Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Staf Baru


__ADS_3

Mobil Igan merangkak menyusuri jalan perumahan elit, hingga sampai di jalan kota yang tampak mulai ramai dengan beragam kendaraan.


Igan yang fokus melihat jalan yang ramai, tak menyadari jika ada sebuah taksi yang sedang membuntutinya dengan jarak yang terjaga, dengan tujuan supaya Igan tidak menyadari kehadirannya.


Igan terus melajukan kendaraannya menuju kantor hingga akhirnya mobil yang ia kendarai memasuki area parkir kantor.


Taksi yang membuntuti Igan pun berhenti beberapa meter dari kantor tersebut sesuai permintaan si penumpang.


"Stop di sini aja, Pak." ucap si penumpang yang tak lain adalah Yongki.


"Mau turun di sini atau gimana, Mas?" tanya pengemudi taksi itu.


Yongki terdiam, dari raut wajahnya tampak sedang berpikir serius.


*Si Igan mau ngapain ke kantor itu? Apa sekarang dia kerja di si*tu? pikir Yongki.


"Mas, gimana? Mau turun di sini atau enggak?" tegur pengemudi taksi itu.


Yongki tersentak, "Oh, ng ... enggak usah, Pak. Kita ke alamat lain aja." sahut Yongki.


Pengemudi itu mengangguk lalu menuruti permintaan dan petunjuk dari Yongki untuk beranjak ke lain tempat.


*


Igan turun dari mobil lalu bergegas menaiki tangga menuju ruang lantai dua, dimana divisi promosi berada.


"Pagi, Mas Igan ... Tumben ke kantor jam segini? Pak Bintang juga belum datang." sapa Bang Jack, seorang pramukantor yang sudah datang.


"Iya. Hmmm ... Mas ... Zakaria, ruang promosi udah dibuka?"


Igan yang lupa nama panggilan Zakaria itu hanya mengandalkan papan nama yang terpampang di seragam pria itu.


"Mas lupa ya sama saya? Kan saya pernah disuruh buat ngerjain Pak Rey lho waktu itu."


Igan mengerutkan dahi, "Itu nama di seragam Zakaria, betul kan? Saya juga inget kok kamu yang waktu itu bantuin saya, makasih ya?"


"Itu nama dari emak-bapak saya, Mas ... tapi kalo nama beken saya kan Bang Jack." sahut Bang Jack, percaya diri.


"Oh ... oke-oke, Bang Jack ya? Saya inget-inget mulai sekarang. Eh, padahal nama Zakaria tu bagus lho! Kenapa diubah segala?"


"Iya, nama panggilan dari temen-temen Mas"


"Oh gitu ... Ya udah Bang, saya ke ruangan dulu."


Ketika Igan hendak melangkah menuju ruangan, terdengar seseorang memanggil namanya dari arah belakang.


"Mas Igan!"


Igan lantas menoleh, wajahnya tampak sumringah ketika melihat siapa yang memanggilnya.


"Tia, kamu baru dateng?" sapa Igan.

__ADS_1


"Iya. Mas Igan mau ngapain pagi-pagi ke sini? Biasanya kalo mau main kemari juga siang atau sore. Mobilnya Pak Bintang juga belum ada di parkiran." cerocos Tia.


"Mas Igan mau ke ruang promosi katanya." celetuk Bang Jack.


Alis Tia terangkat, "Mau ke ruang promosi? Itu kan ruang divisi saya. Ada perlu apa, Mas? Disuruh Pak Bintang ya?" tanya Tia, penasaran.


Igan tersenyum lalu menatap Tia dengan gemas, "Kamu tuh ternyata bawel ya?" ucap Igan sembari mengelus kepala Tia.


"Ehhem-ehhem!" Bang Jack berdehem menyaksikan pemandangan tak biasa di hadapannya.


Igan terkesiap lalu segera menurunkan tangannya yang sedang mengusap kepala Tia.


Wajah Tia dan Igan sontak merona, keduanya tampak malu-malu.


"Ya-ya udah, sa-saya ke ruangan dulu. Permisi semuanya." pamit Tia, terburu-buru.


Bang Jack melihat ke arah Igan, kemudian bertanya.


"Mas Igan enggak sekalian? Kan satu tujuan sama Tia?"


"Oh, iya-iya. Saya juga mau ke sana. Makasih ya Mas Zak, eh maksud saya Bang Jack!" ujar Igan, gugup.


