Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Gadis Berbaju Kuning


__ADS_3

Malam itu akhirnya Igan menginap di rumah sakit bersama Hendra menjaga Tia, gadis yang baru saja resmi menjadi kekasihnya.


Suasana malam itu terasa berbeda, jadi lebih dingin dan sunyi akibat guyuran hujan yang turun saat menjelang isya tadi.


Ruang anyelir dimana Tia dirawat berbatasan langsung dengan tembok pembatas gedung rumah sakit dengan sebuah tanah lapang kosong yang belum difungsikan.


Ranjang pasien yang Tia tempati berada tepat di dekat jendela kamar. Karena letaknya di lantai dua, Tia dapat melihat dengan jelas area tanah lapang kosong itu, sebab tembok pembatas gedung tak menyekat sampai setengah bangunan berlantai tiga itu.


"Hujannya awet juga ya Mas, dari tadi belum berhenti." celetuk Igan sembari mengusap lengannya yang terasa dingin.


"Kedinginan, Mas?" tanya Hendra.


Igan meringis, "Saya enggak bawa jaket, kirain hujannya enggak bakal selama ini." sahutnya.


"Mau pakai jaket saya, Mas?" tanya Hendra.


"Oh, enggak usah Mas-enggak usah. Saya mau ke kantin aja beli minuman anget. Mas Hendra mau susu jahe juga?"


"Hmmm ... iya boleh. Kalo enggak, saya aja deh Mas yang ke kantin. Mas Igan di sini aja jagain Tia. Ke kantin kan agak jauh dari sini, nanti Mas Igan tambah kedinginan."


"Enggak usah Mas, biar saya aja." cegah Igan sembari berdiri dan hendak beranjak.


"Tunggu, Mas!" seru Hendra.


Igan berhenti dan menoleh ke arah Hendra. Hendra tampak membuka tas pakaian bersih yang baru ia ambil dari laundry.


"Ini Mas, pakai aja. Baru saya ambil dari laundry kok." ujar Hendra seraya menyodorkan sebuah kemeja lengan panjang warna biru langit pada Igan.


Igan menatap kemeja itu lalu kembali menatap Hendra.


"Maaf, udah agak bladus. Tapi ini bersih dan bisa buat outer kaos lengan pendek Mas Igan itu, biar terasa agak anget." imbuh Hendra dengan tersenyum.


Igan pun tersenyum, "Tapi nanti baju gantinya Mas Hendra berkurang?"


"Enggak apa-apa, masih ada beberapa lagi kok di tas. Kan baru tadi pagi saya ambil."


Igan kembali tersenyum lalu menerima kemeja yang masih tampak bagus walau warnanya sudah sedikit pudar, tetapi wangi khas dari laundry membuat Igan nyaman. Tanpa ragu, Igan pun memakai kemeja itu sebagai outer t-shirt nya.


"Wah, ternyata ukuran kemeja kita sama! Nyaman kok dipakai. Makasih ya, Mas Hen?" ucap Igan sumringah.


Hendra tersenyum lebar, lalu mengacungkan ibu jarinya pada Igan.


Tia yang semula memejamkan mata akhirnya membuka mata, ia melihat Igan dan Hendra yang sedang berdiri dengan saling senyum.


"Kalian lagi ngapain?" tanya Tia.


Igan dan Hendra sontak menoleh ke arah Tia yang masih terbaring menatap mereka.


"Ti, kamu keberisikan ya sama suaraku? Maaf ya, kamu jadi kebangun." ujar Igan.


Mendengar itu, Tia justru menggeleng lalu ia menoleh ke arah jendela.


"Kalian denger enggak?" tanya Tia dengan wajah serius.


Hendra dan Igan saling pandang, heran.


"Denger apa, Dek?" Hendra justru balik bertanya.


"Ada orang nangis." sahut Tia.


Hendra dan Igan kembali saling tatap.


"Kita enggak denger apa-apa kok dari tadi. Apalagi di luar suara hujannya masih deres. Kamu mimpi mungkin, Dek."


