
Tia masih termangu, ia bingung. Rey pun hanya menghela napas dalam-dalam, ia tampak lebih bersabar dan tidak sedikitpun memaksa.
Sembari menuju ke rumah Abah Jalo, Rey menyempatkan untuk memberi kabar pada Jeni selaku wakil kepala divisi dan Pak Irwan selaku kepala divisi HRD bahwa ia dan Tia akan terlambat kembali ke kantor karena suatu insiden.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit berkendara mencari alamat rumah Abah Jalo, akhirnya mereka pun sampai di depan TK Kasih Bunda.
"Nah, ini TK nya. Berarti rumah tukang urutnya di sana. Kamu tunggu dulu ya?" ujar Rey kemudian bergegas turun dari mobil.
Tia hanya menatap Rey berjalan memutari bagian depan mobilnya lalu membukakan pintu mobil di bagian Tia duduk, lalu kembali membopong Tia menyeberangi jalan menuju rumah Abah Jalo.
Tia tampak tersipu karena merasa malu dan tak enak hati diperlakukan istimewa seperti itu oleh Rey, namun ... ia juga tidak bisa berjalan sendiri karena kakinya terkilir.
Setelah memastikan rumah yang dituju adalah benar rumah Abah Jalo, mereka pun mengetuk pintu dan diterima oleh Abah Jalo sendiri.
Tia segera ditangani oleh lelaki berusia sekitar enam puluh tahun itu dengan hati-hati. Dari ekspresi wajah Tia, terlihat kalau ia sangat kesakitan.
Setelah beberapa lama kemudian penanganan kaki Tia selesai sudah. Abah Jalo mempersilakan Tia untuk merilekskan kaki dan tubuhnya dahulu, sebelum ia mencoba untuk kembali menapakkan kakinya di lantai.
"Lurusin aja Neng kakinya di bale, biar rileks dulu." ujar Abah Jalo.
"Iya, Bah."
"Ngomong-ngomong ... Kalian tau darimana kalo Abah bisa ngurut?"
"Oh, tadi ada yang kasih tau ke saya, sekaligus kasih alamat Abah." sahut Rey.
Abah Jalo manggut-manggut, lalu menatap Rey dan Tia secara bergantian saat Rey menanyakan apa yang dirasakan Tia setelah dipijat.
"Sekarang gimana Ti, apa masih sakit kayak tadi?" tanya Rey dengan lembut pada Tia.
Tia menggeleng dan tersenyum. Melihat sikap manis Rey terhadap Tia, membuat Abah Jalo tersenyum.
"Beruntung Neng punya suami kayak Abangnya itu, mana baek, perhatian, cakep, terus keliatan sayang banget tuh sama Neng. Penganten baru ya?" seloroh Abah Jalo, kemudian mengisap sebatang rokok kretek yang baru ia nyalakan.
Tia dan Rey lantas saling menatap lalu keduanya tampak tersipu.
"Doain aja ya, Bah?" sahut Rey dengan tersenyum lebar.
"Oh, berarti belon nikah?" tanya Abah Jalo.
Rey menggeleng, "Saya sih maunya cepet nikah sama dia tapi ... cinta saya aja belum diterima sama dia, Bah." sahut Rey sembari melirik dan tersenyum ke arah Tia, sontak saja membuat kedua pipi Tia merona.
Abah Jalo tertawa, obrolan mereka berlanjut santai sambil menunggu kaki Tia agak membaik lalu mereka undur diri. Walaupun Tia sudah merasa kakinya agak membaik, namun Rey belum mengizinkannya untuk berjalan sendiri.
"Ayo sini saya gendong lagi, kaki kamu belum pulih banget." bujuk Rey.
"Enggak usah lah Pak, saya bisa kok jalan pelan-pelan." tolak Tia.
Melihat Rey dan Tia yang berdebat membuat Abah Jalo terkekeh, "Neng, itu si Abang sayang banget loh sama Neng. Terima aja dah ...." bujuknya.
