Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Ternyata ...


__ADS_3

Danisha membuka mata perlahan, ia masih belum menyadari apa yang terjadi dan melihat sekeliling.


"Gue dimana?" gumamnya, seraya mencoba untuk duduk.


Danisha terperangah, jantungnya berdegup cepat ketika sudah mulai menyadari jika ia berada di suatu tempat yang asing, yaitu sebuah kamar yang rapi dan luas.


Danisha lantas teringat peristiwa menjijikan yang pernah menimpanya, ia segera memeriksa keadaan dirinya dan bersyukur karena pakaiannya masih lengkap.


"Ah, syukurlah! Tapi ... ini dimana?" gumamnya lagi seraya beringsut dari tempat tidur.


Danisha melangkah lalu berusaha membuka pintu kamar tersebut, namun terkunci. Lalu terdengar suara dari sebuah kamar mandi dalam ruang kamar tersebut.


Siapa yang lagi mandi?? Gue lagi ada di kamar siapa sih ini?? batin Danisha.


Namun Danisha tak mau terus larut dengan rasa penasarannya, ia bergegas mencari kunci kamar itu dan ingin segera pergi.


"Kamu nyari apa, Danisha?" tanya seseorang dari belakang Danisha.


Danisha terperanjat lalu segera menoleh ke belakang. Matanya terbelalak dan terperangah.


"P-pak, Rey??" ucap Danisha, lirih.


Rey tersenyum, lalu perlahan ia mendekat ke arah Danisha. Danisha mundur selangkah demi selangkah, namun terhenti saat tumit kakinya sudah menyentuh tembok di belakangnya.


Rey yang saat itu mengenakan kaos oblong dipadu dengan celana pendek, terus mendekat ke arah Danisha.


Rey merogoh saku celananya, lalu menggantungkan sebuah kunci di ujung jarinya sambil tersenyum licik.


"Kamu nyari ini?" tanya Rey.


"Saya mau pulang, Pak. Kenapa saya ada di sini??" tegas Danisha.


Rey kembali memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya.


"Tidak ada apa-apa, saya ... cuma mau bawa kamu ke rumah saya." ujar Rey.


Danisha merasa sosok Rey yang ada di hadapannya itu terlihat sangat licik dan buas. Ia menangkap gelagat tak baik dari sikap Rey.


"Jangan becanda, Pak! Mana kuncinya? Saya mau pulang!" gertak Danisha.


Rey tertawa, "Kamu pasti bisa pulang kok. Tapi ... ada satu syarat. Malam ini, kamu harus menginap di sini sama saya." ujarnya.


DEG


Jantung Danisha berdegup semakin tak karuan, ia makin yakin kalau Rey punya niat busuk terhadapnya.


Ketika Rey berjalan semakin mendekat, Danisha mulai mempersiapkan diri untuk melakukan perlawanan.


"Jangan macem-macem, Pak! Saya bakal laporin Anda ke polisi!" gadis itu kembali. menggertak.


Lagi-lagi Rey terbahak, lalu ia menatap lekat ke arah Danisha dari atas hingga ke bawah. Tatapan seorang baji***n.


"Kamu enggak perlu segitunya menolak saya, toh saya sudah pernah melakukan hal itu sama kamu. Cuma bedanya ... waktu itu kamu dalam kondisi tidak sadar. Kalau sekarang, saya merasa tertantang." Rey tertawa sambil menatap penuh gairah pada Danisha.

__ADS_1


Danisha mengerutkan alis, matanya tajam menatap Rey yang berdiri hanya berjarak dua meter di hadapannya.


"Apa maksud Anda??"


Rey makin tertawa, "Harusnya saya kasih obat tidur juga ke minuman kamu, seperti yang Vio lakukan malam itu, sebelum kita berdua ...." ucapan Rey dipotong oleh hardikan Danisha.


"Stop!! Jadi, orang yang bawa saya ke hotel malam itu ... Anda??" tukas Danisha dengan tatapan tajam.


Rey tersenyum bangga sambil mengangguk, "Kamu baru tau? Sekarang, ayo kita ulangi kejadian malam itu, Sayang?" rayu Rey.


"Cuih!! Jangan harap saya mau dibodohi lagi!!" tolak Danisha dengan geram.


"Sok jual mahal kamu!!" Rey merangsek mendekati Danisha yang terpojok di tembok.


Tangannya menggapai tubuh Danisha namun Danisha yang memiliki dasar ilmu bela diri tak semudah itu ia rengkuh.


Danisha mengelak, lalu mendorong tubuh Rey.


"TOLONG ...!!! TOLONG ...!!! KELUARIN SAYA DARI SINI, TOLONG ...!!!" teriak Danisha sambil berlari ke arah pintu, lalu menggedor-gedornya dengan keras.


Rey terbahak, "Kamu mau minta tolong sama siapa, Sayang ...?? Ini rumah saya, enggak ada orang lagi selain kita. Asisten rumah juga udah enggak ada! Udah lah ... nyerah aja, ya?" bujuk Rey sembari kembali mendekat.


"Dasar baji***n!!!" seru Danisha.


Ia memukul wajah Rey dengan membabi buta, yang ada dalam pikirannya hanya ingin melumpuhkan lelaki bejat itu dan bisa mengambil kunci yang ada di saku celananya, kemudian pergi sejauh mungkin dari sana.


Tetapi Rey pun bukan lelaki lemah, ia bisa meladeni tiap pukulan yang Danisha arahkan kepadanya hingga Danisha kelelahan.


Namun, bukan Danisha namanya jika tak melawan. Di sisa-sisa tenaganya, ia menghentakkan kaki dengan keras ke punggung telapak kaki Rey.


