
Tia yang sudah keluar dari toilet pun kembali masuk ke dalam ruang divisinya. Seluruh mata menatap ke arahnya, seperti ingin memastikan ia baik-baik saja.
"Aku mau resign." ucap Tia tiba-tiba, saat masih berdiri di
Para seniornya di ruangan itu sontak menoleh dan membelalak, mereka tampak tak percaya.
"Ti, jangan gegabah deh kamu. Cari kerjaan tu susah tau! Lagian kamu kan baru kerja di sini belum lama, masa mau resign? Ada masalah apa sih?" ujar Tami.
"Aku ... pengin suasana baru aja." sahutnya, berdusta.
"Kata gue sih, alasan lo terlalu klise Ti." celetuk Gugun.
"Bodo amat, enggak peduli gue!" tukas Tia seraya berjalan ke meja kerjanya.
Matanya mulai fokus menatap layar komputer sambil
tangannya lincah menggerakkan mouse.
Teguh mendekat ke meja kerja Tia, ia menghentikan gerak tangan Tia yang sedang menggerakkan mouse untuk mengirimkan surat pengunduran dirinya.
"Stop, Tia! Kita enggak setuju kamu resign secepat ini tanpa tau alasan jelasnya." cegah Teguh.
"Apa semua keputusan harus pakai alasan??" tanya Tia.
"Harus!!" jawab para staf itu, serentak.
Tia terdiam, ia pun menatap rekan-rekan kerjanya itu satu persatu.
"Sori, tapi ... soal ini aku enggak bisa cerita ke kalian semua." ucap Tia.
"Ya udah kalo gitu, stop mikirin resign! Pak Rey juga lagi enggak ada di sini, jadi lo enggak bisa ngajuin resign begitu aja." ujar Gugun.
Tia menghela napas dalam-dalam, ia pun akhirnya menutup kembali halaman lembar surat pengunduran dirinya itu dan meneruskan pekerjaannya yang tadi tertunda.
*
Keesokan harinya, Tia datang ke kantor di jam yang biasanya ia datang. Setelah mengisi presensi melalui finger scanner, ia langsung menuju ke ruang kerjanya.
Setibanya di ruangan, langkahnya mendadak terhenti dan terhenyak seketika. Ia melihat Rey sudah berada di dalam ruang divisi itu, sedang duduk menatap layar komputernya.
Kenapa dia udah dateng sih? Gue lebih ngerasa nyaman kalo dia enggak ada di sini! batin Tia.
Dengan berusaha tak acuh, Tia melangkah masuk. Rey menyadari keberadaan Tia lalu menatapnya, mengikuti setiap langkah gadis itu hingga duduk di kursinya.
"Pagi, Tia." sapa Rey, ramah.
Tia menoleh, ia melihat Rey menatapnya sambil tersenyum.
"Pagi juga, Pak." sahut Tia, ketus.
Rey tersenyum getir, "Gimana kerjaan kemarin, lancar?" tanya Rey, berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
"Lancar." sahut Tia, singkat.
Rey manggut-manggut, ia bingung hendak bicara apa lagi karena melihat sikap Tia yang ketus padanya.
"Kebetulan Anda dateng ke kantor, ada yang mau saya sampaikan."
Dahi Rey berkerut, "Apa?" tanya Rey, penasaran.
"Saya mau ajukan resign. Kemarin saya sudah buat suratnya, tinggal saya cetak dan Anda setujui."
"Kenapa saya harus setuju?"
"Karena walaupun Anda tidak setuju, saya akan tetap resign."
"Saya tau ... kamu resign itu karena enggak mau terus ketemu saya kan? Tapi ... kamu enggak perlu repot-repot, Ti."
Sekarang gantian Tia yang dahinya berkerut.
"Iya, kamu telat." ujar Rey, santai.
"Telat? Maksud Anda??"
"Iya, soalnya saya yang sudah mengajukan resign duluan ke Pak Bintang dan Pak Irwan. Jadi ... kamu enggak perlu resign, Tia."
Tia terhenyak, ia tak menyangka jika Rey pun memikirkan hal yang sama dengannya namun ia sudah lebih dulu bergerak.
"Apa?" tanya Tia, lirih.
Tia kembali terhenyak, ucapan Rey terasa begitu menohok di hatinya.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi ... apa rencana Pak Rey selanjutnya selepas resign dari kantor ini?" timpal Tia.
Rey tersenyum sinis, "Enggak usah sok peduli sama saya, lagian juga ... itu bukan urusan kamu."
