Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Hikmah Dibalik Musibah


__ADS_3

Hendra tiba di rumah dengan diantar polisi.


"Terima kasih banyak ya Pak atas bantuannya?" ucap Hendra pada para petugas yang sudah mengantarnya pulang dan membawakan motornya sampai ke rumah.


"Sama-sama. Kalau begitu, kami permisi ya Mas? Mudah-mudahan cepat sembuh." sahut petugas.


Hendra mengangguk, "Aamiin. Sekali lagi, terima kasih banyak Pak." ucap Hendra sebelum para petugas itu pamit.


Hendra merogoh tasnya untuk mengambil duplikat kunci rumah yang selalu ia bawa di tas kerjanya, agar jika ia dan sang adik pulang berbeda waktu mereka tak harus saling menunggu dibukakan pintu.


Hendra masuk sembari menuntun motornya ke ruang tamu, yang sekaligus berfungsi sebagai garasi. Ia memarkir motornya di sana dengan hati-hati, agar adiknya tidak terbangun dan melihat keadaannya yang babak belur.


Ia pun melangkah masuk dengan langkahnya yang pincang menuju ruang tengah dengan agak mengendap-endap, berharap sang adik sedang tertidur pulas.


Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sang adik tertidur di atas sajadah dengan masih mengenakan mukena.


Ya Allah Dek, kamu pasti habis sholat nungguin kakak sampe ketiduran begitu. batin Hendra sambil menatap sang adik penuh haru.


Hendra menaruh tasnya di atas meja dekat televisi, lalu menaruh sepatu yang sudah ia lepas saat di ruang tamu tadi ke rak sepatu di dekat mesin cuci.


Ia pun segera mengambil handuk yang ada di rak handuk di dekat kamar mandi, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Suara gemericik air di kamar mandi sontak membangunkan Tia yang terlelap di ruang tengah, karena letaknya yang tak jauh dari kamar mandi.


Tia duduk lalu mengucek matanya, melihat ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari, membuat Tia segera bangkit dan merapikan kembali mukena dan sajadahnya.


Hendra keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang membelit bagian pinggang hingga lutut. Ia terkejut saat melihat adiknya sudah duduk di kursi depan TV.


Mata Tia terbelalak ketika melihat kakaknya babak belur. Ia segera bangkit menghampiri kakaknya dengan wajah cemas.


"Astagfirullah Kak, kenapa masih kejadian juga ya? padahal aku tadi minta sama Allah supaya Kak Hendra enggak kenapa-napa." seru Tia sembari menatap kakaknya dengan seksama.


Hendra tersenyum, "Ini juga kakak enggak kenapa-napa kok, cuma memar." sahutnya santai.


Tia berdecak, "Memar sama jalannya pincang begitu masih dibilang enggak apa-apa, Kak?"


Hendra menatap adiknya lekat, "Alhamdulillah kakak cuma begini, Dek. Allah masih mendengar doa kamu. Mungkin kalo Allah enggak dengerin doa kamu, kakak bisa tewas dikeroyok begal-begal itu." sahutnya.


Tia tertegun, ia bergumam mengucap istigfar karena menyadari kekeliruannya sudah berkata demikian.


"Kakak pulang naik motor sendiri tadi?" tanya Tia dengan agak tenang.


Hendra menggeleng, "Dianterin polisi."


"Terus, Kakak lawan begal-begal itu sendiri?"


"Kakak pake baju dulu ya? Dingin!" ucap Hendra sambil kedua tangannya disilangkan di depan dada.


"Oh, iya deh." sahut Tia sambil meringis. Ia pun bergegas menuju dapur untuk membuatkan teh hangat.


Hendra kembali keluar kamar setelah rapi memakai baju. Wajahnya yang ganteng kini dihiasi memar kebiruan, namun tak menguras sedikitpun kharismanya.


"Ini Kak, aku buatin teh anget." ujar Tia sembari menyodorkan secangkir teh hangat untuk kakaknya.


"Makasih ya, Dek." Hendra menerima cangkir itu lalu menyeruputnya perlahan.


"Jadi, gimana tadi kejadiannya, Kak?" Tia kembali mulai bertanya.


