
"Oke Om, enggak masalah kok. Ajak aja Lona sekalian." sahut Igan kemudian.
"Ya sudah. Nanti saya chat kamu kalau semua sudah fix."
"Baik Om. Sampai ketemu."
Sambungan telepon berakhir. Igan menarik napas dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan. Ia menoleh ke arah sang bunda. yang tampak menunggu kabar darinya.
"Gimana Nak, bisa?" tanya Bulan.
"Om Bono mau telepon Yongki sama Lona, Bun. Dia mau ajak Lona, padahal Igan udah bilang kalo enggak ajak Lona."
"Ya udah enggak apa-apa. Siapa tau Lona juga terlibat dengan masalah ini kan?"
"Iya juga sih, Bun. Igan sengaja minta mereka datang lebih awal dari acara biar mereka enggak tau kalau kita undang wartawan."
"Iya Nak, yang penting kita harus bisa menahan mereka supaya tetap di sana sampai wartawan datang. Jangan lupa, sadap obrolan mereka."
"Siap, Bun!"
Mereka kembali duduk dengan tenang, menunggu waktu yang telah ditentukan.
*
Waktu yang dinanti pun tiba. Mereka berangkat menuju lokasi pertemuan dengan awak media. Jio bersama Viktor dan Oliver berangkat menggunakan mobil Oliver. Sedangkan Igan, Bulan dan Kay memakai mobil Igan.
Setibanya di lokasi, Igan memilih untuk masuk ke dalam kafe seorang diri, sedangkan sang bunda dan yang lainnya menunggu di mobil.
"Kemana aja kamu, yang ngundang malah dateng belakangan!" omel Om Bono saat melihat Igan melenggang memasuki kafe.
Igan tersenyum lalu melihat arloji di tangannya.
"Tapi saya enggak telat lho, Om. Kalian yang datengnya kecepetan, udah enggak sabar ya pengin ketemu saya?" sahut Igan sambil tersenyum penuh arti.
"Jangan kepedean kamu, Gan! Lagian kamu ngapain sih ngajak kita ketemuan lagi gini? Mau minta maaf ke aku, hah??" seru Ilona.
Igan menarik kursi kosong di meja tersebut, lalu duduk dengan santai. Sesuai perintah sang bunda, ia terlebih dulu mengaktifkan perekam audio di ponselnya sebelum memasuki kafe.
"Maaf Lon, jujur aja, aku enggak undang kamu. Tapi ... karena Om kamu maksa, ya udah! Kita ngobrol santai aja lah, jangan pake tegang!"
Ilona mengangkat tangan kanannya dan hendak memukul Igan yang duduk tepat di sebelah kirinya, namun Om Bono menahannya.
"Daripada emosi, mending kita langsung pesen menu aja. Gimana?" celetuk Igan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terserah, kami juga enggak punya banyak waktu buat ketemu sama kamu!" tukas Ilona.
Igan memanggil seorang pelayan kafe untuk memberikan daftar menu dan mencatat apa saja yang mereka pesan.
Setelah urusan memesan menu selesai, mereka kembali berbincang dengan dibumbui kata-kata pedas dan sesekali sindiran.
"Gan, lu masih inget gue?" tanya Yongki.
Igan menatap Yongki dengan seksama, kemudian tersenyum tipis.
"Siapa sih yang enggak kenal Yongki Fernandez? Orang yang berhasil duduk di posisi yang gue rintis dari awal karir, dan lu bisa nangkring di situ dengan sangat instan?!" sahiut Igan, tajam.
Yongki tersenyum, "Anggap aja itu balesan karena lu udah ambil job gue waktu di film."
Alis Igan berkerut, "Gue? Ambil job lu? Kapan??"
Yongki kembali tersenyum sinis, "Orang kalo udah sukses suka pikun mendadak ya? Lu itu jelas-jelas ambil tokoh yang harusnya gue peranin! Dengan gampangnya lu dipilih sama sutradara buat meranin tokoh itu cuma karena lu lebih famous, padahal gue udah ikut casting beberapa kali buat dapetin tokoh sentral itu!!" seru Yongki.
"Hei, itu bukan maunya gue dong?! Jelas-jelas sutradara yang pilih gue, dan gue enggak tau kalo udah ada lu yang ikut casting buat tokoh itu.!!" tukas Igan, membantah.
"Hah, bullshit!!" umpat Yongki.
"Yongki, udah lah ... jangan bikin dia tambah runyam hidupnya. Dia itu lagi banyak masalah, jangan diungkit lagi dosanya di masa lalu. Udah-udah ...." Om Bono angkat bicara, tenang namun menyakitkan.
"Ya ... ya, manusia memang bisa berbuat salah dan jadi bermasalah. Jadi ... bagusnya, jangan berbuat salah, apalagi sama saya, karena itu pasti bakal jadi masalah." sahut Om Bono.
