
Paniknya Ilona sontak memantik banyak tanya bagi Bulan. Ia menatap gadis yang makin terlihat gelisah itu dengan lekat.
"Kenapa kamu kaget banget? Memangnya kenapa? Saya aja enggak masalah kok." selidik Bulan, ingin memastikan rasa penasarannya.
"Euh, bu-bukan begitu, Tan. Tapi ... Tante yakin, cincinnya enggak ketuker?"
Bulan menatap Ilona dengan tajam, ia semakin tertarik untuk menelisik lebih banyak informasi yang ingin ia ketahui langsung dari mulut gadis itu.
"Lona, Tante enggak paham deh kenapa kamu terus-terusan nanyain soal cincin itu ketuker apa enggak." ujar Bulan.
"Ya soalnya cincin saya itu istimewa banget buat saya, Tan!" tegas Ilona.
"Apa ada pembeda antara cincin kamu sama cincin Tante?"
Ilona menggeleng pelan, "Sayangnya enggak ada, Tan. Tapi saya yakin banget cincin kita ketuker!"
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?"
"Ya soalnya sikap Igan mendadak berubah pas cincinnya dipegang Tante!"
"Loh, memangnya Igan kenapa?"
"Igan jadi cuek lagi ke saya, dia enggak mesra kayak dulu waktu saya baru pakai cincin itu. Pasti cincinnya ketuker Tan, dan cincin yang jatuh ke laut itu yang punya saya! Padahal cincin itu enggak boleh jatuh ke laut, atau kena air laut, nanti jadinya ...." cerocos Ilona tanpa sadar hingga hampir keceplosan, ia langsung menutup mulutnya.
"Jadinya apa, Lon??" tiba-tiba Igan bertanya dan sudah berdiri di ruang tamu tapi masih bersembunyi di belakang lemari pajang yang besar.
Ilona terperanjat lalu coba mencari sosok Igan.
"Gan, kamu ada di sini ya Sayang?" seru Ilona sambil matanya sibuk mencari kesana-kemari.
"Coba kamu lanjutin kata-kata kamu barusan!" perintah Igan tegas, seraya keluar dari persembunyiannya.
Ilona tampak gelagapan, ia berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk mengalihkan kecurigaan Igan dan ibundanya.
"Kenapa kamu diam saja? Pasti ada yang kamu sembunyikan dari kami, betul begitu?" desak Bulan, lembut namun tegas.
Bintang sengaja tak ikut menemui Ilona di ruang tamu, karena ia rasa dengan dihadapi oleh Bulan dan Igan pun sudah cukup.
Ilona bergegas bangkit dari tempat duduknya dan akan pamit pulang.
"Kalau kamu pamit pulang, artinya memang ada yang tidak beres, dan kamu enggak mau jujur ke aku. Asal kamu tau, aku enggak bisa menjalin hubungan sama orang yang enggak jujur, Lon." tegas Igan.
__ADS_1
"Tapi ... kita kan udah tunangan, Sayang! Masa kamu tega giniin aku? Kita juga lagi terikat kontrak kerja sama Om Bono loh!"
"Maaf Lon, soal pekerjaan itu beda sama urusan perasaan. Soal kerjaan, aku bakal tetap.profesional. Tapi ... soal hati, sebenernya aku juga cuma anggap kamu sahabat dan rekan kerja, enggak lebih. Makanya aku heran kenapa aku sampe tunangan sama kamu?!"
Raut wajah cantik Ilona berubah garang dan penuh amarah, ia bersumpah serapah di hadapan Bulan dan Igan.
"KAMU TEGA SAMA AKU YA, GAN? AWAS KAMU, AKU ENGGAK TERIMA KAMU GINIIN!!" seru Ilona, nyaris histeris sembari menunjuk-nunjuk ke arah Igan.
"Maaf Ilona, sebaiknya kamu lupakan Igan. Kamu itu cantik, pintar, dan terkenal, pasti banyak lelaki di luar sana yang ingin jadi pendamping kamu ...." bujuk Bulan.
"Tante, apa Tante enggak pernah ada di posisi saya, hah?? Memang banyak cowok-cowok di luar sana yang naksir dan pengin jadi suami saya, tapi saya cuma cinta sama Igan! Makanya saya rela lakuin apa aja demi dapetin Igan, anak Tante!"
Bulan menghela napas lalu dihembuskan perlahan. Ia tersenyum menatap Ilona. Jujur, ada segelintir iba menyelinap di hati Bulan karena ia pun wanita dan bisa merasakan apa yang Ilona rasakan. Namun ia menyayangkan cara yang ditempuh Ilona itu salah.
"Yang sabar ya, Lona ... kamu harus bisa ikhlas menerima kenyataan. Tante yakin, kamu akan ketemu lelaki yang terbaik buat kamu, selain Igan." ucap Bulan seraya bangkit dari tempat duduknya dan merengkuh gadis itu.
