangat.


"Kamu yang benar aja, Nak ... Masa ngajak Ayah sama Bunda menyelam? Kalau mau ngajak, ya Ilona itu yang masih muda." sahut Bulan.


"Tapi nyelamnya cuma di permukaan aja kok, Bun. Enggak sampe dalam banget.


Sayang, ikut yuk? Seru tau! Kamu udah pernah belum?" ajak Igan pada Ilona.


"Tetap aja, Nak ... Udah sana kamu sama yang lain aja." sahut Bulan.


Ilona langsung tampak agak panik, tampak sekali ia ingin menolak ajakan Igan namun ia sedang berusaha mencari alasan yang tepat.


Gawat! Gue kan enggak mungkin nyelam pakai cincin ini, bisa luntur nanti efeknya buat Igan! batin Ilona, gusar.


"Lona, itu Igan ngajak kamu nyelam. Sana ikut, mumpung udah sampe sini ... Kalo tante masih muda juga pasti ikut." tegur Bulan seraya membujuk Ilona.


"Hmmm ... iya sih tapi aku lagi datang bulan, Tan. Enggak mungkin kan ikut nyelam?" sahut Ilona, beralibi.


"Kamu datang bulan kok lama banget, Yang? Seminggu yang lalu waktu kita syuting di kolam renang kan kamu bilang lagi 'dapet' makanya alur ceritanya jadi diubah." celetuk Igan.


Ilona makin terlihat gusar, ia salah tingkah terlebih ketika melihat kedua orang tua tunangannya itu menatap penuh selidik padanya.


"Oh, hmmm ... i-iya Sayang, aku emang waktu itu juga lagi 'dapet' terus ini dateng lagi." sahutnya, berbohong.


"Apa bener begitu? Mungkin ada baiknya kamu periksa ke dokter, Lona. Bisa saja itu bukan datang bulan, tapi penyakit." ucap Bulan, serius.


Ilona tersentak, ia makin bingung.

__ADS_1


"Hmmm ... coba saya ke toilet dulu deh Tan, buat mastiin." pamit Ilona kemudian bergegas menuju toilet.


Semua menghela napas. Bintang, Bulan, Tia dan Hendra sebetulnya sudah sangat tidak sabar ingin membuang efek negatif yang menyelubungi Igan, namun rupanya mereka harus lebih bersabar.


"Kalau Ilona bener-bener enggak bisa ikut menyelam, kamu menyelam aja sama Tia dan Hendra, Nak. Nanti biaya sewa perlengkapannya biar saya yang tanggung buat kalian berdua." ujar Bintang.


Igan dan Tia sontak saling menatap, mereka tak menyangka jika Bintang akan bicara begitu.


"Boleh juga, kamu bisa renang kan, Tia?" sahut Igan dengan mata berbinar.


Tia terhenyak, ia lebih tak menyangka jika Igan setuju dengan usul sang ayah.


"Tia bisa renang kok, Mas. Jago malah, dulu saya yang ajarin, hehe ...." sahut Hendra, menyerobot.


"Wah, bagus itu. Kalian kakak-adik yang akur ya?" timpal Bulan.


Tia dan Hendra saling melempar senyum merespon pujian dari Bulan.


Sudah lima belas menit menunggu namun Ilona belum muncul juga.


"Nak, mana Ilona?? Cepat sana disusul, nanti malah tidur di toilet dia!" perintah Bintang, mulai tak sabar.


"Sebentar Yah, Igan susul dia. Oh iya Tia, kamu ikut yuk? Aku kan enggak mungkin masuk ke toilet wanita."


Tia kembali terhenyak, ia bingung harus menjawab apa.


"Ya, betul kata Igan. Kamu ikut nyusul Ilona, ya?" ujar Bintang dan ditimpali anggukan dan senyuman oleh Bulan, tanda setuju.


Tia dan Igan berjalan menuju toilet wanita untuk menyusul Ilona. Namun belum jauh mereka melangkah ternyata Ilona sudah terlihat sedang berjalan mendekat.


"Nah itu dia!" celetuk Igan kemudian menghentikan langkahnya, begitu pun Tia.


