Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Kabar Tak Sedap


__ADS_3

"Tia, sudah sampai nih. Bangun Tia!" Ujar Rey sembari menepuk pundak Tia dengan lembut.


Tia membuka mata perlahan, ia mengerjap beberapa kali kemudian tampak celingukan seperti orang linglung.


"Hei, kamu kenapa? Kita sudah sampai di rumah sakit. Ayo turun, Hendra pasti nungguin." Tegur Rey dengan lembut.


Loh, ternyata gue cuma mimpi? Batin Tia.


"Ayo, Ti!" Ajak Rey yang sudah turun lebih dulu dari mobil dan mengambil tas milik Tia di bagasi.


"I-iya Pak, sebentar." Sahut Tia, gugup.


Tia segera turun dari mobil lalu keduanya berjalan kembali menuju ruang perawatan Hendra.


"Pak Rey mendingan pulang aja, saya enggak apa-apa kok sendiri jagain Kak Hendra." Ucap Tia ketika hendak menaiki tangga menuju lantai dua.


"Kamu yakin? Tapi saya enggak tega kalau kamu sendirian di sini jagain Hendra."


"Enggak apa-apa kok, Pak. Saya sudah biasa, dulu waktu ayah masih ada juga saya sendirian yang urus."


"Hmmm ... ya sudah, kamu hati-hati ya? Kalau ada perlu langsung telepon saya aja, oke?" Pesan Rey.


Tia mengangguk dan berkata, "Terima kasih banyak Pak Rey sudah banyak membantu."


"Jangan sungkan sama saya." Ujar Rey.


"Ya sudah, saya naik dulu ya Pak?" Pamit Tia, dan melangkah menaiki anak tangga.


"Tia, tunggu dulu!" Seru Rey.


Tia berhenti dan menoleh ke bawah, lalu Rey dengan cepat menyusulnya.


"Kenapa Pak?"


"Kamu jangan lupa pikirin ucapan saya tadi ya? Saya bakal tetap tunggu sampai kamu mau nerima cinta saya." Ucap Rey penuh perasaan.


Tia kembali terhenyak, ia benar-benar bingung. Namun ia tetap tersenyum sebelum akhirnya ia kembali menaiki anak tangga untuk menemui Hendra.


Tia mengetuk pintu ruang perawatan Hendra lalu masuk dengan membawa tas. Hendra masih tampak tertidur dengan selang infus di pergelangan tangan kanannya.


Kak Hendra masih tidur padahal gue pengin banget curhat tentang Pak Rey. Batin Tia.


Ia duduk termenung di kursi kecil samping tempat tidur pasien. Ia benar-benar bingung, harus menjawab apa pada Rey.


Sebetulnya, sosok Rey juga cukup menarik bagi kaum hawa karena posturnya yang tinggi, berkulit putih dan berkaca mata.


Namun Tia belum ada perasaan khusus kepadanya, hanya sebatas menghormati Rey sebagai atasannya.


Ia juga sontak teringat tentang mimpi singkatnya di mobil tadi, mimpi tentang wanita muda yang sudah dua kali muncul di alam bawah sadarnya.


Tia melepas kalung yang Rey berikan, ia amati dengan seksama. Namun ia benar-benar tak menemukan sesuatu yang ganjil di benda tersebut.


Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa dia senyum ke gue tapi nunjuk ke kalung ini? Batin Tia bertanya-tanya.


"Dek, kamu udah dateng?" Tanya Hendra, lirih.


Tia terkesiap, dia segera memasukkan kalung itu ke dalam tas cangklongnya.


"Udah Kak. Kakak gimana, udah mendingan?"


"Masih pusing, Dek. Pak Rey udah pulang?"


"Udah, aku suruh Pak Rey pulang aja. Enggak enak dia udah lama di sini pasti capek. Kak Hendra udah laper belum?"


Hendra menggeleng.


"Mulut Kakak terasa pahit, Dek."

__ADS_1


"Hmmm ... harusnya Kakak makan buah biar terasa seger, tapi aku lupa beli buah tadi soalnya di mobil ketiduran."


Hendra menatap Tia dengan tatapan menelisik. Tia mengerti maksud tatapan sang kakak.


"Tenang aja Kak, Pak Rey enggak macem-macem kok. Malah dia bangunin aku pas lagi mimpi aneh."


"Euh?" Hendra mengerutkan dahi.


"Iya, aku tadi mimpi aneh pas ketiduran di mobilnya Pak Rey."


"Apa?" Tanya Hendra, lirih.


"Nanti aja lah aku ceritain kalau Kakak udah sehat."


Hendra mengangguk pelan, matanya kembali terpejam. Namun suara dering ponsel Tia membuatnya kembali terjaga.


Tia bergegas mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu menerima panggilan telepon itu tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Halo?" Sapa Tia.


"Halo teman baru, lagi ngapain kamu?"


Tia terdiam sejenak, ia pun melihat layar ponselnya dan seketika menyungging senyum sumringah.


"Mas Igan?"


"Iya, ini saya. Kamu lagi ngapain?"


"Lagi ditelepon artis terkenal nih." Sahut Tia, girang.


"Wih, untung banget tuh! Cakep enggak artisnya?" Kelakar Igan.


"Hmmm ... lumayan sih ...." Ledek Tia.


"Masa cuma lumayan? Bukannya cakep ya orangnya?"


"Hati-hati loh, nanti malah jatuh cinta." Seloroh Igan.


