
Bulan segera mendekat dan bertanya pada sang dokter.
"Dok, bagaimana kondisi suami saya? Tidak ada yang serius kan, Dok?" Ujar Bulan mencecar.
"Tenang dulu Bun ...." Bujuk Igan coba menenangkan sang bunda.
"Begini Bu, suami Anda terkena serangan jantung. Tapi beruntung masih tergolong ringan dan segera dibawa kemari, jadi cepat ditangani."
"Lalu bagaimana sebaiknya, Dok? Apakah harus dirawat inap atau bisa pulang?" Tanya Igan.
"Sebaiknya hari ini dirawat dulu di sini untuk kami pantau juga kesehatan beliau. Kalau memang sudah tidak ada keluhan lagi, saya izinkan untuk pulang."
"Ya sudah, kami ikuti saja yang terbaik untuk Ayah saya Dok." Ucap Igan.
"Baik, kalau begitu saya permisi." Pamit sang dokter.
"Silakan, Dok. Terima kasih." Ucap Igan.
Setelah dokter yang memeriksa Bintang pergi, Bulan segera mengajak Igan untuk masuk menemui suaminya di instalasi gawat darurat, sekaligus mengurus administrasi untuk rawat inap.
"Ayah belum sadar Bun." Ujar Igan ketika melihat sang ayah yang masih terpejam.
"Ayahmu memang kelihatan shock tadi sebelum akhirnya jatuh." Ujar Bulan, lirih.
Igan menoleh lalu menatap ibundanya dengan lekat.
"Shock kenapa Bun?"
"Waktu lihat judul dan foto di salah satu berita online tentang kamu dan Ilona. Ayah langsung terlihat marah dan ... ambruk!" Papar Bulan.
Igan terhenyak. Ia tak menyangka, hanya karena itu bisa membuat ayahnya sampai terkena serangan jantung.
"Apa kamu ada hubungan khusus dengan Ilona, Nak?" Tanya Bulan, lembut.
"Igan sama Lona cuma partner kerja Bun, enggak lebih. Foto itu sebetulnya buat keperluan promo aja, soalnya konsepnya tentang pernikahan pasangan romantis gitu." Jelas Igan dengan lembut namun serius pada sang bunda.
Bulan menghela napas, kemudian tersenyum tipis.
"Bunda enggak tahu persis, kenapa Ayah segitu marahnya?" Ujar Bulan.
Igan terdiam, ia kembali teringat reaksi ayahnya ketika Ilona datang berkunjung.
Keheningan di antara Bulan dan Igan sontak sirna ketika Bintang sudah mulai siuman.
"Ayah ...." Ucap Bulan dan Igan nyaris bersamaan.
Bintang mengerjapkan mata sejenak dan melihat sekelilingnya.
"Ayah ... kita ada di Rumah Sakit sekarang. Ayah gimana, ada yang sakit?" Tanya Bulan dengan lembut sambil mengusap-usap lengan sang suami tercinta.
"Ng ... enggak Bun, ayah baik-baik aja ...." Sahut Bintang, kemudian menoleh ke arah Igan.
Igan tersenyum seraya menggenggam tangan ayahnya dengan penuh kasih.
"Yah ... Ayah yang sehat ya? Igan enggak mau lihat Ayah begini ...." Ujar Igan dengan sendu.
__ADS_1
"Ayah sehat kok, Nak ... Ayah cuma ... kaget, dan ... enggak suka lihat foto kamu sama Ilona pakai baju pengantin itu. Ayah benar-benar enggak suka!" Ujar Bintang, lembut tetapi tegas.
Ketika Igan hendak bicara memberikan penjelasan, seorang perawat datang memberitahu bahwa kamar rawat inap untuk Bintang sudah siap.
Mereka pun bergegas membawa Bintang ke ruang rawat inap berkelas paviliun, sesuai permintaan pihak keluarga.
Setibanya di kamar perawatan dan selesai menata posisi untuk pasien serta memastikan cairan infus menetes dengan normal, perawat itu mengingatkan bahwa pasien masih harus banyak istirahat jadi sebaiknya tidak banyak berbincang dahulu.
"Sudah Yah, istirahat dulu. Ngobrolnya kita lanjutin besok lagi, ya?" Ucap Igan.
"Tapi kamu jangan kemana-mana. Janji temani Ayah dan Bunda di sini, oke?" Pinta Bintang.
"Oke-oke! Igan bakal nginep di sini, tapi Igan pulang dulu sama Pak Hendro ambil baju sama keperluan untuk di sini. Enggak apa-apa kan, Yah? Daripada Bunda yang harus bolak-balik ambil?"
Bintang mengangguk. Igan pun pamit kepada ayah dan bundanya untuk pamit pulang dulu. Ia mengajak Hendro yang ikut mengantar sampai ke ruang perawatan.
"Ayo Pak Hen?" Ajak Igan.
"Iya Mas.
Pak, Bu, saya antar Mas Igan dulu. Permisi." Ucap Hendro.
"Iya Ndro, hati-hati ya nyetirnya?" Pesan Bintang.
