
Mobil Jio tampak memasuki halaman rumah Erlangga, kemudian bergegas menuju pintu utama rumah megah tersebut.
"Masuk, Bro!" seru Igan dari dalam ruang tamu, ia tampak sudah menunggu kedatangan sang manajer.
Jio bergegas masuk lalu duduk di kursi, tepat di sebelah Igan.
"Gue udah dapetin alamat rumah cewek yang ngaku-ngaku hamil itu, nih!" ujar Jio penuh semangat, sembari menyodorkan secarik kertas bertuliskan sebuah alamat.
"Good job! Soalnya admin akun gosip yang nyebarin berita itu bilang ke gue waktu gue hubungi, katanya dia cuma dapet kiriman foto dan video pengakuan cewek itu dari nomor yang enggak dikenal. Tapi pas mau dikonfirmasi, nomornya udah enggak aktif." ujar Igan.
"Udah tau dapet infonya misterius gitu, belom tentu bener juga, malah tetep diposting! Gue sih enggak yakin sama pengakuannya." timpal Jio.
"Ya udah, makanya mendingan kita cepet bertindak aja biar cepet ketauan biang kerok masalah ini." sahut Igan.
Jio mengangguk setuju. Mereka pun berunding untuk menentukan langkah selanjutnya yang harus mereka tempuh untuk menyelesaikan masalah fitnah itu.
Beberapa waktu berlalu, pihak Igan sudah berulang kali melayangkan teguran kepada wanita yang mengaku hamil atas perbuatan Igan, namun tetap tak mendapat tanggapan.
Atas saran dari kedua orang tuanya, akhirnya Igan mantap melaporkan wanita tersebut ke pihak berwajib dengan tuduhan pencemaran
nama baik.
Setelah Igan melakukan laporan ke kepolisian, keesokan harinya wanita itu muncul ke media didampingi seorang pengacara.
Melalui kuasa hukumnya, wanita itu mengaku jika ia memang salah seorang penggemar Igan. Saat ia bertemu sang idola, ia meminta foto bersamanya.
Menurutnya, Igan mengajak berkenalan kemudian mereka menjadi dekat. Igan juga sempat merayu agar hubungan mereka tak hanya sebatas artis dan penggemar. Ia mengaku dirayu akan dinikahi oleh sang idola.
Namun, setelah hubungan mereka sudah semakin dekat dan bahkan kelewat batas, Igan justru mendekati wanita lain dan berpura-pura tak mengenalnya.
Mendengar pernyataan penuh kebohongan dari wanita itu, membuat Igan sangat geram. Ia langsung meminta dipertemukan oleh wanita itu untuk membeberkan fakta dan membuktikan jika dirinya tak bersalah.
Bulan yang mendampingi putranya sekaligus sebagai kuasa hukum menghubungi kuasa hukum wanita tersebut untuk melakukan pertemuan dengan disaksikan oleh beberapa penegak hukum sebagai saksi.
Diwakili kuasa hukumnya, wanita yang mengaku bernama Kay itu menolak pertemuan tersebut dengan alasan kesehatan yang sedang terganggu.
Namun pihak Bulan dan Igan tak percaya begitu saja karena saat wawancara di media, Kay tampak sangat bugar dan dapat dengan jelas berbicara di depan wartawan.
Dengan mengajak Jio, Igan dan Bulan berangkat menuju alamat Kay yang sudah mereka kantongi.
Setibanya di sana, Igan, Bulan dan Jio agak terkejut melihat kondisi rumah yang mereka datangi. Mereka pun sempat takut kalau salah alamat, karena merasa janggal jika seseorang dengan kondisi rumah macam itu mampu membayar seorang pengacara.
Namun mereka bertiga tetap menghampiri pintu kayu bercat agak pudar dengan keadan dinding bagian luar sudah banyak yang retak, bahkan rapuh.
"Ini bener rumahnya, Bro?" tanya Igan, tak yakin.
