Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Terpana Senyuman


__ADS_3

Bulan melambaikan tangan pada Igan dan Ilona sesaat sebelum memasuki gedung kantornya, sedangkan Igan mengemudikan mobilnya kembali ke rumah bersama Ilona.


Namun belum lama melaju, Igan kembali menepikan mobilnya.


"Kok minggir Gan?" Tanya Ilona penasaran.


"Kamu pindah ke depan deh Lon." Pinta Igan.


"Hah??"


"Kenapa 'Hah?' , udah buruan sini!"


Tanpa banyak bertanya lagi, Ilona pindah ke kursi di sebelah kemudi, tepat berdampingan dengan Igan.


Ilona memandangi Igan beberapa detik dan baru berhenti menatap ketika Igan menegurnya.


"Aku bukan lukisan Lon, jangan diliatin terus ...." Ujar Igan.


Ilona sontak tergagap dan salah tingkah lalu buru-buru memalingkan wajahnya dari Igan.


"Kamu belakangan ini aneh sih Lon, kenapa?"


"Aneh? Aneh ... gimana?"


"Aku sering enggak sengaja mergokin kamu lagi ngeliatin aku."


Wajah Ilona sontak memerah dan ia mendadak salah tingkah.


"Kamu ... diam-diam naksir aku ya jangan-jangan?" Seloroh Igan sambil terkekeh.


Ilona terkejut mendengarnya, namun ia bingung harus menjawab apa.


"A-aku? naksir kamu?" Ilona balik bertanya dengan terbata.


"He-eum. Iya kan?" Tukas Igan sambil menatap Ilona dengan lekat dan senyum yang nakal, hingga membuat Ilona makin salah tingkah.


Ilona belum menjawab, hanya air mukanya yang terbaca.


Igan tertawa saat melihat reaksi dari rekan duetnya itu.


"Kenapa?" Tanya Ilona.


"Enggak ... enggak apa-apa kok." Sahutnya sambil berusaha menahan tawa.


Ilona teringat akan postingannya tadi saat berswafoto di taman rumah orang tua Igan. Ia segera mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu dengan cepat membuka salah satu media sosialnya dimana ia memposting foto.


Waduh, udah rame aja nih yang komentar! Pekik Ilona dalam hati.


Ia berpikir untuk menghapus postingannya itu, namun belum sempat ia lakukan tiba-tiba saja mobil Igan mengerem mendadak hingga membuat ponselnya terpelanting jatuh ke lantai mobil.


"ADUH !!!" Pekik Ilona.


"Sori-sori, itu di depan ada yang naik motor asal aja jalannya." Ujar Igan sambil membuka pintu mobilnya dan keluar.


"Gan, mau kemana?" Tanya Ilona kemudian menyusul Igan keluar mobil.


"Maaf Mbak, saya enggak sengaja. Habis Mbak naik motornya asal sih, main potong jalur aja." Ujar Igan sambil membantu pengemudi motor matic itu membetulkan posisi motornya yang roboh.


Gadis ber-helm itu membuka kaca helmnya, lalu meminta maaf kepada Igan.

__ADS_1


"Maaf Mas, saya yang salah. Saya buru-buru banget, maaf ya? Mobil Mas enggak apa-apa kan?" Ujar gadis itu.


Igan menoleh ke arah mobilnya, tampak lecet di bagian samping depan mobilnya.


"Hmm ... ada lecet sih itu, tapi ya udah lah enggak apa-apa. Mbak gimana? Coba di-starter motornya, takut ada masalah habis jatuh tadi."


Gadis itu coba men-starter motornya, dan ternyata tidak ada masalah. Hanya lecet-lecet di bodi motornya.


"Alhamdulillah bisa kok Mas." Sahut gadis itu sambil menunggangi motornya.


"Eh-eh, mau kemana kamu?! Mau kabur gitu aja!" Seru Ilona tiba-tiba seraya mendekati gadis itu.


"Maaf Kak tapi saya buru-buru banget." Sahut gadis itu.


"Terus ini urusan mobilnya gimana?? tanggung jawab dong!" Hardik Ilona.


"Lon, udah lah enggak apa-apa. Lecet dikit doang kok, udah biarin aja dia." Tegur Igan.


"Enggak bisa dong Gan, nanti kebiasaan orang-orang kayak gini main kabur-kabur aja!" Cerocos Ilona dengan emosi.


"Saya bukannya mau kabur Kak, tapi kalau sekarang saya belum ada uang untuk ganti biaya mobil itu, motor saya aja lebih banyak lecetnya tuh." Ujar si gadis.


"Soal motor kamu ya salah kamu sendiri lah, siapa suruh naik motor kayak orang mabok!" Omel Ilona tanpa ampun.


"Lon, udah sana masuk ke mobil! Kamu malah bikin macet jalanan kalo ngomel terus begitu." Tegas Igan.


"Tapi Gan ...."


"Udah sana masuk, biar ini aku yang urus."


Ilona menatap tajam ke arah gadis itu sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam mobil dengan wajah cemberut.


Dari dalam mobil, Ilona memperhatikan Igan dan gadis itu sedang berbicara. Ada rasa tak suka bahkan marah yang mengaduk-aduk perasaannya, ia cemburu.


"Ya sudah Mbak barangkali mau jalan enggak apa-apa kok, tapi lain kali hati-hati ya?" Ujar Igan.


"Itu mobilnya gimana Mas? Saya jadi enggak enak karena enggak bisa ganti rugi, tapi saya beneran enggak punya uang Mas. Ini ada uang sedikit sisa beli obat Ayah saya." Ujar gadis itu seraya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dan lima ribuan dari dompetnya.


"Oh, enggak usah Mbak, simpan aja." Tolak Igan dengan sopan.