Tia tertegun, alisnya tampak berkerut pertanda ia sedang menajamkan pendengaran.


"Ya udah Ti, mungkin itu suara dari keluarga salah satu pasien di sini. Ini kan rumah sakit, mungkin aja ada pasien yang ... berpulang." ujar Igan, logis.


"Iya Dek, udah kamu istirahat aja lagi. Atau mau ngemil?" imbuh Hendra.


Tia menggeleng, namun dengan wajah yang tetap serius.


"Ya udah, saya keluar dulu ya?" pamit Igan.


"Mas Igan mau kemana?" tanya Tia.


"Mau ke kantin. Kamu mau dibeliin apa, Ti?" sahut Igan.


Tia menggeleng, "Enggak usah Mas, makasih." sahutnya sambil tersenyum.


"Ya udah, saya ke kantin dulu ya?" Igan kembali pamit dengan tatapan mesra pada Tia kemudian mulai melangkah.


"Mas!" seru Tia, memanggil Igan.


"Ya?" tanya Igan saat menoleh ke arah kekasihnya itu.


"Hati-hati." pesan Tia.

__ADS_1


Hendra geleng-geleng mendengar ucapan sang adik pada Igan.


"Gini ya kalo baru jadian, mau ditinggal ke kantin aja pake suruh hati-hati. Bucin juga kamu ternyata, Dek!" ledek Hendra.


Igan tersenyum lebar mendengar celetukan Hendra, terlebih saat melihat reaksi Tia yang malu-malu.


"Iya, Sayang ...." sahut Igan penuh cinta.


"Hadeh ... Minta tolong jaga perasaan jomblowan yang ada di antara kalian ini ya? Nyesek lho liat orang pacaran begini." seloroh Hendra dengan wajah memelas, namun justru memantik tawa bagi Igan dan Tia.


"Aduh-duh!!" pekik Tia sembari memegangi perutnya.


"Kamu enggak apa-apa, Ti? Lukanya pasti masih terasa nyeri kalo kamu ketawa." ujar Igan, khawatir.


Tia mengangguk-angguk, "Enggak apa-apa kok, Mas. Ya udah Mas Igan katanya mau ke kantin?"


"Iya. Kamu istirahat aja ya?" Igan lagi-lagi menatap mesra pada Tia yang membuat siapapun iri melihatnya.


"Iya, Mas ...." sahut Hendra dengan suara menirukan suara perempuan, meledek sang adik.


Igan tertawa mendengarnya, namun Tia justru cemberut karena sang kakak meledeknya.


Igan melangkah keluar ruang anyelir menuju kantin. Malam itu belum larut namun suasana terasa begitu berbeda dirasakan.


"Sepi amat sih tumben?? Padahal baru jam segini, biasanya masih banyak yang duduk-duduk di kursi depan ruangan." gumam Igan saat menyusuri koridor-koridor rumah sakit untuk menuju ke kantin.


Derai hujan yang masih setia mengguyur kota membuat suasana semakin terasa berbeda.


Hingga saat Igan melangkahkan kaki menuruni anak tangga yang juga sunyi, netra nya sontak terpancing oleh sebuah objek di tengah guyuran hujan.


Igan tertegun melihat seorang gadis berambut panjang terurai sepinggang, dengan mengenakan dress panjang warna kuning berdiri mematung di sebuah mini garden antara lorong-lorong rumah sakit yang menghubungkan ruang radiologi dan ruang hemodialisa.


Itu cewek ngapain hujan-hujanan? pikir Igan sambil terus memandangi gadis itu.


Igan terus melangkah perlahan coba mendekati gadis itu, ia ingin mengingatkannya agar tidak hujan-hujanan.


Semakin dekat, Igan makin melihatnya dengan jelas.


"Mbak, jangan hujan-hujanan nanti sakit lho!" seru Igan sambil terus menatap ke arah gadis yang berdiri mematung membelakanginya.


Gadis itu diam saja, ia tetap pada posisinya. Igan berdecak menyadari jika orang yang ia tegur itu tak mengindahkannya.