"Dari alamatnya sih bener, terus tadi kan kita juga sempet nanya ke ketua RT nya. Ya bener lah berarti." sahut Jio.
"Coba saja ketuk dulu pintunya, Nak." saran Bulan.
Igan pun menurut, ia segera mengetuk pintu yang terlihat sudah agak usang itu. Beberapa kali diketuk sampai akhirnya terdengar sahutan suara perempuan dari dalam rumah.
Pintu terbuka, tampak Kay yang membukakan pintu. Ia terlihat sangat terkejut sekaligus ketakutan melihat kedatangan Igan, Bulan dan Jio.
__ADS_1
"Ke-kenapa kalian datang ke sini? Dari mana tau alamat rumah saya?" tanya Kay dengan gugup dan wajah yang panik.
"Kami berbaik hati datang ke sini supaya kamu enggak perlu repot-repot keluar rumah, kan katanya ... kamu lagi sakit?" sahut Bulan dengan tenang dan tersenyum.
Sebuah senyuman manis penuh arti, namun sangat mematikan di mata Kay.
"Boleh kami masuk? Supaya obrolan kita bisa lebih leluasa." tanya Igan, santai dan tenang.
"Kamu kok panik gitu? Takut liat kedatangan kami?" celetuk Jio.
"Kalian bertiga, saya kan cuma sendirian di sini. Kalian mau ngeroyok saya?" ujar Kay.
"Maaf Mbak Kay, kami bukan preman. Kami datang kemari untuk minta penjelasan soal pernyataan kamu di media tempo hari." timpal Bulan.
"Ta-tapi, harusnya kalian bilang dulu ke pengacara saya kalau mau datang ke sini!" omelnya, panik.
"Kalo kami bilang dulu, pasti kamu bakal banyak alasan lagi buat menghindar. Tempo hari kami langsung hubungi Bang Oliver, pengacara kamu supaya bisa langsung ketemu dan bicara sama-sama. Tapi apa? Katanya kamu lagi sakit. Apa sekarang kamu masih sakit?" sahut Jio, menohok.
"Iya, memang tempo hari saya sakit, ng ... enggak enak badan gitu!" ujar Kay.
Bulan tak banyak bicara, ia hanya mengeluarkan ponselnya lalu mulai menelepon seseorang.
"Pokoknya saya enggak bisa terima kalian berkunjung tanpa didampingi pengacara saya, mending kalian pergi!" usir Kay.
"Halo, Oliver? Bisa cepat datang ke rumah klien kamu yang lagi hamil? Kita ketemuan, sekarang. Saya tunggu!" suara Bulan sontak membungkam mulut Kay dan membuat suasana hening seketika.
"Ke-kenapa nyuruh Bang Oliver datang kemari juga sih??" omel Kay.
Bulan mengerutkan dahi, "Lho, bukannya kamu minta supaya ada dia kalau kami mau bicara sama kamu? Makanya saya langsung telepon Oliver supaya cepat ke sini." ucapnya.
"Oliver itu junior saya, bahkan dia minta bimbingan saya waktu magang." sahut Bulan dengan menatap tajam ke arah Kay.
Kay terhenyak, ia tak menyangka jika sedang berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih berkelas.
"Duduk sini dulu yuk? tuan rumahnya terlalu sopan sih, ada tamu malah enggak disuruh masuk!" ajak Jio pada Igan dan Bulan agar duduk di lantai teras, sembari menyindir Kay.
"Kamu beneran tinggal sendiri di sini?" tanya Igan.
"Iya." sahut Kay dengan wajah cemas.
Igan menatap Kay dengan seksama, ingatannya seperti memutar sesuatu tentang wajah itu.
Kay merasa takut dan risih, ia pun bergegas balik badan dan hendak masuk.
"Eh, sebentar!" seru Igan, mencegah Kay masuk.
Igan segera menghampiri Kay yang sudah berada di ambang pintu.