Yes, umpan gue disaut pelan-pelan sama Om Bono! Gue harus terus bisa nggiring obrolan ini supaya mereka secara enggak sadar ngebongkar kelicikan mereka sendiri. batin Igan.
"Aku juga minta maaf ya Lon, aku enggak bisa lanjutin pertunangan kita, soalnya aku emang enggak ada rencana buat tunangan sama kamu."
"Berhenti omongin soal itu lagi, aku enggak mau denger!!" seru Ilona.
"Oke ...." sahut Igan.
"By the way ... kegiatan kamu apa sekarang, setelah resmi saya usir dari label? Apa masih laku jadi artis? Apalagi .... sekarang kamu lagi ada masalah baru sama cewek itu." tanya Om Bono, yang membuat telinga panas mendengarnya.
"Ya ... memang karir saya merosot sih Om, tapi enggak berhenti. Masih ada tawaran off air buat nyanyi solo, toh memang awalnya saya penyanyi solo." sahut Igan.
"Tapi yang gue denger ... kontrak lu yang jadi duta pendidikan moral itu langsung dicabut kan gara-gara kasus itu?" tanya Yongki dengan senyum mencibir.
Igan terdiam sejenak dan menatap Yongki dengan dalam.
Lu bisa hina gue sekarang, tapi ... nanti lu bakal jauh lebih menderita daripada gue! batin Igan.
__ADS_1
"Ya, emang kontrak gue diputus sepihak sama mereka. Tapi ... enggak masalah, rejeki udah diatur sama Tuhan. Gue ikhlasin aja." sahut Igan bijak.
"Heuh, sok bijak!" sindir Yongki.
"Tapi ... itu cewek kasian juga sih Om sebenernya. Lagi hamil kok bohong?! Kasian anaknya di perut. Lagian ... apa suaminya enggak marah ya sama perbuatannya itu? Ancamannya kan masuk. penjara, saya udah buat laporan ke polisi lho!" ujar Igan.
Om Bono, Yongki dan Ilona kompak terhenyak, mereka pun saling tatap namun sejurus kemudian berusaha untuk tetap tenang.
"Oh, kamu udah buat laporan?" tanya Om Bono.
"Ya udah lah Om, saya bukan orang bodoh yang mau difitnah gitu aja. Biar cepet ketauan juga tujuannya apa fitnah saya?? Dan, kalau memang ada orang nyuruh dia, juga bisa cepet ikut diseret ke polisi!" sahut Igan, serius.
Yongki segera berdiri dan berjalan menjauh dari yang lainnya. Ia terlihat sedang menelepon seseorang dengan wajah was-was.
"Lho, bukannya dia emang pacar kamu yang udah ...." celetuk Ilona dengan sinis sambil melirik ke arah Igan.
"Jaga mulut kamu, Lona! Atas dasar apa kamu ngomong begitu??" tegas Igan.
"Ya bisa aja kan? Kamu udah duluan pacaran sama dia tapi diam-diam, dan pas dia bilang lagi hamil kamu buru-buru putusin pertunangan kita, iya kan??"
"Aku putusin pertunangan kita itu, semata-mata karena aku memang enggak pernah ada perasaan khusus ke kamu. Makanya aku heran pas sadar udah tunangan sama kamu! Semua itu ada kaitannya kan sama cincin merah kamu kan?"
"Jangan asal tuduh kamu, Gan! Mana buktinya??"
"Aku memang enggak punya bukti tapi aku yakin, semua yang kamu lakuin itu pakai magic!"
Ilona tertawa kecil, lalu menatap Igan dengan tajam.
"Kalo memang iya, kenapa?? Kamu mau apa??" tanya Ilona dengan mendekatkan wajahnya ke Igan, namun dengan tatapan nanar.
Igan memundurkan wajahnya, menjauhi wajah Ilona.
"Aku enggak bakal ngapa-ngapain kok kalo soal itu, toh udah lewat dan kamu juga udah enggak bisa lagi pengaruhin aku dengan cara apapun." sahut Igan.
Ilona mendengus kasar dengan wajah yang tampak sangat kesal.
Pesanan makanan pun akhirnya datang. Yongki kembali ke kursinya, bergabung dengan yang lain.
Yongki dan Om Bono saling tatap seolah sedang berbicara lewat mata. Igan yang diam-diam memperhatikan gelagat mereka pun coba menerka-nerka.
Yongki sama Om Bono keliatan panik pas gue bilang udah laporin Kay ke polisi. Yongki juga tiba-tiba menjauh, terus kayak nelepon seseorang. Siapa yang dia telepon? batin Igan bertanya-tanya.
Igan melihat ke arloji, Sebentar lagi waktunya konferensi pers. Gue harus bisa tahan mereka supaya tetap berada di sini. batin Igan.
__ADS_1
****