"Makasih Bah udah dukung saya!" seru Rey seraya mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
Abah Jalo membalas dengan senyuman dan anggukan ke arah Rey, sedangkan Tia tidak menimpali apa-apa.
__ADS_1
"Kami pamit ya, Bah? Permisi ...." pamit Rey.
"Iya, ati-ati ...!!"
"Kalo kamu enggak mau digendong, saya papah aja ya?" ujar Rey pada Tia.
Tia mengangguk pelan, lalu mereka berdua berjalan perlahan dengan posisi Tia dipapah oleh Rey menuju mobil Rey yang terparkir di seberang jalan karena depan rumah Abah Jalo tidak memungkinkan untuk memarkir mobil.
Mobil Rey pun melaju kembali ke kantor, namun mengingat mereka belum makan siang akhirnya Rey mampir ke sebuah rumah makan Padang untuk membeli dua bungkus nasi dan dimakan di kantor.
*
Sesampainya di kantor, kondisi Tia yang berjalan dengan dipapah oleh Rey pun menarik perhatian. Setiap orang yang berpapasan atau melihat mereka pasti menanyakannya.
Begitupun dengan para staf di divisi promosi, tempat mereka berdua bernaung. Jeni, Gugun, Tami, dan Teguh sontak bertanya tentang kronologi kejadian yang menyebabkan kaki Tia terkilir.
"Wah, untung lu langsing ya Ti? jadi Pak Rey kuat gendong lu. Coba kalo bodi lu kayak si Jeni, ...." celetuk Gugun menimpali Rey yang sudah menceritakan peristiwa siang itu.
"Apa lu? Mau bilang gue gendut, hah??" timpal Jeni sambil membulatkan mata sipitnya.
"Enggak kok, baperan banget lu!" timpal Gugun, mengelak.
Jeni memonyongkan bibirnya sambil mendelik ke arah Gugun.
"Berarti nanti kamu pulangnya enggak bisa nyetir motor sendiri dong, Ti. Aku anterin pulang aja gimana?" usul Teguh.
Mendengar itu, Rey lantas menoleh ke arah Teguh dan menatapnya penuh arti hingga membuat Teguh segera menarik kata-katanya.
Rey keluar menuju pantri, mengambil dua buah piring dan sendok untuknya dan Tia.
Sepeninggal Rey menuju pantri, Gugun mulai kasak-kusuk berbisik ke telinga Teguh.
"Eh, Pak Rey makin ketara ya ke Tia? Udah jelas banget keliatan kalo dia naksir Tia." bisik Gugun.
Teguh terdiam, ia bingung harus bicara apa. Ada segelintir rasa perih di hatinya, entah apa namanya. Ia sendiri tak bisa memastikan, mungkin lebih tepatnya ia takut memastikan.
Ya, diam-diam Teguh pun sudah mulai menaruh hati pada Tia. Namun ia berusaha untuk menata hatinya agar tidak benar-benar jatuh hati pada Tia, karena Teguh sebetulnya sudah memiliki tunangan namun hubungan mereka tengah merenggang.
Biarin deh Tia sama Pak Rey, toh gue juga udah punya tunangan. Walaupun hubungan gue lagi ada masalah, tapi gue enggak mau Tia cuma jadi pelarian gue doang. batin Teguh.
*
Jam pulang kantor tiba, Tia tampak menelepon seseorang dan Rey diam-diam memperhatikannya.
"Kamu nelepon siapa, Ti?" tanya Rey.
"Oh, nelepon Kak Hendra, Pak."
"Loh, Hendra bukannya hari ini masih berangkat shift 2? berarti dia ada di parkiran dong?"
"Iya Pak, justru itu saya mau minta Kak Hendra bantuin saya turun."
"Tia ... Tia, kenapa harus manggil yang jauh kalo ada yang deket? Ayo sama saya, saya anterin kamu sampe rumah."
