
Melihat Teguh yang terdiam menatapnya, membuat Tia geregetan.
"Jawab dong, Mas!" desak Tia.
Teguh pun dengan cepat mengunyah rendang yang masih dalam mulut, lalu menelannya dan meneguk segelas air jeruk hangat.
"Ah kamu, Ti. Orang lagi ngunyah malah disuruh jawab." ujar Teguh, bersungut-sungut.
Tia tersenyum, "Sori deh Mas ... habisnya aku udah enggak sabar pengin tau soal Pak Rey." imbuhnya.
"Hmmm ... oke aku jawab sesuai yang aku tau ya? aku kan enggak mungkin ngarang soal hidup orang. Kamu mau tau soal Pak Rey, tentang hal apanya?"
"Soal pernikahannya, atau mungkin keluarganya? Dia punya saudara yang namanya Susan kah? apa ... mantan pacar?" tanya Tia, antusias.
"Setau aku, Pak Rey emang pernah nikah tapi istrinya meninggal, aku juga lupa nama istrinya siapa. Dulu aku diundang ke resepsinya, tapi ... si pengantin ceweknya enggak ikut duduk di pelaminan. Denger-denger sih ... karena sakit."
Tia berpikir sejenak, makanan yang sudah dipesannya baru sepertiga yang ia makan.
"Hei, mikirnya nanti aja di rumah. Sekarang habisin dulu makan siangnya terus kita balik ke kantor." tegur Teguh, mengingatkan.
Tia terkejut lalu mengangguk. Mereka pun kembali makan sampai habis lalu kembali ke kantor.
Selama di kantor, Tia terlihat lebih banyak melamun. Ia tampak kurang fokus hari itu. Hal itu tentu saja menarik perhatian Rey, karena selain sebagai atasan Tia di divisi, Rey memang menaruh hati pada gadis itu.
"Ti, kamu kenapa sering melamun? Ada masalah?" tegur Rey tiba-tiba, membuat Tia terkejut.
Tia celingukan, ia berusaha mencari jawaban yang masuk akal karena rasanya tidak etis menjawab jujur, tentang apa yang tengah mengganjal pikirannya itu saat jam kantor.
Teguh menatap Tia, ia tahu kalau rekannya itu sedang kepikiran soal Susan dan kalung itu.
Gue pengin banget bisa bantuin Tia, tapi gue enggak tau banyak soal kehidupan pribadinya Pak Rey. batin Teguh.
"Hmmm ... sa-saya ... agak pusing, Pak." sahut Tia, berbohong.
"Kamu pusing? kenapa enggak bilang dari tadi? Ya sudah, kamu istirahat aja dulu di ruang serba guna. Yuk saya anterin?" ujar Rey.
Mendapati Rey yang sangat perhatian kepada Tia, sontak membuat staf lainnya berdehem usil, kecuali Teguh. Ia justru khawatir terhadap Tia walaupun ia belum tahu apa yang harus ia khawatirkan.
"Ehhem-ehhem!!" celetuk Tami dan Jeni sembari menahan tawa.
"Ajak ke mal lebih ampuh deh Pak kayaknya!" celetuk Gugun, meledek.
__ADS_1
"Kamu pusing kenapa Ti? Mau aku anterin balik?" Teguh angkat bicara.
Rey sontak menoleh dan menatap tajam ke arah Teguh, seolah melarangnya berkata demikian.
"Hmmm ... enggak usah-enggak usah, saya udah mendingan kok Pak sekarang." tolak Tia kepada Rey, karena ia melihat reaksi Rey terhadap Teguh.
"Ya sudah, kamu lanjut kerja ya?" ujar Rey.
Tia mengangguk, lalu kembali fokus ke layar komputernya hingga jam pulang kantor.
*
Di tempat berbeda, Ilona tampak sedang menunggu seseorang di sebuah restoran bergaya klasik yang cukup terkenal di ibukota.
Ia tak sendiri, melainkan ditemani oleh Om Bono dan Tante Ratih.
"Kok belum dateng juga, Lon?" tanya Om Bono sambil melihat arlojinya.
"Udah otw kok katanya, mungkin sebentar lagi nyampe Om." sahut Ilona.
Lima menit kemudian, yang mereka tunggu-tunggu pun akhirnya tiba.
"Sore Om, Tante ... Maaf agak telat, biasa lah kena macet. Sori ya, Lon?" ucap Igan sembari menyalami Om Bono dan istrinya, lalu Ilona.