"Tapi istrinya pasti nanti marah-marah."


"Istri?" - Igan mengernyitkan dahi, lalu tersenyum. - "Dia bukan istri saya, cuma teman."


"Oh ...." - gadis itu melihat arloji di tangan kirinya - "Maaf Mas, saya duluan ya? Ayah saya pasti nungguin obatnya di rumah. Sekali lagi saya minta maaf." Ujarnya tergesa seraya menaiki punggung matic-nya dan bersiap berlalu.


"Enggak apa-apa. Jangan ngebut lagi Mbak!" Seru Igan yang direspon anggukan dan senyuman oleh gadis itu.


Igan terpana melihat senyumannya, namun ia segera menepis dan beranjak kembali ke mobilnya.


"Asik banget ngobrolnya, sekalian janjian nonton apa gimana sih?" Sambut Ilona sinis saat Igan mulai duduk di belakang kemudi.


"Iya." Sahut Igan singkat kemudian mulai melajukan mobilnya untuk kembali pulang.


Ilona membulatkan matanya sambil menatap Igan yang tampak tak peduli. Ilona semakin dongkol kepada gadis itu, entah siapa namanya.


Di tempat berbeda, tepatnya di sebuah rumah sederhana tampak seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahunan sedang terbaring lemah di sebuah dipan.


Ia tampak terbatuk-batuk dan menggigil. Hanya sehelai sarung yang mendekap untuk memberikan sedikit rasa hangat pada tubuhnya yang kurus.

__ADS_1


"Tia kemana ya, kok belum pulang juga?" Ia bertanya sendiri sambil menatap ke arah pintu kamarnya.


Kasihan Tia, dia harus capek ngurus aku disela-sela waktunya kuliah dan kerja paruh waktu. Kalau saja aku tidak tertipu bujuk rayu Maya, mungkin keadaan tidak akan begini jadinya. Sesalnya dalam hati hingga membuat bulir air bening menetes di ujung mata tuanya.


Dari luar rumah terdengar suara deru motor matic yang familiar di telinganya, "Itu pasti Tia. Syukurlah akhirnya dia pulang juga." Ujarnya lirih.


"Assalamu'alaikum Yah ...." Ucap gadis yang genap berusia dua puluh satu tahun itu seraya membuka gagang pintu dan beranjak masuk.


"Wa'alaikum salam ... Kamu sudah pulang Nak?"


"Sudah Yah. Sekarang Ayah sarapan bubur ayam dulu baru minum obatnya ya?" Ujar Tia ketika sudah berada di samping Pak Taufan, Ayahnya.


"Maafin Ayah ya Nak, kamu sama kakakmu jadi repot harus ngurusin Ayah."


"Jangan ngomong begitu dong Yah, Tia sama Kak Hendra kan anak Ayah."


"Iya, tapi Ayah enggak bisa cari nafkah buat kalian. Lusa kan kamu wisuda, nanti Ayah enggak bisa ikut hadir."


"Ayah enggak usah mikirin soal itu, yang penting buat Tia sama Kak Hendra tuh lihat Ayah sehat. Udah, Ayah enggak usah mikir macam-macam, sarapan terus diminum obatnya ya?" Sahut gadis bernama lengkap Celestia Amanda itu seraya tangannya sigap menyiapkan sendok dan gelas yang berisi teh hangat untuk sang ayah.


Tia pun ikut menemani sarapan bersama Ayahnya di kamar tersebut, namun baru beberapa sendok ia menyuapkan bubur ke mulutnya tiba-tiba ponselnya berdering.


Ia segera merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.


"Dari Kak Hendra, Yah." Ujar Tia kepada Ayahnya.


Pak Taufan mengangguk pelan kemudian kembali menyuap bubur ke mulutnya.


"Assalamu'alaikum Kak." Sapa Tia saat menerima telepon.


"Wa'alaikum salam, kamu sama Ayah udah sarapan belum Dek?" Tanya Hendra dari seberang telepon.


"Ini lagi sarapan Kak. Kak Hendra udah belum?"


"Kakak nanti sekalian kalau mau berangkat kantor. Oh iya Dek, Kakak kirim uang ke rekening kamu barusan, coba kamu cek."


"Wah, alhamdulillah ... Kakak tau aja kalo Tia uangnya hampir habis, hehe ...."


"Kakak kebetulan kemarin dapat reward dari bos gara-gara berhasil menggagalkan upaya pembobolan brankas kantor. Makasih ya Dek, untung kamu cepat kasih tau Kakak."


"Sama-sama Kak, Tia cuma bisa bantu yang Tia bisa. Oh iya, lusa Kakak bisa hadir kan di acara wisuda Tia?"


"Insya Allah bisa, mulai besok dua hari Kakak ambil cuti terus pulang ke rumah."


"Yes!!! Makasih ya Kak, Tia udah enggak sabar pengin cepat lulus kuliah."


"Iya, sama-sama ... Oh iya, Ayah lagi ngapain Dek?Kakak mau ngobrol sama Ayah dong?"


"Ayah masih sarapan, Kak."


"Coba Kakak mau ngomong sebentar."


"Yah, Kak Hendra mau ngomong." Ujar Tia seraya menyodorkan ponselnya kepada sang ayah.


Pak Taufan menerima ponsel Tia lalu hendak mulai berbincang dengan putra sulungnya yang sudah bekerja sebagai staf keamanan di perusahaan Erlangga.


Namun ketika hendak bicara, tiba-tiba Pak Taufan batuk-batuk hingga tak sadarkan diri.


Ponsel Tia pun terjatuh ke kasur seiring dengan ambruknya tubuh Pak Taufan.

__ADS_1


"AYAH ...!!!" Pekik Tia sembari menghambur mendekati ayahnya.


***


__ADS_2