Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Siasat Ilona


__ADS_3

"Kamu ngapain?" Tanya Igan setelah Ilona kembali ke kursinya.


"Enggak, cuma ngasih tip buat mbak itu." Sahut Ilona.


"Oh." Timpal Igan, singkat.


Ilona tampak memotong kecil pie yang ia pesan, lalu ia makan menggunakan garpu. Ia kembali memotong kecil pie-nya namun kali ini ia sodorkan ke mulut Igan.


Igan sontak memundurkan tubuhnya untuk menjauh dari suapan Ilona seraya mengernyitkan dahi.


"Apaan sih, Lon?" Tukas Igan.


"Ini kamu cobain, enak tau!" Bujuk Ilona, tanpa menarik tangannya.


"Enggak ah, kalo aku mau juga tadi aku pesan." Tolak Igan.


"Sedikit aja lah, Gan ... aku enggak enak tau ngemil sendirian." Ucap Ilona, merajuk.


Igan melihat tangan Ilona yang tetap menyodorkan potongan pie ke depan mulutnya, ia pun tak ingin situasi itu berlarut-larut karena ia paham karakter Ilona yang pantang menyerah.


Perlahan tubuh Igan condong ke depan lalu membuka mulutnya untuk menerima potongan pie itu.


HAP !!!


Sebuah suapan pie sudah berhasil masuk ke mulut Igan, bersamaan dengan senyuman yang tersungging di wajah Ilona.


"Nah ... gitu dong! Gimana, enak kan?" Ujar Ilona sambil tersenyum.


Igan hanya mengangguk karena mulutnya sedang mengunyah.


"Mau lagi? a ....!" Tanya Ilona menawarkan, seraya menyodorkan suapan ke dekat mulut Igan dan bertingkah seperti seorang ibu sedang membujuk anaknya untuk makan.


"Enggak-enggak, makasih. Kamu aja!" Tolak Igan sambil menyingkirkan tangan Ilona dengan perlahan.


"Ya udah deh, aku habisin ya pie-nya?"


Igan mengangguk dengan gerakan tangan mempersilakan.


Setelah kurang lebih satu jam mereka berada di kafe itu, Igan sudah merasa lelah dan ingin pulang. Tapi ia teringat permintaan sang waitress yang ingin meminta mereka berfoto di kafe itu.


"Lon, balik yuk? Aku capek, pengin istirahat cepet." Ajak Igan.


"Oh, ayo!" Timpal Ilona.


"Eh-eh, nanti dulu! waitress nya tadi mana? Katanya mau minta foto kita?" Celetuk Igan, teringat.


"Oh, mungkin lagi sibuk orderan di dalam." Sahut Ilona, santai.


"Coba aku susulin deh, enggak enak takut dikira sombong sekalian bayar." Ujar Igan seraya bangkit dari kursinya.


"Jangan Gan! Biar aku aja yang ke sana. Kamu tunggu sini aja. Nanti aku yang bayar deh, kan aku yang ngajak kamu." Cegah Ilona.


"Beneran?" Ledek Igan.


"Ya bener lah! Udah kamu jangan bawel deh, Gan!" Omel Ilona.


"Yakin?"


"Iya ... lagian aku mau beli cemilan buat di rumah."

__ADS_1


"Ya udah, aku tunggu di sini." Ujar Igan.


Ilona tersenyum lalu bergegas masuk ke dalam kafe untuk mencari waitress yang tadi melayaninya.


"Mbak! Sini!" Seru Ilona memanggil waitress ketika melihatnya datang setelah melayani seorang pelanggan.


Waitress itu mengangguk dan berjalan cepat mendekat ke arah Ilona.


"Mbak, tadi udah lakuin yang saya suruh kan?" Tanya Ilona agak berbisik ke waitress itu.


"Sudah Kak, ini!" Sahutnya sembari menunjukkan layar ponselnya.


"Bagus! Cepat kirim ke HP saya pake bluetooth." Perintah Ilona.


Dengan cepat foto yang Ilona minta pun sudah masuk ke dalam galeri ponsel Ilona.


Ia tampak tersenyum puas melihatnya.


"Makasih ya? Ini hadiah buat Mbak, terima aja. Anggap ini uang tip dari saya." Ucap Ilona seraya menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan secara diam-diam.


"Makasih banyak ya, Kak?" Ucap waitress itu.


Ilona mengangguk.


"Yuk Mbak ke sana? Katanya mau minta foto saya sama Igan buat dipajang di kafe ini?" Ajak Ilona.


"Iya Kak, sebentar saya taruh baki dulu." Sahutnya.


Tak lama kemudian, mereka pun keluar menemui Igan yang menunggu di kursi tempatnya duduk tadi.


