Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Rencana yang Gagal


__ADS_3

Dalam perjalanan, Tia tak banyak bicara. Ia tengah sibuk dengan beragam pemikiran atas segala kemungkinan yang akan Rey sampaikan padanya nanti.


"Kamu kok diem aja, Ti?" tanya Rey.


"Hmmm ... enggak apa-apa kok, Pak. Oh iya, tujuan kita makan dimana ya?" sahut Tia kemudian balik bertanya.


Rey tersenyum dan hanya menjawab, "Nanti juga kamu tau."


Tia tersenyum tipis, ia kembali tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Suasana hening saat itu, hingga perjalanan mereka harus terkendala kemacetan di sebuah persimpangan jalan akibat sebuah kecelakaan.


Rey mendengus kesal dan menggerutu, "Duh, pake macet segala lagi! Tadi pas mau jemput kamu lancar banget loh padahal."


"Sabar Pak, itu di depan banyak polisi, ada kecelakaan rupanya." sahut Tia, tenang.


Rey diam namun ia tampak tak sabar ingin cepat-cepat sampai ke lokasi yang sudah ia siapkan untuk makan malam bersama Tia.


Butuh waktu bagi petugas untuk mengurai kemacetan akibat insiden di jalan tersebut, hingga membuat Tia bosan dan memejamkan mata. Sedangkan Rey memutar musik di audio mobilnya untuk mengusir kebosanan.


"Mbak ... tolong ...!!!" seorang wanita tua tampak tiba-tiba muncul di samping pintu mobil, membuat Tia terperanjat.


Tia terperangah melihat keadaan wanita itu.


Siapa nenek itu? Darimana datangnya, kenapa tau-tau ada di sini!? pikir Tia.


"Mbak ... tolong temui cucu saya, namanya Dila. Tolong berikan surat dari saya untuk dia." pinta wanita itu.


"Euh? Sa-saya? Ta-tapi saya enggak tau cucu nenek ada dimana. Bagaimana saya bisa kasih suratnya? Terus, suratnya ada di mana, Nek?" tanya Tia.


Wanita tua itu tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah depan sambil memberi isyarat pada Tia supaya mengikutinya.


Tia pun keluar mobil, mengikuti langkah wanita tua itu dengan langkahnya yang tertatih. Mereka melewati banyak mobil yang berderet menunggu akses agar bisa keluar dari kemacetan.


Langkah wanita tua itu terhenti hanya berjarak beberapa meter dari sebuah taksi yang tampak ringsek dan sedang ditangani oleh para petugas.


Wanita tua itu menunjuk ke arah mobil nahas tersebut, kemudian raut wajahnya berubah sedih, lalu menghilang entah kemana.


Tia tersentak kaget ketika menyadari hal itu, kemudian berlari kembali ke dalam mobil Rey dengan napas terengah-engah.


"Tia, Tia! Kamu kenapa? Tia, bangun Tia!!" suara Rey terdengar panik memanggil-manggil nama Tia.


Tia tergagap dan membuka mata, napasnya masih memburu ketika ia melihat Rey sedang menatapnya dengan cemas.


"Kamu kenapa, Ti?" Rey kembali bertanya.


"Ne-nenek ...." ucap Tia, terbata sembari menunjuk-nunjuk keluar mobil.


Rey menatap Tia dengan heran, kemudian menatap ke arah jari Tia mengarah.


"Nenek? Nenek siapa? Mana??" tanya Rey, bingung.


Melihat Rey yang kebingungan membuat Tia tersadar kalau ia baru saja berada di alam bawah sadar.


"Pak, tadi ada nenek-nenek ke sini. Dia minta tolong ke saya supaya kasih surat buat cucunya." papar Tia.


Rey mengernyitkan dahi lalu melihat sekeliling mobilnya.


"Kesini kapan? saya dari tadi melek tapi enggak liat ada yang mendekat ke mobil ini. Kamu mimpi ya, Ti?" tukas Rey, serius.


"Pak Rey, saya mau kesana dulu." ujar Tia dengan cepat lalu membuka pintu mobil, hendak keluar.


"Eh, mau kemana Ti?" tanya Rey dengan cepat meraih tangan Tia, mencegahnya pergi.


"Saya mau coba bantu nenek tadi." tegas Tia kemudian menghempaskan pegangan tangan Rey, dan bergegas keluar mobil.

__ADS_1


"Tia, kamu kenapa sih? Tia ...!!" seru Rey, kemudian segera menyusul Tia keluar.