__ADS_1
Tia terperangah, "Ng ... enggak usah Pak, enggak usah. Saya bisa order ojol kok, cuma turun ke bawahnya yang masih susah." tolaknya.
Rey menghela napas, "Ya udah kamu telepon Hendra, suruh dia ke sini." ujar Rey, mantap.
Huff ... syukur deh Pak Rey ngertiin gue! Malu banget gue kalo bolak balik ngerepotin dia, belom lagi nanti takut jadi omongan staf lainnya! batin Tia.
Ia pun segera menelepon Hendra memintanya untuk datang ke ruangannya dan membantunya turun.
Tak lama, Hendra pun datang. Ruang divisi promosi sudah cukup sepi, hanya menyisakan Rey dan Tia.
Hendra langsung membuka pintu ruang divisi promosi itu karena mengira hanya Tia yang belum pulang.
"Oh, Pak Rey belum pulang juga?" tanya Hendra saat melihat Rey masih duduk di kursi kerjanya.
"Saya sengaja nungguin kamu sama Tia, Hen." sahut Rey.
"Kak, bantuin aku turun yuk? telapak kaki ku belum kuat kalo banyak jalan, masih sakit." pinta Tia.
"Lagian kamu kenapa bisa begini sih, Dek? Tadi siang pas Kakak nelepon juga enggak diangkat-angkat, kenapa?" omel Hendra, ia benar-benar tampak cemas.
"Hen, jangan marahin Tia. Semua salah saya, kalo tadi siang saya enggak ajak dia makan siang di sana, mungkin Tia aman sekarang." timpal Rey.
Hendra mengerutkan dahi, ia tak mengerti.
"Hen, saya minta ijin anterin adik kamu pulang. Kasian dia pasti belum bisa nyetir motor sendiri."
"Pak, enggak usah Pak! Saya bisa pake ojol kok nanti." tolak Tia dengan sopan.
"Tolong Ti, jangan nolak. Semua ini tulus saya lakuin, apalagi ... saya memang sayang sama kamu Tia. Saya enggak malu dan segan buat minta restu dan ijin dari kakak kamu."
Tia dan Hendra terdiam, mereka menangkap kesungguhan dari ucapan Rey yang terdengar agak bergetar.
"Tolong Tia, saya sayang banget sama kamu, saya rela lakuin apa aja supaya kamu nerima saya." bujuk Rey seraya mendekat dan berlutut di depan Tia.
Tia dan Hendra terhenyak, ia tak menyangka jika Rey akan melakukan hal itu tanpa malu dan gengsi, demi mendapatkan cinta dari sang pujaan hati.
Tia menengok ke arah Hendra yang masih berdiri di sampingnya, tatapannya seakan meminta jawaban kepada sang kakak apa yang harus ia jawab ke Rey.
"Terserah kamu, Dek. Kakak enggak bisa maksa, keputusan ada di kamu. Satu hal yang Kakak tegaskan, kamu harus bisa jaga diri." sahut Hendra, tegas.
Tia sedikit lega atas jawaban Hendra, walaupun ia belum sepenuhnya yakin apakah sudah mencintai atasannya itu atau belum, tapi setidaknya ia tidak perlu takut dicap sebagai adik pembangkang.
Bismillah, mudah-mudahan jawaban gue enggak salah! batin Tia.
"Karena Pak Rey sudah baik banget ke saya, saya coba untuk menjalani hubungan yang lebih dari sekedar rekan kerja sama Pak Rey. Hmmm ... saya ... saya terima cinta Pak Rey." ucap Tia dengan tersipu.
Seketika raut wajah Rey berbinar bahagia, ia tak menyangka jika akhirnya pernyataan cintanya diterima juga oleh Tia.
"Makasih Tia, makasih Hendra! Saya seneng banget denger jawaban kalian!" ucap Rey, antusias.
Tia dan Hendra tersenyum, namun Hendra hanya tersenyum tipis. "Mudah-mudahan keputusan kamu tepat, Dek!"
***
__ADS_1