
Keesokan harinya Igan tak dapat ikut ke kantor sang ayah karena ia dan Jio harus menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan baru yang menggaet Igan sebagai brand ambassador produk unggulan mereka.
Di perjalanan ketika proses penandatanganan selesai, Jio mengabarkan bahwa Igan kembali mendapat tawaran kontrak eksklusif dari instansi yang menjadikannya duta sebelum ia dirundung fitnah.
"Bro, gimana? Lu mau enggak balik lagi jadi duta instansi itu?? Mereka minta maaf juga karena udah kemakan isu yang fitnah lu waktu itu. Makanya mereka minta lu gabung lagi." ujar Jio sembari menyetir mobilnya, sedangkan Igan duduk di kursi sebelah kemudi.
"Ogah! Suruh cari artis lain aja yang beneran suci dimata mereka! Pantang buat gue balik lagi setelah diusir begitu aja!" tegas Igan.
Jio manggut-manggut, ia paham betul bagaimana perasaan Igan dan memahami keputusan yang diambilnya.
"Gue udah nebak sih kalo lu bakal nolak mentah-mentah. Gue juga kasih jawaban ngambang ke mereka, biar mereka tau kalo pihak kita ini enggak segampang itu ditarik-ulur." timpal Jio.
"Pokoknya lu tegasin aja ke mereka kalo gue enggak sudi balik lagi! Lagian, gue lagi mau coba kerja di kantor bokap, Bro. Gue lagi jenuh sama dunia entertain."
"Hah, serius lu??"
Igan mengangguk, "Iya lah gue serius, gue juga kan harus siap-siap jadi penerus perusahaan bokap."
"Kalo lu udah enggak mau jadi artis lagi, berarti gue nganggur dong?! Wah tega lu, Bro!"
"Ya bukannya enggak mau ... tapi gue lagi ngurangin aktivitas aja di dunia entertainment. Gue pengin fokus belajar dunia bisnis."
"Ya berarti otomatis gue juga bakal jarang ambil job buat lu, sama aja pemasukan gue berkurang. Bro, gue mau ngelamar anak orang lho setengah taun lagi. Gue butuh banyak modal. Ayolah ... lanjut lagi deh, ya?" bujuk Jio.
"Nanti kalo emang gue udah bener-bener nerusin usaha bokap, mending lu buka manajemen artis aja. Jadi artis lu banyak, Bro, Kalo sekarang kan lu cuma handle gue."
"Iya sih ... tapi masalahnya, dalam waktu-waktu sekarang ini gimana ...?"
"Ya kan gue tetep nerima tawaran job dari pihak yang baru ngajak kerja sama, kayak yang barusan kita datengin. Tapi kalo pihak-pihak yang mutusin kontrak sepihak sama gue kemarin-kemarin, jangan harap!"
"Buset dah, galak amat!"
"Ya lu tau kan gue gimana?"
"Iya lah, gue apal banget karakter lu dari jaman kuliah, Bro."
"Ya udah, berarti lu pasti paham yang gue mau. By the way ... diem-diem lu udah mau ngelamar cewek aja Bro! Gue keduluan nih."
Jio terkekeh, "Ya ... mumpung ada cewek yang mau sama gue, hehehe ... Lagian orang tua gue udah nanyain mulu tuh, kapan nikah?"
"Maklum sih mereka nanyain mulu. Lu kan lebih tuwir dari gue ya, Bro?" ledek Igan kemudian terbahak.
"Haish, sialan lu!" timpal Jio sembari mengarahkan tinju pelan ke lengan Igan.
"Nah lu sendiri gimana, cewek inceran lu itu udah lu tembak belom?"
Igan menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Belom. Kan gue baru pedekate, pengin kenal lebih deket tentang dia sama kakaknya."
"Alah kelamaan, keburu disamber orang lho! Terus, dia emang beneran masih jomblo? Apa jangan-jangan ... yang lu incer tu calon bininya orang laen??" seloroh Jio, balik meledek.
"Jangan gitu dong Bro ... Gue berharap biar bisa jodoh sama dia. Makanya lagi gue pedekate-in dulu biar makin deket dan tau."