Hendro mengangguk lalu bergegas menyusul Igan yang sudah menunggunya di pintu.
"Pak Hen ngantuk enggak? Kalo ngantuk, biar saya aja yang bawa mobil." Ujar Igan sembari berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit menuju ke area parkir.
"Wah enggak usah ... Mas Igan juga pasti capek baru pulang, iya kan? Sudah enggak apa-apa, saya biasa ngalong kok Mas."
"Ngalong? Ngapain??"
"Hmmm ... kirain ngalong nyari cabe-cabean." Timpal Igan sambil tersenyum lebar.
"Astagfirullah, Mas! Enggak mungkin lah, bisa disunatin dua kali nanti sama istri saya!" Seru Hendro yang membuat Igan terkekeh.
Mereka mempercepat langkah menuju area parkir. Hendro memegang kendali mobil untuk pulang menggunakan mobil Bintang, sedangkan mobil Igan masih tetap berada di area parkir.
*
Keesokan harinya ketika sedang bersiap-siap berangkat kerja, Tia ingat bahwa motornya masih dititipkan di kantor karena ia pulang diantar oleh Rey.
Tia sontak teringat kejadian semalam saat Rey bertindak bak seorang pelindung baginya, walaupun seharusnya itu tidak ia lakukan.
Tia menutup wajah cantiknya dengan dua telapak tangan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tampak begitu menyesali kejadian tersebut.
"Duuuh ... gimana nanti gue ketemu sama Pak Rey di kantor? Pasti makin canggung!" Gerutunya lirih.
"Canggung kenapa, Dek?" Tanya Hendra tiba-tiba.
Tia terperanjat, lalu cepat menoleh ke Hendra yang ternyata sudah berdiri di sampingnya.
"Euh? Ng ... enggak apa-apa kok, Kak!" Tukas Tia, gugup.
Hendra menatap sang adik dengan lekat.
__ADS_1
"Kamu nutupin sesuatu ya dari Kakak?" Tebak Hendra seraya memicingkan mata kala menatap Tia.
Tia tertunduk.
"Cerita aja ke Kakak, kenapa? Apa Pak Rey kurang ajar ke kamu?" Tegas Hendra.
"Eh, enggak-enggak. Bukan gitu, Kak! Semalam justru Pak Rey baik banget, tapi baiknya ... agak over sih menurut aku."
"Over gimana?"
Tia pun menceritakan kejadian semalam kepada sang kakak. Hendra mendengarkan dengan seksama.
"Ya udah ayo Kakak anterin, kan motor kamu masih di sana." Ujar Hendra.
"Enggak usah Kak, aku pesan ojek online aja. Kakak barangkali masih capek." Tolak Tia.
"Enggak, Kakak udah cukup istirahat kok. Udah ayo?!" Desak Hendra.
Tia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Tapi baru jam segini Kak?"
"Udah enggak apa-apa, daripada telat?"
Tia akhirnya menuruti kata-kata Hendra dan bergegas mengambil tas lalu memboncengnya menuju ke kantor.
Kak Hendra mukanya serius banget sih, ngeri deh gue! Kak Hendra pasti marah gara-gara yang tadi gue ceritain soal Pak Rey. Pikir Tia.
Setibanya di kantor, Hendra memarkirkan motornya dan membuat Tia heran.
"Kok enggak langsung pulang Kak?" Tanya Tia setelah turun dari boncengan motor Hendra.
"Enggak, Kakak mau ketemu seseorang dulu. Udah sana kamu masuk. Kakak mau tunggu orangnya di sini, biasanya sebentar lagi dia dateng."
Tia mengernyitkan dahi, ia merasa yakin kalau kakaknya itu sedang menunggu Rey.
"Kakak nungguin Pak Rey kan?"
Hendra menoleh ke arah Tia yang sedang menatapnya dengan serius, lalu ia mengangguk.
"Jangan bahas soal itu Kak, nanti malah aku makin serba salah!" Rengek Tia.
"Kakak ini punya tanggung jawab penuh atas kamu, sebagai ganti ayah. Kakak yakin, ayah pasti enggak suka kalau anak gadisnya dipeluk lelaki yang bukan suaminya. Kakak mau tegur Pak Rey!" Tegas Hendra.
"Tapi Kak, dia itu refleks. Aku rasa Pak Rey enggak ada maksud untuk kurang ajar ke aku, percaya deh!"
"Kamu suka sama Pak Rey?"
Tia sontak terdiam, ia bingung harus menjawab apa.
"Pak Rey emang baik orangnya, tapi tetap aja dia itu laki-laki Dek. Kakak enggak mau lengah jagain kamu, dan kamu juga harus tahu bagaimana untuk bersikap!"
Tia kembali terdiam.
"Kamu enggak usah khawatir, Kakak cuma mau bicara sebagai sesama lelaki dewasa sama Pak Rey. Kakak berani jamin posisi kamu akan tetap aman. Udah sana masuk, enggak usah khawatir. Oke?"
__ADS_1
Tia mengangguk tanpa memberi komentar lagi, ia mencium punggung tangan sang kakak kemudian beranjak masuk ke dalam gedung.
***