"Permisi ya Kak, saya fotoin dulu?" Ujar waitress itu meminta izin.


"Baik, Kak. Cuma sebentar kok."


Igan dan Ilona pun berpose di depan kafe Amarta lalu diabadikan oleh sang waitress.


"Sudah Kak, ini hasilnya. Bagus tidak?"


Igan dan Ilona melihat ke layar ponsel waitress itu, lalu mengangguk setuju.


"Bagus kok, udah cukup Mbak?" Tanya Igan.


"Sudah Kak, terima kasih banyak."


"Iya, sama-sama. Oh iya, saya lupa belum bayar tadi di kasir." Ucap Ilona.


"Tidak usah Kak, kata manajer saya orderan Kakak-Kakak tadi free sebagai ucapan terima kasih sudah mau foto untuk keperluan promosi kafe kami."


"Wah, yang bener Mbak?" Tanya Ilona, senang.


"Betul Kak."


"Ya udah, makasih ya Mbak? Sampaikan juga terima kasih kami buat manajer Mbak." Ucap Ilona.


"Baik, Kak. Nanti saya sampaikan."


Igan dan Ilona berjalan beriringan menuju area parkir.


"Kamu kok lenggang? Katanya mau beli cemilan buat di rumah?" Tanya Igan saat berjalan menuju mobil masing-masing.

__ADS_1


"Euh? oh, iya-iya! A-aku tadinya emang mau beli tapi ternyata kenyang juga padahal cuma makan pie sama moccacino." Sahut Ilona, mengelak.


"Oh."


"Gan, aku duluan ya?" Pamit Ilona ketika sudah sampai di samping mobilnya.


"Oke, hati-hati Lon!" Ucap Igan.


Ilona mengangguk dan tersenyum, kemudian masuk ke dalam kabin mobilnya dan melaju pulang. Tak lama kemudian Igan menyusul pulang ke rumah orang tuanya.


Malam itu Ilona tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan mampir ke rumah Om Bono.


Sesampainya di rumah Om Bono, ia disambut oleh istrinya Om Bono yang bernama Ratih. Ratih sangat senang melihat kedatangan Ilona, ia segera memeluk keponakan cantiknya itu dengan hangat.


Ilona sudah mereka anggap seperti anak kandung sendiri, disamping karena Ilona adalah anak dari mendiang kakak Ratih yang bernama Dea, tetapi juga karena Om Bono dan istri kehilangan buah hati mereka satu-satunya karena sakit parah.


"Masuk Sayang ... kamu kok baru main ke sini lagi sih? Tante tuh kangen banget loh sama kamu, Cantik." Ujar Ratih.


"Iya Tante, maaf baru sempet. Tante sama Om, apa kabar?"


"Baik-baik aja ... kamu sendirian ke sininya?" Tanya tantenya.


"Iya Tan, emang sama siapa?" Ilona balik bertanya, heran.


"Loh, si tampan itu enggak ikut?" Ledek tantenya.


Ilona mengernyitkan dahi dan menatap tantenya dengan intens.


"Maksud tante mu itu Igan, Lon." Celetuk Om Bono yang baru keluar dari kamar.


Ilona sontak tersipu, hatinya selalu berbunga ketika mendengar nama Igan menyusup ke telinganya.


"Tadi sih Lona habis ngopi sama dia, tapi dia udah pulang sekarang."


"Wah, ternyata kalian beneran dekat ya? Tapi ... cewek yang satunya waktu masuk berita gosip itu siapa? Kok Igan sampe digosipin playboy gitu?" Selidik Ratih.


"Justru itu Lona datang ke sini Om, Tante. Lona mau bilang sesuatu."


"Tentang apa, Lon?" Tanya Om Bono.


"Menurut Om sama Tante, Lona cocok enggak kalo jadian sama Igan?" Tanya Ilona, tanpa basa-basi.


Sontak saja wajah Om Bono dan istrinya berubah heran.


"Kok kamu nanya begitu, Sayang?" Tanya Ratih.


"Hmmm ... jujur, Lona jatuh cinta sama Igan, Tan. Malah dari jaman SMA, Lona udah kagum sama dia."


Tante Ratih dan Om Bono tersenyum.


"Kamu enggak salah kok jatuh cinta sama Igan, dia itu memang lelaki berkualitas. Dan ... Om rasa kalian cocok kalau jadian. Ya enggak, Mah?"


"Betul Pah, Igan juga kan tampan dan gagah, cocok bersanding sama kamu yang cantik dan ramping, Lona." Puji Ratih sambil tersenyum.


"Kalo gitu ... Om sama Tante tolong bantu Lona ya buat yakinin Igan nerima cinta Lona?"


Om Bono dan istrinya mengangguk setuju sambil tersenyum.


***

__ADS_1


__ADS_2