Jio manggut-manggut dan sejurus kemudian berseru, "Eh, kita kemana kek! Bosen banget gue di apartemen nonton tivi doang, walaupun beritanya bikin gue seneng sih."
"Berita apaan?"
"Itu ... Om Bono cs udah dipanggil ke kantor polisi buat diperiksa."
"Huff ... syukur deh. Mudah-mudahan pada dapet hukuman setimpal biar jera."
Jio manggut-manggut, "Ya udah yuk kemana kek! Refresing kemana ... gitu!" ajak Jio.
"Refresing?? Gue mau ke kantor bokap tau!"
Jio melihat arlojinya, "Udah jam segini mau ngapain lu ke kantor?? Udah besok aja ngantornya!" cegah Jio.
"Ya gue sih bebas mau jam berapa aja ke sana. Lagian ... gue kan juga mau ketemu sama dia." sahut Igan, santai.
__ADS_1
"Dia ... siapa??" tanya Jio, penasaran.
"Ya cewek yang lagi gue pedekate-in lah ...."
"Euh? Berarti dia kerja di kantor bokap lu?"
Igan mengangguk.
"Biasanya kan suami istri enggak boleh kerja di satu cabang instansi yang sama, Bro. Entar kalo kalian udah merit, gimana?"
"Bisa diatur lah soal itu, gue enggak mau mikir yang kejauhan dan belom pasti dulu. Yang pasti, sekarang ini gue minta sama Tuhan supaya apa yang gue harapkan bisa kesampaian."
"Aamiin ... gue ikut doain, Bro."
"Thank you-thank you ...."
"Tapi sekarang kita jalan dulu ya? Gue belom mau balik dulu jam segini, bosen!" Jio kembali merajuk.
"Hmmm ... ya udah deh, kita plesiran tipis-tipis. Let's go ...!!!" ujar Igan.
"Yeaaayyy ...!!!" seru Jio, bersemangat.
Akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Jio itupun meluncur ke sebuah objek wisata alam yang tak begitu jauh dari ibukota.
Perjalanan yang memakan waktu beberapa jam membuat mereka agak lelah.
Sesampainya di sana ternyata cuaca mendung. Mereka duduk-duduk santai menikmati suasana nan asri dan sejuk, dengan banyaknya pepohonan besar nan rimbun di sepanjang lokasi tersebut. Sesekali Jio mengambil foto berbagai spot yang menurutnya menarik.
Entah karena cuaca yang tak mendukung atau memang karena hari itu sedang tak banyak pengunjung, suasana lokasi wisata tersebut terasa agak lengang. Namun justru membuat Igan dan Jio merasa tenang.
"Enak banget ya Bro udaranya? Segerrrr ...!!!" ujar Jio.
Igan mengangguk, "Punya rumah di daerah begini pasti nyaman, enggak kerasa polusinya."
"Yoi ...." sahut Jio.
"Permisi." ucap wanita itu dengan sopan.
Igan dan Jio menoleh, terkejut lalu mendongak untuk melihat ke arah wanita yang sedang berdiri di samping Jio.
"Iya, kenapa Mbak?" sahut Igan.
"Boleh minta foto?" pinta wanita itu.
Igan langsung beringsut namun dengan wajah cemas, ia pun segera menepuk pundak Jio berharap manajernya itu mengetahui maksudnya.
Jio menoleh ke arah Igan dan memperhatikan isyarat mata dari Igan.
"Oh, maaf Mbak ... Mas Igannya lagi capek, belum lama nyampe sini." ujar Jio dengan ramah pada wanita itu.
"Sebentar aja kok Mas, mumpung ketemu." bujuknya.
Jio kembali menoleh ke arah Igan, coba mengkonfirmasi.
"Hmmm ... ya udah deh, tapi fotonya jangan cuma berdua, gimana?." ujar Igan.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"HP nya mana, Mbak?" tanya Jio.
Wanita itu hanya menggeleng.
"Waduh, enggak punya HP, Bro!" bisik Jio pada Igan.
"Kalo enggak punya HP kenapa minta foto sama kita??" sahut Igan yang juga berbisik.
"Pake HP nya Mas aja, lagian saya juga cuma mau difoto kok." ujar wanita itu dengan suara seperti mengambang dan tatapan yang datar pada Jio dan Igan.