Ilona yang melihat Igan dan Tia tadi sedang jalan berduaan pun lantas berlari menghampiri.


"Sayang, kamu mau kemana?" seru Ilona sembari berlari mendekat.


"Mau nyusulin kamu ke toilet. Lama banget sih, Yang?"


"Ya ... namanya juga cewek!" sahut Ilona, kemudian menatap Tia dengan sinis.


"Ngapain lu ada di sini juga?? Pake jalan berdua lagi sama cowok gue!" imbuh Ilona, kesal.


"Aku yang ngajak Tia. Kan kamu ada di toilet wanita, masa aku nyusulin kamu terus masuk??" sahut Igan, tenang.


"Terus gimana, Mbak Lona bisa ikut menyelam enggak?" tanya Tia, memberanikan diri.


"Enggak, gue enggak ikut!" tukas Ilona.


"Oh, ya udah berarti kita jadi nyelam bareng ya, Mas?" ujar Tia, sengaja untuk membuat Ilona seperti kebakaran jenggot.

__ADS_1


"Apa?? Enggak, enggak boleh!! Lu mau godain tunangan gue, hah??" hardik Ilona.


Suara hardikan Ilona pada Tia terdengar jelas oleh Bintang, Bulan dan Hendra yang masih berdiri tak jauh dari sana.


Bintang, Bulan dan Hendra langsung menghampiri mereka.


"Eh-eh-eh, ada apa ini, kok jadi ribut?" tegur Bintang.


"Ini Om, masa cewek pembawa sial ini ngajakin Igan snorkeling bareng?? Enggak punya etika banget!!"


"Memang saya yang nyuruh, kalau kamu enggak bisa ikut Igan menyelam." timpal Bintang, santai.


"Lagian Mas Igan enggak cuma berdua sama adik saya kok, Mbak. Saya juga ikut, jadi jangan nuduh adik saya yang macem-macem." tegas Hendra.


Bintang melirik Hendra kemudian tersenyum.


Good job, Boy!! puji Bintang dalam hati.


"Hmmm ... ya ... ya udah deh, aku ikut!" ucap Ilona, tergesa.


Igan dan Tia membelalak heran.


"Katanya kamu lagi 'dapet'?" tanya Igan.


Ilona terhenyak, ia seperti baru menyadari ucapannya.


"Ya udah Nak, kamu nyelam aja sama Tia dan Hendra. Nungguin Ilona lama jawabnya, bisa-bisa sampe maghrib." ujar Bintang.


"Eh, hmmm ... aku enggak lagi 'dapet' kok, aku lupa." sahut Ilona.


"Nah, gitu dong! Ya udah yuk kita ke tempat sewa baju." ajak Igan, bersemangat.


Ilona dan Igan berlari kecil menuju tempat penyewaan perlengkapan snorkeling.


"Permisi ya Bu, Pak? Kami ke sana dulu." pamit Tia dengan sopan pada Bulan dan Bintang.


"Iya-iya, silakan Tia. Have fun dan hati-hati ya kalian!" ucap Bulan sambil tersenyum.


"Oh iya, nanti saya nyusul kesana untuk pembayaran sewanya." ucap Bintang.


Tia dan Hendra mengangguk dan tersenyum, "Terima kasih banyak Pak." ucap mereka, bergantian. Kemudian keduanya berlari juga menyusul Igan dan Ilona.


"Yah, Bunda kok merasa cocok ya sama kepribadian Tia dan Hendra? Mereka anak-anak muda yang santun, tapi enggak lemah. Mereka juga cerdas, dan berani." puji Bulan.


Bintang menoleh ke arah Bulan, lalu tersenyum.


"Bukan cuma Bunda, Ayah juga sama. Apalagi Tia ternyata punya kemampuan yang bisa bantu kita, buat nolongin Igan lepas dari pengaruh Lona."


Bulan dan Bintang saling melempar senyum, lalu masing-masing memiliki harapan yang mereka ungkapkan lewat batin untuk kebaikan sang putra, dan keluarga mereka.

__ADS_1


*****


__ADS_2