
Igan berjalan ke lobi lantai dua kantor ayahnya itu, lalu duduk di kursi yang letaknya strategis untuk dapat melihat ke segala arah, agar ia dapat melihat ketika Tia keluar dari ruangannya.
Benar saja, tak lama kemudian para staf dari divisi promosi pun tampak keluar dari ruang kerja mereka, namun Tia belum muncul.
Mereka melihat Igan yang tengah duduk santai di kursi lobi pun menyapa anak bos mereka itu.
"Eh, ada Mas Igan! Lagi nunggu Pak Bintang ya, Mas?" sapa Jeni, ramah.
Igan tersenyum, "Hmmm ... tadi sudah ketemu kok sama Ayah." sahutnya.
"Terus sekarang lagi nunggu siapa, Mas?" tanya Gugun.
Igan tersenyum, ia tampak ragu untuk menjawab sampai akhirnya muncul Tia dari dalam ruangan. Igan langsung berdiri dan memanggilnya.
"Tia!" seru Igan memanggil.
Jeni dan staf promosi yang lain sontak menoleh ke arah Tia, kemudian senyum-senyum saat kembali menoleh ke arah Igan.
"Oh ... ternyata lagi nungguin Tia." celetuk Jeni, sambil senyum-senyum.
Igan tersipu, "Iya, saya mau ajak Tia ngobrol. Boleh kan?"
"Oh ... boleh-boleh! Jangankan ngobrol, kalo mau diajakin nikah juga saya setuju kok, Mas. Ya kan, Ti?" seloroh Jeni sambil mengedipkan mata ke arah Tia.
Wajah Tia sontak merona, "Apaan sih, Kak?!"
"Tuh kaaaan Tia nya mau! Eh, malu ...." Jeni makin senang menggoda juniornya itu, kemudian terkekeh.
"Ya udah yuk kita yang tua-tua pada balik, biar yang muda-muda bisa ngobrol leluasa." ajak Gugun.
Jeni sontak mengerutkan dahi dan memasang ekspresi lucu, "Apa? Kita?? Lu aja kali yang tua, gue sih masih ngerasa muda dong!" ucapnya, percaya diri.
"Gitu tuh kalo emak-emak enggak tau diri, buntut udah lima masih aja ngakunya muda." timpal Gugun, sompral.
Ucapan Gugun pun berbuah tawa riuh dari rekan-rekannya yang lain, sedangkan Jeni menghadiahkan jitakan pelan ke dahi Gugun sampai Gugun mengaduh.
"Ya udah Mas, kami balik dulu. Ti, duluan ya! Have fun deh ngobrolnya sama Mas ganteng, hehe ...." ujar Jeni.
"Iya Kak, hati-hati ya semuanya ...." sahut Tia.
Setelah semuanya beranjak pergi, Tia bertanya pada Igan.
"Mas Igan dari tadi di sini?"
"Enggak, paling baru duduk lima menit di sini. Kamu mau langsung pulang, Ti?"
"Hmmm ... iya, kan enggak ada acara apa-apa."
"Kalo ada acara dadakan gimana?"
Tia mengerutkan alis tebalnya, "Acara dadakan? Apa?"
"Nonton." sahut Igan singkat, dengan menatap Tia dan tersenyum.
Mata Tia membelalak, ia tampak terkejut.
"Nonton?" Tia mengulangi kalimat itu.
"Iya, kamu suka nonton film enggak?"
__ADS_1
"I-iya ... suka sih. Sama siapa, Mas?"
Igan menoleh ke sekitar lobi, lalu mengerutkan dahinya.
"Kan saya yang ngajak, terus enggak ada orang lain lagi di sini. Jadi ya ... cuma kita. Gimana?"
Wajah Tia merona, ia tak dapat menyembunyikan kebaperannya.
"Emangnya ... kita mau nonton di mana, Mas?" tanya Tia.
"Di bioskop yang deket aja dari sini."
Tia terdiam sejenak, "Tapi nanti saya mau bilang dulu ke Kak Hendra."