Bang Jack geleng-geleng melihat Tia dan Igan yang mendadak salah tingkah dan gugup tak karuan itu. Ia pun kembali melangkah menuju dapur kantor untuk memulai tugasnya.


Tia masuk ke ruang kerjanya dengan tergesa, dan membuat Teguh yang ternyata sudah ada di sana menjadi agak kaget.


"Kamu kenapa, Ti?" tanya Teguh sambil memperhatikan Tia yang tampak gugup.


"Mas Igan? Kok tumben?" tanya Teguh, polos.


Igan tersenyum tipis, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Hmmm ... ada kursi yang kosong kan di ruangan ini?" tanya Igan seraya melangkah masuk.


Tia dan Teguh saling tatap, mereka heran.


"Oh, a-ada sih Mas, itu. Untuk siapa memangnya?" tunjuk Teguh dan lagi-lagi kembali bertanya.


Igan tersenyum lalu melangkah mendekati kursi dan meja yang dulu menjadi meja kerja Teguh.


Igan menaruh tasnya di atas meja, lalu dengan tersenyum kembali menatap Teguh dan Tia.


"Kalian dapat rekan kerja baru sekarang." tutur Igan.


Teguh dan Tia kembali saling melempar pandang, lalu dengan kompak bertanya pada Igan.


"Siapa, Mas??"


"Saya." sahut Igan dengan sumringah.


Tia dan Teguh terperangah, namun sejurus kemudian Tia justru tertawa.

__ADS_1


"Jangan bercanda deh, Mas." sergah Tia sembari menahan tawa.


Igan masih menyunggingkan senyum, lalu dengan santainya duduk di kursi itu.


"Mas, kalau misalnya mau ada staf baru di sini pasti Pak Irwan kasih tau ke kami. Tapi kemarin-kemarin enggak pernah ada informasi." jelas Teguh.


Igan hanya manggut-manggut, namun tetap duduk santai di kursinya.


"Nanti kalian tolong ajari saya ya?" pinta Igan.


Teguh dan Tia hanya terdiam, mereka masih bingung sekaligus heran dengan ucapan Igan.


Mereka bertiga masih tenggelam dalam kesunyian, sampai satu per satu staf lain datang.


Tatapan keheranan pun kembali mereka tujukan pada sosok putra CEO perusahaan tersebut.


"Lho, Mas Igan kok udah main ke sini aja pagi-pagi? Mau bantuin kerjaan kita apa mau ngamati kinerja kita nih?" celetuk Jeni.


"Tenang aja, Mas Bos ... kerjaan tim kita beres kok!" imbuh Gugun.


"Mas Igan disuruh Pak Bintang ya buat mastiin tim kita bisa kerjain proyek tepat waktu?" celetuk Tami, menambahi ucapan rekan-rekannya.


"Enggak ... enggak, saya ada di sini justru mau belajar dari kalian semua." sahut Igan sembari tersenyum.


"Maksudnya gimana, Mas?" tanya Tami.


Rasa penasaran Jeni dan kawan-kawan harus tertunda karena datangnya Pak Irwan ke ruangan mereka.


"Pagi semuanya, wah ... lagi ngobrol seru nih kayaknya?" sapa Pak Irwan.


"Pagi, Pak. Ini, kami lagi penasaran kenapa Mas Igan kok pagi-pagi sudah ada di divisi kami? Ada tugas khusus ya?" tanya Jeni.


Pak Irwan dan Igan saling melempar pandang kemudian tersenyum.


"Begini, mulai hari ini divisi promosi bakal lengkap lagi personelnya." papar Pak Irwan.


"Emang udah ada seleksi staf baru, Pak?" celetuk Gugun.


"Siapa Pak??" tanya Tami.


Tia dan Teguh hanya diam, ingin mendengar informasi langsung dari Pak Irwan.


"Seleksinya langsung sama Pak Bintang, dan staf barunya ya ... Mas Igan ini." sahut Pak Irwan.


"Hah??" kata itu serentak terdengar dari mulut para staf yang terperangah tak percaya dengan informasi tersebut.


"Tuh kan, apa saya bilang tadi. Saya ini staf baru di sini, rekan kerja kalian yang baru. Tolong ajari kalau ada yang belum saya tau, ya?" sahut Igan dengan ramah.


Mas Igan seriusan jadi staf di sini? Dia kan anak CEO kantor ini, kenapa malah jadi staf?? batin Tia, bertanya-tanya.


***"

__ADS_1


__ADS_2