__ADS_1
Seketika udara terasa sangat dingin, hingga membuat Jio dan Igan kedinginan.
"Kok mendadak dingin banget gini ya? padahal gue pake jaket." celetuk Jio.
"Udah mau hujan kali." sahut Igan, kemudian ia melihat ke arah wanita itu.
"Mbak enggak kedinginan? Dress-nya kan agak tipis gitu." tanya Igan.
Wanita itu hanya menggeleng dan tersenyum tipis.
"Ya udah Bro, buruan foto aja pake HP lu, kasian dia barangkali kedinginan. Abis foto kita langsung balik aja ke mobil." ujar Igan.
Jio menurut, ia segera mengambil ponsel dari saku jaket denimnya, lalu berdiri untuk berswafoto bersama Igan dan wanita itu.
"Satu ... dua ... tiga!" Jio memberi aba-aba sebelum menekan tombol berbentuk lingkaran di layar ponselnya.
Cekrek
Sebuah foto sudah berhasil tertangkap lensa kamera ponsel milik Jio. Hasil foto yang jernih menampilkan dengan jelas objek-objek yang ada di foto itu.
Posisi Jio diapit oleh Igan dan wanita itu. Mereka bertiga tampak tersenyum, namun ada yang berbeda pada senyuman wanita itu.
Tiba-tiba hujan turun, hingga membuat Igan dan Jio kalang kabut berlari menuju mobil dan berteduh di dalam kabin.
"Huff ... padahal enak banget udaranya, tapi keburu hujan." gerutu Jio.
"Iya. Gimana, kita balik aja?" usul Igan.
"Oke." Jio menarik tali sabuk pengaman mobilnya dan tak sengaja pandangannya melihat ke arah luar.
Tampak wanita berbaju ungu itu seperti melayang menerobos derasnya hujan tanpa kebasahan. Sosok itu terus bergerak hingga akhirnya menghilang di sebuah pohon besar.
Jio tertegun, ia terpana melihat kejadian itu hingga kemudian Igan menepuk pundaknya.
"Woy!! Katanya mau balik?? Ngeliatin apaan sih lu??" tegur Igan.
Jio terperanjat, mulutnya tergagap tak dapat menjelaskan. Tangannya hanya sibuk menunjuk-nunjuk ke arah pohon besar, tempat wanita itu menghilang.
Igan yang bingung hanya bisa melihat ke arah Jio dan pohon besar yang Jio tunjuk itu secara bergantian.
"Apaan sih??" desak Igan, penasaran.
Jio masih saja tergagap, tak dapat bicara. Tapi kemudian ia melihat ke layar ponselnya. Tangannya semakin bergetar ketika ia melihat ke arah layar ponselnya.
"B-b-b-brooo ... ce-ce-cewek ta-tadi ...." ucap Jio tergagap sambil menunjukkan layar ponselnya pada Igan.
Igan langsung mengambil ponsel Jio dan mengamati foto yang masih terpampang di layar.
Mata Igan sontak membelalak, ia tak habis pikir dengan apa yang ia lihat.
"Bro, kok cewek tadi enggak ada fotonya di sini?? Kan tadi dia berdiri di sebelah lu!" seru Igan.
Jio kembali menunjuk-nunjuk ke arah pohon besar.
"Apaan?? Ngomong yang bener!!" tegas Igan seraya menepuk lengan Jio.
"B-b-brooo ... ce-cewek itu ... bukan o-orang! Gu-gue tadi, liat di-dia ... melayang terus ngilang di-di pohon ituuuu!" jelas Jio, masih dengan tergagap.
"Hah?? Serius lu?? Pantesan, tadi kan pas foto jelas kita bertiga, tapi sekarang dia enggak keliatan di hasil fotonya!" seru Igan, panik.
"Ki-kita balik aja ya Bro?" ajak Jio.
"Ya kan dari tadi emang kita mau balik. Udah sini gue aja yang bawa mobil." Igan dan Jio akhirnya bertukar tempat duduk.
Mobil pun melaju meninggalkan lokasi tersebut.
Dari kaca spion, Jio melihat wanita itu melambaikan tangan ke arahnya, membuat Jio semakin gemetar.
__ADS_1
****