Hendra pun bercerita secara detil kronologi insiden yang baru ia alami. Tia mendengarkan dengan seksama, wajahnya serius.


"Ya Allah, itu sih bener-bener enggak seimbang! Kak Hendra jelas tumbang kecapekan lah ngelawan enam orang itu, walaupun Kak Hendra jago bela diri." tukas Tia, kesal.


"Iya, tapi untungnya ada dua orang kakak-beradik itu yang nolongin Kakak." ucap Hendra sambil senyum-senyum.


Tia heran melihat ekspresi kakaknya.

__ADS_1


"Kok seneng gitu mukanya, Kak? Babak belur lho itu!" celetuk Tia.


"Ada hikmah di setiap musibah. Kakak dapet temen baru, Dek." sahut Hendra.


Tia menghela napas dalam" Ya udah Kakak minum obat aja dulu, habis itu istirahat." sarannya.


"Iya Dek, badan kakak berasa sakit semua nih."


"Besok aku panggilin tukang urut ya, Kak?"


"Siapa, Mbok Karti?"


"Iya, emang siapa lagi?"


"Eh, jangan Mbok Karti! Kakak kan cowok, masa diurut perempuan?"


"Kalo buat urusan medis dan kesehatan bukannya boleh ya, Kak?"


"Ya ... boleh sih, tapi kakak enggak nyaman. Nanti kakak telepon Ujang aja, minta tolong panggilin tukang urut laki-laki langganannya ke sini."


"Oh, ya udah deh."


*


Keesokan harinya, Tia pagi-pagi sudah mandi dan membuat sarapan. Ia tampak santai bebenah rumah walau waktu sudah menunjukkan pukul 07.00.


Hendra yang baru bangun setelah kembali tidur selepas subuh pun merasa heran. Ia duduk di kursi depan televisi memperhatikan adiknya yang sibuk mengepel lantai.


"Kamu kok masih ngepel, Dek? Udah siang lho." tegur Hendra.


Tia menoleh ke arah kakaknya, lalu dengan santai menjawab.


"Aku cuti, Kak." Tia kembali melanjutkan mengepel lantai.


Tia berhenti mengepel lalu balik badan menghadap ke arah kakaknya.


"Aku tadi pagi-pagi telepon Ci Jeni sama Pak Irwan, ngambil cuti dadakan. Aku mau di rumah dulu, kan Kakak lagi kayak gitu kondisinya. Barangkali butuh apa-apa, jadi ada aku."


"Kakak enggak apa-apa kok, kamu enggak harus ambil cuti Dek. Apalagi kamu kan juga habis ijin lama waktu masuk rumah sakit."


"Udah deh, Kak ... aku yang ngeliat kondisinya Kakak begitu aja ngilu sendiri. Kali ini, aku yang jagain Kakak. Jangan bandel!"


Tia kembali mengepel lantai sampai seluruh permukaannya bersih dan wangi.


Hendra geleng-geleng sambil tertawa kecil mendengar ucapan adiknya, lalu beranjak pelan menuju kamar mandi.


"Oh iya, kalo mau sarapan ini udah aku siapin di meja ya Kak! Aku mau nyapu halaman depan." ujar Tia di depan pintu kamar mandi setelah selesai mengepel.


"Oke ...." sahut Hendra dari dalam kamar mandi.


Tia beralih ke luar rumah lalu mengambil sapu lidi dan mulai menyapu halaman. Beberapa orang tetangga yang lewat di depan rumahnya menyapa Tia dengan ramah.


"Mbak Tia tumben belum berangkat ngantor?"


"Iya Bu, saya ambil cuti." sahut Tia dengan ramah.


"Oh iya Mbak, tadi pagi-pagi sekali saya denger suara mobil sama motor berhenti di depan sini. Ada tamu, Mbak?" tanya salah seorang tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumah Tia.


Tia berhenti menyapu, "Bukan tamu Bu, tapi polisi yang nganterin Kak Hendra pulang." sahutnya.


"Polisi? Emangnya Mas Hendra kenapa?"


"Kak Hendra habis dibegal Bu pas pulang kantor, kebetulan kan shift sore jadi pulang tengah malem. Di jalan dikeroyok begal, motornya mau dirampas." tutur Tia, menjelaskan.