"Ck, tu orang mentang-mentang lagi di rumah sakit apa ya? Hujan-hujanan seenaknya, jadi kalo sakit tinggal daftar ke IGD." gerutu Igan.


"Lagi ngomong sama siapa Mas di sini sendirian??" tiba-tiba seorang petugas rumah sakit menegur Igan dari belakang yang membuat Igan terperanjat.


Petugas rumah sakit itu mengarahkan pandangannya ke arah yang Igan tunjuk, namun ekspresi wajahnya justru menunjukkan keheranan.


"Mana ada yang lagi hujan-hujanan, Mas??" tanya petugas itu pada Igan.


Igan kembali berdecak, ia mengarahkan telunjuknya ke arah yang sama.


"Ck, itu Mas! Masa enggak li ...." Igan berhenti berucap ketika menoleh ke arah yang tadi ia tunjuk, ternyata tidak terlihat gadis yang ia maksud.


Igan celingukan mencari gadis berbaju kuning tadi.


"Cewek yang tadi di situ mana, Mas?" tanya Igan pada petugas itu.


Petugas itu justru mengerutkan dahinya melihat ke arah Igan.


"Cewek yang mana, Mas? Dari tadi saya cuma liat Mas lagi ngomong sendirian di sini, makanya saya tegur."


Mata Igan membulat, ia masih coba mencerna peristiwa yng barusan dialami.


"Udah Mas, mendingan cepetan pergi dari sini. Mas mau kemana memangnya?"


"Mau ke kantin. Ya udah Mas, saya permisi."


Igan bergegas pergi menuju kantin dengan beragam pertanyaan menggelayut di benaknya.


Cewek tadi pergi kemana ya? Kok cepet banget perginya? batin Igan bertanya-tanya.


*


Setelah membeli susu jahe dan beberapa cemilan, Igan kembali menyusuri koridor yang sama untuk menuju ruang anyelir.


Ketika berjalan di lokasi dimana ia melihat gadis tadi, mendadak bulu kuduknya berdiri.


Astagfirullah, kenapa gue jadi merinding begini?? batin Igan sambil tangan kirinya mengusap belakang lehernya yang terasa meremang.


Igan mempercepat langkahnya, ia tak mau menoleh ke mini garden yang tadi ia melihat gadis berbaju kuning.


Namun ia justru tersentak ketika mendengar suara tangisan seorang wanita. Suara yang lirih dan menyayat hati itu terdengar jelas seakan berada di dekat telinga Igan, padahal suara derai hujan masih cukup deras.


Igan celingukan mencari sumber suara, ia takut jika ternyata ada orang yang butuh bantuan namun tidak ada yang mendengar suaranya akibat suara hujan yang deras.


Namun setelah tak menemukan orang yang sedang menangis, ia baru menyadari jika mungkin saja itu bukan suara manusia.

__ADS_1


Igan semakin mempercepat langkahnya menaiki tangga dan setengah berlari menuju ruang anyelir, dimana Tia dan Hendra berada.


Tanpa mengetuk pintu, Igan langsung membuka pintu ruang perawatan Tia dan bergegas masuk. Hendra dan Tia terkejut melihat Igan yang terlihat seperti orang ketakutan.


"Kenapa, Mas??" tanya Hendra.


Igan masih tersengal, ia coba mengatur napasnya sebelum menjawab.


Tia hanya senyum-senyum melihat kekasihnya yang terlihat panik.


"Ta-tadi ada suara orang nangis di bawah!" ujar Igan serius namun dengan suara yang ditahan.


"Mungkin suaranya keluarga pasien kan?" timpal Hendra.


"Enggak mungkin Mas, suaranya tuh kayak deket banget di telinga saya!"


"Ya berarti yang nangis jauh dari Mas Igan, soalnya saya liat sosoknya di lapangan itu." sahut Tia santai, sambil melirik ke arah tanah kosong yang bisa terlihat dari jendela kamarnya.