Rey sempat mengaduh kesakitan dan melepas dekapannya di tubuh Danisha. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh gadis cantik itu, dengan cepat Danisha berbalik lalu mengarahkan lututnya ke arah alat vital Rey hingga ia tersungkur dan tak bergerak.


"Sakit kan?? Itu belom apa-apa, mau gue bikin enggak bisa bangun lagi, hah??" hardik Danisha dengan gagah.


Walau kepayahan, namun Danisha coba merogoh saku celana Rey untuk mengambil kunci kamar tersebut agar bisa kabur.


Setelah menemukan kuncinya, ia bergegas berdiri dan hendak membuka pintu. Namun Rey tiba-tiba memegangi salah satu kaki Danisha hingga membuatnya tak bisa beranjak.


"Jangan salahkan saya kalau sampai membuat kamu tak berdaya, Danisha!" ancam Rey.


Danisha terkesiap, ia coba mencari celah agar bisa kembali melumpuhkan lelaki itu. Tak jauh dari gapaiannya, tampak sebuah pajangan meja dengan ukuran agak besar berbentuk kuda yang gagah sedang mengangkat kedua kaki depannya.


Ia meraih pajangan tersebut, lalu dihantamkan beberapa kali tepat ke kepala dan leher bagian belakang Rey yang masih merangkak di bawah kakinya.


Suara memekik kesakitan terdengar dari mulut Rey. Danisha tampak panik dan gemetar. Tubuhnya terasa lemas ketika melihat cairan merah keluar dari sela-sela rambut Rey.


Ya ampun, gue ngapain?? Gi-gimana kalo dia ....


Benak Danisha berkecamuk, ia sangat panik. Namun ia buru-buru membuka pintu kamar itu dan bergegas kabur.


Di jalan, ia terlihat seperti orang linglung. Tubuhnya bergetar, napasnya memburu. Ya, Danisha panik!


Gue harus gimana nih?? Gue harus kemana?? Gimana kalo baji***n itu mati? atau ... dia masih hidup dan lapor polisi?? Danisha ... you're so stupid!! Harusnya lo enggak pergi ke klub, jadi enggak bakal ketemu sama si brengsek itu!

__ADS_1


Danisha terus berpikir hingga merutuk diri dalam hati, menyesali apa yang sudah terjadi.


Mas Hendra! Ya, Mas Hendra! Gue harus ketemu dia sekarang. Gue harus cerita ke dia. batin Danisha.


Ia bergegas memesan ojek online untuk menuju ke rumah Hendra.


*


Sudah dini hari saat Danisha tiba di rumah Hendra. Ia bergegas turun dari ojek, namun langkahnya mendadak ragu untuk mendekat ke rumah Hendra.


Tetqpi ia merasa harus bertemu dan bicara dengan tunangannya malam itu juga. Ia tak mau semakin dihantui rasa bersalah karena sudah melanggar perintah papa dan calon suaminya itu untuk pergi ke klub, terlebih sekarang ia baru saja membuat orang lain terluka walaupun itu sebagai upaya membela diri.


Ia mengetuk pintu rumah Hendra beberapa kali. Hari yang sudah sangat larut membuatnya harus menunggu lama dibukakan pintu.


Setelah beberapa kali ia mengetuk pintu dan tak kunjung dibukakan, akhirnya Danisha memutuskan untuk pulang. Namun baru beberapa langkah Danisha balik badan untuk pulang, tiba-tiba pintu rumah Hendra terbuka.


"Danisha?" panggil Hendra yang menyembul di sela pintu yang terbuka sedikit.


Danisha balik badan, lalu berlari menghampiri Hendra.


"Mas, a-aku ... aku ...." ucap Danisha dengan nada sangat panik.


Hendra bingung melihat keadaan tunangannya yang tampak panik itu.


"Kamu kenapa, Dan? Ayo-ayo, masuk dulu ya?" ajak Hendra.


Hendra bergegas mengambilkan air minum hangat untuk Danisha, setelah gadis itu duduk di kursi ruang tamu.


Hendra menatapnya lekat, coba menenangkan dan berusaha mengorek keterangan pada sang tunangan.


"Sekarang kamu bisa cerita ke saya, kenapa kamu jam segini bisa sampai ke sini?" tanya Hendra dengan lembut.


"Maafin aku, Mas." ucap Danisha.


Alis Hendra berkerut, "Maaf kenapa, Dan? Kamu enggak ada salah sama saya. Ada apa?"


Danisha terdiam, hanya air mata yang menetes dari pelupuk mata.


"Danisha, saya yakin kamu kemari jam segini bukan untuk diam aja kan? Pasti ada sesuatu yang genting yang mau kamu sampaikan ke saya. Cerita aja, Dan ...." Hendra terus membujuk dan berusaha menenangkan calon istrinya itu.


Akhirnya Danisha mau bicara, menceritakan semuanya dari awal sampai terakhir di rumah Rey.


Hendra terperangah, ia shock. Berulang kali ia menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.


"Maafin aku, Mas. Ini terjadi gara-gara aku melanggar larangan Papa dan Mas Hendra untuk pergi ke klub. Aku bosen sendirian di rumah, Mas! Tapi aku enggak nyangka ujungnya bakal begini." ujar Danisha sambil terisak.


"Terus kondisi Pak Rey itu, masih hidup atau ...." tanya Hendra.


"Aku enggak tau, aku langsung keluar dari sana tadi." sahut Danisha dengan nada panik.


Lagi-lagi Hendra menghela napas panjang, ia belum tahu apa yang harus ia dan Danisha lakukan.


****

__ADS_1


__ADS_2