"Nanti saya juga ijin sama kakak kamu. Atau ... kita nonton aja bertiga? Barangkali kamu ragu sama saya." ujar Igan sambil tersenyum.
Tia tersenyum, "Terserah Mas Igan aja."
Mereka berdua menuruni tangga bersama menuju area parkir. Tampak Hendra yang sudah menunggu Tia di atas motor.
"Lho, saya kira Mas Igan ikut pulang di mobilnya Pak Bintang terus mobilnya Mas dititipin di sini. Ternyata malah belum pulang ya?" sapa Hendra.
"Iya, tadi ayah memang ngajak bareng tapi saya mau ajak Tia nonton, lagian saya kan bawa kendaraan sendiri. Oh iya, Mas Hendra mau ikut sekalian?"
"Sekalian kemana, Mas?" tanya Hendra.
“Nonton. Ada film baru yang bagus lho, udah pada nonton belum?"
Hendra menggeleng.
"Ya udah, ayo Kak nonton bareng?" ajak Tia.
"Tapi sebetulnya kakak ada acara sih pulang kantor ini. Niatnya mau anterin kamu pulang dulu, terus langsung ke acara." sahut Hendra.
"Diundang Bang Alif buat pengajian sama makan-makan, selametan rumah katanya."
"Ya udah, kalo gitu ... Mas Hendra keberatan enggak kalo saya ajak Tia nonton berdua? Saya jagain kok Mas, janji enggak pulang malem-malem juga. Paling habis nonton makan dulu." ujar Igan.
Hendra mengarahkan pandangannya pada sang adik, ia melihat Tia tampak tenang dan tak keberatan diajak oleh Igan.
"Kamu gimana, Dek?" tanya Hendra, ingin mengetahui reaksi adiknya.
"Euh? Ya ... aku sih terserah Kak Hendra aja, ngijinin apa enggak?" sahutnya dengan salah tingkah.
Hendra tersenyum, ia dapat menerka isi hati adiknya itu.
"Ya udah kakak ijinin. Mas Igan tolong jagain Tia ya?" ujar Hendra.
"Insyaa allah, Mas Hendra jangan khawatir. Saya enggak ada niat jahat kok ke Tia. Kalo gitu, kami permisi dulu ya? Assalamu'alaikum ...."
"Kakak hati-hati ya?" pesan Tia sembari mencium punggung tangan kakaknya.
"Iya, kamu sama Mas Igan juga hati-hati.
Wa'alaikum salam ...."
Mereka berpisah di area parkir dan beranjak ke tujuan masing-masing.
"Kamu sama Mas Hendra tuh deket banget ya, Ti? Akur juga, seneng saya liatnya." puji Igan pada Tia saat di perjalanan.
__ADS_1
Tia tersenyum, "Iya Mas, alhamdulillah. Kak Hendra tuh bener-bener jagain aku banget, terutama pas ayah udah enggak ada. Dia malah janji enggak mau nikah dulu sebelum aku nikah." paparnya.
"Wah ... berarti kamu harus cepetan nikah dong, Ti. Kalo kamu santai-santai aja, kasian kakak kamu nanti enggak nikah-nikah!" timpal Igan kemudian tergelak.
Tia ikut tertawa, "Gimana mau nikah, orang calonnya aja belum ada. Mas Igan sendiri gimana? Udah dapet penggantinya Ilona belum?"
"Hmmm ... kalo saya sih bukan nyari penggantinya Ilona. Soalnya ... dia enggak pernah ada di hati saya, tapi cuma ada di pikiran dan kontrak kerja." sahut Igan, santai.
"Tapi berarti Mas Igan pernah mikirin dia dong?" tanya Tia, terdengar cemburu.
Igan menoleh ke arah Tia lalu menatapnya sejenak, kemudian tersenyum.
"Iya, saya memang sempet mikirin dia. Saya mikir, kenapa saya bisa sampe tunangan sama orang yang enggak saya cintai? Dia juga muncul di pikiran saya kalo kami terlibat kerja sama, itu aja." jelas Igan.