Igan termangu, ia bergegas melihat ke arah jendela namun tak melihat apa-apa selain tanah kosong yang sepi dan temaram.


"Emang kamu liat apa tadi di situ?" tanya Igan, penasaran.


"Cewek rambut panjang pakai baju kuning. Dia lagi nangis sambil hujan-hujanan." sahut Tia, lagi-lagi dengan santainya.


Igan terperangah, "Kok sama kayak yang saya liat tadi di mini garden bawah??"


Tia tersenyum, "Kayaknya sih dia juga yang tadi saya dengar pertama kali ada suara orang nangis."


Suara pintu kamar Tia terdengar diketuk, membuat semua terkejut. Hendra segera membuka pintu dan ternyata seorang perawat sedang berdiri di depan pintu untuk mengecek kondisi infus Tia.


"Permisi Mas, saya mau cek infus pasien." ucap perawat cantik itu.


"Oh, iya silakan Sus." sahut Hendra mempersilakan.


Perawat itu mulai mendekati Tia dan terlihat melakukan tugasnya. Sedangkan Igan dan Hendra duduk di kursi yang menghadap ke arah televisi.


"Untung aja suster yang dateng, bukan cewek yang nangis itu ya Mas?" celetuk Hendra sambil tersenyum.


"Iya Mas, jangan sampe deh! Saya udah pernah ngalamin hal ganjil juga waktu sama manajer saya, dan ini yang kedua kalinya bener-bener saya alami secara jelas."


"Udah ... jangan dibahas terus, nanti malah dia ngerasa dipanggil lho!" celetuk Tia.


Perawat yang memeriksa Tia sudah selesai, lalu pamit keluar.


"Sudah selesai, Mbak. Saya permisi dulu, selamat istirahat."


"Sus, boleh tanya sesuatu?" tanya Tia ketika perawat itu hendak melangkah keluar.


"Iya, ada apa Mbak?"


"Hmmm ... tadi saya liat ada cewek pakai baju kuning lagi nangis di tanah kosong itu." ujar Tia sambil menunjuk ke arah luar jendela.


Perawat itu tersenyum, "Oh, tidak apa-apa Mbak." sahutnya.


"Tapi tadi saya juga liat cewek itu di mini garden lantai satu, Sus. Tapi tiba-tiba dia hilang. Apa dia ....?" imbuh Igan.


Perawat itu mengangguk, "Iya Mas, sosok itu memang sudah legendaris di sini. Tapi dia enggak ganggu kok, paling cuma nampakin diri di waktu-waktu tertentu." paparnya santai.


Igan, Hendra dan Tia tertegun.


"Ya sudah, saya permisi dulu ya?" pamit perawat itu.


"Iya Sus, makasih." ucap Tia.


Tia menatap perawat itu berjalan keluar dari kamarnya, sedangkan Hendra dan Igan sedang menyeruput susu jahe yang tadi dibeli tanpa memperhatikan sang perawat.


Tia sontak beristigfar ketika melihat perawat itu kembali menoleh ke arahnya dan tersenyum penuh arti, sebelum ia keluar kamar tanpa membuka pintu. Ya, perawat itu menembus pintu kamar Tia.


"Astagfirullah!!" seru Tia.


Hendra dan Igan terkejut hingga hampir tersedak.


"Kenapa lagi, Dek??" tanya Hendra.


"Euh, ng ... enggak, enggak ada apa-apa kok, Kak." sahut Tia sambil meringis.


"Lho, perawat tadi mana?" tanya Igan.


"Su-sudah keluar tadi." sahut Tia, tergagap.


"Oh ... Saking asiknya kita nyeruput jahe susu sampe enggak denger suara pintu dibuka-tutup ya, Mas?" celetuk Hendra.


"Iya." sahut Igan tersenyum.


Untung Kak Hendra sama Mas Igan enggak tau kalo suster tadi emang enggak buka-tutup pintu pas keluar, tapi nembus! batin Tia.


Tanpa banyak kata-kata, Tia beringsut dari posisinya yang semula duduk menjadi berbaring, dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


****


__ADS_2