"Lepasin, Tante!! Aku enggak butuh nasehat siapapun!!" tolak Ilona sembari menghempaskan rengkuhan tangan Bulan yang belum sempurna memeluknya, kemudian melangkah pergi.
Igan dan Bulan tersentak, mereka tak menyangka jika perangai Ilona sekasar itu.
"Lon, jangan kasar sama Bundaku!" bentak Igan.
"Ssstt ... Sudah, Nak. Dia lagi emosi." ucap Bulan, lembut.
Ilona membuka dan menutup pintu mobilnya dengan kasar, hingga membuat penjaga gerbang merasa gugup.
"CEPETAN BUKA GERBANGNYA!!" seru Ilona pada penjaga.
"I-iya, Mbak." sahut penjaga kemudian bergegas membuka gerbang.
Ilona mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, hingga di sebuah tikungan ia tak sanggup mengendalikan kendali mobilnya dan ....
BRAAAKKKK
Sebuah suara keras terdengar membahana, ketika mobil Ilona baru saja keluar area komplek perumahan dimana keluarga Erlangga tinggal. Ya, mobil Ilona menabrak sebuah pohon besar di tepi jalan setelah sebelumnya sempat hilang kendali dan menerabas trotoar.
Banyak saksi mata yang melihat kejadian itu dan segera menolongnya. Ilona segera dilarikan ke sebuah rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian.
Berita kecelakaan itu pun mulai terendus oleh media, hingga tak lama kemudian berita tentang kecelakaan Ilona merebak di berbagai media.
Igan yang mengetahui hal tersebut sangat terkejut, ia pun segera menuju ke rumah sakit dimana Ilona sedang dirawat. Beruntung Ilona memakai sabuk pengaman dan Tuhan masih memberinya kesempatan hidup.
__ADS_1
Kedatangan Igan ke rumah sakit langsung memancing para pencari berita untuk mewawancarainya. Namun Igan berusaha menghindar karena ia masih shock dengan kejadian tersebut.
"Ilona gimana, Dok? Apa ada yang fatal?" tanya Igan ketika ia melihat dokter keluar dari ruang IGD setelah memeriksa Ilona.
"Tidak, Mas. Beruntung korban cepat dilarikan kemari sehingga cepat mendapat penanganan medis." sahut sang dokter.
Igan menarik napas lega, ia bersyukur rekan duetnya itu masih bisa selamat dari maut. Ia pun segera menelepon Om Bono untuk memberi kabar.
*
Pada siang harinya, Igan kembali menjenguk Ilona di rumah sakit. Ia memang tidak menginap untuk menjaga Ilona karena sudah ada Om Bono dan istrinya yang menjaga Ilona.
Igan mengetuk pintu kamar tempat Ilona dirawat, dan dibuka oleh Om Bono.
"Mau ngapain lagi kamu kemari?" tanya Om Bono, ketus.
Igan mengerutkan alis, ia heran dengan sikap Om Bono yang berbeda.
"Mau jengukin Ilona, Om. Dia udah sadar belum?" sahut Igan, berusaha tetap tenang dan sopan.
"Dia sudah sadar dan baik-baik saja, tapi dia enggak butuh kamu. Pulang saja sana!"
"Om kenapa, kok tau-tau gini ke saya? Emang saya salah apa, Om?"
Om Bono mendorong pelan tubuh Igan sampai ke tembok depan ruang rawat Ilona, hingga punggung Igan menempel di tembok itu.
"Ilona sudah cerita semuanya ke saya, dan saya sangat kecewa sama kamu Igan!" tukas Om Bono.
Igan terdiam sejenak, "Tapi saya cuma berusaha jujur dengan perasaan saya, Om. Dari awal memang saya enggak ada perasaan khusus ke Ilona, tapi ... entah kenapa, saya bisa tunangan sama dia. Mungkin Om tau sesuatu?" ujarnya.
Om Bono makin emosi, telapak tangannya tampak sudah mulai mengepal.
"Ilona itu cinta sekali sama kamu, Gan! Dia rela lakukan apapun demi bisa bersanding sama kamu, apa kamu enggak kasihan sama dia, hah??" ujar Om Bono, lirih namun sangat tegas sembari menarik kerah baju Igan.
Dengan cepat Igan menghempaskan cengkeraman tangan Om Bono di kerah bajunya, lalu menatap pria plontos itu dengan tajam.
"Lona rela lakukan apa saja? Memangnya apa yang dia lakukan, Om?? Cincin merah itu, ada apa sama cincin itu?? Dia kelihatan panik waktu yakin cincinnya ketuker sama punya Bunda, pasti ada sesuatu di cincin itu dan mungkin Om juga tau, bukan begitu??" Igan balik memborbardir Om Bono dengan pertanyaan.
"Sekalipun saya tau, enggak akan saya beritahu siapapun! Yang jelas, kamu harus siap-siap menerima akibatnya karena sudah berani mengecewakan keponakan saya!" ancam Om Bono seraya berlalu dan kembali masuk ke dalam ruang perawatan Ilona.
****
__ADS_1