Tia terbungkam, ia tak bisa menimpali seloroh Igan yang memang mengena di hatinya. Tia memang mengagumi sosok Igan, namun ia rasa itu perasaan seorang pengagum kepada idolanya.


"Hmmm ... Mas Hendra gimana, Tia? apa udah mendingan?" Tanya Igan, membuyarkan lamunan Tia.


"Oh, Kak Hendra masih pusing Mas, mulutnya pahit katanya."


"Kalau nanti malam saya ke sana lagi, boleh?" Tanya Igan.


"Ke sini lagi? Tapi Mas Igan pasti capek, mendingan istirahat aja."


"Mumpung saya lagi enggak ada jadwal, soalnya saya cuma punya jatah off dua hari. Jadi, lusa saya mulai sibuk lagi. Gimana, boleh ya?"


"Hmmm ... ya udah kalau gitu."


"Sip, gitu dong!! Oke, sampai ketemu nanti malam ya Tia?"


"Iya Mas, makasih."


Panggilan telepon ditutup, menyisakan gurat bahagia di wajah Tia ditandai dengan senyumnya yang terus mengembang.


"Kenapa Dek?" Tanya Hendra.


"Enggak apa-apa Kak, cuma nanti malam Mas Igan mau ke sini lagi." Sahut Tia, antusias.


Hendra mengernyitkan dahi, ia tatap wajah sang adik yang tampak sangat bahagia.


Tia kelihatan seneng banget tahu bos muda mau ke sini lagi nanti malam, apa Tia jatuh cinta sama Mas Igan? Tapi .... ah, sudahlah!! Batin Hendra.


Sementara itu, di kediaman Erlangga ...

__ADS_1


Igan yang tengah duduk santai di tepi kolam renang tampak senang setelah menelepon Tia dan mendapat izin untuk bisa menemuinya lagi.


Namun ketika ia sedang merasa bahagia, tiba-tiba sebuah telepon dari Jio, sang manajer membuat mood-nya rusak.


"Halo?" Sapa Igan di telepon.


"Gan, lu udah lihat infotainment hari ini belum?" Tanya Jio dengan nada serius.


"Hmmm ... belum, emang ada berita apa?"


"Lu kena gosip! Ada yang diem-diem foto lu sama Lona terus seorang cewek juga, dikirim ke akun gosip, diolah deh bahasanya biar booming!! Emang siapa tu cewek?"


"Hah?? Coba gue mau liat beritanya! Gue aja belum tahu kok!"


"Oke, nanti gue kirimin ke lu deh link beritanya."


Telepon pun ditutup, Igan tak sabar ingin melihat berita seperti apa yang dimaksud Jio.


Tak lama berselang, sebuah pesan chat dari Jio masuk ke ponsel Igan. Dengan cepat ia membuka link beritanya. Matanya tampak fokus melihat foto yang ditampilkan.


"Ini foto-foto kompilasi waktu gue lagi di Surabaya sama Lona, satunya lagi waktu gue sama Tia." Gumamnya sambil terus mengamati.


Dibalik rasa kesalnya, Igan justru menertawakan gosip miring tersebut lalu segera menutup laman berita online itu. Ia tampak tak terbebani oleh fitnah yang sedang menimpanya.


"Gosip murahan!! Masa gue dibilang tukang mainin cewek?!" Tukasnya namun sambil tersenyum.


Igan pun balik menelepon Jio.


"Gimana, lu udah liat?" Tanya Jio saat


"Udah, tapi cuma gosip murahan Bro!" Ujar Igan, santai.


"Iya sih, tapi gue takut tetep ada imbas jelek buat karir lu. Apa kita selidikin aja, siapa yang kirim itu ke akun gosip?"


"Ah enggak usah lah, males gue kalo buat mikirin gosip receh gitu. Biarin aja, kecuali kalo udah terlalu banget, baru gue tindak!"


"Ya udah terserah lu aja deh, tapi lu juga mesti waspada mulai sekarang. Siapa tahu yang bikin gosip itu haters lu, dan enggak berhenti sampe situ aja."


"Iya ... Thanks ya Bro!" Ucap Igan seraya mengakhiri percakapan.


Baru saja Igan memasukkan ponselnya di saku celana chinos pendek yang ia kenakan, tiba-tiba ponselnya kembali berdering.


"Siapa ... lagi yang nelepon?!" Gerutunya.


Ia merogoh saku lalu mengambil ponselnya.


"Ya, Lon? Kamu mau bahas soal gosip itu?" Tebak Igan saat menerima telepon yang ternyata dari Ilona.


"Iya, kamu udah liat juga beritanya?"


"Udah, barusan Jio ngabarin aku."


"Terus kamu bakal lakuin apa, Gan?"


"Enggak lakuin apa-apa, biarin aja."


"Lagian aku penasaran, ngapain sih kamu deket sama cewek itu? Aku perhatiin, kalo kamu sama dia tuh pasti sial! Waktu kita serempetan di jalan kan sama dia, terus aku ketemu dia lagi dan sial gara-gara dia. Sekarang kamu kena gosip juga karena kamu ada foto sama dia kan?" Cerocos Ilona.


"Kamu jangan ikut-ikutan kayak haters deh, Lon. Jangan suka langsung men-judge orang sepihak begitu." Tegur Igan dengan santai.


"Tapi emang bener kok, kamu pasti sial kalo deket sama cewek itu!"


"Udah ya Lon, aku mau istirahat. Harusnya kamu hibur aku, bukan malah tambah bikin pusing."


"Ya udah, kamu istirahat aja. Bye ...."


***

__ADS_1


__ADS_2