
Ponsel Tia berdering ketika ia sedang menyantap nasi lengko suapan terakhir di piringnya.
"Siapa?" Tanya Igan.
"Pak Rey!!" Seru Tia, agak panik ketika menatap layar ponselnya.
"Udah enggak usah diangkat! Telan dulu itu makanannya, terus minum. Jangan buru-buru, nanti tersedak." Ujar Igan, santai.
"Kita udah kelamaan ya Mas ngobrolnya di sini? Pantesan Pak Rey sampai telepon segala! Aduh gawat, jangan-jangan Pak Rey marah nih!" Ujar Tia seraya bergegas minum dan membawa makanan yang sudah ia beli untuk Rey.
"Siapa dia berani marah-marahin teman baik Igan?" Celetuk Igan.
"Udah deh Mas, jangan nambahin ribut! Saya duluan ke atas ya? Mas Igan hati-hati di jalan nanti pulangnya." Ujar Tia, gugup.
Tia berjalan cepat meninggalkan Igan yang masih duduk di tempatnya dan menatapnya hingga Tia tak lagi tampak di belokan tangga yang menuju ke lantai dua, dimana Hendra dirawat.
Igan geleng-geleng kepala, ia menyayangkan momen indahnya bercanda bersama Tia harus berakhir karena telepon dari Rey.
Si Rey itu bikin kacau aja! Gerutu Igan dalam hati.
Ketika Igan menoleh ke meja hendak mengambil ponselnya yang masih tergeletak, ia terkejut karena melihat dompet Tia tertinggal di atas meja.
Igan segera mengambil dompet Tia dan juga ponselnya, kemudian bergegas menyusul gadis cantik itu ke lantai dua.
Di lantai dua, beberapa meter lagi menuju ruangan Hendra, tampak Rey sedang menunggu Tia di depan pintu ruangan. Wajahnya tampak memendam kekesalan namun ia tahan.
"Ma-maaf Pak Rey, saya beli makanan terus makan dulu di kantin." Ucap Tia gugup seraya mengangkat jinjingan tas plastik transparan berisi nasi bungkus dan air minum yang ia beli di kantin tadi.
"Kenapa harus makan dulu di sana? Kamu enggak tahu kalau saya nungguin kamu?" Tukas Rey.
"Iya Pak, maaf. Saya ... tadi sudah lapar." Sahut Tia dengan menunduk.
"Jangan marahin Tia, saya yang ajak dia makan dulu di kantin." Ujar Igan tiba-tiba.
Tia menoleh ke belakang, tampak Igan dengan napas yang sedikit memburu karena mengejarnya dengan berlari menaiki tangga.
"Mas Igan, ngapain lagi ke sini? Bukannya mau pulang?" Tegur Tia dengan mimik wajah seolah memberi isyarat agar Igan segera pergi, untuk menghindari cekcok dengan Rey.
__ADS_1
Namun Igan justru semakin mendekati Tia dengan langkah santainya dan melipat kedua tangannya di belakang punggung.
Tia semakin gugup sekaligus panik, ia tak mau dua lelaki itu buat onar di rumah sakit. Ia pun berlari mendekati Igan untuk bicara dan memintanya segera pulang.
"Mas Igan tolong pulang aja ya? Pak Rey lagi kesel banget sama saya, jangan sampai Mas Igan memperkeruh suasana." Pinta Tia saat sudah berada tepat di hadapan Igan.
Igan tersenyum lalu menunjukkan sebuah benda yang dari tadi ia bawa di belakang punggungnya.
"Kamu jangan jadi ceroboh cuma gara-gara dia telepon. Ini dompet kamu kan? Tadi ketinggalan di meja kantin." Ujar Igan seraya menyodorkan dompet itu kepada Tia.
"Oh iya ... saya beneran lupa! Makasih banyak ya Mas?" Ucap Tia, girang.
"Sama-sama."
"Masih kurang ngobrolnya di kantin tadi?" Tegur Rey yang masih berdiri menatap mereka dengan kesal.
"Ya udah Mas, saya ke sana dulu ya?" Pamit Tia.
Igan mengangguk, lalu membiarkan Tia menjauh dan menuju ke ruang perawatan Hendra dimana ada Rey yang sedang menantinya.
"Kamu masuk aja dulu." Perintah Rey pada Tia.
