Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Usai


__ADS_3

Lima belas menit kemudian, Jio masuk ke dalam kafe tersebut bersama Bulan, Kay, Viktor dan Oliver, para wartawan pun sudah banyak yang datang dan ikut masuk ke dalam kafe.


Yongki dan Om Bono terbelalak dan hampir tersedak ketika melihat orang-orang tersebut masuk ke dalam kafe.


Pantes aja tadi gue telepon tu cewek enggak diangkat-angkat! Padahal gue baru aja mau ancam dia biar enggak buka mulut, apalagi sampe sebut-sebut nama gue dan Om Bono! Ternyata pihak Igan udah bergerak jauh lebih cepat dari dugaan gue. batin Yongki.


"Lho, kenapa banyak wartawan ke sini?? Ada apa ini?? Igan, kamu yang undang mereka??" seru Om Bono, panik.


"Tenang aja, Om. Ini cuma buat acara klarifikasinya cewek itu kok. Tapi ... kenapa Om sama Yongki panik banget?? Kalian enggak ada hubungannya sama semua ini kan??" sahut Igan sembari tersenyum puas.


"Gimana Mas Igan, bisa dimulai sekarang klarifikasinya?" tanya salah seorang wartawan.


"Bisa-bisa, semuanya tolong ambil posisi senyaman mungkin ya buat temen-temen wartawan! Mumpung ada Om Bono sama Yongki juga di sini." seru Igan.


"Maksud lu apa bilang begitu, hah??" bentak Yongki.


"Eits, woles dong Bro! Ngegas amat?! Lu duduk aja yang anteng di situ, dengerin dan simak klarifikasi dari cewek itu. Jangan kemana-mana, jelas?!" tukas Jio, balik membentak Yongki.


Yongki bangkit dari kursinya dan berusaha mendekat ke arah Jio sambil mengepalkan tangan.


"Eh, mau ngapain lu?? Duduk!!" hardik Igan, menghalangi Yongki merangsek ke arah Jio.


Mendapat hambatan dari Igan, membuat Yongki langsung mengarahkan bogem mentahnya ke arah Igan, sebagai sasaran amukannya. Igan yang tidak siap pun langsung meringis menahan sakit di bagian rahangnya, namun beruntung ia tak sampai terjerembab ke lantai.


Igan mengelus rahangnya yang terasa sakit itu sejenak, kemudian dengan sangat cepat ia maju dan membalas perlakuan Yongki dengan balik menjotosnya dengan keras.


Penyandang gelar master di cabang ilmu bela diri yang ia pelajari sejak lama pun terlihat jelas lewat pukulannya yang menohok.


Yongki yang berbadan lebih kurus itu pun langsung terjerembab ke lantai. Semua panik dan keadaan menjadi ricuh.


"Igan-Igan, kamu tenang Nak! Sabar, ingat tujuan utama kita ke sini, oke? Sabar!" bujuk Bulan, sang bunda.


"Hmmm ... maaf teman-teman wartawan bisa kumpul di sebelah sana aja ya?" Ucap Jio coba menata ulang untuk mengkondisikan keadaan.


Om Bono dan Ilona coba membantu Yongki berdiri dan menenangkannya, mereka berusaha untuk pergi dari lokasi namun Viktor dan Oliver mencegah mereka.


"Maaf, kalian enggak boleh pergi dari sini. Silakan duduk lagi di kursi kalian tadi." tegur Oliver sambil merentangkan tangannya, menghalangi jalan.


"Oliver, apa-apaan kamu?? Apa sekarang kamu berpihak sama mereka??" bentak Om Bono dengan tatapan penuh amarah.


"Saya baru tau kalau ternyata orang yang Anda bilang harus saya bela itu justru di pihak yang salah, Pak Bono. Dan itu bertentangan dengan nurani dan janji saya sebagai pengacara." sahut Oliver dengan tegas.

__ADS_1


"Alah, masa bodoh!! Minggir kamu!!" Om Bono bersikeras menyingkirkan Oliver dari hadapannya agar mereka bisa cepat keluar dari kafe itu. Namun Viktor yang berbadan tinggi tegap dan bertato, mampu membuat nyali mereka bertiga agak menciut.


"Kalian enggak dengar yang tadi dia bilang?? Duduk!!" tegas Viktor dengan suara beratnya.


"Kamu preman bayarannya Igan, hah? Dibayar berapa kamu sama dia? Biarin kami lewat, nanti kamu saya kasih uang yang lebih banyak!" Om Bono coba bernegosiasi.


Viktor tersenyum sinis, "Saya bukan cuma preman Pak, tapi saya juga pernah menghabisi nyawa orang! Lebih baik kalian menurut aja, supaya tetap aman!"


"Minggir kamu!!" hardik Om Bono pada Viktor.


"Dengerin semuanya!! Saya, Kayana Aghita mau mencabut pernyataan saya tempo hari soal kehamilan ini!! Semua ini ada kaitannya sama mereka!!" seru Kay tiba-tiba sembari menunjuk ke arah Om Bono, Yongki dan Ilona, membuat suasana yang ricuh mendadak hening dan terfokus padanya.


"Maksudnya gimana Mbak Kay, bisa coba dijelaskan lebih rinci?" seorang wartawan langsung menodong pertanyaan pada Kay, begitupun dengan wartawan-wartawan lainnya.


"Semuanya harap tenang dulu ya, biar Kay bisa bicara dengan leluasa dan jelas." ujar Bulan.


Jio berjalan menuju pos security dan meminta agar petugas keamanan yang berjaga hari itu menutup akses di ruang yang Jio booking sebagai tempat konferensi pers.