Igan menarik kursi yang ada di antara Ilona dan Om Bono.
Ilona memanggil waiter untuk memesan menu kemudian mereka melanjutkan berbincang santai.
"Wah, makin keren aja kamu Gan! Ayah - Bunda kamu gimana kabarnya? Om udah lama enggak main ke rumah." ujar Om Bono membuka obrolan.
Igan tersipu mendengar pujian Om Bono, "Bisa aja Om. Ayah sama Bunda alhamdulillah sehat-sehat, ayo Om sama Tante mampir ke rumah?"
"Aku enggak diajak, Gan?" protes Ilona.
"Kalo Tante sama Om main ke rumah orang tua Igan ya pasti kita ajakin kamu dong, Sayang ...." timpal Tante Ratih.
Igan tersenyum dan menunduk, ia agak menyesal bicara demikian.
"Gan, Om liat-liat kamu itu sendirian terus. Emangnya ... belum ada gadis yang kamu jadiin pacar?" tanya Om Bono
"Hmmm ... belum ada Om, pada enggak mau mungkin sama saya." sahut Igan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ah, enggak mungkin lah gadis-gadis pada enggak mau sama kamu. Kamu terlalu jual mahal mungkin ya?" tanya Om Bono.
"Enggak kok Om, biasa aja. Cuma ... saya nya emang lagi pengin fokus karir dulu, nanti kalo punya pacar segala ribet. Apalagi yang enggak ngerti kerjaan di dunia entertain."
"Tapi kalo ada sesama artis yang sayang tulus sama kamu gimana, Mas Igan? Kalo sesama artis kan pasti bisa ngertiin pekerjaan masing-masing." timpal Tante Ratih.
"Hmmm ... maksud Tante?" tanya Igan.
"Maksud Tante Ratih itu ... kalo ada gadis yang tulus sayang ke kamu dan sama-sama sebagai artis, kamu mau enggak?" imbuh Om Bono, menjelaskan.
Igan hanya terdiam, ia yakin akan menjawab 'tidak' karena hatinya sudah terpatri oleh sosok Tia, tapi ia juga ragu bisa mendapatkan hati gadis itu karena Rey yang tampak sudah sangat dekat dengan Tia sampai-sampai memberinya cincin.
"Begini Gan, Om kenal gadis yang sayang banget sama kamu, dia itu sering curhat tentang perasaannya ke kamu. Om rasa ... kalian juga serasi kok."
Mendengar ucapan Om Bono sontak membuat Igan mengernyitkan dahi dan bertanya, "Emang siapa, Om?"
Om Bono dan Tante Ratih saling pandang sambil tersenyum, lalu mereka dengan kompak mengarahkan pandangan ke Ilona.
Igan menoleh ke arah Ilona yang duduk di sampingnya, dan menatap heran.
"Maksudnya ... kamu, Lon??" tanya Igan.
Ilona mengangguk mantap dan tersenyum. Entah kenapa Igan begitu terpana oleh senyuman Ilona saat itu.
Ilona cantik banget! Dia keliatan beda banget sih hari ini? batin Igan.
"Gan, aku sengaja atur pertemuan ini buat nyatain perasaanku ke kamu. Aku tuh udah lama suka sama kamu, dan pas kita jadi temen duet ... perasaanku itu makin kuat." Ilona mulai angkat bicara seraya memegang tangan pemuda tampan itu.
Igan hanya terpana menatap Ilona yang sedang memegangi tangannya dengan lembut.
"Gimana Gan, kamu mau kan nerima Ilona? Dia itu cantik, baik, pintar, dan tulus sama kamu. Dan yang terpenting, dia itu keponakan saya. Kamu masih ingat kan awal karir kamu bisa melejit karena siapa?" papar Om Bono panjang lebar.
"Iya Om, saya inget kok. Om Bono kan orang pertama yang langsung gandeng saya jadi penyanyi unggulan di label, dan itu jadi awal langkah saya berkarir sampai sekarang."
"Bagus lah kalo kamu masih inget, dan saya harap ... kamu enggak sekadar inget."
"Maksud Om?"
"Ya ... anggaplah dengan kamu nerima cinta Ilona itu sebagai cara kamu membalas budi ke saya." tegas Om Bono.
Igan kembali menatap Ilona, dan ia kembali terpana bak terkena magnet saat ia melihat senyuman rekan duetnya itu.
__ADS_1
***