Duh, Mas Igan nekat banget sih! Udah disuruh pulang juga, masih aja di situ! Gerutu Tia dalam hati.
Ia pun masuk ke dalam ruangan Hendra sambil menoleh ke belakang dengan wajah cemas.
Rey berjalan mendekati Igan. Ia menarik lengan Igan namun dengan sigap Igan hempaskan.
"Saya hormati Mas Igan ini sebagai putra mahkota di perusahaan Erlangga, dan kelak bakal memimpin perusahaan dimana saya bekerja. Tapi untuk urusan hati, saya tidak bisa tolerir. Siapapun yang saya anggap bisa kacaukan rencana saya untuk bersanding dengan Tia, bakal saya lawan ... termasuk Mas Igan!" Tukas Rey dengan nada menohok.
Igan tersenyum, ia mengajak Rey berjabat tangan.
"Saya terima tantangan Anda, Pak Rey yang terhormat! Saya enggak pernah takut bersaing dengan siapapun, termasuk Anda. Asalkan kita bersaing secara sehat." Timpal Igan dengan percaya diri.
"Ingat Mas Igan, stempel buruk Anda ada di tangan saya! soal tadi pagi Anda suruh si Jack buat ngerjain saya. Apa Anda yakin Tia bakal respect?" Ujar Rey dengan senyum menyeringai.
Igan tertawa kecil mendengar ucapan Rey yang mengandung ancaman itu.
__ADS_1
"Anda ancam saya? Anda lupa kalau Anda kerja di mana?" Tanya Igan.
Rey terdiam, ia tahu bahwa sikapnya terlalu nekat namun ambisinya untuk bisa mendapatkan Tia mengalahkan akal sehatnya.
"Saya rela resign demi Tia. Lagi pula ... apa Anda paham dunia bisnis, Mas? Saya rasa enggak, Anda cuma paham dunia panggung kan? Sudah lah, fokus saja di bidang itu, jangan ganggu hubungan saya dengan Tia!"
Igan mengernyitkan dahi, lalu tersenyum.
"Sebaiknya Anda pikirkan dari sekarang, akan melamar kerja di mana lagi setelah ini. Karena saya akan memimpin perusahaan Erlangga dalam waktu dekat." Gertak Igan.
Rey terhenyak, ia tak menyangka Igan akan menjawab seperti itu. Namun ia berusaha tenang dan berbalik badan untuk masuk ke dalam ruangan Hendra.
Dalam waktu dekat?? Hah, mustahil! Dia aja jarang banget ke kantor, gimana bisa mimpin perusahaan besar dalam waktu dekat? Cemooh Rey dengan sombong.
Rey terus berjalan masuk ke dalam ruang inap Hendra tanpa peduli Igan yang masih berdiri menatapnya. Setelah Rey masuk dan menutup pintu, Igan pun beranjak menuruni tangga dan menuju area parkir untuk pulang dengan mobilnya.
"Tia, sebaiknya kamu jangan terlalu akrab sama Mas Igan." Ujar Rey.
"Loh, kenapa Pak?" Tanya Tia.
"Dia itu artis, banyak ceweknya, kehidupannya juga bebas dan enggak teratur. Kamu jangan mau digombalin sama dia."
"Pak Rey tahu darimana??"
"Ya tahulah, saya kan sudah kerja lebih lama di perusahaan Erlangga, jadi tahu banyak hal soal si putra mahkota yang tengil itu."
Pak Rey kelihatan banget enggak sukanya sama Mas Igan, sampai se-niat itu mau jatuhin namanya. Ujar Tia dalam hati.
"Oh iya, kamu enggak ambil baju di rumah?" Tanya Rey, mengingatkan.
"Iya Pak, saya mau ambil baju. Pak Rey silakan makan ya? Saya pulang dulu mau ambil baju."
"Kamu mau pulang sekarang? Nanti dulu, biar saya anterin aja habis saya makan."
"Enggak usah Pak, saya bisa naik ojol kok. Lagian ... jaraknya juga enggak jauh dari sini."
"Sudah, saya anterin aja."
__ADS_1
Rey bersikeras ingin mengantar Tia pulang. Tia pun akhirnya setuju sekalian ia mau membuka kotak hadiah yang Rey beri tempo hari.
***