Jio bergegas kembali ke ruang konferensi pers dan semua akses dari dan menuju ruang tersebut langsung ditutup sementara dan dijaga oleh para petugas keamanan.


Kay duduk ditemani Bulan, Igan, dan Oliver memberikan klarifikasi di depan awak media. Sedangkan Jio dan Viktor mengawasi Yongki, Om Bono dan Ilona, memastikan mereka tidak kabur.


"Saya memang hamil, tapi bukan akibat perbuatan Saudara Igan. Saya hamil akibat salah pergaulan, dan pelakunya pun sudah tidak ada sekarang." ujar Kay, melanjutkan klarifikasinya.


"Saya disuruh, saya dibujuk oleh Saudara Yongki. Dia memanfaatkan saya supaya tujuannya tercapai."


"Apa tujuannya Yongki yang disampaikan ke Mbak?"


Kay menoleh ke arah Yongki yang masih menahan sakit akibat tinju keras dari Igan. Yongki menatap Kay seolah mengancam, berharap wanita itu tidak membeberkan semua rencana busuknya.


"Dia ingin hancurkan karir Saudara Igan, dia punya dendam sendiri." ucap Kay seolah tak peduli dengan tatapan mengancam dari Yongki padanya.


"Yongki, ada dendam apa dengan Igan?" wartawan beralih mengajukan pertanyaan pada Yongki.


Yongki diam, wajahnya jelas sangat marah.


****!! Kenapa rencana gue enggak berjalan semestinya?? umpat Yongki dalam hati.


"Yongki, ada dendam apa sama Mas Igan? Coba kasih penjelasannya dong!" seorang wartawati kembali menanyakan hal yang sama.


"Kalian mau tau kenapa gue dendam banget sama dia?? Dia itu udah ngerebut kerjaan gue! Dia rebut posisi gue yang harusnya jadi tokoh sentral di film yang bulan kemarin tayang! Gue udah mati-matian usaha buat dapetin peran itu! tapi pas gue udah dapet, mereka gantiin gue sama dia, cuma dengan alasan dia lebih terkenal!!" seru Yongki, emosional.

__ADS_1


"Lalu, apa hengkangnya Mas Igan dari labelnya Om Bono itu juga bagian dari rencana balas dendam Yongki ke Mas Igan?" imbuh wartawan.


"Kalo itu bukan rencana saya, tapi maunya Om Bono. Itu diluar rencana saya." sahut Yongki, agak takut karena Om Bono menatapnya dengan tajam.


Bocah sialan!! Udah ditolongin malah nyeret gue ke lobang neraka!! umpat Om Bono dalam hati.


"Betul begitu, Om?" desak sang wartawan.


Om Bono salah tingkah, ia terlihat panik dan cemas.


"Mereka kasih saya uang sebagai imbalan karena saya setuju buat sandiwara dan kasih pernyataan palsu ke media." imbuh Kay.


"Om Bono, kenapa tidak dijawab Om? Apa betul hengkangnya Igan itu udah direncanakan? Apa penyebabnya?" seorang wartawan kembali mengulangi pertanyaan.


"Saya ... sangat marah pada Igan karena sudah menyakiti hati Ilona, keponakan saya! Kebetulan Yongki datang dan bilang kalau ia juga ada dendam dengan Igan, jadi kami sepakat untuk bersekutu menjatuhkan Igan." sahut Om Bono.


"Mas Igan, langkah apa yang mau diambil setelah tau semua ini?" tanya wartawan.


Igan terdiam sejenak, ia menoleh ke arah sang bunda yang mendampinginya.


Bulan tersenyum lembut dan mengangguk, seakan memberi hak sepenuhnya pada sang putra untuk mengambil keputusan.


"Saya akan laporkan mereka ke pihak berwajib, karena sudah dengan sangat sadar dan sengaja merencanakan semua ini." tegas Igan.


Yongki, Om Bono dan Ilona terkejut. Mereka tak menyangka Igan akan mengambil keputusan itu.


"Igan, apa kamu enggak salah?? Om Bono udah banyak berjasa buat kamu, masa kamu lupain begitu aja??" tegur Ilona.


Igan menoleh dan menatap datar pada Ilona, "Kalau kamu enggak berbuat curang demi dapetin hati aku, mungkin semua ini enggak terjadi, Lon!" tegasnya, kemudian dengan cepat kembali berpaling dari Ilona.


"Kay, cepat kamu tegaskan untuk mencabut pernyataan dan minta maaf secara terbuka sekarang. Saya takut kubu Yongki berbuat nekat." bisik Bulan pada Kay.


Kay mengangguk mantap.


"Sekali lagi saya tegaskan, bahwa semua pernyataan saya yang menuduh dan menyudutkan Saudara Igan itu adalah TIDAK BENAR!! Saya berani sumpah atas nama Tuhan, bahwa kehamilan saya ini bukan karena perbuatan Saudara Igan, tapi karena kecerobohan saya dalam bergaul."


Kay menghela napas, ia sedang berusaha menyiapkan mental jika nanti akan banyak orang yang akan mencibirnya.


"Dan saya juga meminta maaf pada Saudara Igan, keluarganya, manajemennya, pokoknya semua pihak yang merasa dirugikan atas pernyataan saya tempo hari. Saya menyesal semua ini terjadi." imbuh Kay dengan menitikkan air mata.


Tampak kelegaan terpancar jelas di wajah Igan, Bulan, dan Jio. Mereka bersyukur masalah itu bisa selesai lebih cepat dari yang mereka sangka-sangka.

__ADS_1


****


__ADS_2