Tia berlari kecil, mengikuti jalur saat tadi ia mengikuti nenek itu di alam bawah sadarnya. Rey pun dengan cepat menyusul Tia, ia tak mau gadis pujaannya itu kenapa-napa.


Akhirnya Tia tiba di lokasi saat nenek itu berhenti menuntunnya dan menunjuk ke arah sebuah taksi yang baru saja mengalami kecelakaan.


"Kamu mau ngapain di sini? Itu polisi lagi sibuk evakuasi, kamu bisa dianggap mengganggu." ujar Rey.


"Tapi nenek tadi nunjuk ke arah mobil itu, Pak. Mungkin surat yang dia maksud ada di dalam sana. Pak Rey bisa kan tolong bicara ke salah satu petugas di sana? minta ijin biar saya bisa dapetin surat itu." pinta Tia.


"Hah??" pekik Rey.


Perdebatan antara Rey dan Tia di dekat TKP, sontak mengundang perhatian para petugas yang sedang melakukan proses evakuasi.


"Maaf, Anda berdua sedang apa di sini? Tolong menyingkir, kami sedang melakukan evakuasi korban dan bangkai kendaraan, supaya cepat selesai dan mengurai kemacetan panjang." tegur seorang petugas.


"Euh, maaf Pak. Apa penumpang mobil nahas itu ada yang seorang nenek?" tanya Tia kepada petugas yang bernama Marwan itu.


"Ada Mbak, tapi sayang sekali beliau meninggal di tempat, sedangkan sang supir mengalami luka serius. Apa Mbak kenal beliau?"


Waduh, gue musti jawab apa nih?! Gue kan enggak kenal sama nenek itu, tapi dia minta tolong ke gue. Mana enggak nyebutin namanya lagi!! gerutu Tia dalam hati.


"Maaf Mbak, kalau Anda berdua tidak ada kepentingan, saya minta untuk menjauhi TKP ini untuk memudahkan kerja petugas. Permisi." tegas Pak Marwan kemudian hendak beranjak.


"Pak, apa saya boleh lihat nenek itu untuk memastikan saya kenal atau tidak?" pinta Tia.


"Para korban sudah dievakuasi ke rumah sakit Permata, Mbak. Tapi tanda pengenal beliau, masih kami amankan."


"Boleh saya lihat, Pak?" pinta Tia.


Rey hanya diam dengan wajah yang masih kebingungan.


Tia mau ngapain sih kepo banget sama korban itu? Kalo ternyata dia cuma halu kan bikin malu! batin Rey.


Tia mengangguk lalu bergegas mengikuti langkah Pak Marwan. Rey pun mau tak mau harus mengikuti mereka.


Pak Marwan tampak menghampiri salah seorang petugas lainnya yang bertugas mengamankan barang-barang milik korban.


Setelah Pak Marwan dan petugas itu berbicara sebentar, Tia pun dipanggil untuk melihat kartu identitas milik para korban.


"Ini Mbak, silakan dilihat dan dipastikan Anda kenal atau tidak." ucap Pak Marwan.


Tia terperangah ketika melihat foto di kartu identitas korban yang ternyata sama persis dengan sosok nenek yang tadi mendatanginya di mobil.


Kinasih? ternyata nama nenek itu Kinasih? batin Tia.


"Gimana, kamu kenal enggak?" tanya Rey agak berbisik pada Tia.


"Nenek di foto ini emang bener nenek yang tadi datengin saya, Pak. Saya yakin banget!" sahut Tia, pelan.


Rey kembali mengernyitkan dahi, "Enggak mungkin lah, Ti! Nenek itu kan meninggal di tempat kata petugas, mana mungkin dia datengin kamu?!" sangkal Rey, tak percaya.


"Ck, terserah Pak Rey mau percaya saya atau enggak!" tukas Tia, berdecak.


"Bagaimana Mbak?" tanya Pak Marwan.


"Ya Pak, saya kenal. Hmmm ... apa ada sebuah surat di dalam mobil itu?" tanya Tia.


"Surat?"


"Iya, nenek Kinasih bilang ke saya kalau beliau ada surat untuk cucunya yang bernama Dila." ucap Tia, mantap.


Tia beneran enggak sih? orang tadi di mobil juga dia tidur, gimana caranya dia ngobrol sama nenek itu? mana si nenek udah tewas pula! Hiiii ....!!! batin Rey, bergidik ngeri.

__ADS_1


"Sebentar saya cek dulu." ucap Pak Marwan kemudian memeriksa benda-benda milik korban yang ditemukan.


"Ti, kamu tau darimana sih soal surat itu? Nenek itu kan ...." tanya Rey yang langsung disergah oleh Tia.