"Hmmm ... enggak usah GR Pak, saya juga cuma basa-
basi kok." tukas Tia seraya berjalan menuju meja kerjanya tanpa senyum sedikitpun.
Rey sontak mengatupkan kedua bibirnya yang semula tersenyum sinis pada Tia, ia tak menyangka jika Tia bisa bicara sepedas itu padanya.
Satu demi satu staf pun mulai berdatangan, mereka menyapa sang kepala divisi.
Pak Irwan yang juga baru datang, mencari Rey di ruangan.
"Oh, Pak Rey sudah datang rupanya?" ucap Pak Irwan ketika melihat Rey yang tengah duduk di kursinya.
"Iya, Pak. Bagaimana, apa permohonan saya disetujui?" sahut Rey lanjut bertanya.
"Oh, kalau soal disetujui atau enggaknya itu ... urusannya Pak Bintang. Saya enggak ada wewenang mutlak, Pak." sahut Pak Irwan sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau gitu nanti saya minta persetujuan langsung dari Pak Bintang." ucap Rey.
__ADS_1
Para staf pun saling pandang dengan tatapan heran, kecuali Tia.
"Ya sudah, nanti jangan lupa ke ruangan Pak Bintang seperti yang sudah dibicarakan kemarin ya, Pak?" ujar Pak Irwan mengingatkan, sebelum ia kembali ke ruangannya.
Rey mengangguk mantap, lalu menatap para stafnya dan tersenyum.
"Kenapa kalian, kok ngeliatinnya kayak gitu?" tanya Rey.
"Pak Rey mau resign juga??" tanya Tami dengan dahi berkerut.
"Cuma saya kok yang mau resign, di antara kalian enggak usah ada yang ikut-ikutan." sahut Rey.
Mendengar jawaban Rey, mereka dengan kompak menoleh ke arah Tia hingga membuat Tia harus mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Tia juga sudah buat surat pengunduran diri. Kenapa Pak Rey dan Tia punya rencana yang sama di waktu berdekatan? Apa ... Pak Rey sama Tia lagi ada masalah?" tanya Teguh, memberanikan diri.
Rey menatap serius ke arah Teguh beberapa saat, sebelum akhirnya ia tersenyum penuh arti sambil menimpali ucapan Teguh.
"Sejak kapan kamu jadi kayak netizen yang suka sangkut-pautkan segala sesuatu, Guh? Kalaupun ada masalah di antara saya dan Tia, itu juga bukan urusan kamu." sahut Rey, santai namun menohok.
Mendengar jawaban menohok dari Rey, membuat yang lainnya enggan berkomentar.
"Saya cuma pengin mulai jadi seorang wirausahawan, makanya saya memutuskan resign." imbuh Rey, meyakinkan.
Suasana ruang divisi itu sejenak hening, kemudian berdering telepon di meja kerja Rey. Pria berkaca mata itu segera mengangkatnya.
Ia tampak bicara sebentar kemudian pamit untuk ke ruang sang pimpinan perusahaan, sedangkan para staf mulai melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
Sekitar tiga puluh menit berselang, Rey kembali ke ruang kerjanya dengan wajah tenang.
"Nanti sepulang kantor, kalian semua ikut saya ya? Saya mau traktir kalian sebagai tanda perpisahan. Pengajuan resign saya sudah disetujui sama Pak Bintang." seru Rey bersemangat.
Gugun, Teguh, Tami, Jeni, dan Tia sontak menoleh ke arah Rey.
"Di ... setujui, Pak?" tanya Tami, lirih.
"Iya lah, kenapa enggak? Kan saya punya alasan yang tepat buat resign." sahut Rey.
"Terus, yang gantiin Pak Rey siapa? Jeni?" tanya Gugun sambil menoleh ke arah Jeni.
"Kenapa emang kalo gue?" tanya Jeni seraya membulatkan matanya yang sipit.
"Enggak, enggak apa-apa kok." sahut Gugun, meringis.
"Ya udah, pokoknya kalian semua wajib ikut ya nanti pulang kerja. Kita makan seafood di warung makan langganan saya, dijamin mantul!" ujar Rey kemudian memandang ke arah Tia dengan lekat.
Tia ingin sekali menolak ajakan Rey itu, namun ia takut justru akan makin memantik rasa penasaran rekan-rekannya, dan akhirnya ia pun setuju.
Semoga kamu enggak menolak ajakan saya, Ti. Untuk terakhir kalinya sebelum kamu benar-benar melupakan saya dan hubungan kita. Bye, Tia ....
****
__ADS_1