Tia tampak tenang, entah kenapa ia tiba-tiba merasa posesif pada Igan. Tia pun menyadari itu dan buru-buru menahan perasaan yang ia anggap tak seharusnya itu.
Kenapa gue jadi jealous gini ya? Kan Mas Igan bukan siapa-siapa gue! Dia baik juga emang karena dia orangnya baik dan ramah sama siapa aja. Paling ... dia cuma anggap gue karyawan di perusahaan ayahnya dan pernah ikut andil nolongin dia. Jangan ngarep lah, Ti ... Lo itu bukan siapa-siapa buat Mas Igan!! batin Tia, menggerutu.
"Jujur, udah ada seseorang yang mengisi hati saya, Ti." imbuh Igan, membuat Tia kembali merasakan hatinya bak teriris.
Tuh kan bener! Mas Igan pasti udah ada cewek yang dia taksir. Come on Tia ... jangan jadi pungguk yang merindukan bulan! Bangun dari dunia halu! seru Tia dalam hati.
Igan kembali menoleh ke arah Tia yang tampak hanya terdiam.
"Ti, kamu kenapa kok diem aja?" tegur Igan.
Tia terkesiap, ia menoleh ke arah Igan yang masih menatapnya heran.
"Hei, kamu ngelamun ya? waduh parah sih, saya lagi ngomong malah dicuekin." ledek Igan.
"Eh, enggak kok Mas, saya enggak ngelamun. Saya dengerin kok. Mas Igan lagi naksir seseorang kan? Bagus kalo gitu, kapan-kapan ... kalo enggak keberatan saya juga mau kenalan." cerocos Tia.
Igan tertegun, ia arahkan pandangannya lurus ke depan lalu berbelok ke sebuah gedung bioskop yang mereka tuju.
"Eh, udah nyampe." celetuk Tia, girang.
Ia melepas seat belt yang terpasang lalu bergegas keluar dari dalam mobil. Ya, Tia sedang berusaha menetralisir hatinya agar tidak terjadi drama kasih tak sampai di hidupnya untuk Igan.
Igan agak heran dengan sikap Tia yang tiba-tiba berusaha menjauhinya, padahal ia sedang mencoba mengenal lebih dekat gadis yang sudah mengisi hatinya itu.
Tia kok buru-buru keluar mobil gitu? Apa jangan-jangan ... dia tau kalo cewek yang aku maksud itu dia? terus dia enggak suka sama aku, makanya dia berusaha menghindar?? pikir Igan.
Tia yang melihat Igan masih duduk di balik kemudi akhirnya mengetuk kaca pintu mobil mewah itu.
"Mas, jadi nonton enggak?" tanya Tia sambil. melongok ke kaca pintu mobil.
Igan terkesiap, lalu buru-buru melepas seat belt tanpa mematikan mesin mobilnya dan keluar begitu saja.
"Mas, kok mesin mobilnya enggak dimatiin?" tegur Tia.
Lagi-lagi Igan terkesiap, ia pun jadi salah tingkah. Dengan tergesa ia buka kembali pintu mobilnya dan mematikan mesin mobil.
"Huff ... untung kamu ingetin, Ti. Makasih ya?" ucap Igan ketika sudah memastikan kondisi mobilnya aman untuk ditinggal.
"Mas Igan ngelamun apa hayo ...?" ledek Tia.
"Enggak kok, cuma lagi mikirin orang yang saya suka. Kira-kira ... dia suka juga enggak ke saya?" sahut Igan sambil menatap Tia, dalam.
Jantung Tia berdegup lebih cepat, ia merasa tatapan Igan padanya saat itu sangat tak biasa. Tia merasa tatapan pemuda tampan itu mampu menembus hingga sanubari, dan perlahan membuat pipi Tia merona.
__ADS_1
"Ya udah yuk ke dalam? ajak Tia, mengalihkan pembicaraan, lebih tepatnya ia tak mau terbawa perasaan.
****