"Sssttt ...!!!" Tia mengacungkan telunjuk kanannya di depan bibirnya yang mendesis.


Rey tampak kesal karena Tia tak menggubrisnya.


"Apa yang Anda maksud surat ini, Mbak?" tanya Pak Marwan beberapa saat kemudian.


Tia segera melihat ke secarik kertas yang dipegang oleh Pak Marwan. Disana tertulis sebuah ucapan ulang tahun untuk seorang gadis kecil yang baru genap berusia lima tahun, bernama Nadila Maureen.


"Iya betul Pak, nama cucunya Dila. Boleh saya baca, Pak?" pinta Tia.


"Silakan."


Tia membaca surat itu dengan seksama tanpa menyentuh lembarannya, karena hanya Pak Marwan yang menyentuhnya dengan menggunakan sarung tangan.


Oh ... jadi cucunya Nek Kinasih itu lagi ulang tahun hari ini? Surat ini mau beliau kasih ke cucunya. batin Tia.


Hal aneh kembali terjadi ketika Tia sedang membaca surat tersebut, tiba-tiba ia melihat bayang-bayang wajah seorang gadis kecil yang cantik serta sebuah rumah megah dan sebuah tulisan alamat lengkap yang berbeda dengan alamat rumah nenek Kinasih, yang tertera di kartu identitasnya.


Tia tersentak kaget, ia merasa mendapat petunjuk untuk bisa mewujudkan permintaan nenek Kinasih.


"Pak, maaf. Kalau saya mau antarkan surat ini ke cucu mendiang, boleh?" tanya Tia.


"Apa alamatnya sama dengan alamat korban?" tanya Pak Marwan.


"Bukan, Pak. Alamatnya ada di jalan Sawo Barat nomor 8C. Rumah berlantai dua, catnya warna abu-abu, dengan pagar besi tinggi warna hitam." sahut Tia dengan detil.


Jawaban Tia sontak membuat Rey terperangah, ia heran karena Tia begitu detil memberi penjelasan.


"Baik Mbak, nanti Anda berdua dan beberapa petugas akan menuju lokasi kerabat korban sekaligus untuk memberi kabar duka, karena kami tidak menemukan ponsel di barang bawaan korban jadi kami tidak bisa mengetahui atau menghubungi keluarganya."


Tia tersenyum lalu mengangguk setuju. Sementara Rey tampak tidak suka, karena rencana makan malamnya bersama Tia terancam gagal.


"Kenapa kita harus ikut segala sih, Ti? polisi aja kan udah cukup, toh kamu udah kasih tau alamat keluarga nenek itu kan? Biar polisi yang kesana aja, kita kan mau makan malam!" tukas Rey.


"Pak, nenek itu minta tolong ke saya. Kalo Pak Rey enggak mau ikut ya enggak apa-apa, biar saya naik mobil petugas aja dan pulang naik taksi online." tegas Tia.


Rey mendengus kesal namun ia tak mungkin meninggalkan Tia begitu saja.


Akhirnya setelah semua barang milik nenek Kinasih sudah berhasil dikumpulkan dan diamankan oleh petugas, mereka semua berangkat menuju lokasi rumah yang tadi Tia sebutkan.


*


Sesampainya di sana, petugas langsung memberikan kabar duka bagi keluarga tersebut. Suasana duka pun sontak terasa dengan suara isak tangis semua anggota keluarga, tak terkecuali dengan Dila.


Gadis kecil berwajah cantik itu menangis tersedu-sedu kala mengetahui sang nenek tercinta telah tiada.


Tak lama kemudian, Melinda, ibunda Dila dan suaminya mewakili pihak keluarga akan menuju ke rumah sakit Permata, guna menjemput jenazah ibu dari Melinda.


"Maaf, kalau boleh tau ... Mbak dan Mas ini siapa ya?" tanya Melinda saat berjalan menuju mobil.


"Hmmm ... kami cuma kebetulan lewat kok, Bu." Sahut Rey sambil berjalan menuju mobilnya bersama Tia.


"Lantas ... siapa yang memberitahu alamat rumah ini? Sedangkan ibu saya menurut saksi di TKP sudah meninggal di lokasi dan supir taksinya luka berat?"


Rey dan Tia saling pandang, lalu Tia hanya menggeleng dan tersenyum ke arah Melinda.


"Terima kasih ya Mbak ....!!!" ucap nenek Kinasih seakan berbisik di telinga Tia, kemudian menghilang begitu saja terbawa angin malam itu.


***

__ADS_1


__ADS_2