"Kamu ... cewek yang minta selfi sama saya waktu lagi nunggu martabak ya? Saya baru ingat sekarang pas liat langsung wajah kamu." tanya Igan sambil terus memperhatikan wajah Kay.
Kay salah tingkah, ia berusaha menghindari tatapan mata Igan dengan terus memalingkan wajahnya.
"Kenapa menghindar begitu? Liat saya!" seru Igan.
__ADS_1
Jio langsung menghambur mendekati Igan, ia berusaha menenangkannya.
"Tenang Bro, tahan emosi lu. Jangan sampe dia punya dalih buat jatuhin lu pake perkara lainnya. Sabar ...." bisik Jio. sembari menarik lengan Igan menjauh dari Kay.
Igan coba mengatur napas untuk menstabilkan emosinya, namun tatapan tajam tetap tertuju pada Kay.
"Gue baru inget, Bro! Dia itu emang cuma minta foto sama gue tapi gayanya tuh nyebelin banget! Gue udah minta dia hapus fotonya, dan dia bilang udah. Tapi kenapa masih ada dan malah nyebar ke media??" seru Igan.
"Nah, coba tuh kamu jawab!" tukas Jio pada Kay.
Kay salah tingkah dan kembali mengalihkan pandangan ke arah lain, "Saya ... saya enggak ngerasa kok!" elaknya.
"Bohong!!!" seru Igan dengan lantang.
"Nak, udah-udah. Nanti kita omongin baik-baik aja di dalam kalo Oliver datang." bujuk Bulan.
Igan menurut, ia kembali mencoba untuk menahan emosi. Tetapi mereka sudah menunggu sekitar setengah jam, namun Oliver tak kunjung datang.
"Bun, pengacaranya enggak dateng-dateng, mau nunggu sampe kapan kita?" desak Igan.
"Sebentar, bunda telepon dia lagi."
Bulan kembali mengambil ponselnya, lalu coba menelepon Oliver. Wajahnya tampak sangat serius.
"Kay, mendingan kamu terus terang aja sama kami. Tujuan kamu apa bikin berita hoax begitu?" tanya Jio dengan tegas namun tenang.
Sementara itu Bulan yang mencoba menghubungi Oliver belum juga berhasil tersambung, ia mengirim pesan teks pada pengacara juniornya itu untuk menanyakan keberadaannya.
"Masih enggak mau jawab?" desak Jio dengan suara sedikit meninggi karena tak sabar melihat reaksi Kay yang hanya membisu.
Ketika Jio sedang berusaha mendesak Kay untuk buka mulut, tiba-tiba terdengar suara deru motor yang mendekat dan berhenti tepat di depan rumah Kay.
Sontak semua mata tertuju pada seorang lelaki yang turun dari motor ojol. Lelaki berusia hampir tiga puluh tahun itu membayar ongkos ojeknya lalu melangkah mantap ke depan rumah.
Mata Kay membelalak ketika melihat lelaki berpostur tegap dan bertato itu.
"B-b-bang Viktor?" ucap Kay dengan tergagap.
Lelaki yang disebut Viktor itu terus melangkah hingga berada tepat di depan Kay.
"Siapa mereka? Kenapa banyak orang di rumah kita?" tanya Viktor dengan suaranya yang berat.
"Me-mereka itu ...." sahut Kay, ketakutan.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Jio pada Viktor.
Viktor menajamkan mata, menatap dalam ke arah Jio. Jio terlihat agak gentar melihat tatapan Viktor.
Sumpah ni orang ngeliat gue kayak mau nyaplok aja! batin Jio.
"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu, tapi kami ada urusan dengan dia." ujar Bulan dengan tenang namun berwibawa, sembari menunjuk ke arah Kay melalui isyarat mata.
Viktor menoleh menatap Kay, tatapannya penuh selidik hingga membuat Kay gugup dan panik.
__ADS_1
****