"Ya Allah ... kasian Mas Hendra! Terus Mas Hendra gimana kondisinya, Mbak?"

__ADS_1


"Memar-memar sama pincang jalannya, Bu."


"Astagfirullah ... memang kurang ajar itu begal-begal! Sekitar dua bulan lalu keponakan saya juga pernah jadi korban, Mbak. Begalnya bawa senjata tajam, akhirnya dia pasrah aja motornya dibawa."


"Ya Allah ... mendingan kehilangan motor ya Bu daripada keponakannya kenapa-napa." timpal Tia.


"Iya Mbak, harta bisa dicari. Apalagi keponakan saya itu kan anak tunggal."


"Eh, ya udah Mbak Tia kami permisi dulu ya mau ke warung." pamit salah satu ibu mewakili tiga ibu yang lain.


"Oh iya Bu, silakan." sahut Tia sambil tersenyum.


Ibu-ibu itu beranjak pergi meninggalkan Tia yang masih terdiam sambil memegangi gagang sapu lidi. Ia teringat pada kakaknya yang dapat pulang dengan selamat, tanpa ada barang-barang yang dirampas.


Astagfirullah ... maafin hamba Ya Rabb. Harusnya hamba bersyukur karena Engkau masih melindungi Kak Hendra sesuai permohonanku. batin Tia.


Tiba-tiba ada suara klakson mobil mengagetkannya. Tia tersentak lantas menoleh ke sumber suara.


"Mas Igan?" seru Tia, girang.


"Assalamu'alaikum, Cantik. Kok ngelamun sampe enggak tau pacarnya dateng?" sapa Igan menyembul dari jendela mobilnya dengan senyum menawan.


"Euh? Wa-wa'alaikum salam. Enggak ngelamun kok, Mas. Oh iya, kok Mas Igan ke sini?" sahut Tia, salah tingkah.


Senyuman Igan berubah cemberut, "Jadi saya enggak boleh dateng ke sini ya?"


Tia mendadak gelagapan, "Bu-bukan begitu, Mas. Tapi bukannya Mas masih ada acara di Jogja?"


Igan turun dari kabin mobilnya sambil menenteng tiga paperbag berisi makanan ringan khas Kota Gudeg dengan jenis yang berbeda, lalu mendekat ke sang kekasih yang berdiri menatapnya.


"Saya sudah pulang semalam, ini ada oleh-oleh buat kamu sama Mas Hendra." ucap Igan menyodorkan benda yang ia bawa.


Tia tersenyum manis, "Terima kasih ya, Mas. Ayo masuk dulu." ajaknya.


Igan mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah beriringan dengan Tia memasuki ruang tamu.


"Duduk dulu ya, Mas. Saya ke belakang dulu, cuci tangan." pamit Tia.


Lagi-lagi Igan mengangguk dan tersenyum manis menatap kekasihnya.


Tak lama kemudian, Hendra muncul dari ruang tengah. Igan terkejut melihat kondisi calon kakak iparnya.


"Astagfirullah, Mas Hen kenapa??" tanya Igan.


Hendra meringis lalu duduk di depan Igan.


"Enggak apa-apa, cuma ... semalem habis diajak kenalan sama begal." sahutnya cengengesan.


Igan tersenyum, "Yang ngajak kenalan begal jadi tanda perkenalannya memar begitu ya, Mas? Kalo yang ngajak kenalan cewek cantik kan bisa tukeran nomer HP." seloroh Igan.


"Itu juga dapet kok, Mas." sahut Hendra dengan cepat sembari tersenyum malu.


"Oya? Emang begalnya ada yang cewek juga?"


Hendra tertawa, "Bukan ... Tapi ada cewek cantik yang ikut nolongin saya." jelasnya.


"Oh ... Berarti enggak terlalu sia-sia ya Mas babak belur begini?" ledek Igan.


"Ih Mas Igan nih!" celetuk Tia, cemberut.


Igan terkekeh, begitu juga dengan Hendra. Benaknya sontak kembali terbayang sosok Danisha yang cantik dan baik.


Ya Allah, jika memang dia baik untuk hamba, mudahkan jalan hamba untuk mendekatinya. batin Hendra.


****

__ADS_1


__ADS_2